
POV Nara
Aku sedikit lega telah menyelesaikan tugasku dalam pelelangan. Awalnya aku pikir M hanya becanda saat menyebutkan rencana membeli kalung seharga 150 juta. Rasanya mengeluarkan uang150 juta hanya untuk bisa membuatku dilihat Pradipta adalah pemborosan yang sangat luar biasa. Alasan yang dia kemukakan cukup mengejutkan, hingga aku sedikit meragukan kebenarannya. Begitu bingung dan kagetnya aku, sampai aku tidak benar-benar mendengarkannya. aku menganggapnya hanya membual agar aku mau menuruti rencana konyolnya membuang uang. Namun setelah membuatku membeku dengan suara bentakan kerasnya yang menakutkan, M berhasil meyakinkanku bahwa dia benar-benar menginginkan kalung tersebut.
Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya cukup masuk akal. Jika M bukan orang yang sangat kaya, bagaimana mungkin dengan mudahnya dia membiayai Nada’s Project. Apalagi selama ini dia tidak terlihat keluar rumah untuk bekerja keras membanting tulang. Bahkan dia menghabiskan banyak waktunya untuk selalu ada auntukku? Ehm, maksudku selalu ada untuk Nada’s Project.
Tugasku memenangkan lelang tentu tidak selesai hanya dengan mendapatkan kalung berharga fantastic itu dilantai pelelangan. Aku tahu, Mr. Franco dan Pradipta akan heran dan meragukan kemampuan keuanganku. Mereka tentunya curiga, seorang model pendatang baru bisa membeli kalung seharga 150 juta, begitu saja. Apalagi selama ini mereka tidak pernah mendengar nama Nara dikalangan sosialita dan jajaran orang kaya penggemar berlian. Sepertinya, Aku harus mencoba menampilkan citra wanita kaya yang tidak ingin dikenal siapapun. Kisah itu lebih aman buat Nara, untuk jangka panjang. Hal ini akan aku diskusikan dengan M nanti.
Selain membuat pencitraan untuk Nara, tentunya aku masih punya pekerjaan rumah, mendekati Pradipta. Untungnya Mr Franco tanpa disengaja memberikan jalan yang memudahkanku mendapat kesempatan itu. Besok aku harus berhasil mendekati Pradipta. Besok aku harus bisa menghilangkan rasa gugupku yang membuatku mematung saat didekatnya. Sekarang aku akan menyelesaikan tugasku mendapatkan kalung dengan menyelesaikan segala administrasi yang disodorkan panitia kepadaku. Beberapa gadis yang membantuku menangani administrasi ini ternyata adalah fans beratku. Jadi kami menyelesaikan semua administrasi pengambilan kalung dan pembayaran, sambil ngobrol ringan. Toh aku baru akan mendapatkan kalungnya besok siang saat makan siang dengan Franco dan Pradipta. Jadi aku tidak terlalu memikirkan kalung, yang tadi masih dipegang oleh Juli. Wanita itu sepertinya sangat menginginkan kalung Lidya Dirgantara dan tidak ingin aku memilikinya. Apalagi sebelumnya dia sempat mengatakan bahwa aku tidak pantas mengenakan kalung tersebut. Apapun yang dikatakan Juli, seindah dan semahal apapun kalung itu, Aku tidak peduli sebenarnya. Aku saat ini menikmati menghabiskan waktuku dengan gadis-gadis baik ini,. Sampai terdengar suara yang mengejutkan dan membuat darahku membeku.
“Kau Nara?” terdengar suara Pradipta yang khas. Aku tertegun sejenak dan tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
“Senang bertemu dengan mu. Aku Pradipta,” laki-laki yang berstatus suamiku itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah khas Pradipta. Darahku berdesir. Ada rasa yang dulu ada namun ada juga rasa marah dan jijik. Semua muncul menjadi satu hingga membuat dadaku sesak.
“Nara, jangan berubah menjadi patung atau pingsan karena keturunan medusa ya,” bisikan M yang menggodaku, menyadarkanku akan janji bahwa aku tidak akan terganggu dan mematung lagi. Aku harus kuat, kataku pada diri sendiri. Kata-kata itu hanya bermuara di tenggorokanku, dan aku tidak pernah benar-benar mengatakannya. Sekali lagi, aku menyadari bahwa disaat aku panik, sedih atau galau, aku membutuhkan M. Aku mulai tenang dan rileks mendengar suara M yang selalu bisa menenangkanku. Bahkan kini aku mengingat tentang Pradipta yang menjadi Medusa dengan rambut ulatnya, seperti yang dikatakan M, membuatku geli dan sedikit rileks. Aku siap menjalankan peranku sebagai Nara sang penggoda untuk Pradipta.
