
POV Nara
Matahari mulai menampakan dirinya. Langit terlihat bersemburat jingga saat aku mengambil gelas kedua tehku. Belum ada tanda-tanda M bangun dari tidurnya. Aku rasa hari ini jadwalku akan sedikit berubah. Jadi tidak ada salahnya aku menikmati tehku pagi ini sambil memikirkan apa yang dikatakan M semalam. Aku memikirkan tentang hubungan M dan Juli dimasa lalu. Sebuah kisah cinta yang timpang menurutku. Entah kenapa, laki-laki tampan sehebat dan sepintar M masih bisa dibodohi dan dimanfaatkan oleh seorang gadis ingusan. Laki-laki yang
begitu baik dan bekerja keras untuk orang yang dia cintai dan hanya menjadi tempat pelarian disaat kesepian atau mencari orang yang dikorbankan. Aku ingat apa yang dikatakan M yang membuatku mengaguminya sekaligus menganggapnya bodoh.
“Kami dibesarkan bersama oleh papanya Juli, sampai beliau meninggal. Saat kuliah aku dan Juli sangat dekat, lebih dekat dari pada aku dan Agusta. Menurutku, aku pacaran dengannya namun Juli tidak ingin orang menganggapnya aneh karena pacaran dengan kakakknya sendiri. Itu mengapa dia memintaku untuk
merahasiakannya. Sampai akhirnya aku sangat sibuk dengan kuliah dan bisnisku, tidak punya banyak waktu untuk Juli. Aku hanya memastikan kebutuhan Juli dan Agusta terpenuhi, hingga aku harus bekerja keras. Aku yang menjaga mereka sejak papa meninggal.” Kata M. Karena terlalu sibuk dan sangat percaya pada Juli yang menurutnya masih menganggap M sebagai pacar, namun ingin bersenang-senang, M tidak menyadari bahwa dirinya hanya dimanfaatkan Juli. Itu menurutku sih. Menurut M, dia sempat menghilang sampai dia mendengar tentang Juli yang dipermainkan oleh laki-laki yang dipacarinya dan patah hati. Untuk menghibur diri, Juli memilih pergi ke Singapura bersama teman-temanya. Saat dia sadar, sudah terlambat.
“Menurut Agusta, saat itu Juli sedang di Singapura dengan temannya bernama Pipit. Juli sedang frustasi karena dikhianati kekasihnya. Padahal Juli sudah menyerahkan diri sepenuhnya pada laki-laki brengsek yang hanya ingin mempermainkan Juli,” kata M. Tanpa sadar M kemudian mengakui bahwa dia baru sadar, kalau hanya M yang menganggap hubungannya dengan juli sebagai hubungan asmara. Sedangkan Juli tidak pernah menganggapnya sebagai kekasih. Dia menyadari jika dulu mengatakan M kekasihnya, demi melindungi di rinya dari gangguan para hidung belang. Wow kasihan sekali.
Meskipun saat itu aku cukup merasa iba pada M namun aku lebih fokus pada hal lain. Semalam aku menyadari bahwa akupun sama bodohnya dengan M. Orang-orang yang selama ini aku anggap keluarga, ibu, saudara, tidak lebih dari pengkianat. Merekalah yang membuat Pradipta berhubungan dengan Juli. Merekalah yang membuat Juli dekat dengan suamiku yang kesepian di negeri orang. Merekalah yang membuat suamiku selingkuh. Kata orang, meski setiap hari makan daging, saat kelaparan, kucingpun akan makan ikan asih yang ada didepannya bukan? Menurutku, ini bukan salah Pradipta sepenuhnya. Laki-laki mana ya ng akan bertahan setia dengan istrinya yang jauh, saat digoda oleh perempuan secantik Juli. Juli memanfaatkan kisah patah hatinya dan Pipit untuk mendapatkan Pradipta dan mengkianati M. Ya,aku yakin itu. Namun tidak dengan M. Tetapi melihat wajah M aku juga tidak mau dia marah.
__ADS_1
“Mungkin tidak secara langsung. Juli dan Pipit sering bermain bersama, berburu laki-laki beruang untuk menjadi teman bersenang-senang. Yang aku tahu, Juli sering berkunjung ke rumah Pipit,” kata M perlahan. Meski tidak secara langsung dan terang-terangan, aku tahu M ingin membela Juli. Mungkin M masih menahan diri karena dia tahu aku terpukul dengan rencana pernikahan Pradipta dan Juli. Aku tidak peduli, meski M mati-matian membela diri, aku tetap menyalahkan Juli sebagai pelakor yang merebut suamiku.
