Nada Nara

Nada Nara
Bab 25 Juli dan Mahardika


__ADS_3

Aku mulai menceritakan tentang hubunganku dengan Juli dan bagaimana Juli bisa sampai bertemu dengan Pradipta. Aku mengatakan pada Nara tentang kekawatiranku pada Juli yang dikianati pacarnya. Aku juga bilang kalau aku telah mencari mantan kekasih Juli. Aku katakan, kalau aku sudah memberikan hukuman setimpal pada mantan kekasih Juli. Laki-laki yang membuat Juli  menangis, dan melarikan diri ke Singapura. Orang yang membuat Juli menyembunyikan diri di apartemen Pradipta. Gara-gara bajingan itu, Juli bertemu intens dengan


Pradipta dan terbujuk rayuan laki-laki bajingan itu. Gara-gara rayuan laki-laki yang dipanggil suami oleh Nada itulah, Juliku berubah. Aku benar-benar tidak suka dan marah karenanya.


“Lalu kamu datang ke kantor Makeover untuk mengikuti acara itu. Sebagai peserta, latar belakang hidupmu sudah pasti kami cari tahu dan digali sebanyak mungkin. Dari sanalah aku yakin, jika suami kamu dan kekasih Juli adalah orang yang sama. Kami tahu kalau Pradipta dan saudara-saudaranya sering mentertawa ” Kataku lagi. Nara membelalakkan mata.


“Mengapa kalian tidak bertanya apa-apa padaku? Kalian benar-benar mencari tahu siapa diriku sampai sedalam itu? Bagaimana kalian bisa tahu? Aku bukan artis kan?” Nara memberondongku dengan pertanyaan keheranan yang menurutku dia juga tahu jawabannya. Matanya menatapku tak percaya.


“Nara, kamu bukan artis. Tapi kamu peserta makeover. Itu berarti kamu menjadi tokoh reality show. Kami harus membuat kisahmu sedrama dan seseru mungkin. Bagaimana kami bisa melakukannya kalau kami tidak tahu siapa kamu?” tanyaku.


“Dari mana? Sekali lagi, ini jaman internet. Juli dan Pradipta selebritis. Bukan hal sulit menggali informasi tentang mereka. Kamu mungkin bukan artis, tetapi kamu terlibat dengan badut komunikasi yang terekspose luas di dunia digital,” tambahku. “Kamu sendiri tahu apa yang kumaksud tanpa aku harus terangkan panjang lebar kan?”


“Ya tapi___”


“Sudahlah. Intinya aku tahu siapa kamu, Juli dan Pradipta dengan sangat baik. Kami tahu kalian sampai sekecil-kecilnya. Setelah kita hidup bersama, aku makin tahu tentang kamu, Pradipta dan Juli,” potongku.


“Ini adalah fotoku dengan Juli dan Agusta,” Kataku melanjutkan ceritaku, sambil menunjukan foto kami bertiga.


“Sejak kecil kami dekat satu sama lain. Papa selalu menekankan kalau kami bersaudara. Kami harus saling menjaga satu sama lain, apapun yang terjadi. Papa juga berpesan, kalau aku tidak boleh menganggap dia orang lain. Papa adalah papaku meski tidak memiliki darah yang sama. Begitu juga Agusta dan Juli, kami saudara meski tidak sedarah. Itulah yang selallu ditekankan Papa. Bahkan disaat terakir sebelum meninggal, Papa mengajakku bicara tentang hubungan kami. Papa bilang, meskipun dia bukan ayah kandungku, bagi dia aku adalah anak sulungnya. Aku sama dengan Agusta. Dia juga menitipkan Juli dan Agusta jika terjadi apa-apa padanya,” kenangku.


“Diantara kami bertiga, Juli paling dimanja. Mungin karena dia perempuan. Apapun permintaannya, akan kami usahakan, agar terpenuhi. Sejak kecil Juli sudah terbiasa, apapun keinginannya, dia akan berjuang untuk mendapatkannya. Itulah Juli. Tidak gampang menyerah,selalu memperjuangkan apa yang diinginkannya sampai dapat, kadang dengan cara tak terduga,” kataku. Kulihat Nara mengambil fotoku berdua Juli. Aku terkesiap.


