Nada Nara

Nada Nara
Bab 42


__ADS_3

POV Author yang Paling Tahu


Setelah bercerita panjang lebar, Papa Janu memutuskan tidur sejenak. Mahardika yang dari tadi mendengarkan tampak termenung. Dia membiarkan papa angkatnya itu tidur karena kelelahan dimakan penyakit.  Laki-laki yang barusaja menanggalkan celana abu-abunya itu menyadari persepsi tentang Papa Janu selama ini salah besar.


Jika selama ini dia mengira para laki-laki yang datang sebagai pacar gay Papa  Janu, maka dia salah besar. Itu semua hanya sebagai kamuflase kehidupan yang sebenarnya dari Papa Janu dan Om Shasa, yang selama ini kami anggap sebagai om kami. Saat itulah Mahardika menyadari bahwa Papa Janu terlalu sering menghilang dimalam hari namun sudah ada di pagi hari saat mereka membutuhkannya.


“Kehidupan yang melelahkan,” gumam Mahardika.


“Memang melelahkan, tapi papamu menikmatinya. Aku sangat mencintainya. Namun tanggung jawabku terhadap organisasi dan keselamatan kalian semua adalah air dan minyak yang tidka mungkin kami satukan,” sebuah suara lembut yang dingin terdengar dibelakang Mahardika.


“Om Shasa?” kata Mahardika.


“Hai Dika,” kata Om Shasa sambil meninju pundak Mahardika dengan sayang.Laki-laki itu mengusap pucuk kepala Mahardika sambil tersenyum.


“Hai Om, baru datang?” tanya Dika melihat kearah laki-laki yang terlihat kacau balau. Wajah tampannya tampak kotor dan terdapat lebam dibeberapa tempat. Sepertinya aku melihat ada bekas darah di baju dan celananya.


“Hehehe iya, mumpung princess belum pulang. Kalau keduluan princess nanti diusir,” kata  Om Shasa sambil tertawa. Ya Juli memang sering mengusir om Shasa dan para laki-laki yang dia anggap dekat  dengan Papa Janu.


Dari kami bertiga, Juli yang paling tidak bisa menerima jika Papa Janu  adalah seorang gay. Sejak kecil, Juli sering


mendapat bully karena tidak memiliki Mama dan memiliki papa seorang Gay. Cinta memang universal. Membully orang karena orientasi sexualnya memang tidak baik. Namun kenyataannya, di masyarakat, orientasi Papa Janu tidak bisa diterima banyak orang. Jika Papa Janu dan aku bisa tidak peduli, Juli dan Agusta berbeda. Mereka  sangat tersiksa dengan berbagai bully akibat Papa Janu. Bahkan Juli tidak mau Papa Janu mengambil raportnya sejak di bangku SMP. Akulah kemudian yang mengambil raport dan mengurus segala keperluan Juli sejak dia SMP.  Sedangkan om Shasa, yang jarang pulang juga tidak diterima oleh Juli meski dibelakang namanya ada nama om Shasa.

__ADS_1


Sejak tiba di rumah Papa Janu, aku cukup akrab dengan om Shasa. Dialah yang mengajarkan padaku berbagai ilmu beladiri, menembak sampai permainan senjata. Sejak awal, aku lebih banyak digembleng oleh om Shasa dibanding Agusta apalagi Juli. Setiap kali kami harus latihan beladiri, Juli lebih suka   menghabiskan waktunya bermain boneka. Sedangkan Agusta meskipun kadang mengikuti latihan, namun dia tidak terlalu serius. Dia lebih suka membuat animasi dan gambar, atau membuat figurin dari tanah liat. Kemampuan Agusta membuat patung


manusia juga luar biasa. Saat aku sibuk belajar komputer dengan Papa Janu, Juli dan Agusta sering ikut  bergabung. Agusta banyak menggunakan komputer untuk urusan menggambar dan belajar anatomi sedangkan Juli  fokus pada manajemen dan menonton berbagai kontes miss world.


“Mahardika, boleh aku memintamu memanggilku Papa?” kata Om Shasa.


“Kenapa?” tanya Mahardika


“Karena sebenarnya kamu adalah anak angkatku. Aku adalah ayah resmimu bukan Janu. Selain itu kamu memang lebih cocok menjadi anakku dibanding anak Janu,” kata Om Shasa sambil terkekeh. “Aku tahu siapa kamu. Aku tahu apa yang terjadi pada keluargamu. Dan aku tahu apa yang kamu inginkan didalam hatimu.”


“Maksud om? Om tahu siapa aku? Yaelah, ya pasti aja om tahu. Kan aku anaknya om Shasa dan Papa Danu,” kata Mahardika tergelak sumbang..


pandangan waspada. Kilat cerdas dimata laki-laki muda itu muncul dibalik wajah polos yang menggembaskan. Hal ini membuat Shasa makin yakin untuk menjadikan    Mahardika sebagai penerusnya.


