
POV NARA
Semburat mentari yang mengintip dari balik celah kain di jendela menyambut mataku yang terbuka pagi itu. Badanku terasa lebih segar sekarang. Semalam setelah mengantar Henry dan Adrian pulang, aku meninggalkan M yang masih asyik dengan berkas-berkasnya di meja. Badan dan pikiranku cukup lelah setelah banyak yang terjadi kemarin. Tanpa mandi, hanya membersihkan muka dan gosok gigi, aku langsung terbang kealam mimpi. Aku tidur semalaman tanpa mimpi tanpa cerita, hingga pagi ini aku benar-benar segar. Ah, tidur berkualitas memang menyenangkan dan menjadi bekal menyambut hari baru.
Dengan kasar aku menggulung rambutku kasar dan melakukan ritual pagiku di kamar mandi. Setelah selesai aku melesat menuju dapur untuk menjerang air buat bikin the untukku dan kopi untuk M dan dua sahabatnya yang aku yakin sebentar lagi akan sampai. M sepertinya masih tidur karena belum terdengar suaranya.
Sambil menunggu air matang, aku membersihkan rumah dan mengumpulkan laundry. Pekerjaan rutin yang sudah menjadi keseharianku sejak menikah dengan Pradipta. Bahkan rumah Hermawan 4 kali lebih besar dari rumah M. Itupun aku selalu kerjakan sendiri dengan cepat termasuk membuat sarapan untuk semua orang di rumah besar,
sebelum semuanya bangun. Pekerjaan dirumah M tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan dirumah M yang hampir tidak ada. Aku bahkan sudah bisa menyelesaikan pekerjaan sekaligus menyiapkan empat piring nasi goreng seafood, saat kudengar suara M yang sedang menjawab telepon dan berjalan ke pintu.
Rupanya Henry dan Adrian juga sudah datang bersamaan. Kedua laki-laki itu sudah terlihat tampan dengan baju kerja masing-masing. Henry dengan kemeja biru muda, celana kain Biru gelam dan jas sewarna dengan celanannya. Adrian dengan Jeans hitam yang pas badan, kaos hitam ketat yang memperlihatkan bentuk badannya yang sempurna dan jas berwarna hitam yang dia sampirkan di pundaknya.
"Nara, tolong aku dong pasangkan dasi,” kata Henry dengan lebut. M yang sudah duduk dimeja makan langsung melemparkan majalah yang dipegangnya tepat mengenai kepala Henry. Sedangkan Adrian langsung menarik tangan Henry untuk duduk di samping M. Henry langsung melotot ke M dan mengusap jidatnya yang terkena lemparan M.
“Gila lu bos, sakit tau!” kata Henry.
“Lagian ganjen. Ngapain nyuruh Nara pasangin dasi. Pasang sendiri!” kata M sambil melotot.
“Dih dia marah sih. Naranya aja mau kok,” kata Henry dengan nada cuek sambil mulai menyuap nasi goreng yang ada dipiringnya. Aku melihat Adrian nyengir lebar memandang dua laki-laki yang ada didepannya berdebat panjang. Dia memandangku sambil menaik turunkan alisnya. Aku hanya tersenyum karena tidak tahu harus menanggapi apa. Aku hanya segera mengambil kursi dan duduk didepan M, disamping Adrian. Entah apa yang dipikirkannya, saat dua laki-laki didepan kami ini makan sambil berdebat, Adrian malah mulai menyuapiku dengan nasi goreng miliknya.
“Auchhh, ****! Sakit tau bos. Gila lu ya,” kata Adrian sambil melotot pada M. Adrian teriak kesakitan dengan keras di kupingku membuat kupingku berdenging sebentar. Aku memandang Adrian dan M kebingungan sekaligus jengkel. Sementara itu Henry tertawa tergelak.
“Bos, kira kira aja dong. Masa sih cemburu juga sama homo satu ini. Dia nggak suka sama Nara bos. Nggak mungkin juga dalam satu jam dia sembuh. Tadi aja waktu aku jemput dia sedang dikerubutin harem-harem machonya dia,” kata Henry.
