
POV Mahardika
Cukup lama perempuan cantik ciptaanku ini tertidur. Bahkan aku sempat untuk mandi dan berganti pakaian. Saat aku sedang mengobati diriku yang terluka akibat tingkah wanita perkasa didepanku, dia membuka matanya. Wajah ciptaanku memang luar biasa Indah, meskipun dalam keadaan kebingungan dan lelah, Dia mengerjap kerjap lucu. Nara mencoba coba menggerakan kaki dan tangannya. Dan terdiam cukup lama.
“Argh!!”teriaknya tiba-tiba, mengagetkanku yang sedang mengobati kepala.
“Ssst berisik Nara!” kutegur dia dengan lembut. Dia mengalihkan pandangannya padaku dan terpana, terdiam. Oh, ya, aku tahu kalau aku tampan. Tapi tidak juga harus memandangku seperti ini kan?
“Kamu siapa? Kamu perampok di rumahku ya?” tanya Nara sambil melotot., Lucu sekal. Aku balik melotot padanya untuk mulai menunjukan dominasiku.
“Kamu itu! Pasti kamu tidak minum obat, makanya jadi menyebalkan dan m,erepotkan! Kamu sudah menyiksaku dan membuatku kesakitan.” Bentakku, membuat dia kebingungan
“Mana kutahu, aku tadi kan merasa tidak kenal kamu trus tiba-tiba kamu mencengkeramseperti itu. Dan setelah itu tahu-tahu kamu sudah terkunci dibawahku,” katanya dengan pelan “lagian kenapa tidak bicara baik-baik coba.
Sekarang kamu mau apa? Mau merampok rumah ini?”
“Nara, mana mungkin aku merampok rumahku sendiri. Ini rumahku dan kamu tinggal dirumahku,” kata ku mulai spaneng lagi.
“Bohong, pasti kamu mau jahatin aku! Makanya kamu mengikatku seperti ini kan! Kamu menyerangku di mall tadi kan? Pasti kamu berniat jahat” katanya berteriak.
“Haish, kalau aku mau jahat, untuk apa aku nunggu kamu sadar. Kamu aku ikat, karena aku tidak mau kamu siksa lagi. Sakit Nara!” kataku makin jengkel pada perempuan cantik yang polos dan aku tahu, hatinya sangat baik, kalau kata orang terlalu baik dan gampang dimanfaatkan.
“Kamu, siapa? Kenapa kamu jahat sama aku,” teriaknya. Parti dia tidak nyaman dengan keadaannya saat ini. Terlihat mukanya memerah karena marah. Seperti kataku, efek deliriumnya masih dominan. Aku tidak tega dengan kondisinya saat ini. Setelah 6 bulan selalu bersama dengannya, aku sepertinya sudah menaggalkan baju profesionalisme dari diriku. Dia mulai memperlihatkan gejala depresi, menggeleng, bergoyang dan berteriak, tanpa dia sadari. Aku memeluknya dengan erat, menyandarkannya di dadaku. Kubimbing dia untuk menarik dan membuang nafas dengan teratur, menenangkan dirinya. Kukatakan padanya dia harus tenang, agar tidak makin parah dan makin sakit. Aku berhasil. Setelah mulai agak tenang, kulepaskan dia dari pelukanku. Kuminta dia duduk santai di sofa dan aku berlutut di depannya. Kupaksa dia untuk memandang mataku langsung. Kugenggam tangannya yang terikat di pangkuannya. Kakinya tentu kutahan dengan kakiku. Aku tidak mau kecolongan lagi.
“Oke, tenang Nara, tenang. Dengarkan aku ya, aku Mahardika, yang merawatmu selama ini. Kamu tinggal bersamaku sudah enam bulan untuk merubah bentuk tubuhmu, ingat? Kamu sekarang sedang mengalami delirium, sebagai efek dari operasi dan perawatan panjang selama enam bulan ini. Yang kamu alami hari ini adalah efek delirium. Ini, kamu minum obatmu dulu. Obat ini harus tetap kamu minum agar tidak terjadilagi,” kataku sambil kuberikan 3 butir obat dan segelas air. Dia menatapku tajam dan menolak, obatnya. Tapi aku harus memaksanya untuk minum obat kali ini. Apapun cayanya.
“Delirium? Apa itu? Aku sehat, aku tidak apa-apa. Jangan-jangan ini akal akalanmu biar aku pingsan lagi dan kamu bisa berbuat jahat lagi padaku?” protesnya dengan muka cemberut. Sepertinya aku belum mendapatkan kepercayaan gadis ciptaanku ini. Oke, kali ini aku harus cepat dan memaksanya fokus tanpa obat dulu, untuk meredakan gajala paranoid dan ketidak fokusan Nara.
