Nada Nara

Nada Nara
BAB 20 Dia Bahagia Di Sana, Aku Kelelahan dan Kesakitan Di Sini, Mengubah Takdirku(bagian 2)


__ADS_3

Pagi hari menjelang. Perlahan kesadaranku kembali dari perjalanan mimpi yang menyenangkan. Aku terbangun karena merasakan hangatnya mentari menerpa wajahku. Kurenggangkan tubuhku untuk menghilangkan rasa kaku. Lalu perlahan kubuka mataku dan mengerjap, sekedar menyapa sinar mentari pagi yang indah dari balik jendelaku. Perlahan tapi pasti, ingatanku kembali Aku ingat semalam aku mengalami semacam serangan yang tidak pernah aku alami. Tubuhku tidak bisa aku control sama sekali.


Pipiku merona merah saat ingatanku sampai pada pelukan erat Mahardika. Aku semalam tertidur dalam pelukan laki laki itu. Aku menggelung diriku diatas pangkuannya tanpa malu sedikitpun. Ya, ampun! Sungguh memalukan Nara! Kenapa kamu tidak segera turun dari pangkuannya dan malah tertidur didadanya.? Bagaimana kalau dia menganggapmu memanfaatkan keadaan? Bagaimana kalau dia menganggapmu menggodanya?  Parahnya lagi, bagaimana kalau dia menganggapmu murahan?!


Bagaimanapun kau masih istri orang lain!


Argh!kugelengkan kepalaku dengan keras. Kesadaranku sudah sepenuh nya hadir sekarang. Lalu\, bagaimana aku berakhir ditempat tidurku sendiri? Apakah Mahardika yang mengangkatku kesini. Kusibak selimutku dengan cepat. Kuraba pakaianku dan berpikir keras. Ah\, lega! Pakaianku masih lengkap dan tidak ada tanda-tanda___


“Kamu sudah bangun? Aku yang menggendongmu kesini semalam,” sebuah suara bariton yang khas, mengagetkanku, Suara yang memotong pikiranku yang sudah berjalan-jalan tak terkendali. Laki-laki itu berdiri didepan pintu.


“Aku tidak melakukan apa-apa padamu kalau itu yang kamu pikirkan. Aku juga yang membuka jendela saat


memeriksamu pagi ini,”. suara baritone itu masuk ketelingaku seperti ingin menggodaku. Aku rasa Mahardika memang keturunan cenayang. Atau mungkin dia memiliki darah penyihir. Aku selalu takjub dan terheran heran saat entah bagaimana caranya, dia selalu tahu apa yang ada dalam pikiranku. Mahardika melangkah masuk mendekatiku yang masih terbaring dikasur. Perlahan kumulai bisa mencium aroma yang khas dari Mahardika. Tubuhnya yang kekar dan berotot tercetak jelas dalam balutan kaos tanpa lengan yang terlihat basah oleh keringat. Kakinya yang berotot dan tampak kokoh terlihat menggoda. Ups, Nara, kenapa kamu malah melakukan scaning seperti itu. Kalau Mahardika tahu, ini memalukan.


“Terima kasih,” cicitku malu dari balik selimut yang tadi buru-buru kutarik kembali, menutupi tubuhku. Kulirik dia dari balik selimut. Wajahnya yang tampak segar dengan keringat, menatapku geli. Sepertinya dia melakukan latihan pagi tanpa diriku.


“Aku sudah latihan tadi. Aku tidak tega membangunkanmu. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah baikan?” katanya sambil duduk di sisi tempat tidur. Dengan punggung tangan diletakkan di dahiku, dia mengecek suhu. Mahardika menghembuskan nafas lega. Sementara aku mencoba menata dag dig dug jantunngku dan menahan rasa malu atas kejadian tadi malam.


“Nara, bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan?” Dia mengulang pertanyaannya dengan perlahan. Seperti ingin memastikan aku mendengar dan memahami apa yang dikatakannya. Aku menyingkap selimutku dan menatap matanya.

__ADS_1


“Aku baik baik saja. Maaf kalau semalam membuatmu kawatir. Maaf merepotkanmu,” kataku. Dia


mengangguk dan tersenyum.


“Mandilah. Aku tunggu dibawah untuk sarapan ya,” katanya sambil berdiri dam keluar dari kamar. Apa? Sarapan? Ini sudah siang dan aku belum membuatkannya sarapan? Arghh, Nara, bangun dan bergerak! Aku segera berlari menuju kamar mandi. Hanya sekedar mencuci muka dan gosok gigi, aku lari menuju dapur. Disana kulihat Mahardika sudah duduk dimeja makan. Diatas meja sudah ada beberapa potong sandwich untuknya dan satu potong sandwich untukku. Lengkap dengan juice dan susu untukku dan kopi untuknya. Huft, terlambat.


