Nada Nara

Nada Nara
Bab 10 Nada yang hancur (Bagian 2)


__ADS_3

Matahari pagi yang bersinar dari celah-celah tirai jendela, membangunkanku. Belaian sinar pagi biasanya memberikan kehangatan yang sangat kusuka. Namun kali ini kesan itu tidak kurasakan. iBadanku terasa sangat lelah. Pagi itu dia tidak mengerjakan apapun dan tidak keluar kamar. Selain karena matanya yang bengkak, kepalanya juga pusing, mungkin efek menangis semalam. Hari ini sepertinya aku bisa sedikit aman dan tidak akan dipaksa keluar, karena ayah sedang dirumah sampai pagi ini.


Kalau ada ayah, aku dilarang mengerjakan pekerjaan yang biasanya kukerjakan. Ibu dan kedua adik iparku yang mengerjakan. Namun, mereka hanya mengerjakan urusan dapur, sedangkan untuk urusan mencuci dan bersih-bersih tetap akan dikerjakan oleh Nada, setelah ayah tidak ada. Toh ayah hanya sehari dua hari saja di rumah.


Mereka tidak mau ayah tahu, bahwa selama ayah tidak ada, aku yang mengerjakan semuanya. Merekapun selalu melarangku mengatakan apapun tentang rumah ini pada ayah. Itulah mengapa, jika ayah dirumah, aku harus selalu dikamar.


Termasuk pagi ini. Semalam ibu sempat mengirimkan pesan melalui whatsup padaku, menyuruhku untuk tidak keluar kamar sebelum ayah berangkat. Tentu dengan kalimat ancaman. Itu berarti aku baru bisa keluar setelah pukul 10 pagi. Bahkan tadi pagi, agar aku tidak perlu ketemu ayah di meja makan, Prita dengan cemberut, disuruh Ibu mengantarkan sarapan ke kamarnya. Namun kali ini aku mencoba menutup hatinya tidak peduli.


Waktu menunjukan pukul 10 saat kuputuskan untuk bangun dari tempat tidur dan mandi. Dari tadi malam aku bertekad untuk mempertahankan rumahtanggaku dengan mas Pradipta. Aku berpikir keras bagaimana caranya agar pernikahan kami bisa bertahan, dan aku tidak membuat mama dan papa kecewa. Terpikir olehku untuk pergi ke Vertility Clinic yang aku browsing semalam. Setelah itu aku akan bertemu dan makan siang dengan Sandra. Hari ini sahabatku itu menyempatkan diri mengunjungiku dan ingin memastikan keadaanku setelah kejadian kemarin. Dengan semangat itulah, aku bangun dan memulai hari ini.


Di kafe yang sudah kami janjikan, aku menunggu Sandra yang masih dalam perjalanan dari Bandung. Aku sadar beberapa pengunjung kafé memandangku dan berbisik bisik. Aku juga tahu mereka melihatku dengan pandangan aneh, kasihan bahkan ada yang mencibir. Beberapa dari mereka terang terangan membandingkanku dengan wanita yang sedang viral, menyerang artis kenamaan. Ya, meskipun namaku tidak disebut, tapi nama dan tubuhku yang sangat jarang dimiliki orang lain ini terpampang jelas disana kan.  Disini aku yang harus menghadapi Netizen


julid yang tidak tahu permasalahan, menyalahkan dirinya dan menghujatnya. Ingin rasanya aku berteriak dan menyuruh mereka berhenti menatapku dan menghakimiku. Namun aku sadar, semua itu tidak ada gunanya, atau mungkin malah akan menambah runyam. Mereka akan makin menganggapku sebagai wanita gila nantinya. Apapun


yang aku lakukan, pasti akan salah dimata Netizen yang agung kan?


Saat aku membuka gawaikupun aku juga tidak tahan. Banyak sekali pesan dan hujatan dari teman-temanku. Bahkan banyak dari orang yang mengaku temanku, mengirimkan pesan hinaan dan hujatan. Mereka mengatakan kalau mereka malu pernah satu sekolah denganku. Mereka mengatakan kalau mereka tahu kalau dari dulu aku sudah sakit jiwa, dan banyak lagi. Semua itu membuatku makin tertekan dan ingin menangis.

__ADS_1


Untunglah Sandra segera datang. Jika telat 10 menit lagi saja, mungkin aku akan gila atau aku akan pergi dari Kafe ini. Itupun aku sudah bersembunyi disudut paling tersembunyi di kafe ini. Bahkan mas-mas pelayan kafe yang juga memiliki badan tinggi besar yang melayaniku pun memandangiku dengan pandangan iba. Dan aku lihat setelah dia melayaniku, dia diolok-olok temannya sampai emosi dan membanting nampan yang dipegangnya.


Sandra melihat itu semua dan memahami situasinya. Sandra bilang, dia sudah melihat video viral itu, dan berusaha menyembunyikan dari mama. Untung mama terlalu sibuk dengan restoran dan pekerjaannya hingga tidak sempat melongok ke dunia maya ataupun nonton televisi. Biasanya dia hanya bertanya pada Sandra ada berita apa hari


ini, agar bisa mengimbangi pembicaraan pelanggan restoran, seadanya.


