
Mahardika masih terus menggegam tangan Nara dengan erat, seolah memberi kekuatan kepada Nara. Menyadari sentuhan lembut laki-laki didepannya, Nara menutup kembali matanya. Dia tampak menarik nafas panjang, seperti ingin mengembalikan kesadarannya pada masa kini, setelah tadi tertarik dalam pusaran waktu, mundur kebelakang. Sebuah ingatan yang mengerikan. Namun Nara merasa ada yang salah disana.
“Jika memang aku Nada, lalu mengapa aku tidak mengingat semua hal tentang Nada, sebelum Mahardika mengingatkanku. Rasanya Pradipta tidak akan setega itu memperlakukanku seperti itu. Kalau aku Nada, aku pasti akan tahu jika semua ini adalah ulah Juli, bukan Pradipta yang sedang kilaf,” sebuah gumaman lirih nyaris tak terdengar terlepas dari mulutnya.
“Mahardika, jika aku benar-benar Nada, mengapa aku tidak mengingat apapun saat menonton acara Makeover, Nada, tadi? Dan aku juga tidak mengingatmu. Ya meskipun aku mengingat Mahardika adalah dokterku,” kata Nara masih tidak mau percaya.
“Nara, kamu adalah Nada. Seperti aku bilang tadi, ini semua adalah efek dari penggunaan anestesi terus menerus yang mau-tidak mau harus kita lakukan untuk keperluan operasimu. Kita sering membicarakan ini.Dan kamu tahu bahwa apapun yang terjadi, kita tidak bisa berhenti ditengah jalan. Banyak yang kita pertaruhkan disini,” kata Mahardika.
“Jika sesakit ini, jika aku menyakiti banyak orang lalu mengapa masih kita lakukan?” tanya Nara.
“Kamu yang menginginkan ini sejak awal Nara. Kamu yang ingin membalas dendam dengan berubah menjadi cantik. Dan dari awal kita tahu bahwa sekali kita memulai ini semua, maka tidak ada kata mundur atau dibatalkan. Bacalah ini, “ kata Mahardika menyerahkan sebuah buku dan sebuah berkas dalam map kulit.
“Apa ini?” tanya Nara.
“Ini adalah buku harianmu. Dan Ini adalah kontrak kita yang sudah kamu setujui dengan tanda tangan dan cap jempol diatas materai,” kata Mahardika sambil kembali mengompres lukanya. Mahardika tahu bahwa Nara sudah tidak berbahaya. Namun perempuan itu masih belum sepenuhnya pulih. Obat yang dia berikan masih membutuhkan waktu, untuk memberikan kesadaran penuh pada Nara.
“Jadi aku adalah Nada dengan kemampuan beladiri yang mampu menjatuhkan Mahardika, bahkan hampir mematahkan tangannya. Jadi itu adalah salah satu kelebihan Nada. Beladiri yang Nada pelajari dari Papanya sejak
kecil, karena sering dibuli. Jadi Aku jago beladiri dan sangat kuat,” kata Nada pada diri sendiri. Dia turun dari sofa dan berdiri, lalu bergerak, menggerakkan kaki dan tangannya membentuk gerakan-gerakan beladiri yang tidak disadarinya kalau dirinya bisa. Nara mulai mempercayai kata-kata Mahardika.
“Ya, saking jagonya, sampai membuat orang yang sudah menolong dan merawatmu ini babak belur. Ditambah dengan dislocation yang menyakitkan. Untung tidak parah dan bisa langsung dibetulkan, Dan beruntungnya lagi, itu adalah aku yang menguasai tehniknya,” kata Mahardika menanggapi gumaman Nara.
Tanggapan Mahardika terhadap gumam yang tidak sengaja disuarakannya itu sedikit membuat hati Nara tersentil. Nara yang mulai sadar siapa Mahardika, menjadi sangat tidak enak hati. Rasa bersalah yang amat sangat muncul dihatinya. Dia tahu kalau dia sangat salah. Dia sudah menendang alat vital laki-laki didepannya ini, membantingnya, memuntir tangannya bahkan mempermalukannya dengan harus menghadapi polisi.
__ADS_1
“Maaf,” kata Nara dengan lembut dan senyum semanis mungkin, mengambil buku yang tadi dia letakkan di sofa.
“Maaf..maaf…! enak benar minta maaf. Kalau semua selesai hanya dengan maaf, tidak ada perang didunia ini,” kata Mahardika dengan nada sewot. Nara meletakkan bukunya keatas sofa, menghampiri laki-laki yang selama
enam bulan ini tinggal bersamanya. Dia tersenyum manja, mengguncang-guncang tangan kekar laki-laki itu sambil mengucapkan kata maaf berulang kali. Matanya yang jernih, mengerjap lucu. Pipinya yang chuby dan tinggi menggemaskan karena beberapa kali dia gelembungkan. Melihat itu, Mahardika tidak lagi bisa menahan lebih lama kemarahannya. Setiap kali Nara bersikap seperti itu, Mahardika selalu tidak berdaya dan luluh. Satu hal yang menjengkelkan bagi Mahardika, saat menghadapi Nara, ciptaannya.
“Sudahlah, baca lagi semua kontrak itu. Dan ingat selalu dalam otak bodohmu itu,” kata Mahardika sedikit mendorong Nara, menjauhinya.