“Nara, kenapa kamu? “ tanya Mahardika sambil memandangku dari kursinya. Aku perlahan menyeret kakiku


menuju meja makan.


“Maaf,” kataku pelan  sambil tertunduk.


“Untuk?” tanyanya heran.


“Ish, pasti nggak mandi. Jorok!” katanya sambil tertawa.


“Biarin. Kita nggak kemana mana kan?” kataku.


“Tidak, hari ini tidak usah ke gym. Kamu istirahatlah,” katanya.Dia kembali sibuk dengan i-padnya dan aku konsentrasi dengan sarapanku.

__ADS_1


“Nara, tadi malam kamu kenapa? Kamu sering seperti itu?” tanya Mahardika.


“Aku tidak tahu. Tadi malam, tiba tiba tubuhku terasa kaku dan tidak bisa kugerakan sama sekali. Pikiranku benar-benar kacau, ketakutan dan kehilangan arah,” kataku dengan rasa bersalah, mencoba membuat Mahardika paham dan percaya padakiu, meski mungkin itu tidak masuk akal baginya. “Maaf sudah merepotkanmu.”


“Bukan merepotkan. Tidak perlu minta maaf Nara. Aku hanya kawatir. Bagaimana kalau kamu mendapat serangan seperti itu lagi saat aku tidak ada,” katanya. Diletakkannya i-pad kemeja dan dia memegang kedua tanganku. Apa? dia percaya padaku? dia memahami kata-kataku?


“Nara, jika serangan seperti itu datang lagi. Kamu harus ingat untuk tetap tenang dan bernafas dengan baik. Kontrol pernafasanmu,” katanya. “Usahakan untuk tidak sampai freeze seperti semalam ya.”  Aku mengangguk dan menjadikannya catatan. Karena setelah malam itu, aku mengalami hal yang sama beberapa kali.


Pertemuanku dengan Pradipta dan Juli di bandara beberapa waktu lalu sempat membuatku terguncang. Namun Mahardika selalu mengingatkanku bahwa sudah terlalu banyak yang sudah aku alami dan korbankan. Dia memintaku untuk tidak memikirkan Pradipta dan Juli untuk sementara waktu.


“Nara, fokus pada kesembuhan fisik dan mentalmu. Kamu itu istimewa. Tidak banyak yang kuat menjalani apa yang kamu jalani sekarang ini,” katanya sambil mengacungkan kedua jempolnya. Ya dia memujiku. Dia memuji kemampuanku bertahan dalam proses ini. Sebuah pujian yang mampu menumbuhkan bunga dihatiku.


“Untuk sementara waktu sampai fase ketiga selesai, dan kamu pulih, lebih baik tenangkan pikiranmu. Badan kamu yang freeze itu adalah efek psikologis dari pikiranmu. Serangan itu bukan efek fisik tapi psikis. Jadi aku minta, tenangkan dirimu. Lupakan apa yang membuatmu stress dan depresi,” katanya. Kali ini Dia mengatakan dengan


nada tegas. Aku tahu, ini bukan permintaan atau bujukan, tapi perintah.  Aku rasa Dia benar. Sejak kejadian malam itu, semua sudah berbeda. Meskipun aku masih berharap pada cinta pertamaku. Meskipun aku masih memegang janji suci pernikahanku. Meskipun aku masih ingin membahagiakan papa di surga dan juga mama, hanya dengan bertahan bersama Pradipta. Akan tetapi sekarang bukan waktunya aku memikirkan semua itu.


Masih banyak yang harus aku lakukan dan jalani sebelum aku bisa benar-benar mengubah takdirku sebagai wujud balas dendam. Bukannya balas dendam terbaik adalah menjadi lebih baik dari orang yang menjatuhkan kita? Bukankah balas dendam terbaik adalah menjadi orang atau melakukan keberhasilan yang menurut mereka tidak bisa aku raih dan lakukan? Dan aku sadar aku harus berjuang keras dan merasakan rasa sakit untuk berubah menjadi lebih baik dari pelakor dan membalas dendamku. Aku tahu saat ini Dia bahagia di sana, aku kelelahan dan kesakitan di sini. Namun itu semua harus bisa aku simpan sejenak. Sekarang bukan waktunya bagiku memikirkan


orang-orang yang sudah membuat hidupku kacau balau. Sekarang waktuku berjuang mengubah takdirku.

__ADS_1


Beberapa kali aku seperti ingin menyerah. Tapi tidak bisa, karena tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain menjalani semua ini. Sudah sangat terlambat untuk menyerah sekarang. Apa yang aku lakukan saat ini adalah bertahan untuk bisa melewati efek dari fase pertama dan kedua. Semenjak kepulangan dari korea. Aku  selalu mengkonsumsi obat penahan sakit. Aku juga mengalami beberapa efek obat bius yang berkepanjangan. Yah seperti yang kemarin aku alami dan membuat Mahardika marah.


Flasback off


__ADS_2