“Seminggu setelah itu, aku dengar, Juli sudah berpacaran dengan kakaknya Pipit, bernama Pradipta. Dari sanalah aku mencoba mencari tahu laki-laki mana yang berani menyakiti Juli. Dan laki-laki mana yang berpotensi menyakiti gadis kecilku. Aku harus menghukum siapapun yang membuat gadis kecilku menangis, Juliku,” itu kata M. Betul kan apa yang aku bilang. M sangat melindungi gadisnya, benar ataupun iya saja. Perkara dalam hati aku mengatakan tidak. Aku sudah terlalu lelah dengan drama seharian.
M menceritakantentang hubungannya dengan Juli semalam. Tentu saja hubungan versi M dan aku yakin akan berbeda dengan versi Juli. M mengatakan tentang kekawatirannya pada Juli yang patah hati karena pacarnya berkhianat. Dalam hati aku yakin bahwa Juli tidak semenderita aku saat dia membuat suamiku mengkhianatiku. M
mengatakan bahwa dia juga mencari mantan Juli yang dia percaya sudah membuat Juli menderita, dan menghukumnya. Dalam hati aku bertanya, hukuman apa yang aku harus berikan pada perempuan yang membuatku menderita karena kehilangan satu-satunya laki-laki yang mau menikahiku disaat bentukku seperti gajah bengkak? M juga mengatakan bahwa dia membenci mantan Juli karena membuat Juli marah lalu melarikan diri ke Singapura, bertemu dengan Pradipta dan tergoda. Dalam hati aku berkata, Julilah yang menggoda Pradipta.
“Orang yang membuat Juli menyembunyikan diri di apartemen Pradipta dan memberikan balasan setimpal. Gara-gara bajingan itu, Juli bertemu intens dengan Pradipta dan terbujuk rayuan laki-laki bajingan itu. Gara-gara rayuan laki-laki yang kau panggil suami itu, Juliku berubah,” katanya dengan emosi. Benarkan, dia pasti marah dan membela Juli. Aku yakin itu. Tapi mengapa hatiku sakit? Mengapa aku tidak ingin dia membela Juli. Aku istri Pradipta tidak mungkin jatuh pada laki-laki lain selain Pradipta. Aku hanya ingin Pradipta.
Menurut M, pertemuanku dan dia tidak sengaja bertemu denganku. Bahkan dia baru tahu siapa aku setelah tim selesai mengumpulkan data-dataku.
“Sebagai peserta, latar belakang hidupmu sudah pasti kami cari tahu dan digali sebanyak mungkin. Dari sanalah aku yakin, jika suami kamu dan kekasih Juli adalah orang yang sama. Kami tahu kalau Pradipta dan saudara-saudaranya sering mentertawakanmu serta membuli kamu. Bahkan kamu lebih mirip pembantu mereka dari pada menantu” Kata M. M benar benar tajam lidah. Aku tidak merasa seperti itu juga kok.
__ADS_1
Dari pembicaraan dengan M aku tahu kalau kami diawasi. Semua hal tetang diriku digali. Bahkan bukan hanya diriku tapi juga keluargaku. Aku protes kepada M yang mencari tahu tentangku, tanpa bertanya.
“Mengapa kalian tidak bertanya apa-apa padaku? Kalian benar-benar mencari tahu siapa diriku sampai sedalam itu? Bagaimana kalian bisa tahu? Aku bukan artis kan?” kataku
“Nara, kamu bukan artis. Tapi kamu peserta makeover. Itu berarti kamu menjadi tokoh reality show. Kami harus membuat kisahmu sedrama dan seseru mungkin. Bagaimana kami bisa melakukannya kalau kami tidak tahu siapa kamu?” M mencoba menerangkan kenapa profilku dibuat. Oke, baiklah. Sepertinya percuma juga kan kalau marah.
Aku bertanya-tanya, bagaimana M dan timnya bisa banyak tahu tentang diriku.
“Dari mana? Sekali lagi, ini jaman internet. Juli dan Pradipta selebritis. Bukan hal sulit menggali informasi tentang mereka. Kamu mungkin bukan artis, tetapi kamu terlibat dengan badut komunikasi yang terekspose luas di dunia digital,” terang M dengan lembut. “Kamu sendiri tahu apa yang kumaksud, tanpa aku harus terangkan panjang lebar kan?”
“Ya tapi___”
“Sudahlah. Intinya aku tahu siapa kamu, Juli dan Pradipta dengan sangat baik. Kami tahu kalian sampai sekecil-kecilnya. Setelah kita hidup bersama, aku makin tahu tentang kamu, Pradipta dan Juli,” potong M sebelum aku menyanggahnya lebih lanjut.
__ADS_1
“Ini adalah fotoku dengan Juli dan Agusta,” Kata M melanjutkan cerita, sambil menunjukan foto mereka bertiga.