Nada Nara

Nada Nara
Bab 36 Kehilangan (Bagian 2)


__ADS_3

“Hahaha, bagaimana bisa Anda mengaku anak itu sebagai anak Anda? Kami memiliki bukti tes DNA bahwa anak dalam kandungan Maria adalah anak Jerry. Tapi saya tidak ada urusan dengan Anda sebenarnya. Saya disini karena ingin berbicara dengan nona Maria,” Kata Pengacara Jerry. Tentu saja aku tidak akan mengijinkan dia mendekati Maria dan ibu yang sudah pucat passi. Aku melihat ibu mulai tersengal sulit bernafas.


“Maaf, saya tidak mengijinkan Anda berbicara dan mendekati Mereka. Silahkan Anda keluar!” teriakku sambil memencet bel memanggil suster.


“Denny, tahan diluar, jangan boleh ada yang masuk kedalam! “ teriak pengacara gila itu. Tentu saja aku meradang mendengarnya.


“Biarkan dokter dan suster masuk! Ibuku membutuhkan mereka! Kalian Gila!” teriakku lagi


“Maria, kalau kamu mau ibumu cepat ditangani, sebaiknya kamu cepat menandatangani surat ini. Jika tidak, kamu akan aku masukan ke penjara, karena melanggar perjanjian "tidak muncul dihadapan Jerry,” kata pengacara arogan itu.


“Surat perjanjian apa?” tanyaku merebut perjanjian itu.


“Tsk, ini sama sekali bukan urusanmu, kami hanya berurusan dengan Maria,” katanya. Aku membaca surat perjanjian yang berisi tentang nasib kedua bayi yang ada dikandungan Maria, setelah lahir mereka akan langsung diambil oleh Jerry dan istrinya. Semua surat menyurat dan tanda kelahiran ataas nama Istri Jery sebagai ibu kandungnya nanti dan Jerry sebagai ayahnya. Bukan Maria dan Januaria yang namanya akan dicantumkan dalam surat kelahiran kedua bayi kembar itu. Maria sama sekal;I tidak boleh melihat, memegang dan mengakui anak itu sebagai anaknya, sejak mereka lahir, dan harus menghilang selamanya dari kehidupan Jerry dan anak-anaknya.


“Kami tahu anak dalam kandungan Maria adalah anak dari Jerry. Awalnya kami ragu karena Jerry divonis sulit mendapatkan anak. Situassi spermanya yang buruk membuatnya hampir tidak mungkin mendapatkan anak. Begitu mendengar Maria hamil, kami meminta dokter kandungan Maria untuk melakukan tes DNA diam-diam dan hasilnya 99% adalah anak Jerry. Pihak keluarga kami menginginkan anak itu," kata Ibu Jerry.


"Jika demikian, kenapa Jerry tidak menikahi Maria. Ya meskipun Maria juga tidak akan mau. Lebih baik kami hidup tanpa kalian," kataku dengan sinis dan marah.


"Halah, mimpi. Jerry tidak mau anak-anaknya punya ibu yang tidak jelas seperti Dia. Kami keluarga terhormat. dan sudah menikahi wanita yang jauh lebih pantas untuknya.  Karena itu, Maria harus menyerahkan anak itu pada

__ADS_1


keluarga kami. Kebetulan istri Jerry juga tidak ingin hami. Kehamilan akan merusak bentuk tubuhnya.  Jadi kami putuskan tidak akan menuntut Maria yang melanggar perjanjian dengan muncul dihadapan Jerry kemarin.


Sebagai gantinya, anak ini harus diserahkan pada kami,” kata Ibu Jerry bersuara dengan lantang.


“Janu, tidak. Aku tidak mau menyerahkan anak kita,” kata Maria dengan wajah bercucuran air mata, Aku memeluknya dan mengatakan semuanya akan baik baik saja. Aku meletakan smartphoneku dimeja dalam keadaan on call sejak tadi, dengan sahabatku. Aku meminta Maria untuk tenang dan menjaga  Ibu.