“Ya ampun Nara, fokus! Minum obat dan fokus. Kamu mau kuikat terus dan tidak makan hari ini?” kataku dengan suara mendominasi. Ya, meskipun Nara sekarang sudah kurus dan cantik, tapi dia tetaplah Nada, yang menyukai makan. Aku sangat tahu itu.
__ADS_1
“Hah? Apa? Aku tidak boleh makan? “ katanya dengan mata membulat yang lucu. Perutnya tiba-tiba mengeluarkan bunyi yang aneh. Hem, dia benar lapar rupanya. Tebakanku tidak meleset. Dia memandangku dengan pandangan yang menggemaskan. Kalau tidak ingat aku sedang dalam mode memaksa minum obat dan menyadarkannya, aku pasti akan tertawa dan mencubit pipinya. Kubuat mukaku sedatar mungkin. Rasa kasihan dan sayang yang mulai tumbuh itu tetap tidak dapat kuhindari. Aku harus mendapatkan kepercayaan darinya saat ini. Dia tampak berpikir, matanya berkali-kali beralih antara sekeliling rumah, meja, tangannya dan aku. Ditariknya nafas panjang dan
memejam sebentar.
“Oke aku tenang, tapi tolong lepaskan ikatanku dan aku lapar,” katanya padaku sambil kembali memberikan tatapan menggemaskan itu. Baiklah, aku kira dia tak akan lagi menyerangku kali ini. Kalaupun dia melakukan, aku sudah siap. Kami toh sama sama pemegang sabuk hitam dan aku laki-laki. Aku mencoba meredakan kekawatiranku dengan meminum air yang ada digelas dan kembali melihat kearahnya, memastikan keputusanku tepat.
“Kamu minum obatnya, baru aku lepas. Makan sepotong coklat ini dulu,” kataku sambil menyuapinya dengan sepotong coklat yang tadi aku letakkan di meja. Paling tidak coklat ini bisa untuk mengganjal perutnya. Saat ini tidak mungkin untuk memberinya makanan lengkap. Aku belum memesan makan apapun, apalagi memasak. Dia menurut dan mengunyah coklat itu. Setelah kupastikan dia menelan coklatnya, aku memasukan tiga obat delirium ke mulutnya lalu memberikan minum, sisa minumku tadi. Maksudku, minum dia yang tadi aku minum. Dia mengernyit melihat gelas itu dan memandang padaku. Sepertinya dia tidak iklas segelas berdua denganku. Tapi aku juga malas kalau harus mengambil minum baru. Pilihannya hanya minum dari gelas yang aku pegang atau, telan obat tanpa minum. Kupandangi dia dengan garang agar dia menelan obat dengan minuman yang sudah kusodorkan dimulutnya. Akhirnya dia pun mau. Setelah itu kusuruh dia membuka mulut dan membalikan lidah. Aku
harus memastikan agar tidak dibohongi lagi oleg perempuan ini. Aku tidak mau lagi melihat dia pura-pura minum obatnya. Apalagi kejadian hari ini terulang. Aku harus memastikan kejadian hari ini tak terulang.
Setelah minum obat, beberapa saat dia menyandar dan memejamkan matanya. Aku pergi kedapur menyiapkan makan malam seadanya. Setelah selesai, aku mengambil dua gelas minuman hangat. Kulihat dia membuka matanya masih sedikit bingung dengan keadaannya saat ini. Dipandanginya ikatan di tangan dan kakinya. Sebenarnya ikatan itu juga tidak terlalu kuat. Jika Nara dalam keadaan sadar dan normal, dengan mudah dia bisa melepas ikatan dan talinya. Aku melepas ikatannya dan memberikan hot coklat yang tadi kubawa. Aku juga menyesap teh manis hangatku. Setelah terjeda beberapa saat, aku bangkit, mengajaknya makan malam.
Di meja makan, Nara kembali termenung seperti sedang mengingat sesuatu . Dia tampak berpikir, menggigit kukunya dan beberapa kali memandang kearahku. Entah apa yang dipikirkannya. Aku ambilkan dia nasi dan lauk, lalu kuletakan di depannya, memintanya untuk makan. Dia mengangguk dan mulai makan sambil terus melamun.
Sambil makan Nara bertanya tentang dirinya dan delirium yang dideritanya, akibat proses pembentukan tubuh yang dia lakukan. Dia juga bertanya tentang siapa dia dan siapa aku. Aku memandangnya kasihan. Ini memang sudah aku perhitungkan sebenarnya. Namun entah mengapa, rasa kasihan ini membuatku tidak tega padanya.
