
Sore itu Nara berjalan-jalan di sekitar rumah barunya. Tak jauh dari rumahnya ada sebuah taman yang digunakan untuk kegiatan orang-orang disekitar sana. Nara melihat ada keramaian di sayap kanan. Nara melihat banyak tenda tenda dengan berbagai merek minuman, makanan serta produk-produk untuk manula. Orang oang berusia lanjut
tampak mondar mandir dan bercengkerama dengan sesama mereka ditaman. Sementara itu diatas panggung yang dihias dengan nuansa putih ada Pak Henky dan bu Henky. Nara mengenali mereka dari jauh. Keduanya sudah siap untuk menyanyi. Ibu dan bapak Henky dengan mic ditangan mempersiapkan diri menyanyikan lagu tembang kenangan yang sering dilatihnya dirumah bersama Nada. Nara mengenali lagu ini, karena kedua mertuanya tersebut selalu meminta dia mengiringi. Nara sudah hapal nada dimana ibu mertuanya bernyanyi. Sementara itu pemain piano yang sekarang engiringi terlihat kesulitan menyamakan nada sebelum acara dimulai.
“Ah, rupanya belum dimulai,” gumam Nara. Dia berjalan menuju sisi panggung sambil tersenyum. Entah mengapa, hantinya terdorong untuk mendekati panggung.
“Hei, jangan terlalu tinggi. Saya tidak enak nyanyinya,” kata Ibu Henky kepada pemain piano yang mulai cemberut. Tiba-tiba sang pemain piano menutup piano dan beranjak pergi.
“Lho kok? Kita belum selesai latihan dan sebentar lagi acara dimulai. Kamu mau kemana?” kata Ibu Henky dengan keras melalui mic, hingga semua orang di taman mendengar suaranya dan memandang panggung dengan keheranan. Pemain piano yang sudah turun panggung memandang bu Henky dengan kesal.
“Bodo amat bu! Ibu aja main sendiri. Saya mules tidak bisa berpartisipasi! Bye” katanya sambil berlalu dari area panggung.
“Heiii kembali kamu!” teriak bu Henky beberapa kali masih dengan mic menyala. Seseorang dari samping panggung mengkode petugas sound untuk mematikan mic, sehingga suara ibu Henky hanya bisa didengar oleh orang ytang ada disekitaran panggung. Pak Henky yang ada disamping istrinya merebut mic dari bu henky dan mengajaknya turun dengan muka merah.
“Maaf, mungkin saya bisa membantu. Boleh saya yang mengiringi ibu mer eh maksudnya ibu Henky,” kata Nara pada petugas yang tadi memberikan kode pada petugas sound. Lawan bicara Nara tampak keheranan sambil memandang Nara.
“Anda siapa? Anda yakin mau mengiringi wanita julid itu? “ tanyanya pada Nara. Yang membalas dengan tawa geli. Nara sedikit merasa lucu melihat reaksi orang dihadapannya. Tampaknya dia takjub ada wanita secantik Nara yang tibat iba muncul dan menawarkan diri menjadi pengiring perempuan cerewet yang sednga mengomel diatas panggung. Diulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
“Nama saya Nara. Saya baru kemarin pindah ke rumah yang diujung jalan,” kata Nara.
“Oh mbak istrinya Pak Mahardika ya?” kata perempuan itu.
“Oh bukan. Saya saudaranya,” kata Nara sambil tersenyum. “Jadi boleh saya mencoba mengiringi latihan? Kalau berhasil, nanti saya akan mengiringi saat pementasan.”
“Silahkan, silahkan.
__ADS_1
Kami sangat senang malah karena memang sulit menghadapi maunya bu Henky. Kalau
mbak mau mencoba silahkan saja. Tapi jangan sakit hati ya mbak. Cuekin aja dia
bicara apa,” katanya. Nara segera menghampiri Pak Henky dan bu henki yang masih
berdebat di tangga panggung.
“Ayah, eh maksudnya Bapak dan ibu, perkenalkan saya Nara. Bagaimana kalau saya mencoba mengiringi
ibu dan bapak menyanyi. Kalau cocok, kita bisa lanjutkan di pertunjukan nanti,” kata Nara. Pak Henky menatap heran pada
Nara. Sementara bu Henky menatap curiga.