“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Aku ingin mendengar langsung versi kamu,” tanya Sandra dengan perlahan. Lalu mengalirlah cerita kejadian kemarin sampai hari ini. Kutunjukan padanya video yang yang sempat aku save dengan angle menunjukan kalau aku tidak bersalah. Aku juga menceritakan tentang hinaan Juli.


“Anjing! Perempuan sundal itu maunya apa? Sudah jadi pelakor masih aja mulutnya murahan begitu. Harusnya sekalian saja kamu patahkan kakinya dan kamu siram mukanya dengan air keras. Toh kamu tidak melakukan apa-apa, kamu dituduh menyerangnya dan dia bilang kamu gila. Jadi sekalianlah jadi gia dan merusak mukanya!” kata Sandra emosi.


“Ssst, Sand, pelanin suaranya,” kataku menenangkan Sandra. Huft, harusnya Sandra yang menenangkan aku bukan? Kemarahan Sandra ternyata lebih menakutkanku daripada semua rasa tertekanku tadi. Aku benar-benar tidak mau Sandra mengamuk disini dan jadi pusat perhatian. Menjadi viral LAGI, bukan tujuanku saat ini.


“Terbalik nona gila! Kamu yang harusnya tenang dan menghiburku,” kataku sambil meminum Orange juice dengan tenang. “Woi! Cong! Minumku itu!” kata Sandra dengan lucunya dan menarik gelas yang tadi kuminum. Aku tergelak melihat tingkah sahabatku. Kulihat senyuman sekila diwajahnya. Hah! Untunglah aku memiliki sahabat terbaik seperti dia, yang mampu membuatku tersenyum disaat seperti ini.


“Trus gimana? Kapan kamu ceraikan si monyong satu itu?” kata Sandra sambil menyeruput minumnya.


“Cerai? Kenapa kesana lagi sih Sandra? Sudah aku bilang, aku tidak ingin cerai dari dia. Aku tidak mau membuat mama dan papa kecewa San,” kataku berusaha menyembunyikan dana sakit dari suaraku. Namun bukan Sandra namanya, kalau dia tidak bisa menangkap rasa sakitku.

__ADS_1


“Ya iyalah, kenapa harus dipertahankan. Tidak usah sok kuat atau sok baik-baik saja. Mama sama Papa pasti akan lebih rela melihat kamu bercerai, disbanding kamu terus-terusan disiksa seperti ini Nada. Nanti malam, aku akan ceritakan semua pelan pelan ke mama. Jadi kalaupun kamu bercerai mama tidak akan kaget,” kata Sandra.


“Bukan disiksa Sandra. Tapi mereka sedang kilaf. Allah saja memaafkan, kenapa aku tidak?” kataku pelan. “Jangan katakan apapun sama Mama San. Berjanjilah.”


“NO WAY! Aku harus bilang mama,” kata Sandra. Aku langsung merosot kelantai dan memegang lutut  Sandra. Aku tidak akan bisa melihat Mama bersedih karena tahu anak kesayangannya diperlakukan seperti ini. Aku tahu Mama


adalah orang pertama yang hancur jika mengetahui keadaanku. Mama pasti akan sangat marah dan terluka jika tahu apa yang dilakukan suamiku dan keluarganya padaku. Menantu yang dia berikan untukku telah tega menyakitiku. Pasti akan membuat Mama merasa bersalah. Aku tidak mau membuat perempuan yang sangat


kuhormati dan kusayangi itu bersedih, demi apapun. Sejak Papa meninggal, mamalah yang bekerja keras mengurus semuanya. Sementara aku? Dengan egoisnya, mengejar inginku bersama mas Pradipta dan keluargaku meninggalkan Mama. Dan sekarang, aku pulang membawa kesedihan? TIDAK!


“Please.. San, janji ya, jangan katakana apapun sama mama, apapun yang terjadi. P;ease. Atau aku tidak akan pernah menganggapmu sahabat lagi,” ancamku. Meski Sandra menarikku untuk duduk di kursi, dia hanya diam tak mengatakan apapun. Aku terus mengulang ulang permintaanku meski dia hanya diam tanpa kata. Air mataku mulai menitik membuat Sandra kaget.


“Huft, kalau sudah nangis gini, aku bisa apa. Ya deh… iya, aku tidak akan bilang mama!” kata Sandra akhirnya.


“Janji?” kataku memastikan.


“Janji!” kata Sandra. “Tapi kamu juga harus berjanji untuk berhati-hati. Jika pada akhirnya harus mundur, maka segeralah mundur dan selalu kabari aku apapun yang terjadi,” kata Sandra yang segera kusambut dengan anggukan. Aku tidak mau Mama sedih karena anaknya tidak baik baik  saja. Aku tahu, Mama bisa sakit jika mendengar penderitaannya. Jika memang harus bercerai dengan pradipta, aku akan mencari jalan untuk bicara. Namun sampai saat ini, Aku masih yakin kalau pradipta akan kembali padaku. Sandra tampak kesal. Dia bilang

__ADS_1


aku terlalu baik hati, pemaaf dan disebutnya bodoh. Setelah itu aku menghabiskan waktu sampai malam dengan Sandra.


***


__ADS_2