Aku rasa, aku harus menjelaskan perlahan sekaligur membuatnya rileks. Membicarakan apa yang dia rasakan dana pa yang dilakukan seharian ini, rasanya adalah pilihan paling masuk akal. Setelah tercenung sesaat, sambil terus menelan makananya sampai habis, Nara mulai bercerita. Bukannya menjawab, dia malahan mulai bertanya apa yang aku lakukan seharian ini. Dengan kadang-kadang seperti melamun, out of space, dia mulai menceritakan apa
Selah makan malam, aku mengajak Nara kembali duduk di sofa. Dia bersila diatas sofa sambil memandangku. Akupun melakukan hal yang sama. Kuambil tangannya dan kugenggam lembut.
“Baiklah Nara, apa yang terjadi hari ini, adalah efek anestesi dari operasi beruntun yang kamu lakukan selama enam bulan ini. Efek inilah yang disebut Delirium. Itu akibatnya kalau kamu tidak meminum obatmu dan tidak mengikuti kata-kataku. Padahal selama ini, kamu selalu bilang kalau obatnya sudah kamu minum. Kenapa sampai begini? Mulai sekarang, kamu harus disiplin minum obat dan selalu mengikuti kata-kataku. Mengerti? Kamu bisa
celaka kalau seperti ini,” kataku dengan tegas. Aku ingin dia fokus padaku.
“Maksudmu?” tanyanya. Aku menarik nafas, mencoba menjelaskan padanya. Nara sebenarnya perempuan yang
sangat cerdas. Namun saat deliriumnya datang, semua kecerdasannya turun dengan drastic. Untunglah pengaruh obat yang baru saja diminum cukup baik.
“Kamu mengalami halusinasi dan delusi. Kamu merasa bahwa kamu artis terkenal dari Singapura yang datang ke Indonesia untuk syuting iklan, itu semua adalah keinginan bawah sadarmu, untuk menjadi seseorang yang merebut suamimu, tapi bukan kamu. Saat melihat dan mendengar kisah Nada, kamu bilang kamu merasa sangat dekat dan
__ADS_1
bahkan merasa kamu mengalami apa yang Nada alami kan?” tanyatanyaku padanya. Dia mulai mengerti apa yang aku maksud dan mengangguk.
“Coba kamu Tarik nafas, buang, lalu fokus pada dirimu dan Nada. Lihat mataku,” kataku. Dia mengikuti instruksiku dengan baik. Terlihat bahwa dia tidak sedepresi tadi. Akal sehat dan kesadarannya perlahan kembali.
“Apakah kamu ingat semua yang kamu alami saat masih bernama Nada enam atau tujuh bulan yang lalu Kembalikan ingatanmu pada dirimu sendiri. Tujuh bulan yang lalu Nada. Ya, kamu adalah Nada, Nara” kataku padanya dengan pelan. Tak kulepas kendaliku pada Nara.
“Tidak mungkin,” katanya membuang muka menjauh dari kendaliku. Rupanya dia masih mencoba menolak kenyataan yang tidak seperti apa yang dinginkan dan dipikirkannya. Aku tidak boleh kehilangan kendali atas dia. Kutarik lembut dagunya dan mengembalikan kendaliku lalu menguncinya.
“Kamu Nada. Ingat kan kalau tadi kamu sudah menjatuhkanku dengan kuncian dan pukulan yang hebat. Ya Nada adalah atlit beladiri yang luar biasa. Kamu sendiri heran kenapa bisa melakukan itu padaku kan? Semua karena sebenarnya kamu memang bisa dan bahkan hebat dalam hal beladiri. Karena kamu Nada,” kataku mencioba mengembalikan ingatan- ingatannya, satu persatu. .
“Ah, iya ya,” katanya dengan gugup.
“Oke, sekarang coba kamu kembali ke dirimu sendiri dan ingatlah semuanya,” kataku. Sebaiknya aku segera menyelesaikan ini. Kulihat dia mulai lelah didalam dirinya. Bukan lelah raga tapi jiwa. Kucoba menguatkan genggamanku saat aku melihat dia memejamkan mata indahnya. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan sedikit kasar. Aku katakan padanya untuk tenang dan nikmati saja. Dia kembali menutup matanya dan menyender di dudukan tangan sofa. Terdiam cukup lama dalam posisi terpejam.
Dia sangat cantik. Kupandangi wajahnya dan dadaku berdebum kleras. Dia, wanita hebat yang mampu menghadapi segala tantangan. Dia polos dan terlalu baik hingga dikianati dan dimanfaatkan orang-orang disekitarnya.
Aku pertama kali bertemu dengannya saat kru Makeover mewawancarai dia. Saat itu Nada mendaftar menjadi peserta. Awalnya kami hanya melihat seorang perempuan gemuk yang ingin cantik demi suaminya. Tidak menarik bukan. Namun setelah berbicara panjang lebar, aku sendiri yang menyadari betapa perempuan polos yang sangat baik hati ini, tidak menyadari kebaikannya dimanfaatkan oleh orang diksekelilingnya. Terutamaoleh laki laki bajingan yang dia sebut sebagai suami tercinta. Entahlah, aku sedikit menganggap perempuan ini bodoh jika sudah berurusan dengan cinta dan suaminya. Namun sebenarnya, aku tahu sekali, dia genius, pekerja keras dan sangat kuat.