“Wow, sombong sekali kalian. Tidak ada yang akan masuk penjara selain kalian. Dan anak ini adalah anakku. Jangan bermimpi, bajingan mandul seperti Jerry akan memiliki keturunan. Manusia sampah seperti kalian lebih baik tidak usah memiliki anak yang akhirnya juga akan menjadi sampah," kataku sinis. Kulihat Jerry memandang Maria. Dari tatapannya kali ini, aku melihat ada yang berbeda. Ada pandangan sedih, menyesal dan marah sekaligus disana. Sekilas aku melihat ada pandangan cinta dan memuja disana. Berbeda dengan Jerry sebelumnya. Sementara itu tiga bajingan lainnya disana masih memandangku arogan. "Tidak usah menakut-nakuti Istriku dengan cara murahan seperti ini. Bagaimana kalian bisa mempermasalahkan perjanjian dan kemunculan Maria


dihadapan kalian? Jika kita mau berurusan secara hukum, justru Jerry dan Gerald yang mendatangi Maria. Kalian yang dating pada kami dan mengancam kami, 3 kali dalam dua hari ini. Semua bisa kita buktikan dengan CCTV dan saksi di pengadilan. Lalu masalah DNA? Apa kalian tidak takut, kami akan membongkar rahasia bagaimana DNA ini bisa ada di anak dalam kandungan Maria? Jika kami jahat, kami bisa membeberkan apa yang terjadi saat itu? Tidak masalah bagi kami. Karena kami hanya korban yang sudah hancur karena kalian. Kalau video potongan yang jadi andalan kalian, kami memiliki video lengkap dari video yang kamu jadikan alat memeras Maria dan Ibu.  Kalau berita itu muncul, nama baik dan bisnis kalian lah yang akan hancur, ” kataku dengan wajah datar. Aku bisa melihat, wajah keempat orang ini memucat.  Sang pengacara menghela nafas  seperti sedang mengatur emosinya. Namun sepertinya kali ini tidak boleh diberi kesempatan. Aku harus segera menyelesaikan dan mengusir mereka karena  keadaan Ibu sepertinya sudah sangat gawat.


“Baiklah, saya rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan. Seperti yang saya kayakan kepadda Jerry


dan Gerald kemarin,  Jangan pernah menampakan diri didepan saya kalau tidak ingin seluruh video kebobrokan kalian saya viralkan keseluruh dunia, ditambah dengan saya hancurkan bisnis Anda. Buat saya itu mudah dilakukan, tanpa  bergerak kemana-mana. Cukup dengan smartphone dan jari-jari saya,” kataku dengan emosi yang kutahan.


bayi yang akan dilahirkan Maria. Kami tidak ingin darah daging Jerry jadi gembel seperti kalian. Kami tidak mau darah keturunan kami nanti kalian jadikan sapi perah. Manusia pengangguran dan tidak jelas seperti kalian pasti akan memanfaatkan bayi bayi tak berdosa itu, ” kata Ibu jerry.


“Ya gitu deh tante, gembel pengangguran tukang porot, tapi belagu,” kata Gerald sambil mencibir.


“Terserah. Jangan salahkan kami kalau video Tante dan brondong brondong Tante di Hotel Mutiara  kamar 2012? Atau video si om dan bapak pengacara ini saling tusbol? Hebat juga kalian bisa bergantian peran.  Buat Jerry dan Gerald, saya juga banyak video kalian menyiksa dan memaksa mengambil perawan gadis-gadis yang kalian tipu.

__ADS_1


Dengan sekali tekan, semua video itu akan segera tersebar tanpa saya harus bergerak seincipun dari tempat saya sekarang ini. Dan kamu, Polisi goblok. Kalau kamu sampai membantu mereka, jangan salahkan saya kalau besok pagi, kamu dipecat dari kepolisisn. Kalian, saya berikan waktu 5 menit untuk keluart dari sini, sekarang juga,“ kataku sambil tetap memeluk Maria.  Keempat orang didepanku saling memandang dengan wajah terkejut. Sangat terlihat ketakutan dan keheranan yang bercampur menjadi satu. Aku lihat Jerry sudah bersiap untuk keluar sambil memandang Maria dengan penuh kesedihan.Aku sepertinya melihat airmata disana meski tak terlalu jelas.


Berbeda dengan Ibunya dan sang pengacara tampak massih ragu namun mempertimbangkan kemungkinan keluar dari kamar rawat ibu. Hanya Gerald yang tampak massih bertahan. Dasar anak muda bodoh yang tidak bisa membaca situassi. Tapi aku rassa waktuku sudah habis untuk bermain main dengan mereka.


