Nada Nara

Nada Nara
Bab 63. Gila Karena Mesum


__ADS_3

POV Mahardika


Untuk membuat Nara sedikit rileks, aku menggoda Nara. Aku bilang kalau Pradipta itu keturunan Medusa yang modus. Jadi sekali pandang, Pradipta membuat Nara langsung membeku. Mendengar becandaanku, Adrian dan Henry langsung mendegus dan menggumam “Garing!”  Sedangkan Nara langsung ketawa terbahak-bahak, namun masih ditahan karena tidak mau orang melihatnya tertawa sendiri.


“Hahaha, ada-ada saja kamu M.  Maaf ya, tadi aku benar-benar tidak siap mental. Tapi janji tidak akan terjadi lagi,” kata Nara. Walau dia seperti ingin meyakinkan diriku tapi sebenarnya dia ingin meyakinkan dirinya sendiri. Walau kami tidak terlalu yakin, paling tidak sekarang kami sudah mulai santai .  Emosi kami kini sudah stabil dan bisa berpikir jernih. Aku senang melihat muka Nara sudah mulai rileks dan tidak terlalu sedih dan marah.


“Mungkin mengucapkan selamat atas kesuksesan peluncuran bisa menjadi pilihan topik ya M?” kata Nara. Aku rasa usul  Nara cukup masuk akal.  Nara sangat menguasai permasalahan tersebut. Dan masalah kedua adalah mengalihkan Juli agar tidak menempel pada Pradipta, dan Nara bisa mendekati Pradipta. Jadi bagaimana caranya menyelesaikan masalah tanpa masalah? eh kok malah jadi menyebutkan slogan pegadaian sih? apa yang mau aku gadai coba? aku malah jadi ngedumel sendiri tanpa sadar.


"Cintamu yang digadai," kata Henry pelan yang disambut kikikan Henry dan Adrian. Mereka ini bisa tidak ya menyingkronkan antara muka datar keren itu dengan kelakuan? kenapa kelakuan mereka selalu menyebalkan.


Aku kembali membagi konsentrasi dengan melihat Pradipta dan Juli. Mereka masih diatas panggung meskipun acara peluncuran telah selesai. Aku rasa kami harus mulai bersiap untuk rencana selanjutnya. Kami berdua sepakat untuk melihat situasi terlebih dahulu. Jika keadaan memungkinkan maka Nara akan kembali mendekat dan mencoba berbicara dengan Pradipta. Aku dan Adrian mencoba menganalisa situasi. Sedangkan Hensry dari tadi sedang menganalisa data LC Corp yang dia retas. Dia juga sedang merekap data pada tamu undangan yang hadir diruangan ini. Dari tadi dia berkeliling hanya untuk melakukan scaning data kartu di dompet para tamu, dengan jam tangan yang ada di pergelangannya, dengan bantuan tim yang ada di basement. Alat Henry ini juga ada di jam tanganku dan Adrian, namun saat ini hanya milik Henry dan timnya yang berfungsi. Dengan alat tersebut, Henry berhasil melakukan scan dan duplicated semua kartu dalam dompet atau tas tamu yang berjarak 1 meter darinya. Dalam hitungan menit Henry memiliki duplikat kartu mulai kartu ID, seperti sim dan KTP sampai kartu kredit, dan


bisa menggunakannya. Banyak yang tidak tahu bahwa alat seperti ini hanya hoax. Pada kenyataannya banyak hacker jahat yang sudah mengeruk keuntungan dari alat-alat ini, diseluruh dunia.


“Bos, saya mendapat duplikat kartu dan simcard milik Mr. Franco. Dan anehnya disini juga ada smartcard atas nama Putra Dirgantara dan Dika Dirgantara,” kata Henry dengan hati-hati. Sebuah informasi yang sangat mengejutkankuSemua kartu itu sudah lama tidak ada yang menyentuh. Aku pikir kartu-kartu itu ikut terbakar bersama Putra Dirgantara.


“What?! Oke, pisahkan dan simpan di serverku Henry. Jangan biarkan siapapun termasuk anak buah kepercayaanmu memiliki data tersebut,” kataku. Hemm, apa yang kamu lakukan Franco? Aku kembali mengedarkan pandanganku. Aku melihat Franco sedang berbicara dengan anak buahnya, tak jauh dari posisi Henry. Sementara Juli dan Pradipta masih ada diatas panggung.

__ADS_1


“Hadirin sekalian, itulah tadi peluncuran Studio digital terlengkap LC dengan segala kecanggihan yang akan bisa menjadi sarana promosi bagi produk hebat apapun dengan tampilan yang menarik dan jangkauan tidak terbatas. Selain itu promosi dan pengambangan komunikasi juga dilakukan dalam bentuk siara digital serta film animasi empat dimensi yang bisa ditayangkan dimana saja kapan saja. Semua akan dikembangkan dan dipersembahkan


LC untuk anda semua, “ kudengar suara Juli yang renyah, diatas panggung. Sebagai ambasador utama LC, Gadis itu mulai berbicara panjang lebar tentang LC dan keunggulannya.


“Saat ini LC memang mengembangkan bisnis yang luar biasa. Namun LC dan tentu saja keluarga besar Dirgantara, tidak melupakan sekitarnya. Untuk itu dihari bahagia ini LC mendapat penghargaan besar dari keluarga besar Dirgantara. Malam ini Akan ada pelelangan Kalung pernikahan dari pemilik Dirgantara Corporation, Almarhum Putra Dirgantara dan Almarhum istrinya, Lidya Dirgantara. Kalung ini adalah hadiah tanda cinta Bapak Putra kepada ibu Lidya, yang kita tahu merupakan pasangan penuh cinta sehidup semati. Setelah  sekian lama tersimpan, malam ini kita bisa melihat keindahan tanda cinta yang luar biasa ini,” kata Juli. Sebuah kalimat panjang yang membuatku membeku. Aku mengangkat kepalaku dan menatap Juli. Aku takut aku salah mendengar. Dia mengatakan apa tadi?