“DD atau Dika Dirgantara. Saksi pembunuhan dari ibu dan ayah kandungnya sendiri, dan berhasil melarikan diri tepat waktu, tanpa diketahui oleh orang-orang yang ingin menguasai keluarga Dirgantara. Ayahmu sudah tahu rencana ini sejak beberapa waktu lalu namun terlambat untuk mengantisipasinya. Untung di detik-detik terakir dia berhasil menghubungiku, meski tetap terlambat. Dia hanya menitipkanmu padaku. Aku tidak menyangka DD adalah laki-laki sehebat kamu. Aku yang mengirim Janu untuk menjemputmu dan menjadikan kakak Agusta dan


Juli, meski diatas kertas aku yang mengadopsimu tanpa kamu tahu. Aku dan Janu selalu tahu apa yang kamu lakukan. Kami membiarkannya bukan karena kami tidak tahu, tapi kami hanya ingin melihat bagaimana kamu mengembangkan kemampuanmu. Dan yeah, kamu memang seorang Dirgantara,” kata Om Shasa.


“Jadi om tahu siapa yang membunuh kedua orangtuakua,” kata Mahardika  setelah melalui kesunyian beberapa saat. Matanya berkilat marah. Ada rasa yang terpendam bertahun tahun seperti kembali menyerbu dadanya. Ingatannya kembali kekejadian bertahun tahun lalu yang membuatnya sering mimpi buruk.


“Aku tahu kamu akan menanyakan itu. Namun dari pada aku menjawabnya, aku akan bertanya, apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu?” kata Om Shasa. “Dika,panggil papa, nak.”

__ADS_1


“Maksud Om, ehm  Pa… pa.. iya maaf. Maksudnya?” tanya Mahardika.


“Kalau kamu tahu siapa mereka? Lalu apa yang akan kamu lakukan? Untuk apa kamu tahu?” tanya laki-laki yang kini dia panggil Papa.


“Aku akan membalas mereka,” kata Mahardika dengan marah.


“How? Dengan apa? Kamu punya apa? Ayahmu saja yang seorang Dirgantara,tidak bisa melawan mereka?” tanya Papa sambil menyeringai.


“Hon, sudah aku bilang, jangan seperti itu pada Dika,” suara lemah Papa Juna membuat kami berhenti.


“Hai hon, Tambah ganteng ya kamu,” Kata Papa Shasa menghampiri Papa Juna.


“Tsk, pembohong. Sudah sana mandi. Kamu bau anyir,” kata Papa Juna sambil mengibaskan tangannya. Papa Shasa segera berlalu ke kamar mandi sambil tertawa. Papa Juna memperhatikan Mahardika yang masih berkutat dengan pikirannya.


“Dika, maafkan Papa Juna yang selama ini menutupi semuanya. Apa yang dikatakan Papa Shasa benar. Kamu secara resmi adalah putra angkat Shasa, namamu adalah Mahardika Alexandrovich.  Semua itu sudah dibicarakan antara ayah kandungmu dan Papa Shasa. Tetapi, jangan mencoba mencari tahu sesuatu yang kamu tidak siap menghadapi konsekwensinya. Jangan mecoba menyingkap tabir yang kamu tidak tahu bagaimana dan kenapa semua terjadi,dan apa konsekwensinya. Suatu saat jika kamu dudah siap maka kamu akan mengetahuinya dengan sendirinya. Papa Janu sudah mengajarkan semua ilmu tentang dunia Hacking, Cybersecurity dan semua hal yang papa kuasai termasuk perencanaan, strategi dan war psychology. Perdalam itu. Kalau kamu tidak mau kuliah  juga tidak masalah. Namun jika kamu kuliah, Papa minta itu hanya cara kamu bersenang senang. Papa Janu dan Papa Shasa berharap kamu yang akan menggantikan kami memimpin perusahaan dan membesarkan adik adikmu,” kata Papa Janu sambil mengambil nafas tersengal. “Papa Janu mungkin akan segera menyusul Mama Maria. Setelah Papa pergi, fokus pada apa yang diajarkan Papa Shasa. Baru setelah itu terserah kamu akan kembali ke Dirgantara atau tidak. Tapi bukan sekarang. Papa Janu hanya ttitip adik-adikmu.”


Mahardika sadar sepenuhnya maksud pembicaraan Papa Janu. Mahardikapun sadar, kondisi Papa Janu sudah sangat parah. Namun hatinya tetap saja tidak rela.


“Papa bicara apa? Papa pasti sembuh. Papa akan lihat Juli dan Agusta wisuda.,” kata Mahardika.


“Mahardika, Papa tahu, kamu juga sudah tahu keadaan Papa yang mungkin tidak akan bisa melihat lagi matahari terbit. Tapi Papa percaya sama kamu nak. Kamu anak baik dan hebat,” kata Papa Janu tersengal dan seperti kehabisan nafas. Saat itu Papa Shasa langsung berteriak memanggil dokter dan meminta Mahardika keluar.

__ADS_1


__ADS_2