
Selesai makan malam, Pradipta langsung masuk kamar. Pembicaraan bersama keluarganya tadi cukup menggelitik hatinya. Ada rasa hangat yang dia tidak bisa terjemahkan dalam kata-kata. Dihatinya, muncul bunga bunga indah yang bahkan tidak dirasakannya saat mengenalkan Juli dengan keliuarganya. Pradipta pun tahu, kadang Juli tidak nyaman saat bergabung dengan keluarganya. Hal ini kadang membuat Pradipta ragu menikahi Juli. Namun untuk memutuskan Juli juga bukan perkara yang mudah.
Pradipta mencoba menelpon Nara. Selain karena Pradipta mulai merindukan gadis berparas cantik dan sexy itu, dia juga panasaran apakaha Nara yang dimaksud keluarganya benar-benar Naranya. Naranya? Pradipta tersenyum dan merasa hangat dengan sebutan itu. Meski dia juga tahu bahwa itu hanya halunya saja.
“Halo,” terdengar suara lembut yang membuat Pradipta sedikit berjingkat. Entah mengapa Pradipta merasa familiar dengan suara lembut ini. Bulu kuduknya meremang menyadari siapa yang dibayangkan memiliki suara yang sama dengan Nara. Ya, Pradipta mengingat suiara ini sebagai suara Nada. Namun, Pradipta berusaha menepis.
“Eh, halo. Ini Mas Pradipta?” Suara lembut tadi sedikit berubah intonasi menjadi suara Nara, membuat Pradipta berpikir bahwa tadi dia berhalusinasi, teringat pada almarhum istrinya. Kembali bulu kuduk Pradipta meremang.
“Hai Nara, Iya ini aku Pradipta. Apa kabar?” kata Pradipta.
“Oh, baik. Ada apa mas, malam malam begini menelpon?” tanya Nara.
“Memangnya tidak boleh ya aku menelpon jam segini,” tanya Pradipta.
__ADS_1
“Aneh aja sih. Ada apa mas?” Tanya Nara lagi.
“Tidak apa apa, hanya ingin mendengar suaramu saja. Oh ya, kamu sedang apa?” jawab Pradipta
mencoba santai.
“Ehm, sedang siap siap untuk pemotretan besok lalu tidur mas,” kata Nara.
“Tadi sore kamu membuat kue putu mayang? Memangnya kamu bisa masak dan buat kue?” tanya Pradipta
bekerja dari Papa dan mengapa Nada senang memasak. Pradipta kembali menggelengkan kepalanya mencoba menepis ingatannya pada Nada.
“Eh tapi ngomong-ngomong kok mas Pradipta tahu haru ini aku bikin putu mayang?” tanya Nara lagi.
__ADS_1
“Ya tahu dong. Kudengar kau juga baru pindah di dekat rumahku. Rumah putih yang kau kunjungi itu rumahku” Kata Pradipta.
“Hah? Masa sih? Maksudnya rumah Bapak Ibu Henky?” tanya Nara terdengar terkejut.
“Iya, Bapak dan Ibu Henky itu ayah dan ibuku. Tadi aku makan kue putu mayangmu. Tapi hanya tersisa satu. Enak sekali Nara,” puji Pradipta.
“Beneran? Kebetulan sekali! Bagaimana ini bisa terjadi? Wow, Menakjubkan...” Jawab Nara di ujung sana dengan suara takjub. Sepertinya Nara tidak mengira bahwa rumah yang tadi dikunjunginya adalah rumah Pradipta. Laki-laki itu tersenyum senang. Akhirnya kini dia berdekatan dengan Nara dan selalu ada alasan untuk tidak sengaja bertemu.
“Iya, keren ya. Sepertinya kita memang ditrakdirkan untuk bersama,” kata Pradipta.
“Apa?” tanya Nara seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Pradipta.
“Ah nggak, aku Cuma bilang Ini keren, karena ternyata kita bertetangga,” kata Pradipta.
__ADS_1
“Ohhh, iya ya, tidak sengaja kita bertetangga seperti ini,” kata Nara. Lalu mereka berbincang-bincang panjang lebar. Tak terasa mereka sudah menghabiskan 30 menit untuk mengobrol melalui telpon. Nara mencoba untuk memutuskan pembicaraan mereka.
“Nara, sebentar. Sebelum ditutup aku ingin bicara. Aku tahu kita ada janji makan malam di akhir pekan ini. Namum karena kita tetanggan, bolehkah aku bertemu denganmu?” tanya Pradipta.