Nada Nara

Nada Nara
Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 2)


__ADS_3

POV Mahardika


Perhitunganku tidak meleset. Restoran ini memiliki memeliki 2 ruangan VIP Masing masing ruangan di memiliki satu meja berbentuk bulat yang bisa diisi oleh 6 orang. Aku bersama 5 timku segera masuk ke ruangan dan memesan makanan. Setelah semua makanan disajikan, aku meminta pelayang untuk tidak mengganggu sama sekali sampai kami keluar. Hal ini sangat umum di ruang VIP restoran yang menyajikan makanan korea ini.  Jadi mereka mengikuti perintahku tanpa banyak bertanya.


Saat aku menutup pintu ruang VIP yang kusewa, kulihat Adrian bersama Nara berjalan diantar oleh seorang wanita cantik dengan rambut cepak. Wanita yang juga asisten Pradipta ini terlihat sangat smart, angkuh dan kuat. Aku tidak heran jika dia memiliki kemampuan beladiri yang luar biasa. Sementara itu seorang laki-laki berusia 40an tampak berjalan dibelakang Adrian dan Nara. Aku mengenalinya sebagai manajer restoran. Mereka berempat melewatiku yang menutup pintu meski belum terlalu rapat. Aku tahu kalau wanita itu sempat menghentikan langkahanya sejenak dan menghadap ke pintu yang aku buka sedikit unuk melihat mereka tadi. Matanya tajam menatapku, seolah tidak ada pembatas pintu diantara kami. Saat itulah aku tahu, wanita ini adalah salah satu musuh yang harus aku waspadai. Aku segera menutup pintu dan mengalihkan pandanganku pada CCTV yang menampilkan seisi ruang restoran.


Aku melihat Nara dan tiga pengawalnya masuk ke ruang Super VIP yang ada disebelahku. Ruang Super VIP sebenarnya mirip dengan ruanganku. Namun menurut foto pengaturan yang aku dapat, disana ada dua meja terpisah. Satu meja kecil yang tadinya diletakan di sudut ruangan dengan 2 kursi dan Satu meja medium dengan 2 kursi berhadap-hadapan. Meja itu dihias sangat indah, dengan taplak berwarna biru tua, senada dengan nuansa ruangan yang berwarna biru muda. Tadi pagi salah satu anak buahku menyelinap untuk menggeser meja kecil dari sudut ruangan menjadi di belakang kursi yang disediakan untuk Nara.


Aku memandang ruangan yang dijadikan tempat pertemuan dengan seksama. Saat itulah aku tahu kalau pertemuan ini diatur hanya untuk dua orang. Itu berarti hanya Franco atau Pradipta yang akan datang. Jika Franco yang datang, meja kecil disudut akan diisi dengan beberapa kursi. Dan sepertinya jika Franco yang datang, meja dan ruangan tidak aka dihias romantis seperti ini.  Lagi pula saat kuperhatikan dengan sungguh-sungguh, aku melihat sosok yang tidak asing bagiku, sedang berdiri disudut gelap, dengan smartphone ditelinganya. Pradipta sudah berada disana, itu berarti Franco tidak akan datang. Tak lama aku melihat wajah wanita cantik tadi muncul dari balik pintu tanpa mengetuk. Pradipta sedikit terlonjak namun kemudian kembali tersenyum saat melihat siapa yang datang. Laki-laki itu segera berjalan kearah pintu menyambut Nara.


Setelah pintu terbuka lebar, wanita itu bergeser kesamping. Kudengar Pradipta menyapa Nara dengan suara sok manis ala buaya nya. Dia menggenggam tangan kecil nara dan mengecupnya. Laki-laki memang menyebalkan, dan aku merasa dadaku terbakar. Apalagi saat kulihat Nara mulai mematung membuatku sedikit kuatir. Pradipta menuntun Nara menuju kursi yang disediakan untuknya.  Asisten Pradipta berdiri disamping laki-laki itu dan membisikkan sesuatu. Setelah mengangguk, Pradipta melambaikan tangannya meminta mereka berdua untuk pergi. NAmun sebelum pergi, waniya itu berjalan mengelilingi Adrian tanpa bicara. Dia dan Manajer restoran tampak berbisik lalu memeriksa ruangan sebentar dan keduanya keluae dari ruangan.


