Nada Nara

Nada Nara
Bab 76 Jawaban Dibalik Rahasia kencan Makan siang (bagian 1)


__ADS_3

POV Mahardika


“NO, Nara jangan sampai masuk kesana Adrian, “ kataku sambil bergerak lebih dekat. Adrian memandang Nara sejenak, memberikan kode untuk menolak berganti baju di ruangan yang disediakan. Nara dan Adrian segera mengerti apa yang aku minta dan berganti baju di kamar mandi. Sementara itu dua orang yang aku curigai langsung masuk ke ruangan yang mereka minta. Disaat yang sama, pasukan bayanganku ikut masuk ke ruangan guna memata-matai dua orang yang aku yakin menjadi pelaksana rencana dibalik kencan makan siang.


Instingku akan bahaya tidak pernah meleset. Setelah Bara, Bayu dan Henry berhasil memasang kamera pengintai, kami bisa mendengar pembicaraan Manajer restoran dengan Sisca. Mereka cukup tajam melihat keadaan, mencurigai Nara. Mereka sepertinya sadar kalau Nara hanya pura-pura sakit.


“ Aku curiga Nara tidak benar benar sakit perut,” kata Sisca yang bisa kutangkap saat alat Bara menyala dan dapat beroperasi penuh. Setelah itu menyusul kamera bayu menyala. Pengambilan rekaman kali ini memang tidak maksimal karena semua serba tiba-tiba dan tergesa. Namun cukup baik untuk bisa merekam suara percakapan dengan jelas dan beberapa gambar sebagai bukti.


“Aku rasa dia hanya pura-pura sakit setelah Adrian kita larang masuk. Apakah Adrian kekasih Nara?” Manajer restoran mencoba melihat kemungkinan yang ada rupanya.


“No, aku yakin bukan. Aku melihat kalau Nara memiliki ikatan kuat dengan Tuan P. Ada sesuatu di mata Nara untuk Tuan P. Ada sebuah rencana yang ingin dia jalankan. Aku yakin, Nara sebenarnya ingin mendekati Tuan P. Namun untuk apa, aku belum tahu,” kata Sisca.


“Apakah Nara ingin menjerat Tuan P agar menjadi suaminya? Apakah ini masalah kekayaan?” kata Manajer.


“No, Nara tidak miskin dan aku rasa tidak membutuhkan uang tuan P. Aku yakin, dia atau paling tidak  orang dibelakangnya memiliki uang yang sangat banyak. Untuk melakukan begitu banyak operasi berkualitas seperti yang dilakukan Nara, itu membutuhkan uang yang sangat banyak. Tidak sembarangan orang mampu melakukannya. Lagi pula menurutku selain cukup berkelas, Nara bukan tipe perempuan mata duitan. Dia memakai barang bagus karena memang memilikinya, bukan show off. Menurutku ada motif lain,”


Wow, Sisca selain tampilannya tidak boleh diremehkan, secara analisa dia cukup tajam. Namun dari percakapan ini, mereka belum tahu tentang Nara. Jadi bukan Nara sasaran utama mereka. Lalu apa rencana mereka yang sebenarnya?


“Sudahlah, lebih baik kita konsentrasi dengan tugas kita. Untuk apa kita peduli pada model model bodoh seperti Nara. Mereka Cuma ingin ditiduri oleh Tuan P,” kata Sisca. "Lagi pula sebagai pendatang baru, meskipun kata orang dia memang smart dan berkualitas, tetep saja dia model yang mengandalkan wajah dan mungkkin juga tubuhnya. Mungkin itu yang membuat Nara bisa langsung meroket. Uang dari gadunnya mana mungkin didapat cuma-cuma. Kalau nggak ngangkang apa lagi."


“Hei! Hati hati bicara. Naraku bukan pelacur murahan yang mengorbanka banyak hal cabe cabean yang ingin ditiduri Pradipta. Sembarangan saja bicara!”  teriakku frustasi mendengar pembicaraan dua orang bayaran bodoh itu.


“Tenang bro, Percuma marah-marah. Ini kan Cuma drama. Lebih baik terus dengarkan untuk mengetahui motif dan rencana mereka,” kata Henry yang tiba tiba sudah ada disebelahku. Kemampuan meringankan tubuh dan menjadi bayangan memang yang terbaik. Jika dia mau, dia bisa berada dimana saja tanpa disadari orang lain. Bagi kami bertiga yang menguasai ilmu yang sama, Henry masih yang terbaik. Kami sering menjulukinya turunan mbah kolor ijo, karena kemampuannya ini.

__ADS_1


Yeah, aku rasa Henry benar. Aku kembali memusatkan perhatianku pada dua orang yang masih berusaha mencari informasi tentang Nara dan Adrian. Sepertinya mereka cukup puas dengan data yang mereka dapatkan.


“Sisca, aku tidak menemukan apapun tentang Nara. Tapi ada hal yang mencurigakan dengan pengawalnya,” kata manajer.


“Ya kamu benar. Kehadiran pengawal sekaliber laki-laki itu hanya untuk seorang artis pendatang baru yang tidak ada data masa lalu  ini justru mencurigakan. Apalagi tiba tiba dia pulang ke Indonesia dengan kekayaan melimpah. Padahal saat dia pergi, dia hanyalah gadis panti asuhan yang tidak punya apa-apa. Sebaiknya kita segera melaporkan hal ini pada bos besar,” kata Sisca.


