Nada Nara

Nada Nara
Bab 50. Selamat Pagi Nara


__ADS_3

Rasanya perutku sudah mulai kembung dengan teh pagi. Sebaiknya aku segera bergerak untuk menyiapkan sarapan sambil menunggu M bangun. Cukup sudah mengingat apa yang terjadi semalam yang membuatku senyum-senyum seperti orang gila pagi ini. Aku mencoba untuk mengingatkan diri sendiri untuk tidak jatuh cinta menerima perlakuan manis M. Bagaimanapun juga aku masih seorang istri yang wajib menjaga hati dan kehormatanku, meski suamiku jahat dan sudah melupakanku. Aku tidak boleh terhanyut dan melakukan kebodohan. Lagi pula setelah nada’s Project selesai, aku harus segera angkat kaki dari sini. Aku akan kembali ke rumah besar yang ditinggali ibu mertua. Aku akan mengajak ibu dan Sandra tinggal di rumah besar. Ah, iya, Ibu dan Sandra. Aku sangat merindukan mereka. Bagaimana kabar mereka? Aku benar-benar ingin menemui mereka di Bandung, sayang keadaan belum memungkinkan. Demi Nada’s Project, aku belum bisa terang-terangan mengunjungi mereka. Kadang aku melihat ibu dari jauh, ditemani M. Hanya itu yang  bisa aku lakukan sekarang ini.


Dari pada banyak melamun tak guna, aku memutuskan untuk membuat bakwan jagung dan nasi goreng buat sarapan bersama M. Tepat setelah aku menyelesaikan masakanku, kudengar ada suara benda jatuh dari kamar M. Aku segera mendatangi pintu kamar dan mengetuknya, membangunkan yang punya kamar.


“M, kamu belum   bangun ya? Kita mau ke gym nggak hari ini?” tanyaku menunggu jawaban dari balikp


pintu. Kutepelkan telingaku ke pintu untuk mencari jawaban.


“Iya aku sudah bangun Nara,” kata M dari balik pintu. Kudengar suara langkah diseret mendekat kearahku yang menunggu dibalik pintu dia. Tak lama pintu kamar terbuka membuatku yangsedikit bersandar di pintu hampir kejengkang jika tidak ditahan oleh tangan  kokoh Mahardika. Kami berdua tertegun sejenak dengan kedua tangannya masih menyangga punggungku. Tunggu dulu! Jangan kalian kira aku jatuh dalam pelukan M,


trus kami pandang-pandangan, trus  dia menciumku, seperti di novel-novel atau sinetron ya. Tidak! Bukan seperti itu. Jangan berpikir aneh-aneh mengkhayalkan semua itu.


Jantungku

__ADS_1


mulai lagi bertingkah seperti semalam. Tangannya yang kokoh yang ada dipunggungku mengalirkan rasa nyaman yang pernah aku dapat dari Pradipta saat dulu memboncengku. Ya aku ingat saat itu. Sangat menyenangkan dan menenangkan. Pipiku kembali terasa memanas. Aku yakin saat ini mukaku sudah seperti kepiting ga M tidak menyadari keadaanku saat ini.  Aku tidak mau dia salah sangka dan menganggapku sebagai perempuan murahan. Sudah mempunyai suami masih menikmati kenyamanan tangan laki-laki lain. Aku segera berdiri tegak untuk menghindari tangan M. Aku mencoba menenangkan jantungku dan tersenyum. M menyambut senyumku. Mukanya memerah. Oh, mungkin karena bangun tidur, muka M memerah seperti itu.


“Selamat pagi Nara. Tunggu sebentar,” katanya padaku sambil tersenyum kikuk. Aku mencoba membalas senyumannya dengan senatural mungkin, agar M tidak menyadari perubahan ekspresi mukaku dan dentuman jantungku. Ini bukan pertama kalinya aku membangunkan M. Biasanya M akan membuka pintu, tersenyum padaku lalu masuk kembali kekamar untuk mandi. Kenapa aku tahu? Karena memang inilah yang selalu kulakukan. Dimasuk kamar mandi, aku akan masuk ke kamarnya untuk merapikan kamar dan menyiapkan bajunya. Namun kali ini, saat aku merapikan tempat tidur aku menemukan foto keluarga Mahardika yang semalam kulihat ditangannya. Lembaran foto-foto itu tergeletak di atas bantal begitu saja. Mungkin semalam M kembali mengenang keluarganya sampai tertidur.