“Adrian, dekati Nara jangan sampai dia kembali terkena pesona Modusa. Sok ganteng banget laki-laki itu. Pakai cium cium tangan Nara lagi,” kataku kesal. Terdengar suara tawa Henry ditelingaku.


“Dika, makanya kalau cemburu dan cinta bilang. Tidak usah sok jual mahal pakai acara mempertahankan cinta lama yang udah karatan,” kata Henry. “Setelah ini, hentikan Nada;s project, jadikan dia kekasihmu.”


“Kamu melantur Henry. Konsentrasi saja pada tugasmu bro,” kataku dengan nada kubuat galak.Bukannya takut, Henry malah tergelak. Aku tahu, jika memungkinkan, Adrian sekarang juga akan tertawa dan membuli dengan kalimat yang sama.  Namun demi tugas dia terlatih untuk tetap membuat mukanya datar tanpa ekspresif. Dia memegang tangan Nara dan memintanya duduk di kursi yang sudah ditarik Pradipta.Nara duduk seperti robot tanpa berekspresi apalagi berkata-kata.


Aku kembali konsentrasi pada tugasku. Adrian kuminta untuk menyalakan mic di tas tangan Nara. Aku lihatpengawal cantik dan manajer restoran itu sudah keluar dari ruangan.  Kami kemudian mengatur posisi beberapa kamera dan mic yang dibantu oleh Adrian yang sudah ada di posisi yang bisa mengatur dan menyalakan mic yang tadinya kita matikan untuk menghindari sweping. Aku, Adrian dan beberapa tim terus


berkoordinasi. Adrian dengan muka datar dan suara datarnya mampu membuat koordinasi kami berjalan lancar tanpa dicurigai.


“Ehem, Nara, kenapa melamun? Nara mau minum apa?” kudengar suara Pradipta memecah kediaman Nara. Ditangannya sudah ada sebotol wine yang siap dituangkan di Nara. Aku yang tahu bagaimana Nara, langsung lompat dari tempat dudukku.  Namun aku kembali tenang saat mendengar suara Nara.


“Ehm, Saya sedang tidak minum alkohol,” kata Nara sambil tersenyum. Aku menjadi tenang. Mereka duduk berhadapan dengan Adrian berada dibelakang  Nara. Aku meminta Adrian untuk mengawasi makanan dan minuman Nara. Tak lama aku mendengar Nara meminta  Adrian duduk bersama mereka. Namun sepertinya Pradipta terganggu dengan kehadiran Adrian. Dia seperti tidak menyukai ada orang lain dalam pertemuannya dengan Nara. Laki-laki buaya yang satu ini memang luar biasa menyebalkan.


“Nara, siapa dia?” tanya Pradipta kepada Nara


“Adrian? Dia yang menemani saya,” kataku sambil tersenyum.

__ADS_1


“Maksudnya? Menemani Nara?” kata Pradipta dengan nada kurang suka.Aku melirik Adrian yang berdiri tidak jauh dari kami. Aku sangat yakin, meski kami bercakap dengan pelan,  Adrian mendengar kalau kami membicarakan dia.


“Iya menemani saya kemanapun saya pergi dan menjaga saya. Kalau kata orang,  dia bodyguard saya,” kata Nara dengan memasang muka polos. Tetapi rasanya menyebalkan saat mendengar Nara mengeluarkan suara manjanya.


“Oh bodyguard. Kenapa harus duduk bersama kita? Biarkan dia diluar ruangan, nanti saya bukakan meja dan on me,” kata Pradipta sambil memanggil pelayan. Apa? Dia akan mengeluarkan Adrian? Oh tidak bisa dibiarkan. Aku melihat Nara juga menunjukan kepanikannya juga.


“Jangan, biarkan dia disini. Dia harus disini seperti yang diperintahkan manager saya. Nanti saya kena marah,” kata Nara dengan lembut. Wow, Nara cukup berani mempertahankan Adrian agar tetap di ruangan rupanya. Pradipta sepertinya cukup kaget dengan keberanian Nara. Entah karena Nara memegang tangannya atau karena wanita itu berani mempertahankan Adrian yang hanya seorang bodyguard. Namun perubahan muka Pradipta tidak berlangsung lama. Dia menepuk tangan Nara yang ada dilengannya sambil tersenyum. Ternyata sentuhan Pradipta justru membuat Nara tidak nyaman.


