
Papa Janu menjeda ceritanya pada Mahardika. Laki-laki itu tersenyum memandang anak angkatnya. Tidak seorang pun tahu rahasia yang
saat ini diceritakan pada Mahardika, selain dirinya. Dia sudah menyimpannya puluhan tahun. Hanya tinggal Papa Janu sendiri yang tahu. Bahkan, kedua anak yang terhubung langsung dengan cerita ini pun tidak pernah
mengetahuinya.
POV Janu
Memperoleh rahasia yang disembunyikan oleh Bu Lis pada kami ditambah cerita rentetan kejadian yang dialami Maria dan Bu Lis membuat dadaku sesak. Mendengar permintaan Ibu agar aku menikahi anak gadisnya dan menyelamatkan cucunya, seperti mendapat tantangan dan tanggung jawab yang besar. Aku sangat tahu kalau ini tidak mudah. Bukan hal yang bisa diputuskan begitu saja, karena ini tentang hati dan rasa
dua manusia yang tidak akan pernah bisa disatukan. Aku kembali teringat saat aku diselamatkan dan dirawat dengan baik oleh ibu. Aku pun pernah berjanji akan menjaga mereka berdua sepanjang hidupku.
Hutang budiku pada dua wanita ini bukan sekedar hutang budi harta
benda namun, tentang nyawa. Jika Maria tidak membawaku kerumah mereka, mungkin akupun sudah tidak ada di dunia ini. Sebuah hutang yang sangat sulit untuk dibayar.
Sebelum memutuskan berbicara dengan Maria akupun merasakan galau dihatiku. Aku sadar, aku juga
manusia yang ingin dicintai dan mencinta. Aku sadar aku juga ingin seperti orang lain, menikah dengan orang yang mencintai dan kucintai. Meski aku selama ini belum pernah menemukan pasangan seperti itu. Hubungan asmaraku selalu berakhir dengan kesadaran bahwa kami hanya saling membutuhkan. Bukan saling mencintai. Menyedihkan memang, menyadari hubunganku selama ini, all about lust with little love . Tapi aku juga ingin menemukan cinta sejatiku diluar sana. Aku tetap laki-laki normal yang membutuhkan penyaluran hasrat biologisku. Sedangkan untuk melakukan dengan Maria jelas tidak mungkin. Bermain-main dengan laki-laki lain dibelakang Maria pun bukan gayaku. Aku penganut satu untuk satu saat. Bagiku, perselingkuhan adalah hal yang paling kuhindari apapun alasannya dan menyakitkan semua pihak. Aku belum pernah dan tidak akan pernah melakukannya.
Aku telah memikirkannya dan mencoba menyerahlkan semua pada Sang Pemilik Kehidupan. Mungkin ini cara Tuhan untuk meringankan bebanku agar tidak memberati langkahku menuju surge Nya. Ini saat nya aku membayar hutngku pada mereka.
“Maria, aku tidak mau berbasa- basi. Aku, kamu dan ibu tahu siapa aku. Seorang homo sejak lahir, yang diusir karena orientasi sexnya. Aku tidak akan bisa mencintai dan melakukan hubungan *** dengan wanita. Namun ada hal yang lebih penting dari sekedar cinta, hubungan *** dan orientasi sexual. Buatku, Ibu, kamu dan anak dalam perutmu jauh lebih penting. Menikahlah dengan ku, lahirkan anak itu dan jadikan dia anak kita,” kataku dengan tegas dan memandang Maria. Maria memandangku dengan melongo. Dari mukanya, terlihat bahwa Maria tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Apa? Aku tidak salah dengar kan? Kamu serius? Kamu belum gila kan? Atau kamu kesambet setan rumah sakit?” tanya Maria. Aku berkernyit sedikit lalu menarik nafas panjang. Aku sendiri tidak tahu harus mengatakan apa dan meyakinkan seperti apa. Aku hanya ingin membahagiakan Ibu dengan menjalankan apa yang diinginkannya. Apalagi ada nyawa
__ADS_1
yang dipertaruhkan disini, meskipun dia belum melihat dunia. Bagaimanapun juga, dia tidak bersalah dan berhak hidup. Pada akhirnya, aku hanya bisa menarik
nafas dalam, menghadapi situasi ini.