“Kamu siapa? Kamu emang bisa?” tanya Bu Henky meremehkan Nara.
kita coba dulu bu. Saya orang baru disini. Siapa tahu kita bisa cocok di
panggung,” kata Nara sambil berjalan menuju piano. Pak Henky dan Ibu Henky segera mengambil mic masing masing. Nara memulai permainannya yang biasa dia mainkan di kediaman Hermawan tanpa bertanya pada pasangan Henky. Karena takjub mendengar permainan Nara yang sangat familiar dan sesuai dengan telinga mereka, pasangan itu sampai lupa mulai menyanyi mmbuat Nara menghentikan permainannya.
“Pak Bu, ayo latihan menyanyi, mumpung Mbak Nara mau mengiringi. Sudah pas kan?” kata petugas panggung yang tadi berbicara dengan Nara. Dia buru buru naik ke panggung saat kedua pasangan itu terdiam. Teguran ini membuat Pak Henky tersadar dan menepuk bahu istrinya. Ia juga meminta maaf pada Nara dan memintanya mengulang dari awal. Nara mengangguk tersenyum dan kembali konsentrasi pada piano dihadapannya. Dia mulai memainkan intro, saat Pak Henky dan istrinya mulai fokus pada permainnya. Setelah selesai memainkan intro, Nara memberikan tanda untuk memulai, seperti Nada dulu melakukannya. Sampai lagu berakhir, performance ketiganya berjalan lancar dan luar biasa. Hal yang sama terjadi di lagu kedua sampai kelima. Begitu juga saat pertunjukan berlangsung. Namun selama ada di taman, Nara berusaha menjaga jarak. Bagaimanapun juga, dia tidak mau mertuanya tahusiapa dirinya yang sebenarnya. Beberapa kali berbicara dengan mereka Nara terpeleset lidah memanggil ayah dan ibu.
Di akhir pertunjukan kedua mertuanya mengucapkan terima kasih atas bantuan Nara, sekaligus memperkenalkan gadis itu pada warga yang pagi itu hadir.
“Terima kasih semua yang hadir yang sudah menyaksikan penampilan kami dalam acara menggalang dana untuk kegiatan Lansia di wilayah kita ini. Terimakasih juga kepada pianis cantik kita yang datang menjadi malaikat penyelamat pertunjukan kita siang ini, sehingga bisa berlangsung lancar dan baik. Berkat gadis yang cantik ini juga panggung pagi ini bisa berjalan dengan baik. Tanpa dia, acaranya sudah akan bubar,” kata Pak Henky sambil tertawa.
__ADS_1
“Kami perkenalkan, gadis cantik yang sangat piawai memainkan piano, sini sayang,” panggil bu Henky. “Namanya Nara, baru pindah ke wilayah kita beberapa hari. Dia wanita tercantik yang pernah kita lihat bukan? Juga baik hati dan sopan. Seandainya anak laki-laki saya belum punya tunangan mungkin akan saya jodohkan dengannya.”
Wanita ini tidak menyadari bahwa yang dipuji dan ingin dijadikan menantu itu sebenarnya memang menantunya. Nara hanya tersenyum miris mendengar kata kata mertuanya. Ini adalah interaksi pertamanya dengan mereka setelah kejadian kecelakaan itu. Setelah acara panggung selesai, ketiganya menikmati acara bazar dengan menikmati beberapa snack yang disediakan panitia. Kali ini, Nara tidak bisa menghindar sama sekali. Dia terpaksa meladeni kedua mertuanya, berbicang-bincang seputar dirinya. Beberapa kali Pak Henky mengatakan permainan piano Nara mengingatkannya pada almarhum menantunya. Terlihat wajah sedih pak Henky yang berbanding terbalik dengan wajah bu Henky.
“Nara, permainanmu sungguh indah. Dan karena kita sekarang bertetangga, maka kamu harus main kerumah kami, makan malam dengan kami dan memainkan lagu untuk kami. Piano di rumah kami tidak pernah digunakan sejak menantu kami meninggal,” kata Pak Henky.