“Ah, Nara mengingatku,” kataku saat mencoba masuk kedalam pikirannya.


“Cieee…. Seneng ya dipikirin gebetan,” suara sember Henry merusak moodku yang membaik.


“Diem lu,” bentakku yang seperti biasa disambut ketawa tergelak dari Henry dan deheman menahan geli dari Ardian.


“Nara,” kudengar suara Pradipta yang diucapkan dengan lembut yang membuatku mual.


“Ya?” jawab Nara menundukkan kepala karen tanpa melihat Pradipta.


“Woi gila, Nara lucu banget sih mukannya kalau gitu. Untung yang dilihatin Ardian, yang nggak suka cewek. Wuhuuu, cantikkk,” teriakan Henry membuatku sebal. Laki-laki buaya satu ini memang paling menyukai ekpresi seperti yang Nara lakukan barusan. Polos dan menggemaskan. Nara masih terus memandang Ardian yang pura


pura tidak memperhatikan Nara. Wajah datarnya tanpa ekspresi sama sekali. Tapi aku tahu kalau Adrian memberikan kode pada Nara bahwa dia setuju dengan apa yang dilakukan Nara. Wanita cantik itu mengangguk dan matanya berbinar lucu.


“Selamat menikmati kelucuannya Hen. Kebut aja,” bisik Adrian sangat pelan hampir tak terdengar. “Dika biarin saja. Tidak berani ya tidak mendapatkan apa-apa.” Henry langsung tertawa tergelak mendengar kata kata Adrian. Aku hanya bisa mendengus dan diam.


 “Adrian, duduklah dimeja itu. Makan dan minum sesukamu,” kata Nara sambil menunjuk meja yang ada di belakang kursinya. Setelah itu Nara mengucapkan terimakasih kepada Pradipta dan mulai mengajaknya bicara.


“Adrian, kursi dan meja terlalu jauh dari Nara,” aku mencoba membuat Ardian lebih dekat dengan Nara.


“Siap boss,” saat itu juga Adrian bergerak dengan cepat namun tanpa suara dan tidak terlalu

__ADS_1


terlihat.


“Juli tidak ikut hadir?” kudengar Nara mulai menanyakan tentang Juli sambil mencoba melepaskan tangannya yang digenggam Pradipta. Aku tahu, saat ini Nara sedang menirukan sebuah karakter yang dia diskusikan denganku minggu ini. Dia menirukan seorang tokoh wanita penggoda kelas atas yang cantik dan bersikap angkuh namun elegan. Tokoh yang kami diskusikan itu memang seorang penggoda, namun bersikap sebagai seorang yang sulit didapat dan membuat targetnya penasaran lalu mengejarnya. Sebuah permainan tarik ulur yang sebenarnya, aku sendiri tidak yakin Nara mampu. Nara memang cerdas, tapi dia tidak licik. Dia terlalu baik hati.


Saat Nara menanyakan keberadaan Juli, terlihat jelas jika Pradipta kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Disaat seperti itu datag seorang wanita  membawa sebuah kotak perhiasan berwarna hitam. Wanita itu diikuti oleh 4 orang berbadan kekar dan wajah menyeramkan. Wanita itu membisikan sesuatu yang membuat Pradipta tersenyum. Kedatangan wanita itu sebuah kebetulan yang menyelamatkan buaya kampret itu? Aku rasa tidak. Aku mulai merasa bahwa ada orang lain yang mengawasi pertemuan ini selain aku. Aku melihat kilatan licik dimatanya.


“Adrian, awasi wanita itu dan Pradipta. Hati-hati. Sepertinya ada yang mengawasi selain kita,” kataku. Hentikan pembicaraan lain selain misi dan lakukan seminim mungkin,” kataku dengan tegas.


“Siap boss, got it,” kata Henry dan Adrian.