“Aku serius. Ini adalah permintaan terakir ibu. Dia ingin kita menikah sebelum dia meninggal. Dia ingin cucu dalam perutmu dilahirkan dan diberi nama dengan nama bulan seperti namaku, karena dia adalah anakku. Ibu ingin anak yang ada diperutmu menjadi anakku. Mengingat aku memang tidak akan pernah bisa mempunyai anak, aku tidak keberatan. Bayi dalam perutmu, mulai detik ini adalah
anak Januaria,” kataku mencoba meyakinkan Maria setelah berdiam cukup lama.
“Sebentar, permintaan terakir ibu, apa maksudnya?” tanya Maria, sambil memandangku curiga.
“Maria, aku harap, kamu kuat. Aku akan jujur apa adanya. Tetapi demi Ibu, jangan tunjukan kalau kamu bersedih, karena ibu sangat tidak mau hal itu terjadi sama kamu. Ibu ingin saat-saat terakhirnya, hanya melihat kamu bahagia. Itulah kenapa Ibu merahasiakan ini dari kita. Itu juga sebabnya, Ibu memintaku untuk menikahimu serta menjagamu dan anak-anak kita. Hanya satu yang aku tidak bisa memenuhi permintaan ibu. Aku tidak bisa menjadi laki-laki sesuai kodrat yang digariskan, mencintai, menikahi wanita,” kataku. Aku meminta Maria untuk
mendengarkan semua ceritaku sampai akhir, tanpa histeris, drama dan tangisan. Aku meminta Maria untuk meletakan sejenak emosinya dan berpikir tenang. Setelah Maria menyanggupi permintaanku, Aku mulai menceritakan semuanya.
“Maria, selama ini Ibu menyimpan rahasia besar tentang kesehatannya dari kita. Aku juga baru saja mengetahui dari dokter tentang riwayat gagal jantung akibat efek obat yang diberikan Jerry saat kejadian kemarin, tidak bisa disembuhkan lagi. Ditambah dengan kanker paru paru stadium akhir yang selama ini juga dirahasiakan oleh Ibu. Menurut dokter, Ibu tidak akan bertahan lama.Disisa usianya, Ibu hanya ingin bahagia melihat anak- anaknya bahagia diakhir kehidupannya,” kataku sambil mengelus tangan Maria yang bergetar hebat. Sesuai janjinya, Maria tidak histeris atau menangis
“Kalian berdua adalah malaikat penyelamatku. Apapun akan kulakukan untuk kebahagiaan Ibu. Itulah mengapa aku mau menikah denganmu, Maria. Aku yang akan menjagamu dan anakmu sampai nanti, seumur hidupku,” kataku dengan tegas tapi lembut. Kulihat Maria tercenung dan diam mendengar kata-kataku. Dia tampak mulai menangis terisak.
“Maria, ingat, kamu sudah berjanji untuk tenang. Ayo, kita bahagiakan ibu di waktu yang tersisa. Jangan menangis dan bersedih didepan ibu,” pintaku dengan sungguh- sungguh.
“Ayo kita menikah didepan ibu, lahirkan bayi itu dengan sehat demi Ibu dan kesehatanmu. Agar kita
tidak berdosa dan menyesal nantinya. Benar kata Ibu, bayi ini tidak berdosa. Jika membuangnya, maka kamumembunuhnya, menghilangkan satu nyawa. Jika nanti setelah bayi itu lahir, kamu ingin aku pergi karena tidak bisa menjadi suami yang baik bagimu, aku akan pergi. Anak dalam perutmu pun akan kubawa pergi.
Kamu bisa menikah dengan siapapun yang kamu inginkan tanpa cerita duka ini dibelakangmu,” kataku menggenggam tangan Maria. Gadis itu tampak berpikir keras.
