Nada Nara

Nada Nara
Bab 16 Melihatmu Bersamanya (bagian 1)


__ADS_3

“Nara, sekarang kamu sudah cukup stabil. Sepertinya kamu sudah mulai harus terlihat di masyarakat umum,” kata M suatu pagi. Mereka berdua sedang menikmati sarapannya.


“Maksudnya,” kata Nara.


“Sesuai dengan rencan selanjutnya dari Nada’s Project, balas dendam, tidak mungkin kamu mendekati Pradipta tanpa nama. Bagaimana kalau kamu mulai menjadi presenter di beberapa acara,” kata M.  “ Dari sana kita mulai membangun image Nara sebagai seorang model yang sederhana, lemah lembut dan pekerja keras. Nanti setelah memiliki nama, aku akan atur agar kamu bisa menjadi model di produk-produk yang dipegang Lion Communication.”


“Apa aku bisa, M?” kata Nara ragu.


“Jadi diri kamu sendiri Nara, kamu bisa. Kamu menarik. Kamu sekarang super cantik. Wajah dan tubuh kamu sempurna, idaman wanita manapun. Itu menjadi pendukung dari pesona asli Nada, yang disukai banyak orang,” kata Mahardika meyakinkan.


“Tapi kalau menjadi diri sendiri akan berhasil, kenapa dulu Pradipta selingkuh?” kata Nara. Mahardika memandang perempuan didepannya dengan gemas.


“Ya karena Pradipta itu bajingan,” kata Mahardika sambil mengeratkan genggamannya.


“Pradipta itu baik, penuh kasih sayang dan mencintaiku sejak kecil. Hanya dia laki-laki yang baik yang tidak memandang cantik dan tubuh saat mecintai. Dia berubah karena Juli, perempuan pelakor  itu,” kata Nara masih


membela Pradipta.


“Nara, bukan salah Juli, tapi salah Pradipta yang dari awal memang ingin hartamu saja. Dia itu buaya yang pandai memanipulasi kamu. Ya ampun Nara, kamu itu smart, tapi jadi bodoh kalau sudah terkontaminasi Pradipta. Kamu dulu diracuni apa sih oleh dia,” kata Mahardika.


“Ish, kenapa sih kamu selalu membela Juli? Kamu kan tidak mengenal Pradipta,” kata Nara.


“Ehm, bukan. Bukan membela tapi…. Arghh sudahlah. Pokoknya, sekarang kita harus lanjutkan rencana kamu buat merebut Pradipta dari Juli. Jangan sampai mereka menikah,” kata M


“Menikah? Mereka mau menikah? Tidak mungkin M. Pradipta masih suamiku. Bukannya untuk menikah harus ada ijin dariku?” kata Nara


“NARA! Huft… bisa gila menghadapi kamu yang seperti ini. Jangan-jangan kamu lupa minum obat lagi? Kamu mengalami delusi lagi? Nara jawab!” bentak M


 “Ish..ish… Apaan sih kamu bentak bentak aku begitu? Aku normal. Aku minum obat. Memangnya aku salah bicara apa? Benar kan aku masih istri sah Pradipta?” kata Nara


“Iya benar, tapi hanya aku dan kamu yang tahu. Secara resmi diluar sana, sekarang ini Nada sudah meninggal. Jadi status Pradipta adalah duda. Bebas menikah dengan siapa saja Nara,” kata M dengan menahan gerahamnya karena gemas.

__ADS_1


“Begitu ya?”  kata Nara sambil mengetukan jarinya ke dagu.


“Kalau begitu, Nada kembali kerumah sekarang saja ya. Biar Pradipta tidak bisa menikah dengan Juli,” kata Nara sambil berdiri.


“Hei.. hei.. sabar, tidak bisa semudah itu Nara,” kata Mahardika menahan tangan Nara. Nara yang tidak sabar memandang Mahardika dengan tatapan kesal. Dikibaskannya tangan besar Mahardika, namun tenaga pria itu jauh lebih besar.


“Tapi nanti kalau terlambat bagaimana? Nada ingin menyelamatkan rumah tangga Nada, M,” rengek Nara.


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan Akan tapi semua ada caranya, Nara. Kalau kamu muncul tiba-tiba di rumah kediaman Hermawan dan mengaku kamu adalah Nada, apakah mereka bisa langsung percaya? Apakah mereka akan langsung menyambutmu? Tidak Nara. Kamu bisa dikatakan sebagai penipu atau orang gila. Semua orang tahu jasad Nada sudah dikubur. Saksinya satu komplek Nara. Kamu mau membuktikan bagaimana? Salah-salah kamu akan ditangkap polisi dengan tuduhan sebagai penipu, mau?” kata Mahardika. Nara berpikir cepat dan langsung ketakutan. Tentu saja dia tidak mau berurusan dengan polisi. Apalagi saat ini dia menggunakan identitas palsu. Dan tidak memiliki identitass asli sama sekali. Identitasnya sudah dikubur bersama Tania.


