Nada Nara

Nada Nara
Bab 115 Apakah Aku Jatuh Cinta?


__ADS_3

POV Mahardika


Semalaman aku hampir tidak tidur. Selain karena harus menyelesaikan pekerjaanku di perusahaan dan restoran, konsentrasiku terpecah memikirkan Nara, Juli dan perasaanku pada keduanya. Entahlah, apa yang kukira dulu adalah perasaan indah dan hanya kurasakan pada Juli, ternyata tidak sama dengan rasa yang kurasakan pada Nara. Apakah Papa benar tentang rasaku pada Juli? Benarkah aku tidak  jatuh cinta pada Juli? Benarkah Juli bukan cinta sejatiku? Benarkah itu hanya anggapanku saja seperti yang papa bilang? Aku menjadi ragu meski berusaha menghapus rasa dan pikiran anehku pada Nara. Tapi apakah ini jatuh cinta? Apakah debar ini ?


Ah, ini bukan cinta. Mana mungkin aku jatuh cinta pada Nara. Aku masih mengharapkan Juli kembali dipelukanku. Aku masih berharap Juli akan melihatku dan cinta yang kuberikan sejak dulu. Aku tidak jatuh cinta pada Nara. Ini hanya rasa nyaman karena kami tinggal serumah setahun belakangan.


Pagi ini aku mendengar suara Nara keluar dari kamar. Dia juga kesiangan sepertiku. Kami pagi ini sama sama melewatkan sesi olah raga di gym saat pagi. Aku mendengar suara Nara yang sedang sibuk beberes dan menyiapkan sarapan di dapur, dari balik selimut, dengan malas. Namun ada rasa ingin segera melihat senyum wanita cantik itu, yang membuatku melempar selimut dan bergerak ke kamar mandi untuk sekedar gosok gigi. Setelahnya aku segera keluar menemui Nara di dapur, yang juga menjadi ruang makan kami.


“Selamat pagi Nara,” sapaku dengan suara yang masih serak karena bangun tidur terpaksa. Aku tersenyum geli melihat wajah lucu Nara yang terkejut mendengar suaraku. Aku segera menempatkan diri di kursi meja makan menunggu Nara untuk sarapan pagi, sambil memandangi wanita yang hidup seatap denganku setahun belakangan.


“Pagi M, mau sarapan apa?” kata Nara sambil meletakan beberapa makanan diatas meja untuk kupilih.


“Apa aja. Ini semua cukup banyak untuk sarapan kan,” balasku sambil melihat apa  yang terhidang di meja. Aku sungguh sungguh saat mengatakan bahwa makanan yang dihadapanku terlalu banyak untuk sarapan kami berdua.  Namun inilah kebiasaan Nara. Selalu memanjakanku dengan makanan enak buatannya. Meski seringkali aku protes, makanannya terlalu banyak, sangat jarang aku menyisakan apa yang dihidangkan wanita cantik itu untukku. Apalagi jika ada duo laki-laki perusuh tukang makan itu. Akupun mulai menikmati sarapanku dengan tenang.


“Bagaimana perasaanmu pagi ini? Masih terkenang dengan kencan semalam dan masa lalu?” tanyaku pada Nara. Sebenarnya aku ingin bercanda, tetapi entah kenapa nadaku sedikit sinis. Ada rasa cemburu yang membakar hatiku saat mengatakannya, dan aku tidak bisa menutupi rasa itu. Aku berdoa semoga Nara tidak menyadarinya.


“Kamu bicara apa sih,” kata Nara dengan pipi memerah. “lupakan apa yang terjadi semalam,” kata Nara. Dia menunduk menutupi rasa malunya. Melihat tingkah dan wajah Nara, aku  merasa nano nano. Hatiku cemburu sekaligus menikmati wajah cantik memerah itu. Aku tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa yang ada dihatiku sekarang. Akhirnya entah mengapa aku tertawa sambil mengunyah roti sarapanku. Meski hatiku panas dan sedikit marah pada Pradipta, namun aku juga menikmati reaksi malu Nara.  Namun semua itu terhenti saat smartphone Nara berdering.