“Hai, Aku Nara. Senang bertemu dengan mu,” Aku berusaha menjawab sapaan suamiku itu dengan nada profesional namun ramah. Seperti halnya seorang model kepada kliennya. Aku mencoba memberikan tembok pembatas dengan menunjukan sikap profesional meskipun memberikan sedikit celah. Sayangnya, itu tidak mudah. Otak dan tubuhku ternyata tidak bisa begitu saja singkron. Tubuhku kembali bereaksi aneh. Meskipun aku bisa bergerak, tidak lagi mematung atau bahkan tidak gugup namun Aku tiba tiba tersedak oleh ludahku sendiri. Setelah itu aku mengeluarkan suara aneh. aku cegukan yang cukup keras. Aku berusaha keras menahannya, tapi semakin aku menahan semakin aneh suara yang terdengar.
“Hei, kamu kenapa? Kamu kau baik2 saja?” kudengar suara Pradipta yang tampak heran dan khawatir dengan keadaanku Nara saat itu. Dia mendekati gadis itu mencoba menenangkannya dengan menepuk punggungku membuatku seperti dialiri oleh daya listrik. Pikiranku tidak lagi bisa aku kendalikan. Banyak pertanyaan yang muncul dan tidak bisa aku jawab. Benarkah dia khawatir padaku? Dulu aku sering cegukan saat berada didekatnya dan gugup. Namun dia tidak pernah melakukan ini dan tidak pernah sedikitpun mengkhawatirkanku.
Saat aku mengangkat wajahku untuk mencari M, Aku melihat seorang pelayan membawa air dingin sambil memandangku khawatir. Saat itu juga aku tahu bahwa dia bagian dari kami. Pasti M yang memintanya mengambilkan air putih untukku. Namun aku lebih membutuhkan kehadiran M saat ini. Ingin rasanya aku meneriakan namanya saat ini, tapi aku tahu itu tidak mungkin. Saat aku menunggu pelayan dengan air putih yang mendekati kami, kulihat Pradipta juga memanggilnya.
“Pelayan, tolong bawa air putih dinginnya kesini, cepat!” teriak Pradipta. Pelayan tadi segera mendekati Pradipta masih dengan tatapan khawatir dan kasihan kepadaku. Samar aku mendengar Adrian berdehem dibelakangku. Aku tahu, laki-laki ini ada disekitarku. Namun dia tidak menolongku sama sekali saat aku seperti ini. Sepertinya dia membiarkan Pradipta membantuku agar aku bisa mendekati suamiku itu. Entah aku salah dengar atau tidak, sepertinya Adrian sedang berbicara dengan M. Namun Laki-laki itu berlaku seperti sedang berkoodinasi dengan bodyguard lainnya. Aku yakin itu M atau Henry.
__ADS_1
“Hei, ambilkan tadi aku lihat lemon di meja buah. Ambilkan sekarang. Cepat! Kalau tidak aku pastikan kamu dipecat!” kudengar Pradipta berteriak kepada pelayan. Aku tidak mengira kalau Pradipta bisa bersikap arogan seperti ini. Aku benar benar terkejut dengan sikapnya. Apakah dia selalu seperti ini? Apakah ini Pradipta selama ini. Aku menyadari bahwa aku tidak benar-benar mengenal laki-laki yang aku sebut suamiku. Aku memandang pelayan yang lari terbirit birit. Namun aku tidak bisa mengatakan apa-apa karena aku sendiri tersiksa oleh cegugan yang aku alami. Ini benar-benar menyiksaku. Pelayan itu segera kembali dengan sepiring lemon yang diulurkannya pada Pradipta. Wajah pelayan itu memandangku seperti iba. Aku menatapnya dan berusaha mengatakan terimakasih meski aku tidak mampu mengucapkannya. Setiap berusaha mengatakan sesuatu, cegukanku akan bertambah
parah.
