
Pov Nara
Pagi ini aku terbangun dengan badan segar. Kelelahan kemarin sepertinya membuatku tidur nyenyak. Aku segera mencuci muka dan melakukan ritual pagiku seperti biasa. Rumah terasa sepi, aku yakin M belum bangun. Semalam saat aku terbangun sekitar pukul 3 untuk mengambil minum, aku mendengar suara musik yang menandakan dia
masih terbangun. Mungkin dia akan bangun agak siang. Biarlah dia menikmati tidurnya karena hari masih terlalu pagi. Aku segera menyeduh secangkir teh yang kutambahkan sepotong limau dan sesendok madu. Aku menikmatinya sambil memandang ke luar menikmati pagi. Anganku berkelana mengingat kembali kejadian kemari
saat Pradipta dan Juli mengumumkan akan menikah. Aku ingat bagaimana M menjadi sangat marah setelah pengumuman itu dan berteriak keras. Aku yang sedang sakit hati karena suamiku akan menikahi perempuan ganjen itu, sampai terlonjak kaget.
“Apa? Mereka sudah berani mengumumkan terang terangan? Kurang ajar. Lalu bagaimana dengan aku Juli!” teriaknya. Hah? Apa? Kenapa dengan dia? Kalau aku jelas kan, aku istri sah Pradipta. Sedangkan kan masih gadis. Ya meskipun gadis yang tidak perawan. Selain heran aku juga sangat tidak suka dengan bentakan. Kupingku berdenging sakit. Aku marah sekali , dadaku sesak dan sekarang ditambah dengan suara keras dan makian. Argh! Lebih baik aku segera pergi dari sini. Akupun segera pergi meninggalkan M sendirian di sana. Tak kuduga aku malah menemukan pemandangan yang menyakitkan. Kemesraan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh
Pradipta dan Juli di mobil, didepan rumahnya.
Aku menghela nafas panjang, menenangkan hatiku sendiri. Aku menyadari bahwa semua yang terjadi memang harus terjadi. Dan benar kata M, bahwa aku harus berhenti menyalahkan keadaanku sebagai Nada, atas kesalahan yang dilakukan Pradipta, menghancurkan hidupku. Aku harus mulai melihat permasalahan dengan mata danbukan hati saja. Meski aku masih sangat mencintai Pradipta, namun bukan berarti aku menerima semua perlakuannya dan dengan mudah melupakannya. Memaafkan mungkin, melupakan tentu saja tidak.
__ADS_1
Kembali kucecap teh dicangkirku. Ingatanku beralih dari Pradipta ke M yang telah menjadi pahlawanku sejak kejadian mengerikan itu. Ya memang, awalnya dia pahlawan yang kupaksakan. Namun pada akhirnya, M adalah tempatku bergantung sampai saat ini. Sore itu aku benar-benar membutuhkan M setelah kehancuran tiku melihat kemesraan mereka. Namun laki-laki itu tidak ada di rumah. Dia hanya meninggalkan catatan yang memintaku mempelajari bisnis manajemen artis. M selalu menasehatiku untuk tetap cerdas dan pintar. Menurut laki-laki hebat itu, kecantikan saja tidak akan cukup. Wanita harus kuat, cerdas dan serba bisa.
"Jadilah wanita cantik dengan otak seksi.” Kata Mahardika saat itu.
Sebuah permintaan yang menyenangkan, karena bagiku membaca dan mencari tahu sesuatu yang baru itu selalu menyenangkan. Termasuk keingintahuanku pada hubungan antara Mahardika dan Juli yang aneh. Instingku mengatakan bahwa mereka sudah saling kenal. Banyak pertanyaan yang muncul dikepalaku sekarang. Jangan jangan Mahardika adalah kekasih Juli yang diselingkuhi. Jangan jangan Mahardika memanfaatkan keadaanku
untuk memisahkan Juli dari Pradipta agar kekasihnya itu kembali padanya. Lalu siapa Mahardika? Dari mana dia mendapat uang sebanyak ini tanpa bekerja? Mengapa begitu banyak orang yang mendampinginya,namun hilang dan muncul tak terduga?
“Kamu siapa M?” gumamku sejak semalam. Aku ingat bagaimana M mendekatiku semalam, saat aku sedang sibuk dengan banyaknya pertanyaan tentang dia.
“Mahardika?” kataku sambil menarik nafas lega setelah menyadari siapa yang memanggilku. Kelemaskan kembali tubuh dan kuda-kudaku, lalu duduk diatas hamparan tikar. Aku sempat tertawa geli saat melihat kewaspadaannya melindungi M junior yang kemarin menjadi korban keterkejutanku. Aku kembali memandang M sambil memikirkan berbagai pertanyaan yang dari tadi terus berputar di kepalaku.
