Nada Nara

Nada Nara
Bab 79 Kencan Kedua (Bagian 1)


__ADS_3

Setelah drama perampokan kemarin, pagi ini Nara bangun dengan lebih baik. Rasa takut dan trauma kemarin berkurang dan tidak dirasakan lagi. Pelukan Mahardika mampu membuat Nara tenang dan melupakan apa yang terjadi. Setelah menangis dipelukan Mahardika, Nara kembali tenang dan tertidur, hingga paginya dia bisa bangun


tanpa beban.


Setelah bangun Naraseperti biasa mengerjakan pekerjaan rumah dan membereskan kekacauan yang dilakukan


tim Mahardika semalam. Dia juga menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Mahardika. Tepat saat Nara selesai menyiapkan sarapan, Mahardika keluar kamar dengan rambut masih basah tanda dia sudah mandi.  Nara segera menghidangkan sepiring nasi goreng dan kopi untuk Mahardika. Setelah itu dia masuk kamar untuk mandi. Smartphone  Nara yang ada di meja makan berbunyi saat gadis itu sedang mandi. Mahardika melirik ke layar yang menyala berulang kali. Nama Preadipta disana.


“Halo, selamat pagi,” kata Mahardika mengangkat telpon Pradipta dengan penasaran.


“Maaf, mungkin saya salah sambung,” kata Pradipta dengan kaget.


“Anda mau berbicara dengan Nara, tuan Pradipta? Saya manajer Nara. Saat ini Nara sedang di kamar mandi. Ada pesan yang bisa saya sampaikan?” kata Mahardika dengan cepat, sebelum Pradipta menutup telponnya. Mahardika sendiri memang sengaja menahan Pradipta. Dia ingin tahu tujuan dari laki-laki itu menelpon Nara. Itu sebabnya Mahardika menahan Pradipta menutup telpon.


“Ah, maaf dengan siapa saya bicara?” kata Pradipta.


“Mahardika tuan. Silahkan meninggalkan pesan jika ada keperluan, nanti saya sampaikan setelah Nara selesai,” kata Mahardika.


“Tidak perlu, saya telpon lagi nanti. Sampaikan saja bahwa Pradipta menelpon karena khawatir mendengar berita perampokan kemarin,” kata Pradipta.


“Terimakasih atas perhatian Tuan Pradipta. Nara sudah membaik. Memang sempat syok semalam karena peristiwa tersebut,” kata Mahardika mencoba memperpanjang pembicaraan.


“Oh, good then. Apakah Nara terluka?” kata Pradipta

__ADS_1


“Tidah, Nara baik baik saja. Karena yang mereka inginkan hanya kalungnya. Kami memutuskan untuk memberikan kalung saat diminta karena nyawa Nara lebih berharga,” kata Mahardika.


“Benar, Nyawa Nara lebih berharga dari pada apapun. Semahal apapun berlian dan emas yang diminta perampok, sebaiknya memang diserahkan saja. Uang seratus lima puluh juta tidak masalah untuk Nara,” kata Pradipta.


“Betul Tuan. Namun sepertinya perampok itu sudah mengikuti dan mengincar Nara sejak dari LC Tower. Apakah pihak keamanan LC Tower bisa membantu jika polisi membutuhkan keterangan?” pancing Mahardika.


“Tentu saja. Kami akan membantu Nara dan pihak kepolisian jika dibutuhkan,” kata Pradipta dengan yakin. ”Untuk urusan asruransi, karena proses balik nama asuransi belum dilakukan, nanti  kami bantu untuk mengurusnya.”


“Baik sekali Anda Tuan. Itu akan sangat membantu karena kami mengalami kesulitan untuk pengurusan asuransi,” kata Mahardika.


“Sebenarnya selain ingin menanyakan kabar Nara, saya juga akan menawarkan membantu pengurusan asuransi. Jika memang Nara  menginginkan nanti kita bisa membicarakan sambil makan malam,” kata Pradipta. Mahardika langsung berubah mukanya.


