Nada Nara

Nada Nara
Bab 69 Membuat Strategi


__ADS_3

Pov Nara


Setelah kami selesai makan, M meminta kami berempat duduk. Dia bilang untuk membahas apa yang terjadi hari ini dan merencanakan apa yang akan dilakukan besok siang saat makan siang bersama Pradipta dan Franco. Dengan muka serius, M memandangku.


“Nara, kamu yakin akan bisa menghadapi makan siang besok? " Tanya M yang terlihat gamang.  Jika tidak, aku akan meminta Adrian yang datang dan mengambil kalung tersebut. Sekaligus menguji keasliannya,” kata M sambil memandangiku.


“Apakah aku harus mendampingimu besok?” tanya M dengan muka serius dan khawatir.


“Menurut kamu? Aku sendiri tidak paham tentang berlian. Selain itu kita akan menghadapi Pradipta dan Franco. Kita belum tahu apakah Juli akan hadir atau tidak,” kataku memberikan beberapa pertimbangan.


“Nah itu, kalau besok aku hadir dan Juli ternyata juga hadir, maka kita harus mempersiapkan jawaban atas kecurigaan Juli pada kita. Juli pasti mengenaliku. Dan nanti saat kamu dekat dengan Pradipta, pasti Juli juga akan curiga,” kata M.


“Itu betul. Tetapi kalau aku datang sendiri, seperti aku katakan tadiu, aku tidak paham tentang berlian. Dan kalau aku ditanya kenapa aku menginginkan berlian itu, tentu alasan yang kamu katakan tadi tidak mungkin aku beberkan. Jadi apa?”


“Untuk urusan berlian, kamu bisa membawa Henry yang akan menentu melihatnya. Aku rasa tidak perlu mengatakan alasan yang justru akan menjebak dirimu sendiri,” kata M dengan tegas. Oke, ini bisa menjadi solusi.


“Lalu, untuk masalah  mendekati Pradipta, apakah aku mampu? Oke, besok mungkin aku bisa bertemu dengan suamiku. Apakah aku bisa menggodanya? Bagaimana aku bisa mengalahkan Juli? Kalau besok Juli ada disana, apa yang harus aku lakukan?” tanya Nara ragu. “Sepertinya aku membutuhkanmu M. Aku membutuhkanmu untuk memberitahu aku apa yang harus kulakukan dan apa yang harus kukatakan,” aku mecoba mengatakan semua keraguanku. Kulihat M, Adrian dan Henry saling memandang. Secara bersamaan mereka memandangku seperti aku ini alien yang baru turun dari planet antah bernatah. Ketiganya lalu mengambil nafas panjang dan menghembuskan. Aku melihat mereka tidak percaya dengan tingkahku, sekaligus merasa kecewa dan kesal.Aku salah apa? Aku benar benar tidak merasa sanggup melakukan ini. Sainganku secantik dan sehebat Juli. Rasanya tidak akan bisa aku membuat Pradipta berpaling dari Juli.

__ADS_1


“Sudahlah Nona.Jangan terlalu berprasangka pada dirimu sendiri. Kita punya 3 hal. Kita punya kecantikan terbaik diseluruh Asia, 4 otak jenius yang disatukan oleh ruangan ini dan luka-luka yang begitu hebat dihati kita. Tiga hal yang menjadi bahan bakar terbaik dan membuat kita termasuk kamu Nara, bisa melakukan apapun. APAPUN. Mengerti?” kata si M sambil memegang tanganku. Sebuah aliran hangat mengalir didadaku menjalar ke muka dan seluruh tubuhku. Aliran kehangatan yang membuat kepercayaan diriku melambung tinggi. Aku melihat tiga laki-laki saling melirik dan tersenyum. Henry menepuk bahu M dengan hangat.


“Nara, besok kamu akan ditemani oleh Adrian seperti biasa, sebagai bodyguard. Aku tidak yakin Adrian akan diijinkan mendekat. Usahakan kamu yang mengatur Adrian bisa diruangan yang sama denganmu meskipun tidak terlalu dekat. Jangan lupa nyalakan earpiece kita semua. Henry hanya akan masuk dan mendekat saat memeriksa kalung Lidya Dirgantara dan saat ada bahaya yang mengancam Nara,” kata M mulai mengatur strategi yang ditanggapi serius oleh Adrian dan Henry.


“Nara, kamu paham kan tugasmu?


