Nada Nara

Nada Nara
Bab 37 Kehilangan Maria


__ADS_3

Seluruh prosesi pemakaman berjalan lancar dan kidmat. Para tetangga dan handai tolan hadir ikut mendoakan


Ibu. Banyak yang dengan sukarela membantu kelancaran proses pemakaman, sejak kami tiba dirumah sampai selesai. Sebagian besar yang hadir tampak ikut bersedih mengantarkan Ibu ke peristirahatan terakhirnya. Ibu memang cukup dikenal, disayang dan disegani di komplek ini.


Aku memang bernafas lega saat sahabatku dan anak buahnya dibantu tetangga, telah mengurus semuanya dengan baik. Namun ada satu masalah yang aku kawatirkan. Siapa lagi kalua bukan Maria dan bayi-bayinya. Sejak dari rumah sakit, Maria tidak mengatakan satu kata pun. Maria juga ikut mengantarkan ibu, tanpa ekspresi, tanpa suara dan tanpa air mata. Banyak mata memandang kami dengan pandangan iba, namun tidak bisa membantu.


Diamnya Maria ternyata tidak berhenti dihari pemakaman Ibunya. Sejak hari itu, Maria tidak pernah bicara satu katapun. Pandangannya selalu kosong tak bersemangat. Setiap hari dia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk di kamarnya. Seminggu setelah pemakaman,Maria bahkan hampir tidak makan.  Dia hanya makan apa yang aku suapkan kedalam mulutnya. Dia hanya mengunyah dalam diam. Kepergian Ibu membuat Maria seperti kehilangan setengah nyawanya. Hal ini membuatku sangat kuatir. Sahabatku yang kini biasa dipanggil dengan Mr. S,  menyarankan untuk membawa Maria ke dokter dan Psikiater.


Maria mengalami PTSD saat ini. Post Traumatic Stress Disorder yang diderita Maria akibat kejadian traumatis yang bertubi-tubi diakhiri dengan  meninggalnya Ibu. Sepertinya mental istriku tidak bisa bertahan menghadapi kejadian akibat perbuatan bajingan-bajingan itu dan selalu memikirkannya. Maria yang memang sensitive terhadap segala hal dan selalu berusaha berpikir sendiri, menjadi overthinking dan secara emosional menjadi lebih intens. Setiap hari secara tidak sadar Maria selalu kembali ke peristiwa peristiwa mengerikan itu dan selalu ketakutan, menangis dan kemudian tercenung kosong. Belum lagi mimpi buruk yang selalu dialaminya setiap hari membuatnya kurang tidur. Maria tidak lagi bisa didekati oleh laki-laki selain aku. Bahkan untuk berobat, aku harus mengganti semua


dokter menjadi dokter wanita.


Setiap kali bertemu atau melihat laki-laki, termasuk tukang kebun dan para bodyguard di rumah kami, Maria langsung jatuh terduduk mendekap dirinya sendiri dan ketakutan. Badanya bergetar kuat, lalu menangis dan jika dibiarkan, Dia akan tertidur atau terdiam kosong. Sejak meninggalnya Ibu, Maria tidak pernah melakukan komunikasi dengan siapapun. Dia tidak pernah mengatakan sepatah katapun pada orang lain. Akan tetapi saat sendir,i Dia akan  bermonolog tentang ketakutannya, tentang kebenciannya pada laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya, tentang rasa bersalahnya pada Ibu. Kadang dia berkata bahwa dialah yang membunuh Ibu. Beberapa kali dia berbicara dengan senyum lembut meski dengan air mata berlinang, sambil mengelus perutnya yang membuncit. Dia seolah berbicara dengan kedua anaknya tentang harapan-harapannya dimasa nanti, saat anak-anaknya hidup bahagia dengan Papa Janu.


Denganku? Tidak satu kalipun dia meresponku. Dia hanya menerima apapun yang kuberikan dengan pasrah. Awalnya, saat dia tidak mau mengurus diri sendiri, dengan pasrah dia kumandikan dan kugantikan baju. Seperti kukarakan sebelumnya, dengan pasrah juga dia makan dari suapanku. Saat bulan berganti dan atas bantuan ahli, Maria mulai bisa mandi dan makan sendiri. Meskipun tidak pernah meminta, apapun makanan dan minuman yang aku letakkan didepannya selalu dia habiskan.


Sampai akhirnya kandungan Maria mencapai 9 bulan. Keadaan Maria tidak berubah.  Dia masih dengan depresinya. Badannya makin kurus dan keadaannya tidak baik-baik saja. Meskipun begitu keadaan sepasang bayi di perutnya baik baik saja. Pagi itu, aku baru saja selesai menyuapi istriku. Saat aku hendak pergi, tiba tiba Maria menarik tanganku dengan lembut.