“Jangan kau ambil! “ kataku dengan cepat dan keras. Segera kurebut foto itu dari tangannya. Nara terlihat sangat kaget. Maafkan aku Nara, aku tidak mau kamu membaca tulisan yang aku coretkan di belakang foto itu. Aku segera memasukan foto yang tadi kurebut dari Nara, ke dalam dompet. Nara memandangku dengan tatapan tajam yang


sedikit menakutkan. Tidak sering dia melakukan tatapan ini, namun sekalinya melakukan, Nara selalu membuatku merinding.


“Itu Juli kan? Apa kalian memiliki hubungan lebih, selain kakak adik? Apakah hubungan kalian berdua spesial?” tanya Nada dengan nada tajam memburu. “Kalau dari foto tadi, sepertinya kalian bukan kakak-adik. Feelnya beda.”

__ADS_1


Mukanya merah antara kesal dan penasaran. Aku terdiam sesaat. Sebelum melanjutkan kata-kataku. Aku harus memilih kata yang tepat agar gadis didepanku ini tidak marah, atau mungkin malah menuduhku bersekongkol dengan Pradipta dan Juli. Aku tahu, dia sangat tidak menyukai Juliku. Dia merasa, Juli adalah sumber kehancurannya. Padahal sejak awal, Pradipta dan keluarganya memang sudah merencanakan rencana jahat, untuk menguasai hartanya dan menyingkirkan Nada, ada atau tidak adanya Juli. Kutarik nafas panjang dan dalam.


“Aku sudah mengatakan tadi, kalau kami tumbuh bersama. Kenal? Lebih dari kenal malahan,” kataku dengan pelan berusaha selembut mungkin. Aku tidak ingin gadis ini marah dan meninggalkanku. Ehm, maksudku, meninggalkan Nada’s Project. Bukan meninggalkanku ya, jangan salah mengerti.


“Aku sebenarnya tidak mau menanyakannya tapi aku penasaran M. Sudah agak lama aku sadar kalau kamu sebenarnya kenal Juli, tidak mungkin tidak. Tapi kamu menyembunyikannya dariku. Padahal kamu tahu pasti kalau Pradipta, Juli dan aku  terkait dalam Nada’s Project. Kita kan sudah sepakat untung saling jujur dan mengatakan apapun, apa adanya selama tentang Nada’s Project,” kata Nara dengan nada yang sedikit menurun. Tidak semenuntut tadi.


“Aku memang penasaran.tapi aku juga tidak bisa memaksamu untuk mengatakan yang sebenarnya. Bagaimanapun, aku tidak berhak karena semua adalah milikmu. Kamu tidak terhubung dangan kami bertiga. Jadi aku takkan bertanya lagi, hanya berharap kamu masih mau jujur. Hanya saja, boleh aku bertanya satu hal? “ Tanya Nara dengan wajah pasrah yang aku tidak suka. Ada rasa bersalah menyisip di relung hatiku. Akupun mengangguk


dan memegang tangannya.


“Kenapa Kamu melakukannya? kenapa kau menolongku?”tanya Nara sambil menatapku tajam. Matanya yang bulat mengerjap, membuatku gemas. Bibirnya yang mungil dikerucutkan membuat darahku berdesir, ingin memakannya. Tangannya yang halus menggenggam tanganku dengan erat. Kami begitu dekat hingga sekali lagi aku menghirup aroma Nara yang khas, membuat adik kecil ikut-ikutan bereaksi, ingin ikutan ngobrol.


“Aku mau menjualmu setelah kau jadi cantik.” kataku menggodanya


“Hah? Kamu anggota sidikat jual beli manusia? Tapi kenapa mafia jual beli mau terlibat balas dendam seorang Nada? Kalaupun dijual, rasanya nggak akan laku  sebesar pengeluaranmu untukku. Haish, kamu tidak masuk akal M,” kata Nara sambil menghentakan kakinya. Sangat menggemaskan. Aku tidak lagi dapat menahan senyum dibibirku.


“Lho kan kamu yang bertanya,” kataku mengedipkan sebelah mata. Dia memukulku sebal.


“Hayo ngaku!” kata Nara dengan serius. Huft, baiklah. Bagaimanapun aku sudah menggali privacy Nada terlalu dalam. Bagaimanapun aku sudah berjanji untuk selalu terbuka padanya. Mungkin akan lebih adil, jika aku


mengatakan yang sebenarnya.


“Juli dirampas dariku!” kataku pelan.