Dalam proses syuting, aku mengawal sendiri kisah Nada. Para kru juga setuju jika Nada sangat menarik untuk dipilih. Kami semua jatuh cinta pada Nada. Kami semua jatuh cinta pada kebaikan dan hatinya. Itu mengapa, segmen Nada selalu maksimal dan menguras airmata. Karena semua yang terlibat, all out untuk Nada. Nada yang selalu ceria, Nada yang sering memasakan makanan istimewa buat kami di rumah produksi, lokasi syuting, Nada yang penuh canda dan bisa membuat suasana ceria dengan gelak tawa. Nada yang selalu ada bagi siapapun yang ingin curhat. Semua kesan itu didapat hanya dalam masa syuting seminggu. Bayangkan jika kita mengenal Nada
berbulan bulan atau bertahun tahun. Ya Nada memang selalu luar biasa.
Saat final, semua tim tidak ragu untuk memilih Nada menjadi pemenang.Bahkan Mawar, yang menjadi saingan Nada pun setuju hal itu. Menurut Mawar, Nada adalah sahabat terbaik yang pernah dia miliki. Itulah mengapa kami sangat terkejut saat Nada mengundurkan diri tepat disaat kami akan mengumumkan dia sebagai pemenang. Bahkan dia bermaksud menarik semua syuting yang dilakukan. Tentu hal ini tidak ingin kami lakukan. Demi untuk menarik Nada ke Final Makeover, dengan sukarela, beberapa kru mendatangi Nada. Saat itulah aku meminta mereka untuk meminta Nada menemuiku sebelum memutuskan benar benar mundur. Bahkan kuberikan alamat rumah, jika saat dia ingin menemuiku dan aku dirumah, dia tidak kesulitan.
Ternyata sampai pengumuman Makeover Nada tidak pernah muncul. Para kru yang menemui Nada hanya mampu membujuk Nada untuk mengijinkan apa yang sudah kami rekam tetap tayang. Nada benar benar ingin Mawar yang menang. Kamipun tidak pernah membahasnya. Sampai suatu malam, ditengah kesibukanku menyelesaikan pekerjaan, pintu rumahku diketuk dengan tidak sabar. Aku yang lebih suka bekerja dirumah, karena bebas gangguan, sedikit terganggu dengan hal ini. Aku memang punya banyak usaha, namun disemua usaha itu aku memiliki orang kepercayaan untuk menjalaninya. Aku hanya tinggal mengawasi. Namun mereka tidak pernah menemuiku di rumah, apalagi di jam seperti ini.
Saat kubuka pintu, aku terlongong tak percaya. Di depanku berdiri seorang wanita yang pernah menjadi peserta Makeover namun mengundurkan diri di sesi final, Nada. Aku tahu siapa dia dan bagaimana kehidupannya. Aku tahu siapa orang-orang dibelakang dia. Meski awalnya aku sangat terkejut melihat dia mengetuk rumahku malam-malam, aku kasihan dan mengijinkannya untuk masuk demi kemanusiaan. Dia menceritakan semua yang dialami belakangan ini. Sungguh, otakku yang terbiasa menganalisa masalah dengan detil, menyadari wanita ini sangat menderita sekaligus dalam bahaya. Namun aku juga merasa bahwa jika aku melibatkan diri dengannya, hidupku akan tak lagi sama. Saat dia meminta bantuanku untuk melakukan makeover demi bisa kembali ke Pria yang dia cintai yang menurutku, ingin membunuhnya, aku jadi bengong. Sungguh, saat itu aku ingin berteriak, BODOH! Tapi melihat dia menyerahkan semua uang dan perhiasan yang dia bawa padaku, sambil terus berurai airmata. Aku tidak tega melakukannya. Nada memintaku membantunya membalas dendam pada keluarga dan selingkuhan suaminya, sekaligus mendapatkan kembali pria itu.
Awalnya aku tidak ingin mengerjakan project Nada ini karena jika dilihat tingkat kesulitannya, akan sangat tinggi. Jika melihat postur dan struktur wajah Nada, akanmembutuhkan banyak kerja keras, menjadikannya wanita sempurna versi Mahardika, Akan tetapi, setelah berbicara panjang. Aku menyetujuinya. Kini, setelah menjadi
__ADS_1
mahakaryaku, keistimewaan Nada yang mampu membuat semua orang jatuh cinta, bertambah dengan wujud fisik yang luar biasa. Namun semua itu harus dibayar dengan kesakitan yang luar biasa juga. Termasuk apa yang dialami Nada yang berganti identitas menjadi Nara, hari ini.