Nada Nara

Nada Nara
Bab 60. Meski Memakai Baju Pelayan, Kamu tetap Menggoda


__ADS_3

Aku Nara mengkhawatirkanku. Hal itu tertangkap jelas dari perhatian dan suaranya saat menanyakan keadaanku.  Mungkin dia khawatir aku akan marah, emosi bahkan depresi mendengar Juli sedang melakukan hubungan yang tidak seharusnya,  di toilet dengan laki-laki lain. Mungkin dia berpikir aku akan patah hati dan meraung raung karena dikhianati oleh kekasih masa kecilku itu. Bahkan disaat hatinya sendiri dia masih mengkhawatirkanku? Hatiku menghangat dan entahlah. Ada bahagia yang menysup disana.


“Aku baik baik Nara. Kamu tenangkan diri dulu dan nikmati pestanya bersama Adrian. Makanlah dan bersenang-senanglah. Masih ada yang harus aku bereskan disini,” kataku meyakinkan Nara yang aku yakin juga sedang tidak baik baik saja. Bahkan saat ini, dia pasti sangat tidak terima dengan apa yang dilakukan Pradipta di toilet, dengan wanita random seperti ini. Memang bukan pertama baginya namun tetap saja tidak pernah bisa diterima oleh


wanita polos ini.


Kulihat Adrian mengacungkan jempolnya disana. Aku hanya mengangguk lalu berkoordinasi dengan anak buahku untuk mengganggu kegiatan Juli dan Pradipta dengan berpura-pura sebagai cleaning service. Mereka sudah terlalu lama di  dalam sana.  Tidak ada salahnya jika aku membantu pihak penyelenggara untuk menyadarkan tokoh utama acara yang sedang asyik sendiri.


Gangguan dari anak buahku yang pura-pura akan membersihkan toilet, berhasil mengusir dua pasangan mesum itu. Mereka berempat kulihat sudah kembali kedalam Ballroom. Kali ini aku minta Adrian untuk mengurus Nara selama Acara peluncuran itu berlangsung.  Aku sekarang sudah menempatkan anak buahku disekitar Juli dan Pradipta. Tidak ada yang bisa dilakukan Nara saat peluncuran Studio digital terlengkap LC yang akan mengembangkan siaran digital dan film animasi 4D. Juli akan sibuk menjadi host acara  sedangkan Pradipta akan di atas panggung bertindak sebagai CTO dan pemilik ide tersebut. Pemilik ide? Laki-laki bajingan itu memang tidak tahu malu. Bahkan dia mengakui ide besar Nada yang luar biasa itu sebagai ide miliknya. Aku tahu persis, Naralah


yang memiliki ide, riset dan blueprint dari ide tersebut. Peran Pradipta hanyalah menyerahkannya pada Franco dan mempresentasikannya didepan investor. Bahkan setahuku, presentasi itu juga sudah disiapkan oleh Nada sebelum


kecelakaan itu terjadi.


Secara tidak sengaja, aku bertemu dengan wanita yang tadi berada di toilet bersama dengan Pradipta. Wanita melenggang masuk ballroom setelah beberapa waktu lalu Pradipta bergabung dengan Juli di dekat panggung acara. Wanita itu melirikku sambil tersenyum lebar. Dengan sengaja Dia membetulkan bajunya di bagian dada yang berukuran 36B itu.Ish, murahan sekali wanita ini. Baru juga melakukan hubungan maksiat dengan laki-laki sekarang sudah menggodaku?

__ADS_1


“Gimana pertunjukannya? Mengasyikan? Kenapa tadi tidak masuk dan bergabung saja? “ kata Wanita itu sambil tertawa. Aku mengerutkan dahiku mendengar kata-kata perempuan ja lang yang sekarang sudah ada persis disampingku.


“Meskipun kamu bersembunyi dibalik baju pelayan, aku tahu aset kamu luar biasa besar. Aku jadi ingin mencobanya? Tapi lepaskan dulu earphonemu. Aku tidak ingin bisa dan teman-temanmu mendengar desssahan kita nanti,” katanya sambil mengulurkan tangan ingin memegang  junior di antara dua pahaku. Secara reflek, aku tangkap tangannya dan diam diam aku tekan sampai tangan itu mati rasa tidak akan bisa digunakan untuk beberapa saat. Wanita itu langsung berteriak kesakitan. Tetapi anehnya, meski berteriak, perempuan itu tetap tersenyum. Aku tahu dia bukan perempuan biasa. Sambil tersenyum aku segera memegang belakang lehernya dan melakukan sesuatu yang membuat wanita itu tidak akan bisa berbicara untuk beberapa saat, sampai aku membebaskannya.


“Diam dan jangan ganggu aku. Aku tidak ingin dipecat oleh bossku hanya karena barang bau sampah sepertimu. Aku bebaskan kamu sekarang, dan pergi jauh-jauh dariku, atau aku buat semua ini permanen? Jawab dengan mengangguk dan jangan bertingkah,” kataku sambil menggeram. Wanita itu langsung memucat sesaat namun kemudian tersenyum. Dia mengangguk dan berkedip genit.


