Nada Nara

Nada Nara
Bab 15 Pradipta dan Juli (Bagian 3)


__ADS_3

Setelah pemakaman, aku mengurus semua hal mengenai kematian  Nada. Mulai dari kepolisian sampai keurusan asuransi. Rupanya Papa dan Mama membelikan asuransi yang cukup besar untuk Nada. Pihak kepolisianpun mau


kuajak kerjasama. Dengan  orang-orang dalam, koneksi dari LC dan Franco, kasus kematian Nada bisa langsung ditutup hari itu juga tanpa penyeleikian lebih lanjut. Bahkan hari itu juga kasus dan berita ditutup, seolah-olah kecelakaan itu tidak pernah ada di dunia luar. Dalam laporan kepolian, kematian Nada dianggap sebagai kecelakaan maut karena kondisi jalan dan ketidak mampuan pengemudi mengendalikan mobil, hingga  memakan korban jiwa. Kesalahan sepenuhnya pada jalanan licin karena hujan malam itu. Dengan begitu pihak asuransi juga tidak mencurigai apapun saat aku menarik polisnya. Lumayan besar,  bisa untuk kugunakan jalan-jalan ke Eropa bersama kekasihku,  seperti yang Juli inginkan sejak lama.


Uang asuransi itu sendiri tidak bisa langsung keluar, jadi akupun tidak membicarakan pada siapapun. Hanya Ibu yang sempat menanyakan padaku saat dia menghampiriku di kamar, sepulang dari kantor asuransi. Itulah mengapa aku harus membagi sedikit dari uang itu untuk ibu dan kedua adikku. Tapi mereka juga tidak tahu berapa besar uang yang aku peroleh. Aku tidak mengatakannya secara jujur. JIka mereka tahu, aku yakin mereka akan meminta lebih banyak.


Bagaimana dengan Mama? Mama tidak menanyakan masalah uang asuransi sedikitpun juga. Bahkan aku rasa Mama juga tidak memikirkan itu sama sekali. Setiap hari dia hanya duduk merenung memandangi foto Nada, memasak didapur dan berbicara dengan Sandra. Selain mengikuti acara doa  peringatan meninggalnya Nada yang kami gelar tiga hari berturut turut, Mama tidak melakukan apapun di rumah. Untuk urusan bersih-bersih, ibu memanggil orang yang dia bayar melakukannya, menggantikan Nada. Menurut ibu, Dia dan kedua adikku tidak akan sanggup mengerjakan pekerjaan Nada selama ini. Itu kanapa ibu memintaku untuk menggaji pembantu pulang pergi yang akan membersihkan rumah. Ayah setuju dengan usul Ibu. Namun untuk urusan dapur, ayah meminta ibu dan kedua adikku yang mengerjakannya. Selama ada mama dan Sandra, nampaknya merekalah yang menyelesaikan urusan dapur.  Mama sendiri berada di kediaman Hermawan sampai hari ketiga.

__ADS_1


Urusan surat bunuh diri Nada juga disepakati kalau tidak dipublikasikan atau diberitahukan kepada siapapun. Hanya keluargaku, Mama dan Sandra yang tahu. Tidak boleh bocor pada siapapun. Tentu saja aku menggunakan alasan, demi kebaikan nama baik Nada.


Ibu, Prita dan Pipit sudah biasa-biasa saja. Bahkan mereka mulai bisa membicarakan tentang warisan Nada yang banyak dengan gembira.  Tampaknya, dikeluargaku, hanya Ayah yang sungguh-sungguh berkabung dengan kepergian Nada. Ayah memang sangat menyayangi istriku itu. Menurut ayah, Nada lah yang selama ini merawat dirinya dengan baik saat sakit. Bahkan lebih baik dari istri dan anak-anaknya sendiri. Yah, ibuku memang bukan istri yang baik. Sejak tinggal di kediaman Hermawan, ibu banyak bergaul dengan ibu-ibu mentereng yang pekerjaannya hanya arisan, gosip, kumpul-kumpul dan shoping. Lupa pada tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Itu yang dikatakan Ayah. Ayah pernah bilang kalau ibu banyak berubah setelah tinggal di kediaman Hermawan. Akan tetapi, Ayahpun tidak bisa terlalu lama berkutat dengan kesedihan karena mengurus bisnisnya. Meskipun setelah hari ini dan seterusnya, ayah masih selalu menyempatkan diri mengurus dan membersihkan makam Nada.


Aku? Tentu saja aku biasa saja. Aku menikmati masa libur berduka atas kematian istriku  dengan istirahat dirumah, malamnya ke club bersama teman-teman dengan alasan menghibur diri atas kematian istriku  dan bermain wanita, karena Juli sedang tidak bisa kutemui agar tidak dicurigai oleh orang lain. Pilihan ini kami ambil mengingat Juli banyak disorot oleh media dan Nada pernah viral bermasalah dengannya beberapa waktu lalu. Jika sampai media melihat Juli berada di rumah kami, atau juli bersamaku yang sedang berkabung karena striku meninggal, maka bisa-bisa akan tersebar isu yang menyebabkan skandal. Dengan adanya skandal, image Juli akan memburuk dan berpengaruh pada karirnya. Ibu, Prita dan Pipit yang mengatur semua hal yang berhubungan dengan Juli. Malam ini Juli mengatakan pada ibu akan datang ke rumah. Itulah mengapa saat makan siang tadi ibu mendesak Mama untuk segera pulang ke Bandung. Bahkan menurutku, Ibu sedikit mengusir Mama dengan mengatakan bahwa mulai sekarang, rumah ini adalah rumah Ibu. Mama yang sedang sangat terpuruk hanya bisa menangis. Setelah doa tiga hari kematian Nada, Mama pulang kebandung bersama Sandra. Akirnya Mama menyetujui semua wasiat Nada dan menandatanganinya. Mulai sekarang Mama tidak akan ikut campur pada aset Nada, termasuk kediaman Hermawan dan Restoran yang di Jakarta.