POV Mahardika


Baru bangun tidur aku menemukan Nara yang tampaknya sudah kembali normal. Wajahnya sudah kembali ceria. Bahkan dia menyapaku dengan senyuman mempesona yang selalu berhasil menaikan moodku. Nasi goreng Nara yang lezat dan segelas kopi terhidang diatas meja. Setelah itu Nara mengatakan akan mandi sebelum memulai


Saat menikmati sarapan sambil membaca berita hari ini, aku mendengar smartphone Nara berbunyi. Disana  tertulis nama Pradipta. Hem, si buaya darat mau apa kali ini. Apakah dia memastikan sesuatu tentang kalung itu? Apakah mereka tahu jika kalung itu bukan kalung yang asli. Karena penasaran aku mengangkat telepon pradipta. Aku ingin tahu apa yang dia inginkan dari Nara. Dari percakapan kami, aku bisa menyimpulkan bahwa Pradipta ingin mencari tahu


keadaan Nara. Mungkin memang benar Pradipta peduli dengan Nara. Aku mengingatk percakapan Nara dengan Sisca saat itu, yang menginginkan Nara tidak dilukai dalam proses perampokan. Namun aku masih tidak yakin mengingat kalung milik Nara bukanlah kalung asli, bisa jadi mereka akan mencari Nara untuk menemukan kalung asli.


Ternyata kemudian Pradipta menawarkan untuk  untuk membantu mengurus asuransi kalung yang hilang. Hal ini wajar mengingat pemnyerahan kalung dan perampokan di hari yang sama. Kami belum sempat mengurus balik nama asuransinya. Jadi sampai saat ini yang berhak mengurus asuransi adalah keluarga Dirgantara yang diwaliki Franco dan LC. Jadi sangat wajar jika Pradipta selaku wakil pihak LC yang menyerahkan kalung, menawarkan bantuan.


“Sebenarnya selain ingin menanyakan kabar Nara, saya juga akan menawarkan membantu pengurusan asuransi. Jika memang Nara  menginginkan nanti kita bisa membicarakan sambil makan malam,” kata Pradipta. Nah ini yang tidak aku suka. Modus berat laki-laki ini. Padahal kalau hanya mengurus asuransi bisa dilakukan oleh siapapun di manajemen kami. Tetapi dia menggunakan ini buat alasan berkencan dengan Nara.

__ADS_1


“Baiklah tuan nanti saya sampaikan,” kataku dengan sedikit ketus. Ya aku tidak dapat menahan diri untuk  kesal dengan modus Pradipta. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Aku tidak berhak siapapun mendekati Nara. Aku bukan siapa siapanya Nara dan bahkan saudarapun bukan. Tidak mungkin juga aku menyukai ataupun menjadi kekasih Nara. Setelah saling mengucapkan selamat tinggal, aku menutup telpon Pradipta dan melanjutkan sarapanku.


“Siapa yang menelpon, M?” tanya Nara yang sedang mengeringkan rambutnya.


“Tuan Pradipta dari LC. Dia ingin menanyakan keadaanmu dan menawarkan untuk mengurus asuransi kalung yang hilang. Tapi syaratnya kamu harus berkencan dengannya,” kataku sinis. Nara terbahak-bahak mendengar jawabanku.


“Emang kenapa kalau aku berkencan? Bukannya itu tujuan kita ya, akubisa mendekati Pradipta dan menggagalkan pernikahan mereka?” kata Nada


“Nggak apa-apa juga sih. Males aja lihat buaya beraksi,” kataku dengan mencoba mengatur suaraku sedatar mungkin. Aku sendiri heran kenapa jantungku berdegup kencang dan serba salah, hanya karea berdekatan dengan Nara. Setelah itu kami mennghabiskan waktu dengan latihan di Gym dan mengobrol di ruang tamu.


Tepat di jam makan siang, smartphone Nara kembali berbunyi. Siapa lagi kalau bukan dari buaya darat Pradipta.


“Halo, “ kata Nara lembut sambil mengatur mode speaker agar aku bisa mendengar pmereka.


“Halo Cantik? Sedang apa? Apakah saya mengganggu?” tanya Pradipta tak kalah lembut


“Ah nggak kok, ada apa Tuan Pradipta?” kata Nara.


“Nara, kan sudah saya katakan jangan panggil tuan,” protes Pradipta.


“Ah maaf,  Mas Pradipta, ada apa?” kata Nara


“Kamu baik baik saja? Aku mendengar apa yang terjadi padamu kemarin sore. Tapi aku sama sekali tidak bisa menghubungimu. Aku berusaha mencari tahu kevberadaanmupun aku tidak tahu. Saat aku ke kantor polisi, mereka bilang kamu sudah pulang,” kudengan suara pradipta cukup tulus saat menanyakan keadaan Nara.

__ADS_1


“Nara baik baik saja mas. Kemarin Nara memang langsung pulang karena ketakutan. Tapi sekarang sudah tidak masalah lagi. Terimakasih sudah mengkhawatirkan Nara,” kata Nara.


“Tidak masalah, cantik. Oh iya, mas mau menawarkan untuk mengurus asuransi kalung Nara. Untuk detilnya bagaimana kalau kita makan malam nanti malam? “ Pradipta


__ADS_2