“Jadi gimana? Aku tidak punya waktu banyak karena aku sedang bekerja menjaga bosku,” kataku dengan pelan. Ya aku mengikuti permainannya. Rupanya dia menganggap aku sebagai salah satu bodyguard  atau pegawai di LC ini. Wanita ini sepertinya juga salah satu orang yang dikirim untuk mendekati Pradipta, entah untuk apa. Sepertinya aku tidak tertarik untuk mengetahuinya lebih dalam. Jika dilihat dari kemampuannya dia masih pion bagi boss nya. Pikirannya sangat mudah dibaca.  Kelebihan wanita ini selain cantik dan seksi, juga tidak punya rasa takut. Dia sebenarnya tidak takut dengan ancamanku,aku tahu itu. Namun dia juga tidak tahu siapa diriku. Dia hanya tertarik denganku.


“aku bukan orang kaya nona, aku hanya tukang pukul biasa yang kebetulan ada disini sedang istirahat dan mendengar desahanmu. Jadi gimana? Aku lepaskan dan jangan ganggu aku?” kataku lagi sambil menekan


suaraku untuk mempengaruhi pikirannya. Dia mengangguk meski masih dengan senyum me sum. Akupun segera membebaskan suaranya namun tidak pergelangan tangannya. Aku masih membuat pergelangan itu tidak bisa bergerak untuk 10 menit kedepan.


“Pergilah, sebentar lagi tanganmu akan bebas. Aku harus kembali bertugas menjaga pesta ini nona. Maaf aku tidak


tertarik dengan hubungan seperti itu. Istri dan anakku menungguku dirumah,” kataku dengan muka datar yang dingin sedatar muka Adrian.

__ADS_1


“Aish, kamu tidak tahu betapa ruginya kamu menolakku. Aku Juni, ini nomor telponku jika kamu berubah pikiran. Kapanpun kamu libur, telpon aku. Oke jantan?” katanya sambil melenggokan langkah dan pinggulnya menggodaku, setelah memasukan selembar kertas di sakuku.  Dia berjalan menuju pintu keluar dan pergi seolah tidak peduli dengan acara utama yang baru saja dimulai. Yeah, dia bukan datang untuk mengikutri acara kan memang.


“Buahahahaha! Hebat… hebat… hebat sekali  Bro!” kudengan suara Henry. Kalian ingat kan asistenku yang satu ini. Dia yang mengawalku saat aku dan Nara pulang dari Korea. Laki-laki ini sama dengan Adrian, sama-sama Asistenku untuk beberapa bisnisku terutama didunia atas. Laki-laki yang sangat piawai dibidang hukum dan bisnis ini lebih banyak berperan didunia atas. Namun berbeda dengan Adrian, Henry lebih sering tambil kasual dan


komunikatif. Dia tidak tampil dingin dan datar seperti Adrian. Kesamaan keduanya adalah buaya dengan banyak kekasih yang rela di dua tigakan. Henry sangat populer dikalangan para wanita. Namun dia tidak segila Pradipta dan Franco. Dia memang banyak ditemani wanita. Namun urusan ranjang, dia hanya melakukan dengan beberapa kekasihnya. Beberapa? Ya benar, beberapa, seperti juga Adrian. Namun jika Adrian dengan laki-laki cantik, Henry lebih memilih wanita cantik. Mereka semua menempati apartemen Henry dan sangat akrab satu sama lain. Tidak heran jika kehadiran Juni memancing komentar Henry dan bukan Adrian.


“Gila ya Bro, berpenampilan laki-laki setengah umur saja cewek itu sudah minta kamu main dengan penyiksaan dan kasar, gimana kalau tampil aslinya? Langsung diikat!” katanya masih dengan suara tawa diikuti yang lain yang ada di basement saat itu. Aku hanya bisa menggeram.


“Diam dan kerja. Dan tolong cari tahu siapa wanita tadi dan apakah ada hubungan dengan LC dan Dirgantara Corp,” kataku.


“Cieee, jadi mau main kasar nih? Mulai tertarik dengan tali temali bro? atau mau pinjam bor gol si Guntur, pacar Adrian?” kata Henry disambut tawa Adrian.


“Boleh bro, aku beliin juga nggak papa. Sekalian aku beliin pecutnya gimana?” kata Adrian. Aku segera melihat kearah laki-laki yang sedang  berdiri tegak, tak jauh dari Nara. Nara saat ini sedang berbicara dengan perempuan yang tadi dipanggilnya nenek lampir.  Aku melotot dan menngacungkan kepalan tanganku. Kudengar suara kekehan tertahan Adrian dan tawa membahana milik Henry dan anak buahku yang lain. Sementara muka Adrian tetap tampak dingin dan datar tanpa ekspresi apapunbahkan saat dia terkekeh, mulutnya tidak terbuka atau bergerak sama sekali.


“Kalian diamlah. Lanjutkan pekerjaannya,” kataku  kemudian.

__ADS_1


“Nara, apakah kamu masih mau melanjutkan mendekati Pradipta setelah ini?” tanyaku pada Nara, namun tidak ada tanggapan.


“Ups, sorry Boss, tunggu sebentar. Tadi aku matikan saat si perempuan jadi jadian itu mendekatimua. Aku tidak mau Nara cemburu dan tersecar karena obrolan kalian,” kata Adrian. Aku langsung melotot mendengar jawaban Adrian  Kembali terdengar gelak tawa Henry sambil memuji Adrian. Aku hanya bisa membarikan sumpah serapah dalam hati karena secara bersamaan Adrian memberikan kode dengan ibujari yang disatukan dengan telunjuk sebagai tanda koneksiku dengan Nara sudah tersambung.


__ADS_2