__ADS_1
“Aku memang salah. Ini tidak mudah. Semua terasa menyakitkan. Tapi Ibu juga sakit karena ini. Aku hanya memikirkan sakitku tanpa berpikir perasaan Ibu. Argh! Aku anak yang tidak berguna dan egois. Baiklah Aku tidak boleh egois! Ibu telah mengorbankan segalanya untuk kebahagiaan dan senyumku. Sekarang, diwaktu yang tersisa, giliranku untuk membahagiakan Ibu, Harus!” kudengar Maria berguman dan bermonolog. Aku sedikit memiringkan kepalaku untuk memperjelas apa yang dikatakannya.
“Berapa lama?” tanya Maria.
“Apanya? “ tanyaku heran dan tidak yakin pertanyaan itu diajukan padaku.
“Berapa lama ibu memiliki waktu?” tanya Maria.
“Sudah habis. Secara medis, seharusnya ibu sudah tidak memiliki waktu lagi. Dokter sendiri heran karena ibu masih bertahan sampai sekarang.,” jawabku. “Bagaimana?”
“Baiklah, ayo kita bahagiakan ibu. Justru sekarang aku yang bertanya, Apakah Janu serius mau menikahiku, wanita kotor dengan anak nggak jelas ini.” Tanya Maria.
“Maria, Aku yang menawarkan padamu. Tentu saja Aku serius. Aku tidak main main dengan sebuah pernikahan. Aku menjalani ini dengan serius, meski aku tidak akan pernah bisa memberikan kepuasan secara seksual yang normal. Aku akan berusaha memberikannya, meski aku tidak bisa berjanji akan berhasil. Aku akan berusaha menjadi ayah dari anak anak kita. Aku akan tetap menjadi suamimu, sampai kamu mengusirku dan melepaskanku. Aku akan melepaskanmu saat kamu bahagia dengan orang lain,” kataku sungguh sungguh.
“Lalu kekasihmu?” kata Maria.
“Aku tidak punya kekasih Maria. Dalam dunia pelangi, sangat sulit menemukan cinta sejati tanpa nafsu seperti yang aku inginkan. Dan jujur, aku sayang sama kamu. Sangat sayang. Meskipun sampai saat ini, rasa sayang ini adalah rasa sayang kakak dan adik. Tapi jika kau mau, kita akan bersama sama belajar membuka hati,” kataku, menatap mata Maria.
“Terimakasih. Aku tahu, kamu laki-laki baik. Kamu adalah laki-laki terbaik untuk menjadi suamiku dan ayah anak ini, kata Maria.
“Anak kita, Maria,” ralatku sambil tersenyum. “Mulai saat ini, sebut dia sebagai anak kita.
“Baiklah ayo kita menikah. Aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kamu melepaskanku. Aku tidak akan mencampuri urusan percintaanmu diluar rumah. Aku hanya minta jangan dibawa pulang dan jangan sampai anak-anak mengetahuinya,” kata Maria. Aku sangat tidak menyukai janji. Apalagi Janji yang aku tidak tahu pasti akan bisa menepatinya atau tidak. Aku memilih untuk tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Maria menarik nafas panjang mempersiapkan diri memasuki panggung sandiwara miliknya. Panggung sandiwara babak kedua. Aku kembali meremas tangan Maria dan tersenyum, berusaha mengirimkan kekuatan energi. Aku ingin mengirimkan telepati dan meyakinkannya, bahwa semua akan baik baik saja. Yeah, kami akan baik-baik saja, namun tidak untuk kedua bajingan itu. Meski aku benci berjanji, tapi aku akan membuat janji pada diriku sendiri, pada saatnya nanti, dua orang itu akan kubuat menderita melebihi Ibu dan Maria. Kami berdiri dan berpelukan sejenak untuk saling
__ADS_1
memberikan kekuatan. Aku tahu, Maria juga merasakan hal gamang sepertiku. Kami berdua sangat tahu bahwa ini tidak akan mudah. Tetapi demi Ibu yang sangat kami sayangi, aku yakin semua akan mudah.