“Terus, Nara harus bagaimana?” kata Nara dengan sedih dan putus asa.


“Sabar Nara. Kita jalankan rencana kita. Mulai besok kita gencarkan promosi kamu dan kita harus membuat kamu pantas dilirik oleh Pradipta, oleh LC,” kata Mahardika. Dia segera membuat rancangan Image Construction lengkap dengan Image PR dan Marketing Image plan, bersama Nara. Dengan otak cerdas Nara, gadis itu dengan mudah mengejar ketertinggalannya mempelajari Image Communications. Selama beberapa bulan menjalani Makeover, Nada tidak bisa kemana-mana, hanya buku buku Mahardika yang menemaninya. Kini Nara sudah mampu menjadi partner kerja dan diskusi  terbaik Mahardika. Termasuk merancang bagaimana Nara bisa masuk dalam kehidupan Pradipta nantinya, serta mendapatkan bukti kelemahan Pradipta sekeluarga untuk menjadi senjata mengalahkan mereka, mengambil kembali hak Nada.


***


Tanpa banyak kesulitan, berkat kecantikan Nara ditambah dengan attitude dan kecerdasannya, Gadis itu dengan cepat melesat didunia hiburan. Beberapa acara yang dibawakannya, termasuk FTV yang dibintanginya menjadi booming. Belum lagi framing yang dilakukan Mahardika di media sosial, membuat Nara menjadi buah bibir. Hal ini mulai menarik perhatian beberapa perusahaan yang menginginkan Nara menjadi model pruduk mereka. Termasuk perusahaan yang menjadi klien LC.  Itulah mengapa hari ini Mahardika dan Nara harus pergi ke LC untuk membicarakan kemungkinan kerja sama mereka. Memang bukan dengan Pradipta langsung, namun ini merupakan kesempatan baik yang bisa menjadikan gerbang pembuka bertemunya Nara dengan Pradipta.


topi baseball dengan tulisan NY.


Nara keluar dari kamar dengan baju selutut berbahan sifon yang pas tubuh, berwarna peach dengan bunga-bunga biru dan kuning yang manis. Dia mengenakan flatshoes di kaki putih jenjangnya yang indah. Rambut sebahu yang lurus dia ikat menjadi satu dengan jepitan mutiara. Wajahnya yang simetris sempurna dihiasi dengan make up natural, memberika efek sederhana, manis namun mempesona.


Mahardika memandang Nara tanpa kedip sedikitpun. Entah kenapa, jantungnya berdebar begitu keras dan matanya tak bisa tidak memandang Nara yang sibuk dengan tasnya. Nara tidak menyadari pandangan Mahardika yang sangat intens. Sebuah kunci yang dipegang Nara jatuh menimbulkan bunyi yang membuat Mahardika tersentak. Dia langsung sadar dan bingung dengan dirinya sendiri. “Aku ini kenapa? Kenapa hatiku berdebar melihat Nara? Tidak, debar ini hanya untuk gadisku. Tidak boleh untuk yang lain. Nara hanya seorang gadis yang aku ciptakan,” gumam Mahardika pelan.


“Apa M? kamu bilang apa? Maaf aku tidak mendengar,” kata Nada sambil menengok kearah Mahardika. Ya dia mendengar gumaman Mahardika, namun tidak yakin apa yang dikatakannya. Dia hanya mendengar namanya disebut oleh Mahardika.


“Ah, tidak ada apa-apa. Ayo cepatlah nanti kita terlambat,” kata Mahardika berusaha mengataasi kegugupan yang tiba tiba datang.  Dia pikir tadi hanya bicara dalam hati, kenapa bisa keluar tanpa rem. Untung pelan


kan, pikir Mahardika.


Merekapun segera menuju Gedung Dirgantara tempat kantor  LC berada. Nara dan Mahardika berhasil mendapatkan kepercayaan untuk membintangi iklan beberapa produk yang dipegang oleh LC. Namun Nara kecewa karena tidak berhasil bertemu dengan Pradipta. Mereka ternyata meeting di lantai 7. Sedangkan menurut petunjuk tata letak, Kantor petinggi berada di lantai 25. Mahardika mencoba menghibur Nara dengan mengajaknya menikmati secangkir kopi di loby.