Aku melirik ke smartphone yang tergeletak diatas meja. Ternyata  datang pesan dari Pradipta. Huft laki-laki itu lagi. Rumanya dia sudah sangat terpesona pada Nara. Bahkan setelah bertemu semalam, pagi-pagi begini dia sudah menghubungi Nara. Kulihat Nara mengernyitkan dahi dan menunjukan ponselnya padaku. Sepertinya dia membutuhkanku untuk merespon pesan Pradipta. Baiklah, aku berpindah dari seberang Nara ke sampingnya.  Aku mulai membaca pesan pesan Pradipta.yang mengucapkan selamat pagi, menanyakan tidur Nara nyenyak atau tidak dan kabar Nara. Dia mengeluarkan jurus rayuan gombal yang cukup umum.

__ADS_1


P: aku semalam tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkanmu


N; oh ya?


P: kamu benar benar perempuan luar biasa. Kamu cantik, pintar, baik dan tidak Matre,


N ; kamu terlalu memuji. Kamu belum tahu siapa saya.


P: ya memang, tapi pesonamu luar biasa, membuat aku selalu merindukanmu.


Itulah salah satu pujian pujian yang ditujukan pada Nara.  Bahkan dia mengatakan kalau ingin mengenal Nara lebih dekat. Obrolan ini disambut dengan baik oleh Nara. Aku tahu, Nara merespon Pradipta sesuai dengan rencana Nada’s Project. Tetapi tetap saja ada rasa sakit menyelinap didada ini. Aku berusaha kembali berkonsentrasi mengikuti chat Pradipta dan Nara.


N: Kencan? Maksudmu?


P: iya kencan. Kita makan malam lalu setelah itu terserah kamu kita mau ngapain dan kemana.


Nara sepertinya bingung menjawab ajakan Pradipta. Dia memandangku seolah bertanya dan minta bantuin bagaimana menjawab chat tersebut.


“M, Pradipta mengajakku kencan.  Bagaimana? “ tanya Nara padaku membuatku tersenyum. Jujur jika mengikutu kata hati, aku akan bilang tidak boleh. Tetapi bukankah itu akan menghancurkan usaha selama setahun ini. Ini semua tentang Nada’s Project.

__ADS_1


“Kita bicara Nada’s Project kan?  Ya sudah, terima dia, jerat dia dan batalkan pernikahan mereka yang hanya hitungan minggu ini,” jawabku sambil mengingatkan Nara tentang tegat waktu   “Tetapi tetap berhati hati dalam pelaksanaannya ya,”  Nara mengangguk tanda mengerti. Dia berpikir sejenak lalu kembali ke smartphonennya. Dia mulai menjawab pesan Pradipta dengan hati-hati. Aku bisa melihat ada keraguan Nara menyanggupi permintaan kencan Pradipta.


N: ehm bagaimana ya? Aku masih khawatir dengan Juli. Bagaimanapun juga dia tunangan dan calon istrimu.


P: Calon istri? Oh Juli


N: iya wanita yang sangat cantik dan bersama kamu telah mengumumkan pernikahan kalian


P: hahaha, tenang. Itu tidak seperti yang kamu lihat. Lihat saja nanti. Bentar lagi aku akan membuktikan kalau aku hanya ingin menikmat menua bersamamu Nara.


Sebuah gombalan menggelikan yang luar biasa. Pradipta memang seorang buaya ulung yang sangat hebat merayu wanita. Pantas diacungi jempol. Sebuah rayuan yang mampu menggelitik perutku membuatku tertawa tergelak tanpa bisa kutahan.


“Hebat sekali ya suamimu Nara. Dia sangat piawai dalam menggombal. Pantas saja kamu dulu tergila gila padanya sampai mau disiksa oleh suami dan keluarganya. Luar biasa,” aku mengatakan apa yang dipikiranku tanpa sadar akan perasaan Nara. Aku terus menggodanya, namun wanita didepanku hanya cemberut dan terlihat tidak suka, namun kadang juga tersenyum. Aku baru berhenti saat Nara berusaha mengabaikanku dan kembali ke smartphonennya.


N: benar tidak akan jadi masalah?


P iya cantik. Serahkan semua padaku. Kamu hanya perlu berdandan cantik dan bergembira bersamaku


N: Kalau begitu baiklah. Kita bertemu Sabtu  nanti.

__ADS_1


Nara meletakan handphone nya dan melanjutkan sarapannya dalam diam. Sedangkan aku? Aku kembali merasakan rasa tak nyaman yang muncul dihatiku, menyadari bahwa Nara akan berkencan dengan Pradipta. Entahlah, aku merasa tidak rela kalau Nara berkencan dengan Pradipta. Ingin aku membawa lari Nara dan Juli, menjauh dari laki-laki buaya tak tahu diri itu.


__ADS_2