Nada Nara

Nada Nara
Bab 96. Kamu Bukan Lagi Obyek Fantasiku Nara


__ADS_3

Sore itu, Pradipta baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dia menghembuskan nafas lega. Kesibukan yang akhir akhir ini menderanya, ditambah kerewelan Juli menghadapi persiapan pernikahan mereka, membuat laki-laki berwajah tampan ini lelah dan frustasi. Dia saat ini ingin menikmati waktu sendirinya diruang kerja yang cukup luas itu. Disandarkan tubuh dan kepalanya di kursi empuk yang menemaninya selama ini. Dipejamkan matanya sambil menenangkan diri. Tangan Pradipta tanpa sengaja memegang gelang buatan nenek kesayangannya. Sekilas terlintas wajah sang nenek, yang sebenarnya merupakan versi cantik dan kurus dari mantan istrinya  Nada.  Entah begaimana, wajah nenek berubah menjadi Nada. Lintasan wajah itu bergeser, berganti menjadi  wanita berwajah sempurna, yang akhir akhir ini selalu menghantuiangannya, Nara.


Pradipta kembali mengingat pertemuan pertama dengan Nara di pesta  kantor. Saat itu dia sedang bersama Juli hingga tidak mungkin bertegur sama dengan Nara. Saat itu Pradipta memilih untuk mengacuhkan Nara. Namun saat Juli menghilang, Pradipta tidak berhasil menemukan Nara yang memiliki kesempurnaan wanita dan membangkitkan libidonya. Bagi Pradipta, wanita memang hanya untuk menyalurkan kebutuhan yang sejak lama dimilikinya. Bertahuhn tahun memiliki istri tanpa berhasrat, membuat Pradipta terbiasa menyalurkan kebutuhannya pada wanita yang memujanya. Apalagi setelah bersahabat dengan Franco dan memiliki apa yang wanita-wanita pengejar kesenangan itu inginkan, dan mengantinya dengan tubuh mereka. Saat pertama melihat Narapun hal yang dipikirkan Pradipta adalah mendapatkannya untuk menjadi partner ***. Juli yang begitu sibuk, tidak bisa memncukupi kebutuhannya. Apalagi, Nara memiliki semua yang laki laki bayangkan saat melepas hasratnya.  Untuk menyalurkan semua keinginan terpendamnya, Pradipta menarik perempuan pertama yang menggodanya,


membawanya ke toilet dan melepaskan hasrat.


Setelah pertemuan pertama yang gagal, Pradipta kembali melihat Nara di tempat lelang. Franco menyadari pandangan Pradipta. Bahkan awalnya Franco ingin mengejar Nara juga. Tetapi Pradipta dengan terus terang meminta sahabatnya itu menjauhi Nara. Franco menyanggupi dengan syarat Pradipta mau menjaga kalung Lidya Dirgantara. Tak diduga, ternyata justru Naralah yang kemudian mengalahkan Pradipta mendapatkan  kalung Lindya Dirgantara di lelang. Karena kalung lepas pada orang lain, Franco yang tidak ingin reputasinya dan LC tercemar, menagih janji Pradipta untuk menjaga kalung Lidya Dirgantara. Disinilah dibuat jebakan untuk Nara. Pradipta kembali mengingat apa yang dialaminya di saat makan Siang penyerahan kalung LD.

__ADS_1


“Kenapa kau melakukanya? Kenapa kau sampai mencari gelang itu ke bawah meja?” teringat pada pertanyaannya pada Nara di pertemuan makan siang. Pertemuan yang kesekian kali itu benar-benar mengubah pandangan Pradipta pada Nara. Pradipta menyadari bahwa Nara bukan lagi sekedar obyek *** yang menjadi fantasy obsesinya. Namun ada rasa yang Pradipta sendiri tidak tahu apa. Ada rasa sayang yang tidak bisa dia jelaskan., Ada rasa memiliki yang aneh, muncul dihati. Pradipta merasa bahwa Nara adalah miliknya, dan dia tidak ingin berbagi dengan siapapun. Pradipta ingin memiliki dan menjaga Nara, bukan hanya untuk sekedar memenuhi hasratnya. Ada rasa nyaman yang justru mengingatkannya pada sang nenek dan Nada secara bersamaan, saat bersama Nara. Dia  yang kawatir sekaligus merasa aneh dengan tingkah Nara pada gelang miliknya, jadi semakin penasaran.


“Lho emang salah? Menurutku gelang itu berharga untukmu,” kata Nara. Saat memandang Nara, Pradipta tahu bahwa  Nara hanya mencari alasan. Tapi mengapa?


“Maksudnya?”   Pradipta masih terus berusaha memahaminya.


“Ya kan tadi Mas Pradipta cerita kalau gelang itu dari neneknya. Aku juga punya nenek.  Aku yang mengurusnya. Karena dia begitu istimewa bagiku. Dan dia juga pintar membuat gelang benang seperti itu,” Jawab Nara.

__ADS_1


“Ssyang, ini jadwal kita hari i…” Juli masuk keruangan Pradipta sambil membacakan agenda yang ada di smartphonnya. Dilihatnya Pradipta sedang bersantai di kursi kerjanya sambil melamun. Tidak dilihatnya ada berkas tersisa di meja laki-laki yang sebentar lagi menikahinya itu. Juli heran karena baru kali ini Pradipta tidak memperdulikan dirinya sama sekali.


“Sayang, sepertinya kamu sudah selesai bekerja. Bagaimana kalau kita minum kopi bersama, dibawah?” tanya Juli. Namun kembali perempuan cantik itu mengernyitkan dahinya karena tidak ada respon dari Pradipta. Saat ini, Pradipta bahkan seperti tidak menyadari kehadirannya. Sesuatu yang sangat tidak biasa bagi Juli. Wanita itu


melambaikan tangannya di depan wajah Pradipta, namun laki laki itu belum bereaksi.


“PRADIPTA!” teriak Juli di telinga tunangannya dengan kesal. Kali ini Juli berhasil menyadarkan Pradipta. Laki laki itu terlompat dari kursinya karena terkejut. setelah kebingungannya teratasi, Pradipta menarik  nafas, menatap Juli dengan kesal.

__ADS_1


“Sayang, kenapa kamu disini dan berteriak seperti itu? Membuatku kaget saja,” kata Pradipta kesal. Juli  memandang kekasihnya antara kesal dan heran.


***


__ADS_2