Aku melihat kotak itu diulurkan ke Pradipta dan dibuka oleh wanita itu.  Aku perhatikan Pradipta hanya melihat sekilas, menutup kotak dan menerimanya. Dia bersikap seolah-olah tidak tertarik dengan kalung tersebut. Dia meletakkan kotak itu di meja begitu saja lalu mengangguk.


“Jadi dia kemana?” tanya Pradipta perlahan sepertinya tidak ingin Nara mendengarnya. Namun karena aku telah memasang mic di penutup kursinya, aku bisa mendengar jelas apa yang dia katakan. Kulihat Narapun tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Pradipta. Tapi tunggu, sepertinya bukan tidak mendengar. Tetapi Dia pura-pura


tidak mendengar.


“Boss, sepertinya mereka berbuat tuh. Lihat tangannya masuk kedalam rok. Eh busyet, jalan tol dibuka tuh. Sajian disiapkan bro,” kata Henry. Aku melihat wanita itu sengaja menggoda dengan rok yang hanya beberapa jari dari batas celana dalamnya dan kemeja tipis yang 3 kancing diatanya dilepas. Bukit yang menyembul dari balik seolah memang dihidangkan untuk dinikmati.


“Buat lu aja sana. Biasa aja. Bukan selera gue,” kataku tak peduli.


“Ehmmss, tuan F masih sibuk di suitenya diatas tuan,” kata wanita itu mendesah pelan. Sepertinya permainan jari Pradipta sudah membuatnya naik dan menginginkan lebih.


“Kamu tidak bergabung?” bisik pradipta


“ehmmm.. sshh... Kan saya sedang bertugas mengawal aah... kalung ini tuan. auuchhhss.. Saya bertugas menemani tuan saja,” bisik wanita itu dengan nada manja-manja ter angsang. Rupanya permainan mereka masih berlanjut membuat wanita itu terus mengeluarkan kenikmatan lewat suara. Aku diam diam memperhatikan muka Nara yang memerah. Aku tahu, diam diam dia sedang memperhatikan apa yang mereka lakukan. Hal seperti ini masih sangat asing dan tabu bagi Nara. Aku berharap Nara tidak mengikuti cara wanita ini untuk mendekati Pradipta. Aku selalu mengingatkan bahwa Pradipta seorang petualang yang merasa bisa mendapatkan wanita dengan mudah dan meninggalkannya jika dia bosan. Jika Nara ingin mendapatkan Pradipta kembali, cara murahan seperti perempuan ini, tidak akan berhasil.  Nara akan menjadi mainan sesaat dan ditinggalkan lagi seperti Nada. Nara harus mendekati Pradipta dan membiarkan Pradipta menganggap Nara sebagai target buruan yang akan dia miliki bukan hanya dipermainkan, dipakai dan dibuang.


“Hehehe,  nakal kamu ya. Kamu sudah basah ya, tunggu ya. Kerja yang baik dulu nanti dijenguk sama Mr. P setelah pekerjaan kita selesai,” kata Pradipta mengedipkan sebelah matanya, mencabut tangannya dari bawah rok wanita itu dan memasukan jarinya yang aku yakin penuh dengan cairan kepuasan wanita tadi, ke mulutnya. Kulihat wanita itu terkikik geli sambil mengedipkan sebelah mata dengan muka memerah setelah baru saja memekik dan berjengit karena berhasil dipuaskan oleh jari pradipta dengan cepat.


“Pergilah, aku harus menyelesaikan penyerahan kalung ini. Bilang sama Tuanmu, jangan seenaknya aja melimpahkan tugasnya,” kata Pradipta dengan volume agak keras. Aku yakin dia memang sengaja dan bermaksud menyadarkan Nara dari diamnya. Wanita itu membungkuk hormat kepada Pradipta sambil tersenyum genit lalu membungkuk kepada Nara dengan sikap foral. Terlihat sekali dia memang terlatih melakukan hal seperti ini.  Dia memberi kode kepada empat laki laki yang menginkutinya tadi dan pergi keluar ruangan.

__ADS_1


“Bram, ikuti mereka dan usahakan mendengar dan melihat apa yang mereka bicarakan,” kataku.


“Siap boss,” kata bram yang dari tadi berdiri di depan pintu ruang VIP ku. Aku kembali mengemballikan fokusku pada Nara


__ADS_2