Di hari ketiga kematian Nada, Aku duduk di gazebo bersama Ibu dan kedua adikku. Ayah barusaja berangkat mengantarkan Mama ke Bandung lalu sibuk dengan Restoran. Kami berempat menikmati teh dan kue sisa acara peringatan tiga hari kematian Nada. Kami membicarakan tentang kematian Nada yang tragis. Lebih tepatnya, Ibu, Prita dan Pipit yang membahas tentang Nada dan kematiannya yang tragis. Mereka mengatakan tentang beberapa keburukan Nada yang entah mengapa membuatku merasa tidah nyaman. Apalagi saat mereka mentertawakan bentuk tubuh dan gaya Nada yang kesulitan akibat bentuk dan berat badannya. Dalam pembicaraan itu e-mail wasiat  bunuh diri Nada muncul sebagai bahan pembicaraan. Pipit bilang, dia agak heran, mengapa surat wasiat bunuh dirinya by e-mail, bukan tulisan tangan yang ditinggalkan di kamar, misalnya. Atau, mengingat kebiasaan Nada membuat video, kenapa  wasiat itu bukan berupa rekaman video.  Mereka juga membahas tentang kapan Nada berpikir untuk bunuh diri dan kenapa. Meskipun sebelum kejadian, Nada terlihat sedih dan tidak keluar kamar, tetapi saat  hari kejadian, Nada terlihat baik baik sja. Bahkan dia terlihat bersemangat dan sudah  melakukan pekerjaannya.

__ADS_1


Entah bagaimana, aku seperti merasakan kehadiran Nada. Ibu berdiri sebentar dan mengintip ke ruang depan, saat Prita dan Pipit tertawa terbahak-bahak akibat lelucon tentang Nada.  Sungguh menyeramkan. Tidak mungkin


kan hantu Nada hadir diantara kami. Bukannya hantu tidak ada? Aku dan Ibu saling pandang lalu bergidig. Untuk menghilangkan rasa tak nyaman, Aku melibatkan diri dengan pembicaraan Pipit dan Prita tentang kekonyolan Nada dimasa hidupnya. Kedua adikku itu menggodaku yang menikahi Gajah bengkak sebagai laki-laki tidak laku . Tentu saja aku tidak terima. Aku tahu, hinaan kami pada Nada yang sudah tiada mungkin  sedikit tidak pantas, tapi kami memang terbawa suasana. Ibu juga mulai membahas tentang wasiat Nada. Ibu menginginkan perhiasan perhiasan Nada. Kedua adikku juga meminta bagian padaku. Aku sendiri bilang bahwa akan membangun sebuah rumah untuk Juli di lahan milik Nada, tak jauh dari rumah kami.


Pipit dengan mata berbinar mengatakan, apakah aku akan membangun rumah itu untuk tinggal bersama  Juli setelah menikah? Aku bilang pada pipit, itu adalah rumah hadiah untuk Juli. Jika menikah, mungkin aku dan Juli akan tetap tinggal di kediaman Hermawan. Aku juga mengungkapkan rasa bahagia yang ada saat ini, tidak perlu lagi diam diam pulang ke Indonesia. Aku bahagia tidak perlu lagi menyembunyikan keberadaanku di Jakarta. Aku bahagia tidak perlu lagi merahasiakan hubunganku dengan Juli. Aku bahagia karena akhirnya aku terbebas dari perjanjian pra nikah dengan keluarga Hermawan. Aku bisa menikahi Juli, tanpa harus kehilangam harta Hermawan. Pipit yang sangat dekat dengan Juli,  mengusulkan agar Pradipta segera menikahi Juli. Namun usul ini tidak disetujui Prita.


“Jangan mas, jangan menikah sekarang. Tunggu beberapa bulan sampai orang lupa dengan Nada. Masalahnya, kan Nada kita bilang mati bunuh diri gara-gara stress terlalu gemuk dan buruk rupa. Kita juga bilang Nada depresi akibat video viral dengan Juli. Bisa bisa nanti orang curiga. Kak Juli lagi yang dapat imbasnya dan disalahkan

__ADS_1


orang. Lebih baik sabar sebentar untuk hasil terbaik. Toh semua warisan Nada sudah ada dikita. Nanti kita cari semua surat surat nya dan segera balik  namakan ke mas Pradipta. Jangan sampai istri Hermawan itu mengambilnya,” kata Prita. Aku pikir, apa yang dikatakan Prita benar. Toh menikah ataupun tidak, tidak ada bedanya. Aku bisa melakukan apapun dengan Juli tanpa harus punya ikatan pernikahan. Meskipun beberapa kali Juli bertanya kapan kami menikah. Akan tetapi menunda sampai setahun meninggalnya Nada, cukup masuk akal.


pov end


__ADS_2