“Bagaimana dengan Nara dan Adrian?” kata Manajer.


“Minta Tuan P ntuk menahan dan mengulur waktu sampai ada perintah langsung dari bos. Sepertinya kita tidak mungkin mengambil kalung itu disini ataupun menukarnya. Kecuali Tuan P bisa meniduri Nara dan membiusnya,” kata Sisca.


“Sepertinya tidak mungkin. Dari tadi pengawalnya sangat berhati-hati. Bahkan dia hanya minum dari botol airputihnya dan wine yang dipastikan masih tertutup. Sedangkan Nara tidak minum alhkohol,” kata sang manajer.


“Hemm oke nanti kita bicarakan dengan bos. Sekarang segera sampaikan kepada Tuan P kalau kita gagal mengganti kalung itu karena Nara tidak disini. Tidak mungkin menghipnotis Nara didepan pengawalnya. Pengawalnya itu sepertinya tahu  apa yang kita kerjakan,” kata Sisca.


“Hallo bos,” terdengar suara Sisca menelpon bosnya. “Baik bos. Dia ada disebelah saya. Oke saya speaker ya.” Wow, sepertinya ini akan menarik


“Andrew, segera lacak siapa dan dimana bos Sisca ini,” kataku.


“Eh Anjing kalian ya, begitu saja tidak becus. Masa kalah dengan artis pendatang baru yang Cuma modal cantik dan satu orang bodyguard. Aku tahu bodyguardnya sepertinya kelas atas. Tapi kalian pasukan kusus LC. Begitu aja tidak becus,”


“Maaf bos. Kali ini kami tidak bisa memaksa untuk masuk kesini. Restoran juga tidak bisa ditutup. Beberapa tim kita yang seharusnya bekarja hari ini, sakit dan terpaksa mengambil tenaga tambahan dari luar, last minute,” kata manajer restoran.


“Yakin semua itu bukan sabotase atau perbuatan musuh kita?”

__ADS_1


“Sudah kami selidiki bos, tidak ada pergerakan dari musuh kita. Tidak ada yang mencurigakan. Tamu kita hari ini hanya pialang-pialang yang sedang main saham bersama dan para pemain bitkoin yang ingin dirahasiakan bos. Tidak ada yang berhubungan dengan mafia maupun Dirgantara,” kata Sisca.


“Bego emang kalian,”


“Oh iya, siapa Henry yang tadi memeriksa kalung? Lalu siapa laki-laki yang dia katakan bos, yang membelikan kalung itu untuk Nara?”


“Menurut penyelidikan kami, Henry adalah pengacara lulusan terbaik Havard University. Dia menjadi partner beberapa law firm di Singapore dan di Indonesia dia bekerja untuk keluarga Juna Papanya Juli. Mereka yang mengambil Henry dari panti asuhan dan menyekolahkannya. Setelah Juna meninggal, Henry membiayai sekolahnya sendiri dan selalu mendapat beasiswa sampai selesai kuliah. Sebagian besar kliennya adalah corporate dan artis termasuk yang sekarang. Bosnya cukup misterius, pemilik PH yang  sudah berumur 70 an. Tidak bisa dipastikan hubungan Nara dan sang bos. Tapi sepertinya cukup istimewa hingga mau membelikan kalung berlian seharga 150 juta. Yah mungkin pria hidung belang kelebihan uang bos.”


“Jadi tidak ada hubungan dengan pesaing-pesaing kita?”


“Sejauh ini, Tidak ada bos,”


“Lalu apakah aada kemunculan orang yang kira-kira menginginkan kalung Dirgantara karena fungsinya di keluarga Dirganta? Atau bahkan kemungkinan munculnya Dika Dirgantara?”


“Tidak ada bos. Tadinya kamis sempat mencurigai Henry atau bos Nara sebagai Dika. Tapi bisa dipastikan Henry bukan Dika. Sedangkan laki-laki genit itu jelas bukan, karena usianya 70 tahun bos,” kata Sisca.


“Ya sudahlah. Persiapkan plan B. Pastikan penyergapan kalung kali ini bersih dan tidak ada yang menghubungkan perampokan kalung dengan kita. Pastikan jangan sampai gagal. Kalung itu harus kembali kepada kita dan jangan sampai rusak.  Jika diperlukan, artis baru itu kalian bunuh saja. Tapi melihat gelagat pengawalnya, kalian akan menemui kesulitan dengannya. Jadi sebaiknya kalian jangan hanya membawa dua mobil. Setidaknya 4 sampai 6


mobil,”


“Siap bos,” kata Sisca.


“Ton, pastikan Pradipta tidak berlama lama dengan perempuan itu. Waktu kita tidak banyak Kalian harus mendapatkan kalung itu. Jangan sampai orang lain tahu kalau kalung itu lepas dari tangan kita. Nenek Dirgantara jangan sampai tahu kalau kita nanti mendapatkan kalung itu kembali. Kalau ditanya, bilang saja kalungnya sudah dibawa kabur Nara.”

__ADS_1


“Sebenarnya sepenting apa kalung itu bos. Bukannya bos bisa membeli kalung berlian yang jauh lebih mahal dari kalung milik Lidya Dirgantara  itu?” terdengar Sisca bertanya setelah memastikan dia hanya sendiri di ruang itu.


__ADS_2