Nada Nara

Nada Nara
BAB 105 Pradipta Ingin Bertemu Denganku?


__ADS_3

POV NARA  (flash back on)


“Nara, sebentar. Sebelum ditutup aku ingin bicara. Aku tahu kita ada janji makan malam di akhir pekan ini. Namum karena kita tetanggaan, bolehkah aku bertemu denganmu?” tanya Pradipta. diujung sana.


“Maksudmu? Bukankah kita kemarin bertemu dan week end besok juga akan bertemu?” kataku


“Maksudku, bolehkan kita sekarang bertemu?” tanya Pradipta memohon dari ujung telpon sana.


“ Sekarang?” tanyaku dengan nada heran.


“Iya sekarang,” kata Pradipta. Awalnya aku ingin menolak permintaan Pradipta. Namun sebelum aku menolak, M menahanku.


“Nara, pergilah ke taman dan temui Pradipta. Usahakan kalian duduk disisi jalan arah ke rumah Pradipta. Carilah tempat dimana semua mobil yang menuju rumah Pradipta bisa melihatmu. Juli sepertinya sedang menuju kerumah Pradipta dan sebentar lagi akan melintasi taman. Ini adalah kesempatan untuk membuat Juli cemburu,” kata M.


“Oke, siap Nara? “ kata M dan aku mengangguk. M kemudian mematikan mute speaker lalu memberikan tanda padaku untuk berbicara.

__ADS_1


“Hallo…” aku kembali menyapa Pradipta setelah tadi sempat seolah terdiam.


“Ya hallo Nara, gimana?” tanya Pradipta. Ternyata dia menjawabku dengan cepat. Dia menungguku rupanya.


“Mau bertemu dimana? Siapa saja?” tanyaku berpura pura. Apapun jawaban Pradipta, akulah yang akan menentukan tempatnya nanti.


“Siapa saja? Tentu hanya kita berdua. Tanpa siapapun termasuk bodyguardmu. Diluar jam kerja kamu tidak perlu bodyguard kan? Kata Ayah dan ibu, kemarin kamu sendirian ke taman,” kata Pradipta. Rupanya dia menekankan dan memastikan aku pergi sendiri tanpa ada yang menemaniku. M dan kedua sahabatnya mengernyitkan dahi.


Aku tahu mereka mencurigai Pradipta akan melakukan hal jahat padaku. Namun entah kenapa, kali ini aku percaya kalau Pradipta memang hanya ingin bertemu denganku. Aku yakin Pradipta tidak mempunyai maksud jahat. Aku menatap M dengan tegas, tanda aku tidak setuju dengan pikirannya. Tanda aku mempercayai Pradipta. M menggeleng, namun aku telah memutuskan akan menemui Pradipta sendiri.


“Aku jemput ke rumahmu?” tanya Pradipta dengan cepat. M dan Adrian langsung mengerutkan keningnya. Sementara Henry tampak berpikir lalu menggeleng sambil  tersenyum. Aku paham. Aku mengerti apa yang harus kukatakan. Aku berpikir inilah saatnya menmgambil kendali. Inilah saatnya aku yang menentukan seperti


yang sesuai dengan keinginan dan rencana M.


“Eh jangan. Lebih baik tentukan tempatnya dan kita ketemu disana. Bagaimakan kalau kita bertemu di taman saja. Disana juga banyak tukang jajanan. Aku rindu makanan di sana,” kataku. Untuk lebih meyakinkan Pradipta, agar dia

__ADS_1


menyetujui usulku, suaraku kubuat seantusias mungkin. Henry dan Adrian mengacungkan jempolnya, namun M terlihat sedikit khawatir.


“Rindu?” terdengar suara heran Pradipta dengan nada bertanya. Aku sempat heran dengan pertanyaannya. M segera berbisik ditelingaku, “Jangan bilang kamu rindu. Kan kamu orang baru.”


Hembusan nafas M ditelingaku sempat memecah konsentrasiku. Aku bergidik geli. Pikiranku sedikit terhanyut oleh wangi tubuhnya yang menenangkan. Untungnya, akal sehatku segera kembali membuatku meremas tanganku sendiri untuk menghilangkan rasa aneh yang kembali muncul. Dari kata-kata M aku sadar kesalahanku.


“Eh maksudnya bukan rindu makanan disana. Tapi aku kangen jajan makanan pinggir jalan. Selama diluar negeri kan tidak pernah ada makanan seperti itu. Aku kemarin melihatnya,” kataku  mencoba memperbaiki salah bicaraku tadi. Aku tahu, pasti diujung sana  Pradipta cukup aware dengan pilihan kataku. Dia bukan orang bodoh. Aku hanya bisa berdoa,  dia tidak mengejar jawabanku. Meski begitu aku mencoba menyiapkan jawaban dari semua pertanyaan yang mungkin muncul.


“Baiklah kita bisa ketemu disana dan berbincang sebentar. Berapa lama kamu perlu siap siap? Jangan lama-lama Nara, tidak perlu dandan, kamu sudah cantik. Aku berangkat sekarang,” kata Pradipta sambil mematikan telpon sebelum Aku sempat menjawab. Aku bernafas lega. Untunglah dia tidak berpanjang lebar atas kalimatku tadi.


Kulihat Adrian segera mengambil kotak di lemari dinding di belakang lukisan. Lalu dia mengeluarkan isinya, sebuah pistol genggam berwarna silver yang sangat kecil dan tampak cantik. Tapi M menahannya. Dia memandang Adrian dan menggeleng tanda tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Adrian tampaknya masih ingin


mempertahankan apa yang dia mau. Namun Henry menghampirinya, menepuk pundaknya dengan tersenyum. Dia mengambil pistol kecil itu dari tangan Adrian dan mengembalikan kedalam kotak, memasukan kembali kekotak. Sebagai gantinya dia mengeluarkan sebuah kopor kecil dan meletakkannya di meja. Dikeluarkannya earphone


andalanku, dan tiga earphone hitam yang biasa dia pakai. Setelah itu dia mengambil sebuah pistol dan meletakkannya dibalik jaket. M juga berdiri  mengambil pisto yang setiap hari dia bawa. Adrian sendiri sedari tadi sudah membawa senjata. Dia hanya menyiapkan earphone dan melakukan kalibrasi di laptopnya.

__ADS_1


Aku tadinya ingin kekamar dan berganti baju. Namun M menahanku. Menurutnya, celana piyama tebal dan kaos kebesaran ini sudah sangat cukup untuk dikenakan. Dia menyerahkan mantel abu abu miliknya untuk aku kenakan. Kebesaran memang, tapi cukup hangat untuk malam ini. Menurut M, dengan begini, aku tidak memperlihatkan bahwa aku antusias dan berdandan hanya untuk bertemu Pradipta.


__ADS_2