“Yeiyyy! Jadi aku dimaafkan ya?” kata Nara sambil bertepuk tangan kecil. Mahardika mau tidak mau tersenyum menahan tawa, melihat tingkah Nara. Terkadang Nara bisa sangat dewasa dan mampu mengerjakan semua pekerjaan ibu rumah tangga. Namun terkadang Nara seperti anak kecil yang tanpa beban, ceria apa adanya. Dia hanya mengangguk sambil menggumam.
“Oh iya Nara, kamu sudah tahu kan akibat dari ketidak disiplinanmu minum obat. Jadi jangan pernah kamu ulangi lagi,” kata Mahardika sambil menghabiskan teh dicangkirnya.
“Yes Sir!” kata Nara sambil meletakkan jari-jati tangannya di jidat, seperti seorang tentara memberi penghormatan pada atasannya. Mahardika tersenyum dan mengacak acak rambut, di pucak kepala Nara.
“Itu karena kamu mengalami delusi. Keyakinan atau kenyataan semu yang kamu miliki, yang sama sekali berbeda dengan kenyataannya. Delusi milikmu muncul karena kamu merasa, suamimu direbut oleh seorang artis ternama. Kamu mengumpamakan dirimu menjadi dia,” Terang Mahardika.
“Pokoknya mulai sekarang, kamu tidak boleh luypa minum obat. Cukup hari ini saja aku babak belur, dan masa depanku ditendang begini. Kalau aku tidak bisa begitu gimana? Kalau aku tidak bisa punya anak, kamu bisa bertanggung jawab?” kata Mahardika sambil mendegus kesal. Nara hanya memandang laki-laki didepannya dengan rasa bersalah.
“Maaf,” kata Nara pelan.
“Kamu harus berjanji, mulai saat ini, apapun yang terjadi, kamu harus mengikuti kata-kataku. Tidak ada penolakan, tidak boleh menentang,” kata Mahardika dengan tegas. Nara langsung berdiri tegak dan mengangguk kuat. Setelah itu dia segera berlari kearah dapur. Dibukanya lemari es, dipotong-potongnya buah dan pudding disana dalam sebuah piring. Setelah itu dia membuat seteko teh bunga dan madu. Dibawanya the serta cemilan itu ke meja tengah dimana Mahardika sedang memejamkan matanya, menyandar di sofa.
“Boleh kita bicara tentang apa yang kita lakukan selanjutnya?” kata Nara. Dituangkannya teh yang tadi dibuat ke cangkir Mahardika yang sudah kosong. Laki-laki itu menegakkan punggungnya mengamati perempuan didepannya. Nara bergerak dengan alami sebagai seorang perempuan yang melayani pasangannya. Hati Mahardika tiba-tiba menghangat. Ada rasa berbeda dilayani oleh Nara. Hal yang tidak pernah didapat dari gadis yang dicintainya. Bahkan biasanya, dia yang selalu melayani gadisnya.
__ADS_1
“Boleh,” kata Mahardika sambil mengambil buah yang dihidangkan Nara. “Apa yang ingin kamu bicarakan.”
“Saat ini aku bukan lagi Nada. Bahkan jika ibuku atau Sandra bertemu denganku, mereka tak akan mengenaliku. Bagaimana menurutmu?” kata Nara.
“Maksudmu? Kamu ingin aku memberikan pendapat tentang dirimu? Tentu saja aku setuju dengan apa yang
kamu katakana. Kamu itu ciptaanku,” kata Mahardika.
“Ish, bukan. Meski kamu mengubahku, tapi aku bukan ciptaanmu. Aku tetap Nada,” kata Nara dengan cemberut. Pipinya menggembung danbibirnya mengerucut. Sangat lucu, membuat Mahardika tidak dapat menahan tawanya.
“Jadi apa yang ingin kamu tanyakan? Pendapatku tentang apa?” kata Mahardika.
“Kamu lupa tujuan utama Nada’s Project?” Kata Nara.
“Apa?” tanya Mahardika.
“Balas dendam!” kata Nara dengan nada mendramatisir, membuat Mahardika kembali tersenyum. Laki-laki itu sadar, sejak kehadiran Nada, dia kembali bisa tertawa dan tersenyum setelah puluhan tahun tidak tahu bagaimana rasanya.
Untuk sesuatu yang sepenting itu, cara Nara mengatakan memang luar biasa. Hal ini yang membuat Mahardika tidak dapat menahan tawanya. Narapun tersenyum mendengar tawa Mahardika. Suara tawa itu selalu mampu menarik garis senyum diwajahnya.
“Baiklah, mari kita ke ruanganku. Tapi sepertinya sedikit berdebu. Ruangan itu sudah lama tidak dibersihkan, karena tidak seorangpun aku ijinkan masuk kesana kecuali aku dan Henry, asisten utamaku,” kata Mahardika.
“Tidak masalah, serahkan padaku. Aku adalah Nada, ahli pekerjaan rumah tangga,” kata Nara sambil berdiri mengambil lap dan kemoceng. Setelah dia kembali ke ruang televisi, dimana mereka tadi berbicara, Dia melingkarkan tangannya di lengan Mahardika yang kekar. Dipandanginya wajah datar laki-laki didepannya ini dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
“Let’s Go M,” kata Nara. M adalah panggilan khusus dari Nara untuk Mahardika. Kadang Nara menambahkan kata Dewa didepannya, Dewa M. Sepertinya laki-laki itupun tidak keberatan dengan panggilan yang diberikan Nara. Dia tersenyum dan menarik Nara menuju ruang rahasia dibalik tangga. Disana ada lukisan bebek raksasa yang ternyata matanya merupakan kunci rahasia yang akan menggeser lukisan itu sebagai pintu.