“Terserah ya, ini yang kalian mau. Lima menit lagi silahkan membuka sosmed kalian untuk membuktkkan sedasyat apa kekuatan jari dan smartphoneku,”  ancamku sambil mengambil smartphoneku.


“Tunggu! Kami akan keluar. Tapi ingat Maria, bayi itu milik kami. Jangan main-main dengan kami,” kata Ibu Jerry dengan gayanya yang arogan. Kurasakan tubuh Maria yang sudah bergetar hebat karena ketakutan dan menangis. Emosiku sudah benar benar tidak terbendung sehingga membuatku tak lagi menahan teriakanku.


“KELUAR!” kataku membuat Maria melompat kaget. Tepat disaat itu, 4 orang berbadan kekar massuk kedalam ruangan dan meringkus 4 orang dihadapanku. Polisi yang tadi Bersama mereka sudah keluar terlebih dahulu dan sudah ditangani oleh bodyguard yang lain. Tak lama kemudian, dokter dan suster tergopoh-gopoh masuk untuk melihat keadaan Ibu. Saat itulah aku dan Maria baru sadar  kalau monitor  yang tersambung pada alat didada


Ibu sudah menunjukan grafik datar. Dokter segera meminta kami semua keluar. Maria yang berdiri mematung terpaksa aku gendong dan kubawa keluar. Sesampainya diluar, Wanita itu langsung pingsan dan membuatku sedikit panik. Suster segera mengambil alih dan menempatkannya di tempat tidur di ruang VIP dimana Ibu


sedang ditangani.


Tak lama kemudian Dokter keluar menghampiriku untuk mengabarkan berita yang membuatku hancur. Ibu tidak bisa bertahan dan dinyatakan meninggal sepuluh menit yang lalu, Saat aku sibuk berdebat dengan bajingan-bajingan tidak tahu diri itu. Aku berjanji, setelah semuanya tenang, mereka akan berhadapan denganku secara langsung. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka.


Kudengar teriakan keras Maria memanggil Ibu, membuatku tersadar dan bergegas masuk ke ruangan. Kulihat semua alat yang menempel pada Ibu sudah dilepas.  Aku melihat  Maria memeluk Ibu sambil menangis histeris. Segera kutarik dan kurengkuh Wanita berstatus istriku itu, dalam pelukanku.  Saat itu kulihat sahabatku memasuki ruangan dan mendekatiku.


“Sabar ya bro. Duduklah Bersama Maria di sofa. Temani istrimu. Serahkan urusan Ibu padaku. Setelah ini, kita akan sama sama Kembali ke rumah lalu memakamkan Ibu. Anak-anak sudah ada yang di rumah untuk mempersiapkan semua, Sudah ada yang mengabarkan pada pak RT dan tetangga juga. Pasti mereka akan membantu,” katanya menepuk bahuku. Aku hanya bisa mengangguk . Prioritassku saat ini adalah ketenangan dan kesehatan Maria yang sedang mengandung bayi-bayi kami. Itulah yang terus menerus aku tekankan pada Maria. Namun kali ini tidak berhasil sama sekali. Maria seperti kehilangan kesadaran meski Dia masih bernafas dengan baik dan mata terbuka

__ADS_1


lebar. Saat jenasah Ibu dibawa keluar untuk dimandikan, Maria massih tetap bergeming disampingku. Dua jam kemudian saat sahabatku mengabarkan semua sudah siap pulang, Maria tetap diam tak bergerak apalagi bicara. Aku memutuskan untuk menggendongnya ke mobil dan membawanya pulang/ Aku sudah tidak perduli lagi  akan urusan administrasi dan tetek bengeknya. Aku yakin semua sudah diselelsaikan dengan baik oleh sahabatku yang juga bos besarku.


Seluruh prosesi pemakaman beerjalan lancer dan kidmat. Para tetangga dan handai tolan tampak ikut bertsedih mengantarkan Ibu ke peristirahatan terakhirnya. Maria juga ikut mengantarkan ibu, tanpa ekspresi, tanpa suara dan tanpa air mata. Banyak mata memandang kami dengan pandangan iba. Sekilas aku lihat kehadiran Jerry, namun aku tidak yakin apakah Jerry berada di pemakanan atau tidak. Dan lagi apa peduliku? ~~~~


__ADS_2