“Janu, maafkan aku yang selalu menjadi bebanmu,” katanya dengan lembut. Jantungku berdetak kencang, mataku terbelalak tak percaya. Setelah beberapa purnama, Maria Kembali menyapaku dan mengajakku bicara. Setelah sekian bulan, matanya kembali bersinar dan memandangku dengan pandangan lembutnya. Ini adalah keajaiban! Aku memeluknya dengan Bahagia.


“Janu, terimakasih atas semua yang kamu lakukan untuk kami,” kata Maria setelah berhasil melepaskan diri .


“Tsk, apaan sih. Kamu bicara apa? Kamu itu istriku, tanggung jawabku selamanya. Tidak perlu berterimakasih,” kataku sambal mengecuk puncak kepalanya. Maria tersenyum memandangku.


“Janu, apapun nanti yang terjadi aku mohon padamu, utamakan kedua anak kita. Jika kamu harus memilih antara aku dan mereka, selamatkan mereka. Aku sudah terlalu lelah untuk dunia ini. Mereka berhak bahagia dan hidup lebih baik bersamamu. Tsst, dengarkan aku, jangan menyelaku,” kata Maria menutup mulutku dengan tangan kurusnya, saat aku ingin mengajukan protes.


“Aku mohon, biarkan aku bicara. Aku tahu, aku tidak akan bertaham. Ibu akan menjemputku setelah mengantarkan Agusta dan Juli padamu. Rawatlah mereka dengan baik. Satu permintaanku, demi apapun, jangan biarkan bajingan bajingan itu mengambil anak-anakku. Anak-anak kita. Katakan pada anak-anak kita bahwa Ibunya sangat mencintai mereka,” kata Maria.

__ADS_1


“Hei, kamu bicara apa? Kita yang akan membesarkan anak anak ini Bersama sama,” kataku setengah berteriak Aku sangat tidak suka denga napa yang dikatakan Maria. Aku tidak akan membiarkan terjadi apa apa pada  Maria yang sekarang sudah sembuh.


“Janu, dengar. Semua sudah diatur oleh Tuhan. Kamu dan kehadiran kamu dalam keluarga kami, memang dihadiahkan Tuhan untuk menjada mereka, aku titip mereka, dan aku percaya, kamu bisa menjadi papa yang baik untuk mereka,” kata Maria sambil mengusap mukaku dengan jarinya.


“Sekarang, antarkan aku ke rumah sakit untuk melahirkan. Air ketubanku sudah pecah dan sudah waktunya mereka dilahirkan,"  katanya sambal membuka selimut yang dari tadi menutupi perut sampai kaki. Sprei dan selimut ternyata sudah basah. Aku langsung panik dan berteriak memanggil para pengawalku untuk menyiapkan mobil. Aku segera mengangkat Maria, berlari menuju mobil yang terparkis dihalaman, sambal meneriakan asisten rumah tangga untuk membawakan koper yang sudah disiapkan, kedalam bagasi.  Kulihat supirku sudah siap membukakan pintu untukku. Aku segera masuk dan memangku Maria. Aku tidak lagi peduli pada celanaku yang sudah basah oleh cairan dari Maria, yang entah apa aku tidak tahu. Kami segera melaju dengan kecepatan penuh ke rumah sakit. Selama perjalanan aku membisikan hiburan pada maria agar tenang.


“Janu, kamu yang harus tenang. Aku dari tad ikan sudah tenang,” kata Maria sambal tersenyum geli. Kalau kalian membayangkan ibu-ibu yang akan melahirkan sambil berteriak kesakitan, meremas tangan suaminya sampai merah, mencakar dan memaki? Tidak, bukan itu gambaran yang ada kali ini. Maria yang ada dalam pelukanku bahkan hanya tersenyum tenang memandangku. Tidak ada gambaran kesakitan diwajahnya. Menurutku, wajah Maria terlihat sangat tenang dan damai.


“Janu, karena kamu suamiku, boleh aku menciummu untuk yang terakir kali? Kamu boleh menganggapku laki-laki kok. Kalau perlu aku bisa meminjam topi Pak Dirman,” katanya sambal terkikik geli. Pak Dirman adalah sopir kami yang selalu menyembunyikan kepala botaknya dengan topi. Aku berusaha tersenyum memandang Maria. Entah kenapa, saat itu Maria terlihat sangat cantik. Aku juga tidak mengerti saat jantungku berdebar kencang seperti sedang menghadapi makluk cantik yang membuatku jatuh cinta. Maria segera mendekatkan bibirnya kepipiku. Saat itulah aku menggerakan wajahku yang membuat bibir kamu menyatu. Dan entah siapa yang memulai, kami berdua saling melumat penuh cinta. Ini ciuman pertamaku dengan Wanita. Dan ternyata aku sangat menikmati bibir manis yang pucat itu, seperti aku menikmati bibir kekasihku dulu yang notabene laki-laki. Maria bukan laki-laki. Ciuman Panjang yang sesekali terhenti untuk meraup tambahan oksigen bagi paru paru kami akhirnya berhenti setelah kami sampai rumah sakit.