Kudengar suara pintu kamar mandi dibuka. Aku terpana menatap tubuh sexy Mahardika yang hanya  mengenakan celana pendek. Pundaknya yang lebar dan tegap berwarna kecoklatan masih sedikit basah karena air yang menetes dari rambut yang sedang dikeringkan. Perutnya yang kokoh dan berbentuk tanpa lemak makin membuatku harus menahan nafas karena tidak tahu bagaimana mengendalikan dentuman di jantungku. Semua mempesona dan membuat sesuatu di dada ini berulah. Argh! Sadar Nara, kamu wanita bersuami! Sangat tidak pantas memandangi tubuh laki-laki lain, meski itu terpampang untuk dinikmati. Aku segera mengendalikan diri sebelum M menyadari  aku menatap sambil menelan liur, tubuh nya yang sexy itu. Aku pura-pura  serius memandangi foto yang tadi kutemukan diatas bantalnya. Mataku fokus ke foto M bareng keluarganya yang tadi aku temukan di


bantal.


“Kalian terlihat sangat dekat dan saling menyayangi,” kataku menutupi kegugupanku. Dia mengangguk sambil menerawang. Mungkin dia ingat pada keluargaya.


katanya masih dengan pandangan menerawang. Tangannya masih sibuk dengan handuk dan rambut basahnya. Tiba-tiba dia sedikit  tersentak seperti menyadari sesuatu. M mengambil baju yang tadi aku siapkan dan memakaninya. Saat itu terdengan suara aneh dari perutmya. Mungkin dia kelaparan karena semalam begadang tanpa makan apapun.


“Sepertinya kita bicara sambil sarapan yuk Nara. Aku lapar,” katanya. Aku tersenyum menyetujui  usul M.  Kuletakkan foto-foto yang tadi kutemukan diatas nakas. Aku melihatnya keluar kamar sambil merapikan rambutnya dengan jari. Aku mengambil pakaian kotor dan membawanya keluar kamar M.

__ADS_1


“Aku sudah membuatkanmu nasi goreng dan bakwan jagung. Tadi aku juga membuat Juice pisang bayam kesukaanmu. Makanlah duluan, aku letakan ini dulu diruang laundry,” kataku sambil menunjukan baju kotor ditangan. M mengangguk sambil duduk santai di meja makan. Tetapi bukannya segera mulai makan, M malah membuka smartphone, mulai bekerja dengan gadgetnya. Selama aku mencuci, M tenggelam dengan pekerjaannya.


Mukanya sangat serius dan tampan. Aku suka memandangi wajah M saat serius seperti


ini.


“Hai, nanti sakit kalau kamu lupa sarapan. Memangnya melototin smartphone bisa membuatmu


kenyang ya?” Tanyaku pada M. Entah kenapa, M tampak sangat terkejut mendengar suaraku saat menyapa M .Aku lihat nasi goreng M masih utuh tak tersentuh. Aku segera mengambil piring nasi goreng bagianku. Aku melirik tajam pada gawai di   tangan M. Sepertinya M mengerti pikiranku. Dia  meletakkan gawaiku dan mulai menyendok isi


piringku. Aku tak sabar mendengar kisah tentang dia dan Juli.


“Jadi, kamu kakaknya Juli atau kekasihnya?” tanyaku membebaskan rasa kepo  dengan mulut penuh nasi. Pandangannya nanar padaku. Dia memperhatikan setiap detil seperti polisi memandang penjahat yang diburunya. Pandangannya cukup membuatku risih.

__ADS_1


“Nara, makannya sedikit-sedikit, nanti perutmu sakit. Lagi pula saat mulutnya penuh, jangan bicara,” katanya mengingatkan. Aku hanya bisa nyengir malu mendengan kata-kata M. Mukanya kembali memerah.


__ADS_2