“Tugas yang mana?” tanyaku.


“tentu saja tugas mengambil kalung Lidya Dirgantara. Aku benar-benar harus mendapatkannya Nara. Benda itu sangat penting buatku. Aku tidak bisa kehilangan kalung itu. Dan harus dipastikan tidak ada kecurangan sama sekali. Tidak ada penipuan dan harus yang asli. Tidak banyak yang tahu kalung aslinya seperti apa. Hanya aku


yang  bsa membuktikan keasliannya sebenarnya. Seperti aku bilang, saat ini hanya dua orang yang bisa tahu, apakah kalung itu asli atau tidak.  Aku dan nyonya besar Dirgantara. Sedangkan tiga orang lainnya sudah lebih dulu


“Jangan lupa memeriksa semua dokumen sudah sesuai dan atas namamu. Jangan segan untuk menolak atau bertanya jika tidak sesuai. Jika Henry memegang hidungnya, maka semua sudah sesuai. Jika Henry memegang telinga, maka dia atau aku meragukan sesuatu. Jika itu terjadi, Nara mintalah ijin ke toilet. Jika Henry memegang


tengkuknya sambil menggeleng, itu  tandanya ada yang tidak beres dan kamu harus menolak transaksi. Jika ada


apa apa, Henry dan Adrian sebaiknya langsung mengatakan pada Nara untuk pergi. Nara, jangan coba-coba membantah atau ragu. Lakukan apapun yang kami katakan, tanpa pertanyaan,” kata M kepadaku.

__ADS_1


“Kamu mengerti


kan Nara?” tanya M meyakinkan diri tentang keterlibatanku dan apakah aku pahgam dengan maksudnya. Aku mengerti dan mengganggukan kepalaku. Tidak terlalu sulit''''


memang instruksinya. Namun aku tidak tahu bagaimana keadaannya saat di lapangan  nanti. Semoga saja aku bisa menjalani apa yang diminta M. Semoga saja aku cukup kuat mengatasi segara perasaan dan kegugupanku saat berdekatan dengan suami yang tidak mengenaliku sebegai istrinya. Semoga aku cukup percaya diri untuk bisa melakukan tugasku. Semoga Tuhan memberkati usahaku dan M mengejar apa yang ingin kami raih. Dan


masih banyak semoga-semoga lainnya bermunculan dikepalaku.


Kepala terasa sedikit berat kelabihan beban. Aku terdiam didepan tiga laki-laki yang dari tadi berbicara dengan bahasa yang tak kupahami sama sekali. Mereka tampak membahas sesuatu dengan serius. Hanya beberapa kata yang bisa kutanggap. Salah satunya adalah Dirgantara. Entah apa hubunganku dengan Dirgantara, namun saat ini Nada’s Proje ada hubungannya dengan Dirgantara.


“Baiklah M, sepertinya sudah terlalu malam sekarang. Kita sudahi saja diskusi ini. Sebaiknya kita tidur agar besok bisa segar lagi. OK !” kata Henry sambil membereskan berkas-berkas yang ada didepannya. Sedangkan Adrian yang sedari tadi membersihkan senjata juga merapikan barang-barangnya. Dia memberikan  sebuah pistol kepada Henry yang dijawab dengan terimakasih. Setelah itu dia menyerahkan dua senjata yang ukuran tidak terlalu besar pada M. Diikut dengan lima bilah pisau kecil yang khas, yang selalu ada di pinggang M. Ya itulah salah satu tugas Adrian. Merawat dan membersihkan persenjataan mereka bertiga.


“Kalian tidur saja disini. Besok masih ada pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi kita dan sekarang ini sudah cukup malam,” kata M.


“Justru karena besok ada pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, aku harus pulang dan tidur dengan benar. Dan lagi ada yang sudah menungguku pulang. Jawab Henry.


“Yes, you right!” kata Adrian setuju. M hanya menngangkat pundaknya dan membereskan barang-barangnnya. Aku sendiri belum bergerak dan hanya terdiam.

__ADS_1


“Nara, kamu baik-baik saja? Tidurlah, agar besok kamu tampak cantik,” kata M memecah lamunanku. Aku mengangguk setuju dan segera pamitan pada mereka bertiga. Rasanya aku butuh istirahat memang. Aku sangat lelah dan besok aku membutuhkan tenaga ekstra untuk mengalahkan semuanya dan menjalankan tugasku dengan baik.


__ADS_2