“Terima kasih suamiku,” kata Maria sambil mengecup pipiku. Aku segera turun dan menggendongnya menuju


brangkar yang sudah menunggu kami. Disana kulihat Mr S sudah menunggu kami. Tak jauh dari kami, kulihat Jerry memandang kami dengan wajah kuyu. Dia ditahan oleh dua orang pengawal Mr. S. Berulangkali Dia ingin melepaskan diri dan memanggil nama Mari. Aku melotot dengan garang padanya, namun laki-laki itu tidak peduli. Maria melihat sekilas pada Jerry lalu menggenggam tanganku yang ikut berlari diseberang brangkat yang membawanya.


“Janu, kumohon, jangan kamu serahkan Juli dan Agusta pada mereka,” kata Maria.


“Aku percaya sama kamu,” kata Maria. Setelah itu, nafas Maria seperti tersengal membuatku berteriak memanggilnya. Dokter yang sudah menunggu kami di ruang bersalin segera memeriksa Maria. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan tidnakan operasi dengan segera. Bahkan ada beberapa tindakan kejut jantung


dilakukan saat menunggu ruang operasi. Alat penyokong jantung yang dulu pernah dipasang didada ibu juga dipasangkan pada Maria. Dari sana aku tahu bahwa kondisi jantung maria sudah sangat lemah bahkan nyaris datar. Suster memintaku untuk keluar ruangan, mengurus segala administrasi dan ijin tindakan. Meski berat aku


keluar ruangan. Kulihat Mr. S dan asistennya mendekat dan memintaku untuk menandatangani surat tidakan operasi pada Maria. Kedua bayi harus segera dikeluarkan jika tidak mau keracunan cairan. Aku segera menandatanganinya dan memberikan pada asisten Mr S, sahabatku.


“Sabar Janu, berdoalah. Tadi dokter mengatakan bahwa keadaan Maria tidak baik baik saja. Kemungkinan kita harus memilih antara ibu atau bayinya,” kata Mr. S


“Tidak! Maria! Ampuni aku!” sebuah suara tangisan laki laki terdengar dibelakangku. Kulihat Jerry sedang duduk terpekur di bangku belakangku dijaga oleh pengawal Mr. S.


“Kenapa kamu di sini.Untuk apa? Mau lebih menyakiti Maria dan anak-anaknya? Jangan harap kamu bisa mengambil Juli dan Agusta. Kamu akan mati jika menganggu Maria dan kedua bayi kami,” kataku dingin. Tiba-tiba laki-laki itu merosot menubruk kakiku membuatku melompat kebelakang.

__ADS_1


“Ampuni aku Maria. Selamatkan Maria dan anak-anakku. Aku mencintai mereka. Maafkan aku. Aku berjanji akan melakukan apapun yang kamu minta, asalkan Maria dan anak-anakku selamat,” kata Jerry. Aku hanya mendecih marah pada laki-laki yang tampak menyedihkan itu. Dua pengawal yang tadi menjaganya menarik Jerry dan mendudukkan laki-laki itu di kursi.


“Sudahlah bro, jangan pedulikan dia. Kami juga tidak tahu, tadi dia tiba-tiba muncul di sini sebelum kamu sampai. Sepertinya dia tahu kalau Maria akan melahirkan dan menuju ke rumah sakit. Dan kebetulan dia ada disekitar sini. Itu kenapa dia bisa bersamaan datangnya denganmu,” kata Mr. S. Aku hanya bisa mendegus marah saat ini. Otakku yang marah mencoba aku dinginkan. Saat ini konsentrasiku hanya pada Maria dan kedua bayinya. Satu jam kemudian, dokter keluar dari ruang operasi. Aku segera mendekati dokter dan menanyakan keadaan istri serta anak anakku.


“Selamat, kedua bayi telah lahir sehat dan sedang dibersihkan. Laki-laki dan perempuan seperti dugaan kita. Tetapi kami mohon maaf tidak bisa menyelamatkan Ny. Maria. Setelah melahirkan tadi beliau sempat sadar dan melihat putra putrinya. Beliau berpesan untuk menyampaikan maaf pada suaminya serta menitipkan anaknya pada bapak. Setelah itu keadaan beliau berubah dengan cepat dan kami tidak berhasil menyelamatkannya. Kami sudah berusaha pak,” kata dokter itu sambal menangkupkan kedua tangannya. Aku terduduk lemas. Entah kenapa aku tidak terkejut. Entah halusinasi atau bukan kulihat Maria memandangku dari pintu ruang operasi sambil tersenyum. Dia mengisyaratkan padauk untuk tidak menangis dan semangat demi anak-anak. Dia seperti ingin berpamitan padaku dan menitipkan Juli serta Agusta, anak kami.