__ADS_1


“Sudahlah, tidak usah kecewa, Nara. Nanti pasti ada waktunya kamu akan bertemu dia. Kalaupun tidak, kita pasti akan bertemu dengannya  secara resmi.  Kita bisa bertemu dengan mereka di acara-acara resmi perusahaan. Itu kenapa kita harus mendapatkan kontrak utama di LC. Jika melihat apa yang mereka katakan, peluangmu untuk naik daun sangat besar,” kata M


“Huft, emangnya aku ulat bulu, pakai naik daun segala,” kata Nara sambil menggelembungkan pipinya. Matanya mengerjap lucu dan pipinya bersemu merah. Ini adalah reaksi alami Nara sejak masih menjadi Nada. Pipinya selalu berubah menjadi merah jambu dan menggemaskan saat dia menggelembungkannya seperti itu. Ciri Nada yang masih ada pada Nara adalah cara minumnya. Dia selalu minum dengan rapi, memegang cangkir sengan jempol, jari tengah dan jari manis, sementara jari telunjuk dan kelingking keluar. Bayangkan posisi ngithing penari jawa, seperti itulah cara Nada dan Nara memegang gelasnya. Dan itu tampak indah membuat Mahardika terpesona.


“Huft, apa-apaan sih Mahardika. Hati kamu hanya untuk gadismu. Kamu hanya terobsesi dengan karyamu,” kata Mahardika dalam hati.


“What? Apa M? aku tidak jelas mendengarmu. Kenapa kamu bergumam?” kata Nara mendekatkan telinganya kearah Mahardika. Mahardika yang terkejut karena menyadari gumamannya didengar Nara, makin berdebar keras dengan mendekatnya gadis itu. Bau aroma alami gadis ini seperti bayi yang menyegarkan. Mahardika belum pernah mendapatkan bau seperti ini pada perempuan-perempuan yang pernah mendekatinya. Mereka semua memiliki bau wangi buatan pabrik yang bisa sama satu sama lain, tapi tidak dengan bau Nara.  Bau yang kas, menenangkan sekaligus bikin kangen. Mahardika memukul jidatnya sendiri, mengusir pikiran-pikiran aneh yang akhir-akhir ini muncul.


“Kenapa M? kok jidatnya dipukul-pukul?” kata Nara keheranan.


“Eh tidak, ada yang lupa tadi mau bertanya soal kontrak,” kata Mahardika mencari alasan.


“Lho kan komtraknya sudah disetujui semua. Copynya sudah kakak bawa kok, di tas,” kata Nara


“Masa sih? Perasaan tadi ketinggalan,” kata Mahardika mencari alasan. Padahal dia tahu pasti bahwa kontrak itu memang sudah disimpannya. Tapi demi menghindari rasa malu pada Nara, Mahardika membuka tasnya, pura-pura memeriksa kontrak yang dimaksud. “Oh iya ada, he..he..he.”


“M lihat itu,” kata Nara menunjuk kearah lift khusus. Tampak Pradipta keluar dari llift dengan tergesa-gesa. Nara yang memang sudah merindukan suaminya langsung berdiri ingin menyongsong laki-laki yang masih seperti apa yang Nara ingat. Nara ingin segera memeluk Pradipta, cinta pertamanya. Namun Mahardika yang sudah melihat gelagat Nara segera menggenggam pergelangan tangan Nara, menahannya dan menariknya ke kursi, hingga gadis itu terduduk. Dengan emosi, Nara segera menengok kearah Mahardika tanda tidak suka. Dia meronta berusaha melepaskan genggaman Mahardika. Akan tetapi laki-laki itu menahan tangannya diatas meja.


“Nara, ingat, saat ini kamu bukan Nada. Kalau kamu saat ini lari kesana dan memeluk Pradipta, kamu akan dikira cewek murahan yang tergila-gila padanya. Main peluk sembarangan. Bisa bisa, bukannya berhasil mendapatkan kembali Pradipta, kamu malah diusir satpam, dipermalukan dan tidak akan pernah lagi bertemu dengannya,” kata Mahardika dengan tenang.


“Tapi kapan. Aku tidak mau terlalu lama. Aku harus memberitahunya sekarang,” kata Nara keras kepala. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca. Entah mengapa, hal ini membuat Mahardika kesal. Ada rasa perih dihatinya melihat Nara sangat mengharapkan kembali dengan bajingan itu.


“NARA! “ bentak Mahardika, membuat Nara terdiam memandang laki-laki itu sambil mengerjapkan matanya. Mahardikapun sadar bahwa dia sudah membentak Nada, mulai mengubah intonasinya menjadi pelan. Apalagi orang-orang sempat menengok kearah mereka berdua saat itu.


“Nara, ingat kan kamu sudah menandatangani kontrak dengan saya. Salah satu pasalnya adalah menuruti apa


perintah saya kapan saja dimana saja,” kata Mahardika disambut anggukan Nara.


“Oke, perintah saya adalah duduk, lihat dan amati mereka. Nanti kita bicarakan strategi selanjutnya.” Kata Mahardika dengan suara Bariton yang dalam dan tegas, membuat Nara mau tak mau menurutinya.


“Mere..ka?” kata Nara terbata sambil memandang ke area loby. Disana tampak Pradipta sudah bersama Juli yang datang entah dari mana.

__ADS_1


***


__ADS_2