“Iya Nara, berkunjunglah kerumah saat kamu punya waktu. Kami akan senang jika kamu mau mengiringi kami menyanyi. Permainanmu sebenarnya jauh lebih indah dari pada Nada. Pak Henky sangat memuja menantunya jadi sering berlebihan kalau sudah berbicara tentang Nada,” kata bu Henky dengan nada sebal.
“Dia memang menantu kesayanganku bu. Dia baik. Kita menjadi seperti ini berkat dia. Semua adalah milik dia. Sayang dia pergi terlalu cepat,” kata Pak Henky dengan mata berair. Nara hampir saja memeluk laki-laki tua yang sudah seperti ayahnya sendiri. Nara sangat tahu, Pak Henky tidak akan pernah terlibat dengan rencana jahat apapun yang ditujukan padanya. Nara tidak ingin terlibat lebih lama dengna kedua mertuanya. Dia memutuskan untuk pulang.
“Anda memang luar biasa Pak Henky. Nada sangat beruntung memiliki ayah mertua seperti Anda,” kata Nara. “Ibu Henky, terimakasih undangannya, namun saya harus pulang sekarang. Suatu saat pasti akan saya sempatkan untuk mengunjungi bapak dan ibu. Terimakasih atas semuanya. Kehormatan besar bagi saya bisa mengiringi Bapak danibu. Saya harus pamit. Terimakasih.”
Nara segera menjabat tangan Ibu dan bapak Henky yang sepertinya masih berusaha menahan dirinya. Dia seger pergi setelah berpamitan dengan para panitia acara. Hatinya begitu penuh dengan berbagai pemikiran saat ini. Dia lega karena paling tidak masih ada seseorang yang berada di pihaknya saat ini, yang tinggal di kediaman Hermawan. Nara berpikir bahwa apapun yang terjadi padanya dulu, pasti berpusat pada Pradipta dan Juli. Meskipun sang ibu mertua membenci dirinya, sepertinya wanita itu tidak akan mampu memikirkan cara menyingkirkannya.
“Hai, menikmati bermain piano untuk mertua?” sebuah suara membuat Nara melompat kaget. Dia baru menyadari bahwa dirinya sudah berada di ruang tamu rumah yang mereka tinggali tanpa membuka pagar dan pintu rumah.
“Kenapa terkejut? Kamu berjalan sambil melamun Nara. Bahkan kamu hampir menabrak pagar dan pintu rumah jika Adrian dan Henry tidak membukanya,” kata suara itu lagi. Ya itu adalah suara M. Rupanya aku berjalan sambil melamun hingga tidak menyadari kehadiran mereka bertiga., yang mengikuti aku sejak tadi.
“Sejak kapan kalian bertiga disini?” kata Nara. “Bukankah kalian ada meeting hari ini?”
“Sudah selesai. Kami kembali tepat saat pertunjukan besarmu dimulai. Kami melewati taman dan menyadari kamu ada disana bersama ayah ibunya Pradipta. Aku sendiri ingin tahu apa yang akan kamu lakukan. Itu mengapa kami mengamati dari jauh. Ternyata kamu melakukan dengan baik. Bisa membuat mereka mengundangmu masuk ke kediaman Hermawan. Namun saat pulang, kamu malah melamun hingga membuatmu hampir celaka beberapa kali,” kata M sambil duduk disofa panjang. Ditepuknya sisi kosong disampingnya. Narapun menurut.
“Jadi apa yang kamu dapatkan?” tanya M
“Tidak banyak. Aku hanya tahu kalau Ayah Hengky sangart menyayangiku dan merasa sangat kehilanganku sampai sekarang. Dia sangat tulus menyayangiku. Sedangkan ibu memang tidak suka padaku, namun dia tidak mampu melakukan rencana pembunuhan apapun,” kata Nara
__ADS_1
“Okey, good. Lalu?” kata M
“Mereka juga mengundangku untuk makan malam di kediaman Hermawan. Aku rasa itu kesempatan besar untuk menyelidi mereka di rumahnya,” kata Nara.