
Setelahperempuan cantik yang selalu tersenyum itu pamit pulang, Pak Henky beserta istri dan anaknya masuk kedalam rumah. Nara kembali menjadi pembicaraan hangat di ruang kediaman Hermawan. Pak Henky, istrinya, Prita dan Pipit sedang asyik membicarakan perempuan yang membuat kue putu mayang yang merea santap saat ini.
“Kue putu mayang ini mirip sekali dengan kue buatan Nada. Kalau bukan karena mengingat menantu kita itu telah aku kuburkan sendiri dengan tanganku, mungkin aku akan mengira, Nada lah yang memasak ini,” kata Pak
Henky.
“Ayah ada ada saja. Sudah jelas yang buat itu Nona Nara. Kenapa malah ingat sama Nada sih?” kata ibu.
“Ibu betul! Nada dan Nara hanya sama sama bisa bikin kue enak. Resepnya ada dimana mana. Tapi Nara berbeda dengan Nada. Nada itu gajah bengkak yang bahkan sulit melihat jempolnya sendiri. Sedangkan Nara, sempurna. Dialah definisi wanita sempurna abad ini. Jika Nada masih hidup pun tidak mungkin Nada berubah 180 derajat
menjadi Nara,” kata Pipit. Pak Henky memandangi kue putu mayang kesekian yang diambilnya. Entah mengapa, kue ini membawa kenangan pada menantunya, Nada. Saat mengunyah kue ini, seolah kehadiran Nada begitu dekat dan mengobati rasa rindunya.
“Kue ini sempurna, sangat enak dan yah, Ayah benar, selezat buatan Nada, “ kata Prita yang juga sedang mengamati kue ditangannya. Mereka berempat saling saling pandang dan saling tersenyum. Mereka seolah sama sama kembali teringat pada wanita yang selalu merawat mereka dan selalu tersenyum apapun yang mereka lakukan, Nada. Sebenarnya, jika Nada bukan menantu dan saudara ipar, atau Nada tidak memiliki badan sebesar Gajah yang membuat mereka malu mengakui sebagai mertua dan ipar, Nada cukup menyenangkan. Nada selalu ada buat mereka.
“Gadis cantik yang kemarin membantu kita dalam acara panggung amal, ternyata rumahnya sangat dekat dengan kita. Dan dia mengingatkan kita pada ipar kalian, Nada, sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan,” kata Pak Henky.
“Ya, permainan pianonya sangat bagus dan dia sangat memahami karakter suara kita ya yah. Bagaimana kalau kita minta dia untuk sering datang kemari dan main piano mengiringi kita pa?” pinta bu Henky pada suaminya. Pak Henky tersenyum mendengar permintaan istrinya. Sebuah ide yang sangat menyenangikan baginya. Dia setuju dengan ide bu Henky.
__ADS_1
“Ide yang bagus..” jawab Pak Henky
“Hei, asyik sekali kalian, sampai aku datang tidak ada yang tahu. Memangnya siapa yang mau diminta main piano mengiringi ayah dan ibu. Eh kok ada kue putu mayang? Tinggal satu lagi,” kata Pradipta sambil mencomot kue yang tersisa satu dipiring. Mukanya mengerut seolah dia mengingat sesuatu. “Enak.”
“Enak ya mas. Mirip buatan Nada kan?” Kata Prita.
“Ah iya. Tadi aku berpikir kok kayak kenal dengan rasa ini. Ini seperti kue putu mayang yang hampir setiap saat dibuat Nada untuk ayah kan?” kata Pradipta.
“Iya, dan sudah setahun kita tidak makan kue ini. Sementara dulu hampir setiap hari ada,” kata Prita
“Siapa memangnya yang membuat? “ Tanya Pradipta pada Prita.
“Itu, tetangga baru kita. Rumah mungkil yang cantik diujung jalan. Dia baru pindah kemarin katanya. Iya memang cantik banget,” kata Pipit.
“Dia cantik, pintar main piano dan baik hati. Sopan lagi. Iya kan Yah,” kata Ibu Henky memuji Nara.
“Iya, dia yang kemarin mengiringi ayah dan ibu menyanyi dipanggung, gara-gara pemain piano yang seharusnya mengiringi ibumu, menyerah. Kena omel ibumu tuh,” kata pak Henky sambil menunjuk bu Henky yang cemberut.
__ADS_1
“Hahaha, emang kan suara ibu aneh nadanya. Mana ada yang sanggup mengiringi ibu?” kata Pradipta.
“Ada, dulu Nada selalu pas dan bagus mengiringi ibu dan sekarang ada Nara,” kata ibu membela diri.
“Nama wanita itu.., Nara?” tanya Pradipta. Dahinya berkerut jantungnya berdegup. Apakah ini Nara yang sama yang sedang mengisi hati dan pikirannya? Apakah sekebetulan itu? Benarkah Nara yang sedang menganggu pikirannya justru kini tinggal di dekatnya?
“Ini kan Nara. Menurut majalah ini, Dia baru pulang dari Korea,” kata Prita sambil menunjukan majalah yang dia baca. Disana ada artikel yang memuat foto Nara dan cerita tentang artis pendatang baru itu.
“Ah, dia juga artis rupanya. Pantas saja sangat cantik. Lumayan terkenal ternyata,” kata bu Henky.
“Iya itu dia. Ternyata dia terkenal dan sangat rendah hati. Sebagai artis terkenal, dia mau singgah di acara amal kecil kita dan bahkan mengiringi kita dengan permainan pianonya yang hebat. Itu luar biasa. Ternyata dia tergabung dalam LC juga. Dia juga menghadiri acara amal LC-mu Pradipta. Dia memenangkan kalung LD yang menjadi puncak acara. Kamu pasti kenal dia,” kata pak Henky
“Dia cantik dan postur tubuhnya juga menakjubkan. Dia langsing tapi punya lekuk. Sexy dan benar benar menakjubkan,” kata Pipit yang ikut melihat majalah tersebut. Pradipta hanya terdiam melihat keluarganya begitu antusias membicarakan kebaikan dan kehebatan Nara. Antusias yang tulus dan menyenangkan. Menurut Pradipta, cara mereka membicarakan Nara sangat berbeda, bahkan saat membicarakan Julipun mereka tidak seperti itu. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di hati Pradipta. Ada rasa bahagia mendengar keluarganya membperbincangkan Nara dengan hangat. Padahal Nara bukan siapa siapa dia. Bahkan keluarganya tidak boleh tahu kedekatannya
dengan Nara atau dia bisa hancur karena Juli.
“Sudahlah, aku sudah sangat lapar. Kapan makan malamnya?” kata Pradipta mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Ah iya, yuk kita makan,” kata Ibu sambil beranjak ke meja makan diikuti anggota keluarga Henky yang lain.