“Lidya? Kalung? Dilelang? Siapa yang berani melakukannya? “ tanpa aku sadari aku menggeram marah sambil mengatakan apa yang ada dikepalaku. Aku mengenal dengan baik nama itu. Aku membayangkan Bunda Lidya


Dirgantara yang cantik, lembut dan cerdas. Wanita terbaik yang aku jadikan role model pembentukan Nara. Dengan kata lain, Nara adalah perwujudan bunda yang ada dalam otakku.


“Bro, sabar. Aku tahu kamu mengingat beliau dan marah. Namun kamu akan menggagalkan semua rencanamu bersama Papa Shasa, sabar bro,” kata Adrian. Henry yang tak jauh dariku tampak memandangku khawatir, menyadarkanku atas kecerobohan yang aku lakukan. Ya aku terpengaruh saat mendengar nama Bunda Lidya. Namun aku tidak boleh gegabah dan menghancurkan kerja keras kami selama ini.


“Untuk itu, kami mohon Mr. Franco sebagai perwakilan dari keluarga Dirgantara yang sekaligus mewakili keluarga besar beliau, untuk naik keatas panggung,” kata Juli kembali terdengar. Ya aku harus konsentrasi. Terlihat Franco naik keatas panggung membawa kotak persegi dari bludru merah.


“Terimakasih Juli. Sebuah kehormatan bagi saya bisa mewakili Almarhum ibu saya, Lidya Dirgantara dan keluarga Dirgantara memberikan kalung kenangan ini untuk dilelang di peluncuran besar LC. Kebetulan perusahaan ini saya rintis sendiri sebagai pembuktian saya kepada nenek.  Dirgantara dan keluarga besar, bahwa saya adalah bagian dari keluarga yang selalu saya banggakan ini,” Franco tampak membuka kotak dan mengeluarkan sebuah kalung


dengan liontin bertuliskan  PLD yang terukir indah memanjang, bertaburan berlian. Sangat Indah.

__ADS_1


Mataku menatap nanar Franco yang memegang kalung indah. Ingatanku menerawang jauh kemasa lalu, melihat kalung itu terpasang cantik dileher Bunda.  Kalung yang diberikan ayah pada Bunda saat ulang tahun perkawinan. Semua kenangan itu diputar cepat dikepalaku sampai pada kejadian di gudang yang terbakar. Semua seperti film yang terus diputar tanpa bisa aku hentikan. Tubuhku menegang karena kenangan dan kemarahan. Semua itu membuat tubuhku seperti terbakar dan sulit aku kendalikan.


“Bro! Dika! Tenang!” suara Adrian terdengar ditelingaku. Aku tahu sahabatku ini mengkhawatirkanku. Kurasakan cengkeraman kuat dipundakku dan bisikan lembut Henry di telingaku.


“Ini aku, Henry. Tenangkan dirimu. Jika kamu tidak bisa, keluarlah. Aku rasa Adrian dan aku bisa mengatasi semuanya disini.  Dadaku terasa sesak namun aku sadar, kedua sahabatku benar. Aku harus menguasai diriku. Ini bukan saat yang tepat untuk melankolis seperti ini. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan kugegam erat tanganku sampai kurasakan urat-urat di telapak dan lenganku saling tertarik keras satu sama lain. Kurasakan kukuku menancap ditelapak tanganku dengan keras.  Aku menengok kearah Nara . Disana Nara masih memandang panggung dengan kerutan dikeningnya.  Dia tampak sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sesekali wanita itu menarik nafas panjang dan kembali melepaskan pelan.


“Agar terlihat keindahannya, sepertinya kalung ini harus berada ditempat yang tepat. Maaf Mr. Pradipta, pinjam Juli


sebentar ya,” kata Franco menggoda Pradipta dan mendekati Juli. Salah satu asisten Franco segera mendekat dan mengambil alih kotak beludru merah. Aku tahu benar siapa Franco. Banyak media yang mengatakan bahwa laki-laki ini akan mengambil alih Dirgantara Corporation dari  penguasa Dirgantara sekarang yang usianyasudah sangat lanjut. Perempuan tua yang sangat tangguh dan sedikit aneh. Aku melihat Franco memasangkan kalung yang sangat aku kenal dengan baik itu di leher jenjang Juli. Jika dalam keadaan normal, mungkin aku tidak keberatan jika


aku yang memasangkannya sendiri di leher gadis itu. Tetapi entah mengapa, aku malah jadi tidak ingin merelakannya. Aku membayangkan kalung itu ada di leher cantik Nara. Dan aku tersenyum karena abayangan itu. Kembali remasan ala Henry menyadarkanku.


“Kamu belum gila kan bro?” suara dua laki-laki secara bersamaan membuatku mengerutkan kening.


“Wajar kami bertanya bos, tadi aura kemarahanmu menggila dan membuat kami khawatir. Kami khawatir, api akan keluar dari kepalamu dan membakar ruangan ini. Sekarang kamu malah senyum-senyum mesum,” kata Henry dengan muka menyebalkan disampingku. Sedangkan dari tempat lain, terdengar tawa tertahan dari Adrian.


“Tadi masih emosi, tapi gara gara membayangkan Nara, dia berubah jadi mesum,” kata Adrian yang disambut deheman Henry menahan tawa. Dia melepaskan tangannya dari bahuku membuatku bebas dan mengancamnya dengan kepalan tanganku.

__ADS_1


__ADS_2