“Maksudnya? Memangnya Juli milikmu? Kekasihmu?” tanya Nara


“Ya begitulah. Seperti kamu tahu aku bertemu Juli saat berusia 10 tahun dan dia, 8 tahun. Dia yang bersama papa saat menemukanku dijalan. Dia yang mengajakku duduk di mobil dan memegang tanganku saat itu. Meski tanpa mengatakan apapun. Sejak itulah aku berjanji akan selalu menjaganya. Aku jatuh cinta padanya. Dialah cinta

__ADS_1


pertamaku. Bahkan aku mengatakan perasaanku pada Juli saat SMA. Tidak ada yang tahu, Agusta sekalipun. Hanya aku dan Juli yang tahu. Kami bersama sampai kuliah,” kataku mengenang kebersamaanku dengan Juli yang tidak pernah diketahui siapapun.


“Dan Agusta tidak tahu?” tanya Nara yang kujawab dengan anggukan.


“Sejak awal, Juli memang selalu manja padaku. Jika ada yang menggoda, dia selalu berlindung dibelakangku. Dia selalu bilang kalau mereka tidak boleh mengganggunya, karena dia milikku. Namun saat kami bersama, Juli selalu mengatakan bahwa tidak boleh ada yang tahu hubungan kami dan dia tidak mau dikekang. Dia merasa masih terlalu muda untuk hanya terpaku padaku,” kataku mengenang masa kecilku bersama gadis manisku.


“Namun karena aku harus kuliah sambil bekerja, aku sering meninggalkannya. Memang, Juli sempat berpacaran dengan orang lain. Namun selalu dia kembali padaku. Petualangannya hanya aku anggap sebagai petualangan remaja yang mencari jati diri dan kesepian akibat kesibukanku.  Aku memaafkannya. Dan ya seperti cerita yang kamu tahu, Juli dirampas oleh Pradipta dan dijauhkan dariku,” kataku. Nara mengernyitkan dahinya seperti tidak mengerti.


“Aku tidak mengerti M.  Ada yang nggak nyambung menurutku,” katanya sambil mengetukkan jarinya ke bibir


sexy.


“Ah sudahlah! Intinya, Nada’s Project tetap harus berjalan dan pernikahan suamimu dan Juli tak boleh terjadi,” kataku.


“OK! Baiklah,” kata Nara.


“Baiklah bagaimana maksudmu?” kataku sambil memandangnya. Tidak ada teriakan marah atau cemburu dari Nara saat menanggapi hubungan antara Juli dan Aku. Nara tidak cemburu bahkan tidak perduli. Aku kecewa. Apa?! Kecewa? Buat apa Mahrdika? Kamu bukan siapa-siapa dia ‘kan?


“Pada dasar kita punya tujuan yang sama. Kau mau menghentikan pernikahan itu,kan? Mari kita fokus pada


rencana itu,” jawab Nara sambil mengangkat telapak tangannya untuk ber high five.


“Ok!” kusambut tangannya dan kita sepakat. Aku menarik nafas lega. Nara tidak marah padaku\, dia masih tetap tinggal disini bersamaku dan projectku terus berjalan. Aku sangat lega karena aku masih bisa melihat Nara\, besok pagi. Ingin rasanya aku memeluk dan menciumnya. Tapi___


“Baiklah Nara, lebih baik kita istirahat. Kamu bisa melanjutkan membaca besok lagi. Hari ini cukup menguras Tenaga dan emosi kan,” kataku sambil merapikan buku-buku di tempat tidur Nara.


“Oke, sudah tengah malam juga sekarang. Besok kamu masih harus bekerja dan aku masih harus melanjutkan membaca ini kan,” kata Nara dengan manis. Dia menurunkan badannya dan bersiap tidur. Kuperbaiki selimutnya, lalu kukecup keningnya dengan ringan. Jantungku berdegup kencang saat menyadari apa yang kulakukan. Nara tampak mematung memandangku saat itu juga. Aku benar-benar takut dia marah. Aku menahan nafas dan waspada menerima kemarahannya atas kelancanganku. Namun untuk beberapa saat kami hanya saling diam terpaku.

__ADS_1


“Ehem, baiklah, aku ke kamar ya Nara,” kataku sambil menyalakan lampu tidur, mematikan lampu kamar dan


keluar kamar Nara. Bila tidak segera pergi, aku takut akan tidak bisa menahan diri dan berbuat sesuatu yang aku sesali.. Sebelum benar-benar keluar, aku mengintip lagi kedalam. Kulihat Nara malah duduk dan meraba keningnya yang tadi kukecup. Argh! Lucu sekali dia. Baiklah, harus segera ke kamarku kalau tidak mau kelepasan lagi.


__ADS_2