Nada Nara

Nada Nara
Bab 84 Meragu


__ADS_3

POV Mahardika


Kencan kemarin adalah keberhasilan besar. Dari apa yang kita lihat dan baca dari reaksi serta pikiran Pradipta, laki-laki itu sudah mulai jatuh vinta pada Nara. Bahkan semalam, Aku, Henry dan Adrian sepakat bahwa pikiran Pradipta saat ini lebih fokus pada Nara dari pada Juli. Dengan sedikit dorongan, perasaan Pradipta akan memilih Nara dibanding Juli. Namun ini jika tidak aada faktor kuat lain selain pikiran dan perasaan Pradipta. Kami sendiri merasa ada faktor lain ya ng membuat Pradipta terikat dengan Juli. Aku sendiri menyadari kalau adik angkatku itu sangat pintar dan ambisius. Dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk mempertahankan Pradipta disisinya. Hal inilah yang saat ini tetap  harus diwaspadai. Bagaimanapun juga, bagi Nara dan aku sendiri, kencan kemarin adalah keberhasilan besar.


“Akhirnya kita berhasil...” kataku pagi ini, saat sedang sarapan dengan Nara. Sebenarnya pagi ini akiu melakukan  kebodohan yang sempat membuat canggung. Dan membahas keberhasilan kencan Nara bagi Nada’s Project adalah alasan paling tepat yang bisa aku ingat. Namun Nara terlihat tidak terlalu senang dengan keberhasilan itu. Aku tahu bahwa dia tidak ingin kami menyakiti Pradipta, dan itu membuat tertawa pedih sendirian.


“Kenapa” aku berusaha membuat Nara mengakui apa yang ada dikepalanya dan mengeluarkan segala keraguan dan kesedihannya. Bukannya menjawab pertanyaanku, Nara malah berdiri meninggalkanku di meja makan. Saat aku mencoba membuat Nara mengeluarkan isi hatinya, seperti biasa, Nara berusaha menyangkal semuanya. Dia selalu berusaha menyembunyikan luka dan sedihnya dari orang-orang untuk dia tanggung sendiri. Hal ini sangat


tidak baik untuk kesehatan  mentalnya dan membuatku khawatir. Aku berusaha mendesaknya untuk mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya. Nara hanya memandangku dengan mata cantiknya yang terlihat gamang. Ada seberkas ragu disana yang bisa kutebak asalnya, namun aku tidak ingin mengakuinya.

__ADS_1


“Hai, kita punya Nada’s Project karenamu. Kita ingin mengambil semua apa yang menjadi hakmu, yang di hancurkan laki laki. Kita membalas kejahatan suami yang ingin membunuh istrinya. Dengan pencapaianmu saat ini,  kamu bisa menghancurkan suamimu minggu ini Nara.kenapa dengan ekspresimu. Kenapa dengan matamu itu? Ceritakan padaku”  kataku dengan lembut mengingatkan alasan kami melakukan semua ini. Alasan yang lebih dari cukup untuk membalas kejahatan laki-laki yang masih saja dia sebut sebagai suami.


Bukannya memikirkan perasaannya, namun dia kembali berkutat dengan rasa bersalahnya pada orang lain. Dia berkutat dengan ketakutannya mengecewakakanku jika hanya karena dia terlalu baik hati, hanya karena dia merasa kasihan pada orang jahat yang  dia anggap menjadi korban. Ia bingung antara menuruti rasa tidak tega dan tidak nyaman pada Pradipta dan Juli, atau terus berjalan, mengingat semua yang kulakukan untuknya.


“M, Aku tahu semua ini kamu lakukan untukku. Aku tahu semua ada di tanganku Saat ini karenamu. Dan aku tahu keinginan dan perasaanku saat ini pasti akan sangat mengecewakanmu.  Bagaimanapun, kamu sudah begitu banyak berusaha dan mengeluarkan banyak dana. Jadi apa yang ada dikepalaku sekarang, seharusnya tidak pernah terlintas. Tapi bagaimana lagi. Setelah mendengar apa yang akan terjadi pada mereka. Apa yang akan terjadi pada Pradipta, Juli, adik-adik ipar, aku tidak tega. Dan aku bingung. Aku tidak ingin mengatakannya karena tidak mau menyakitimu,” kata Nara sambil menunduk.


Aku sungguh tidak tega melihat kebimbangan dan kesedihannya. Kudekap dan kukecup pucuk kepalanya dengan sayang. Setelah itu aku angkat dagunya. Kulihat matanya yang memandangku dengan penuh keraguan dan kesedihan.


“Kenapa?” tanyaku dengan lembut damun tegas. Kembali Nara memandangku. Iya tampaknya sangat ragu dengan apa yang dia katakan. “Kenapa Nara? Berikanlah aku alasan dan kita bicara.”

__ADS_1


“M, setelah aku pikir, aku ingin menjadi istrinya seperti dulu. Bagaimanapun juga aku kan masih istrinya. Aku akan mendapatkan kembali posisi sebegai menantu di keluarga itu. Aku akan mendapatkan lagi rumah kediaman Hermawan beserta istrinya sebagai Nada. Aku ingin menjadi nyonya di rumah itu, dan bukan Juli,” kata Nara dengan sendu. Aku berusaha menutupi rasa sakit yang muncul dengan tawa sumbang.


“Telingaku pasti terganggu. Aku salah dengar ya?” kataku menatap Nara, meyakinkan diri.  Nara melihatku ragu, kembali mengulang kata-katanya. Membuatku menarik nafas dalam dalam.


“Aku ingin bersamanya lagi M. Bukan hanya untuk membalas dendam. Biarlah mereka mengambil semua harta


itu, namun aku kembali menjadi Nada, istri Pradipta,” kata Nara.


“Aku tidak mengerti Nara. Kamu tahu kan kalau kamu sekarang bukan Nada. Kamu sekarang adalah Nara yang istimewa, cantik, hebat, pandai dan baik hati. Dengan kecantikanmu yang sekarang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau. Dengan semua kelebihanmu ini, kamu mau kembali pada mereka?  Dengan semua yang kamu miliki saat ini, kenapa harus kembali pada Laki laki bajingan itu?” kataku dengan sedikit emosi.

__ADS_1


“M, aku pernah memiliki sumpah dihadapan Tuhan. Sumpah menjadikannya sebagai satu-satunya pria yang akan menua bersamaku. Apalagi, jika aku kembali pada  suamiku, Juli akan sendirian. Kamu bisa bersamanya kembali. Dengan begitu kedua masalah selesai,” jawab Nara membuatku makin jengkel.  Aku benar-benar tidak ingin dia


kembali pada Pradipta. Ya, tujuan kami memang menggagalkan pernikahan Pradipta dan Juli, namun bukan untuk membuat Nara kembali kepada laki-laki bajingan itu.


__ADS_2