“Hei, tenang. Tarik nafas, tahan lalu sesap lemon ini. Setelah itu minumlah. Ini akan membantumu. Seseorang mengajarkan padaku cara ini untuk menyembuhkan cegukan. Dan ini sangat manjur,” kata Pradipta. Jantungku serasa ingin berhenti. Aku sangat tahu apa yang dimaksud Pradipta. Aku sangat senang karena ternyata Pradipta mengingat kata-kataku. Aku menerima lemon itu dan menyesapnya sambil pikiranku melayang ke masa lalu dengan sang suamiku ini. Aku seperti sedang mengalami dejavu. Namun dulu, akulah yang melakukan hal ini pada Pradipta. Orang yang Pradipta maksud dalam kata-katanya itu adalah aku, Nada, istrinya. Tanpa bisa aku tahan, bibirku tersenyum menunjukan kegembiraanku diingat oleh Pradipta. Ada sebuah kebahagiaan disana. Ada sebuah keyakinan bahwa suamiku belum melupakan seutuhnya.
Namun semua itu kembali percuma. Rasa sakit yang bergelombang kembali mendatangiku bersama dengan kedatangan seorang perempuan kehadapanku. Perempuan yang sama yang mebawa gelombang prahara ke rumahtanggaku setahun yang lalu. Perempuan yang sama yang memberikan tontonan menjijikan ke hadapanku tanpa dia tahu namun dia sadari sepenuhnya. Perempuan yang begitu memuja dunia dan selalu ingi dipuja dunia. Perempuan itu mendekati Pradipta dan menggelendot manja di tangannya, tanpa melihatku sedikitpun. Dia seperti tidak melihat kehadiranku dan Adrian. Juli kemudian mengeluarkan selembar uang merah dari tas kecilnya dan memberikan kepada pelayan yang masih memegang piring berisi irisan lemon. Dia kemudian mengibaskan tangannya menyuruh si pelayan untuk pergi. Sebelum pergi, pelayan itu memberikan piring lemon kepada Pradipta.
Pradipta melirikku sejenak. Ada kilatan tidak nyaman kepadaku, karena tingkah Juli. Dia menarik nafas panjang dan mengangguk padaku, mengucapkan selamat malam dan menyerahkan piring lemon yang tadi dipegangnya. Pradipta tanpa berkata lagi, berlalu pergi bersama perempuan tak tahu diri yang terus bergelanyut manja ditangan Pradipta.
Aku hanya menatap keduanya dengan luka yang kembali menganga. Untuk kesekian kalinya suamiku pergi meninggalkanku demi wanita itu. Dan kaliini pun aku tidak dapat melakukan apa-apa. Aku mencoba meredakan gelombang amarahku yang kembali datang dengan menyesap lemon, meredakan cegukanku yang mulai mereda. Aku hanya mematung dengan lemon dimulutku tanpa tahu harus berbuat apa, sampai kurasakan tangan Adrian menyentuuh pundakku. Adrian kembali memberikan lemon yang baru, menggantikan lemon yang kusesap beberapa waktu lalu. Sementara lemon yang diberikan Pradipta tanpa kusadari telah jatuh kelantai karena kedatangan Juli. Aku segera menerimanya dan meminum air dingin untuk benar-benar menghilangkan cegukanku. Aku berharap, seteguk air dingin ini dadaku yang bergemuruh panas, juga akan menjadi dingin dan tenang. Rasa kecewa dan sakit akibat pengkhianatan ini kembali datang. Setelah beberapa saat, aku kembali tenang, cegukanku pun menghilang. Aku segera memandang Adrian. Tanpa kata, aku meminta Adrian untuk segera membawaku pergi. Saat menuju pintu lobby, aku masih melihat bayangan Pradipta dan Juli yang masuk ke mobil yang sama didepan sana. Aku terdiam sejenak dan mencengkeram tangan Adrian tanpa sadar. Adrian menggenggamku hangat seolah ingin memberikan ku kekuatan. Dia tersenyum kepadaku dan menepuk tanganku yang mencengkeram lengannya. Aku tahu, pasti lengannya sakit gara-gara aku. Dengan segera aku melepaskannya sambil membisikan kata, maaf. Adrian hanya mengangguk sambil menginstruksikan anak buahnya untuk mengantar mobil ke lobby. Setelah itu, Adrian segera membawaku ke mobil untuk mengantarkanku pulang.
__ADS_1