“Ish siapa yang cemburu? Jijik aja lihat gayanya sok mesra sama Nara,” kata M sambil tertunduk memandang Nasi gorengnya yang hampir habis. Aku hanya bisa bengong melihat tingkah absurd ketiga laki-laki didepanku. Rasanya aku kembali ke jaman SMA dan melihat para lelaki teman sekolahku saling bercanda, tanpa peduli dengan kehadiranku. Aku sejah kecil memang terbiasa dianggap tidak ada oleh teman-temanku. Apalagi setelah aku beberapa kali menang dalam kejuaraan bela diri dan terakhir tanpa aku sadari membanting dan melukai salah seorang laki-laki yang membuliku dengan kasar, hingga masuk rumah sakit.
“Jiahhhh, ada yang salah tingkah dibilang cemburu,” kata Henry sambil tertawa tergelak.Sementara itu M hanya melotot garang pada kedua sahabatnya. Wajahnya memerah. Mungkin karena marah. Tetapi meskipun wajah M sudah memerak, dua sahabatnya itu bukan takut malah tambah tergelak. Aku hanya bisa diam karena benar-benar tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
“Ngomong-ngomong, nasi gorengnya top bangat. Bisa nih jadi menu di restoran Dirga Garden,” kata Henry.
“Ehmmm, setuju. Ini enah banget,” kata Adrian.
“Biasa saja ah, nasi goreng kan memang begini rasanya,” kataku sambil terus menyuap menghabiskan sarapanku. Sementara ketiga laki-laki itu sudah melakukan suapan terakir mereka.
“No, ini special banget. Aku berani jan=min ini akan laku keras. Ehm, masih ada lagi nggak? “ kata Henry sambil mengangkat piringnya.
__ADS_1
“Ada, tunggu ya, aku pindahkan ke tempat besar aja buat semua,” kataku sambil berdiri.
“Nara, habiskan dulu sarapanmu. Biarkan mereka ambil sendiri,” kata M sambil menggeleng menatapku. Henry langsung menggeplak pundak M dan Adrian melemparkan krupuk yang dipegangnya. Keduanya protes karena kata-kata M tadi. Aku hanya tersenyum dan berdiri mengambil sisa nasi goreng yang masih ada di penggorengan. Aku selalu tahu, ketiga laki-laki ini tidak pernah cukup hanya dengan sepiring nasi goreng saat sarapan. Itu kenapa aku selalu membuat banyak. Namun mereka bisa tahan tidak makan berhari-hari jika diperlukan.
“Tidak apa-apa M. Kan hanya menuang sebentar./ Lagian juga sudah mau habis kok sarapanku,”
“Tuh kan M, dengar kan!” kata Henry dan Adrian hampir bersamaan. M hanya mendegus sambil mengambil nasi dengan terburu-buru seolah tidak mau terlambat. Dia ingin mengambil nasi tambahan sebelum dihabiskan sahabatnya. Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah mereka. Bersama mereka aku bahagia dan tenang. Mereka adalah orang-orang baik yang begitu tulus menjagaku. Meskipun kata orang mereka adalah orang-orang yang jahat, misterius dan dingin, namun bagiku mereka adalah malaikut pelindung yang baik, dan kadang konyol.
Setelah sarapan, kami menikmati the dan kopi sambil mematangkan rencana nanti siang. Menurut M, sebentar lagi akan ada mbak Sri yang membawakanku gaun untuk kupakai. Dia juga yang akan mempersiapkanku nanti. Adrian kembali memberikan anting sekaligus earpiece yang kemarin aku gunakan. M memberikan data-data dan foto tentang kalung Lidya Dirgantara untuk aku dan Henry pelajari. Kalung itu sebenarnya sangat sederhana namun sangat indah. sebuah kalung dengan liontin bertuliskan PLD yang terukir indah memanjang. Di sepanjang huruf PLD ada taburan berlian yang mempercantik kalung tersebut. Bukan berlian besar yang mencolok, namun berlian kecil dengan cutting sempurna bagikan bintang yang ditaburkan diatas rangkaian huruf tersebut. Aku terpesona.
“Wow!” tanpa sadar bibirku mengucapkannya.
“Yeah, itulah yang dikatakan orang saat melihat dengan seksama kalung ini. Memang wow. Itu kenapa banyak yang berusaha membuat tiruannya,” kata M sambil tersenyum. Sangat terlihat pancaram kagum, bangga dan rindu dari matanya.