“Mariaaa! “ sebuah teriakan menyadarkanku sesaat. Suara Jerry mengalihkan pandanganku dari Maria. Saat kukembali melihat kearah pintu, disana tak kulihat lagi wajah Maria. Pintu itu kosong sekosong hati dan pikiranku. Akan tetapi aku segera sadar bahwa ini bukan saatnya bagiku untuk lemah dan melo. Ada dua anak yang kini menjadi tanggung jawabku. Baiklah Maria, Ibu, sesuai janjiku aku akan menjaga mereka. Tekatku sudah bulat untuk membesarkan anak-anakku dengan tanganku sendiri. Aku menguatkan hati dan segera menuju ke ruang dimana Maria berada bersama kedua bayinya. Aku dibantu oleh sahabatku segera mengurus pemakaman Maria. Aku menggendong dan mengecup kedua bayi yang sangat tampan dan vatnik. Juli sangat mirip dengan Jerry sedangkan Agusta mewarisi kecantikan Maria namun dengan hidung mancung Jerry. Keduanya terlihat sehat dan sangat tenang. Namun karena masih terlalu kecil, dokter memintaku bersabar dan menyerahkan mereka pada perawatan sementara untuk diobservasi. Setelah menyerahkan kedua anakku pada suster, aku memutuskan untuk keluar sebentar, dan ternyata Jerry menungguku dan ingin ingin bicara.


Jerry memohon padaku untuk mengijinkannya melihat Maria dan kedua bayi kami untuk terakhir kali katanya.Aku mengijinkan laki-laki itu melihat Istriku, sambal menunggu proses penyiapan jenasah. Kudengar berulang kali Jerry memohon maaf pada jenasah Maria. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dia lakukan. Apakah dia benar-benar minta maaf dan menyesal. Atau ini hanya drama agar dia bisa mendapatkan anak-anak kami? Saat jenasah


Maria dibersihkan, Jerry mendekatiku.


“ Janu, aku tahu kamu laki-laki yang baik. Kamu lebih pantas menjadi ayah kedua anak-anak Maria dibanding


bajingan sepertiku. Aku titip anak-anakku padamu. Janga kuatir, aku tidak akan pernah mengganggumu dan anak-anak itu. Aku berjanji setelah pemakaman Maria, aku akan menghilang untuk selamanya. Namunsebelum itu, aku minta ijin untuk melihat anak anak, pertama dan terakhir serta mengantarkan Maria sampai ke peristirahatan


terakhirnya,” kata Jerry memohon. Kulihat ketulusan dan penyesalan dimatanya. Halusinasi itu kembali hadir. Kulihat Maria berdiri dengna gaun putih yang cantik. Maria seperti pengantin cantik di negeri dongeng. Dia memandang ku dan Jerry dan mengangguk seolah mengijinkan dan mengabulkan permintaan Jerry.  Dan aku juga tidak tahu, meski kepala dan hatiku sangat marah pada laki-laki bajingan dihadapanku, aku mengangguk.


“Jhon, antarkan Dia melihat anakku. Jaga dia dan jangan lama-lama. Setelah itu usir dia dari sini, jangan pernah ijinkan dia dan keluarganya mendekati anak-anakku,” kataku. Setelah itu  kulihat Jerry berlalu Bersama kedua pengawal. Aku terpekur sejenak untuk mempersiapkan diri. Mr. S yang dari tadi hanya diam memandang semua kejadian itu, mendekatiku sambal menyerahkan kopi di sebuah gelas kertas. Aku menerimanya dan menyesap dengan pelan.


“Apa rencanamu untuk bajingan itu? Kami menunggu perintahmu,” kata Mr. S


“Belum ada. Sementara ini, aku ingin focus pada pemakaman Maria dan perawatan kedua bayi itu. Bagaimanapun aku ayah sah dari Juli dan Agusta. Saat ini mereka tidak akan bertindak. Lepaskan Jerry,” kataku.


“Apa? Lepaskan bajingan itu? Kenapa? Kenapa kamu membiarkan bajingan itu melihat keponakanku?” kata Mr.


S tidak terima.

__ADS_1


“Maria menginginkannya,” kataku singkat sambal berdiri dan membuang gelas kosong kedalam tempat sampah. Aku mencoba membuang kegundahanku Bersama gelas itu.Aku menarik nafas Panjang lalu menoleh ke Mr. S. “Kita tunggu sampai semua ini selesai. Jika  mereka mengganggu, baru kita beresi.”


__ADS_2