“Aku tahu Nara, aku tahu. Aku akan jelaskan semuanya. Tapi sebelumnya, ceritakan padaku, kemana saja kamu siang sampai malam tadi? Apakah kamu sudah makan malam?” katanya. Dimatanya terpancar keinginan tahu dan kekawatiran. Entah kenapa semalam aku merasa ada desiran menyenangkan melihat kekawatirannya. Semua desiran itu aku tutupi dengan kekonyolan tingkah dan jawabanku pada M. Aku pura-pura merajuk, karena aku yang bertanya, kenapa malah aku yang harus bercerita duluan. Aku mencoba menatap matanya saat merajuk. Tetapi baru kusadari, merajuk itu berbahaya bagi jantungku. Semalam aku bahkan merasa takut, dentuman jantungku bisa didengar oleh M. Apalagi saat mata itu berkilat memancarkan sesuatu yang tidak aku tahu bagaimana memaknainya. Untunglah M segera memecahkan keanehan situasi yang muncul. Dia mengingatkanku pada perjanjian yang aku tanda-tangani didepannya. Aku harus menurut padanya apapun itu. Akhirnya aku patuh dan mulai menceritakan apa yang aku lakukan setelah meninggalkannya di gym. M tidak percaya awalnya, karena ternyata dia pun kesana mencariku. Mendengar kenyataan ini, jantung dan perutku berulahlagi. Perutku terasa mulas karena bahagia, mendengar dia mencari dan mengkhawatirkanku.
__ADS_1
Akupun menceritakan kemana dan apa yang aku lakukan dan alami seharian kemarin padanya. Tapi M bukannya prihatin malah tersenyum melihatku bercerita dengan rasa frustasi dan jijik. Mengingat apa yang dilakukan Pradipta dan Juli kemarin di mobil, benar benar membuatku mual. Mungkin bagi M yang bertahun-tahun hidup di luar negeri hal itu wajar adanya. Tetapi tidak bagiku yang hanya pernah disentuh oleh suamiku.
“Lalu, apa yang terjadi? Memangnya mereka ngapain Nara? Masa bisa Making love di mobil. Hayo kamu sengaja lihat ya,” goda M. Huft! Menyebalkan sekali kan. Dia tidak mempercayaiku rupanya. Saking sebalnya, aku mencubit lengan laki-laki yang sudah hampir setahun ini hidup seatap denganku. Semalam aku berusaha mengatakan bahwa Aku jijik. Aku bilang kalau aku cuma tahu, Juli di pangkuan Pradipta naik turun, lonjak lonjak sepertii orang naik kuda. Aku juga katakan bahwa Mereka ciuman, trus kepalanya Pradipta ada didada Juli cukup lama.
Sepolos-polosnya aku, aku tahu apa dan bagaimana *** itu, meski aku tidak melakukannya. Tapi menurutku mereka sedang doing *** di mobil. Apalagi setelah itu aku melihat Pradipta turun dari mobil dengan celananya terbuka. Bukan hanya Pradipta, tapi baju atasnya Juli juga terbuka Aku kesal saat M mendengarkanku dengan muka tersenyum seperti tidak percaya. Aku mencoba mengabaikannya. Aku masih ingat perasaanku kemarin antara marah, lelah dan jijik. Itulah kenapa aku memilih pulang dan mandi sesaat setelah Juli pergi.
Kembali kusesap tehku untuk mengusir rasa mual akibat jijik dan marahku. Sebenarnya marahku sudah terlupakan karena sikap manis M semalam. Dengan hati hati dan lembut dia menanyakan “Kamu masih marah, cemburu, melihat Pradipta dan Juli berdua? Masih sakit sekali Nara?"
Apakah aku masih marah karena cemburu? Marah? Ehm, tidak sih. Cemburu? ehm kok sepertinya bukan ya? Sakit hati mungkin iya karena mereka begitu tega padaku. Ah tidak tahu, Aku bingung. Bahkan sampai pagi ini aku juga masih tidak mengerti akan apa yang aku rasakan.
Setelah aku desak, semalam akhirnya M menceritakan hubungannya dengan Juli dan dokter bedah estetik ku, Agusta. Dia memulainya dengan menunjukkan foto yang sepertinya sudah lama dia simpan didompetnya.
“Ini fotoku dan Juli saat kami sama sama di sekolah dasar. Ini foto aku, Juli dan agusta. Ya Juli adalah kakak perempuan Agusta. Ini fotoku bersama Juli saat aku kuliah. Kami dibesarkan bersama oleh papanya Juli, sampai beliau meninggal. Saat kuliah aku dan Juli sangat dekat, lebih dekat dari pada aku dan Agusta. Sampai akhirnya aku sangat sibuk dengan kuliah dan bisnisku, tidak punya banyak waktu untuk Juli. Aku hanya memastikan
__ADS_1
kebutuhan Juli dan Agusta terpenuhi, hingga aku harus bekerja keras. Aku yang menjaga mereka sejak papa meninggal,” kata M.