“Namun kalung yang asli, disetiap berlian terbesar dalam huruf, ada ukiran huruf D. dan itu tidak diketahui siapapun. Itu yang harus kalian cari. Jika tidak ada itu, dipastikan bahwa kalung itu palsu,” tambahnya sambil menunjukan sebuah gambar dari smartphonenya kepada Henry. Laki-laki itu memperhatikan dengan seksama dan menyimpan apa yang terekam matanya kedalam memori dikepalanya. Jika tadi mereka bercanda seperti anak ABG, sekarang ketiga laki-laki itu terlihat sangat berwibawa,smart dan dingin.
“Oke, aku sudah paham. Jadi setelah kalung ini diberikan kepada Nara bagaimana?” tanya Henry.
“Nara, aku mau, kamu mengalihkan perhatian mereka saat Henry sudah memastikan kalung itu asli. Kita sudah sepakat ya tentang tanda yang Henry harus berikan kepada Nara dan Adrian?” kata M.
“Jika semua sudah sesuai, kalung asli harus langsung ditukar. Semoga mereka menggunakan kotak aslinya. Dalam kotak itu ada sebuah tombol disisi kanan yang tidak terlihat. Kalau kamu pencet akan muncul satu lapisan menutupi lapisan atasnya. Jadi Henry akan melakukannya. Kalung asli akan langsung tersembunyi, seolah-olah kotak itu kosong. Henry, berikan kalung tiruan ini kepada Nara,” kata M sambil mengeluarkan sebuah kalung yang sama persis dengan kalung Lidya Dirgantara.
“Tapi bagaimana kita bisa membawa kalung ini?” Mereka pasti akan menmggeledah kita saat masuk kan? “ tanya Henry
“Tenang, biasanya mereka tidak terlalu waspada saat kalian datang. Biasanya justru akan digeledah untuk sebuah barang saat pergi kan. Kalung ini bisa Henry jadikan gelang diantara semua gelang yang dipakainya,” kata M sambil memberikan beberapa gelang platina diatas meja. Gelang yang biasa digunakan oleh laki-laki metrosexual.
“What? Aku harus pakai gelang-gelang ini? “ kata Henry. M mengangguk dengan tegas. Aku mengambil kalung Lidya dirgantara palsu dan melihatnya dengan seksama. Aku sudah melihat fito kalung asli dan ini tidak ada bedanya.
“Iya Nara, memang tidak ada bedanya. Aku membuatnya sama persis, baik gram emasnya sampa berliannya asli, meski kualitas cutting berliannya tidak sebaik yang asli. Secara harga, yang assli dan yang palsu sama-sama berharga. Namun secara value tidak sama,” kata M seperti membaca pikiranku. Dan lagi kamu bisa membedakan secara langsung.Untuk kalung kedua ini aku menambahkan angka dua yang tak terlihat tapi bisa kamu raba dibalik huruf P,” kata M.
“Oke, Aku membawa kalung kedua ini dengan menjadikannya gelang ke lokasi pertemuan. Disana aku dan Nara harus memastikan kami akan menerima kalung Lidya Dirgantara yang asli. Setelah itu aku harus menyembunyikan kalung asli di dalam kotaknya sendiri. Lalu?“ tanya Henry.
“Saat memeriksa kalung kamu lepaskan kalung kedua iini dan letakan diatas kotak setelah yang asli kamu sembunyikan,” kata M kepada Henry.
“Nara, usahakan kamu membuat Pradipta dan Franco teralihkan saat Henry melakukan itu semua. Setelah selesai, katakan kalau kamu ingin memakai kalung Lidya Dirgantara. Mintalah Pradipta untuk memasangkannya ke lehermu, dan lemparkan kotak nya pada Adrian, seolah-olah itu adalah kotak kosong,” kata M sambil menatapku.
__ADS_1
Jantungku selalu berdebar saat dia menatapku seperti ini. Aku selalu menyukai caranya menatapku.
“Jadi setelah dipastikan asli dan disembunyikan, aku mengambil kalung itu dan memulai misiku mendekati Pradipta dengan pura-pura dipasangkan kalung Lidya Dirgantara yang palsu?” tanyaku. M mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
“Apapun yang terjadi jangan sampai mereka tahu ada dua kalung Lidya Dirgantara,” kata M.
“Dan kamu Adrian, setelah kotak berhiasan dibuang Nara, kamu harus segera mengambil dan menyimpannya dengan alasan, akan digunakan untuk menyimpan kalung yang dipakai Nara. Jangan sampai hilang. Ingat, meski tampak kosong, didalam kotak itu ada kalung asli Lidya Dirgantara yang nilainya setara dengan kekayaan Dirgantara. Kamu sangat tahu itu,” kata M sambil memandang tajam Adrian. Adrian mengangguk tanda paham.
“Lalu bagaimana dengan tugasku mendekati Pradipta?” tanyaku memastikan. Entah kenapa, aku merasa misi ini fokus pada kalung Lidya Dirgantara dan bukan Nada’s Project. Bukan pada misi memisahkan Juli dari Pradipta. Bahkan bagian itu tidak pernah mereka bahas. Kupandangi ketiga laki-laki itu dengan berbagai pertanyaan
berkecamuk.
“Nara, bukan berubah misi kita. Tetapi kita selesaikan dulu masalah kalung dengan harga mahal ini. Dan dengan kalung ini, kita melakukan pendekatan terhadap Pradipta. Aku yakin kalau hari ini hanya ada kamu dan Pradipta. Franco hanya akan datang mengantarkan kalung. Setelag itu kalian akan ditinggalkan berdua,” kata M
“Bagaimana kamu bisa seyakin itu? Juli selalumenempel pada Pradipta. Juli menginginkan kalung itu. Bisa jadi dia juga akan ikut untuk melihatnya terakhir kali,” kataku dengan lugas.
“Mungkin sih. Tapi sepertinya Juli juga tidak tahu tentang pertemuan makan siang ini. Ditambah dengan cara Franco menggoda Pradipta, dia akan memberikan kesempatan pada sahabatnya itu untuk mendekati kamu, Nara,” kata M. Dengan meminta Pradipta memasangkan di lehermu, Pradipta akan bnerada cukup dekat denganmu. Maka
rayulah dia saat itu. Tapi ingat, jangan gunakan rayuan murahan ala-ala cabe-cabean ya. Tidak akan berhasil,” kata M
“Rayuan cabe-cabean itu seperti apa? Tanyaku sambil memandang M tanpa berkedip. M membalas tatapanku dengan helaan nafas panjang diikuti oleh gerakan kepalanya memandang kearah Adrian. Aku melihat Adrian dan Henry berusaha menahan tawanya. Mereka kembali pada mode bocahnya.
“Gini deh Nara, kamu jadilah dirimu sendiri. Jangan terlalu memuja Pradipta. Jangan jadi murahan. Dekati dia dengan percaya diri dan smart. Jadilah wanita smart yang berkelas, namun tunjukan ketertarikanmu pada Pradipta. Jangan terlalu memuja dia. Gimana?” tanya M. Aku rasa aku bisa melakukannya. Aku mengangguk menyatakan kesanggupanku. Aku rasa tidak ada salahnya aku mendekati Pradipta dengan caraku. Aku tidak akan melemparkan diriku pada Pradipta. Aku akan menjadi sahabat baginya dan aku akan membuatnya nyaman. Aapapun yang terjadi nanti, yang penting aku berusaha menjadi orang yang ada untuk dia. Aku yakin itu akan berhasil. Karena aku tidak
mau menjadi wanita dikamar mandinya Pradipta yang hanya dipakai sekali dan dilupakan.
“Aku suka dengan ide Nara. Jika dia hanya menjadi partner *** Pradipta maka kita akan gagal,” kata Adrian. Eh, bukannya tadi aku hanya mengatakannya dalam hati dan pikiranku ya? Aku meraba bibirku. Apakah aku tadi mengatakan apa yang aku pikirkan? M dan Henry tampak melotot pada Adrian. Keduanya memandangku dan tersenyum.
“Pokoknya, senyaman kamu ajalah cantik,” kata Henry.
“Paling penting adalah jangan gugup dan mematung lagi. Kalau sampai kamu mematung lagi, fix, berarti Pradipta adalah keturunan Modusa,” kata M
“Medusa bos!” kata Henry dan Adrian bersamaan.
“Iya, Medusa namanya M, bukan modusa,” kataku sambil tertawa.
__ADS_1
“Medusa kan dewi Yunani, karena ini buaya yang doyannya modus makanya jadi Modusa. Meskipun efeknya sama, bikin orang jadi patung. KalauMedusa world wide, kalau Modusa hanya Nara’s world, “ kata M santai sambil menyesap kopinya. Henry dan Adrian kontan tertawa terbahak-bahak. Aku langsung memasang muka cemberut untuk menutupi rasa malu. Untung saat itu ada suara bel yang membuat pembahsan tidak berlanjut.