
POV Mahardika
Saat kami sedang membicarakan Nada’s Project, keraguan Nara akan kemampuannya merayu Pradipta menjadi fukos awalnya. Namun setelah beberapa saat, kami berdua fokus pada efek yang akan muncul saat hal ini dibuka ke media. Meskipun tim manajemen sudah mempersiapkan semua hal yang mungkin terjadi, namun Nara tampaknya masih ragu
“Bagaimana dengan Juli. Bagaimana kalau Juli mengetahui ini dan menyerangku?” tanya Nara.
“Pasti Juli akan bereaksi. Aku tahu bagaimana dia akan berjuang dan mempertahankan sesuatu yang dia inginkan. Tapi kami akan melindungimu Nara. Jangan pikirkan itu. Sekarang kamu harus fokus memberikan perhatian dan membuat Pradipta jatuh cinta padamu, tapi tetap tidak menggodanya. Biarkan semua langkah seolah-olah dari dia,” aku mencoba menenangkannya. Aku telah menyusun rencana yang harus dilakukan menghadapi gelombang media yang akan kami ciptakan dan serangan Juli. Saat ini aku juga belum bisa muncul dihadapan Juli. Nara sangat menyadarinya. Jadi dia akan menjalani segala peran dalam Nada’s Project bersama Adrian. Aku dan Henry akan selalu menjadi bayangan Nara.
__ADS_1
“Tapi bagaimana dengan kencan kemarin? “ tanya Nara. Aku membaca beberapa berita di laptopku. Aku mulai melihat banyak berita tentang Nara dan Pradipta. Mulai dari kencan penyerahan kalung, perampokan kalung dan kencan makan malam di Jimbaran. Yah walaupun semua itu memang ulah kami. Kamilah yang menyebarkan semua berita itu. Dan kamilah yang mengendalikan berita dan komen apa yang boleh dikelkuarkan.
“Akhirnya kita berhasil...” Aku memberikan kabar gembira kepada Nara. Namun Nara terlihat tidak senang dengan rencana tersebut. Aku tahu bahwa dia tidak ingin kami menyakiti Pradipta, dan itu membuat tertawa pedih sendirian
“Kenapa” tanyaku sambil memandang muka masgul Nara. Gadis itu segera berdiri meninggalkanku di meja makan.
“Tidak kenapa-napa. Aku hanya ingin mencari angin”jawab nya sambil berlalu menuju teras rumah. Aku segera berdiri membawaku dan menyusul Nara. Sesampainya di beranda, kuletakkan gelas kopiku di meja. Kudekati dia dengan hati- hati.
__ADS_1
“Nara, kenapa? Kamu tidak bahagia dengan keberhasilanmu mendapatkan kembali Pradipta?” tanyaku. Nara memandangku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Matanya tampa menerawang dengan gamang. Ada seberkas ragu disana yang bisa kutebak asalnya namun aku tidak ingin mengakuinya.
“Hai, kita punya Nada’s Project karenau. Kita ingin mengambil semua apa yang menjadi hakmu yang di hancurkan laki laki. Kita membalas kejahatan suami yang ingin membunuh istrinya. Dengan pencapaianmu saat ini, kamu bisa menghancurkan suamimu minggu ini Nara.kenapa dengan ekspresimu. Kenapa dengan matamu itu? Ceritakan padaku” kataku dengan lembut mencoba membujuknya. Nara menarik nfas panjang dan dalam.
“M, Aku tahu semua ini kamu lakukan untukku. Aku tahu semua ada di tanganku Saat ini karenamu. Dan aku tahu keinginan dan perasaanku saat ini pasti akan sangat mengecewakanmu. Bagaimanapun, kamu sudah begitu banyak berusaha dan mengeluarkan banyak dana. Jadi apa yang ada dikepalaku sekarang, seharusnya tidak pernah terlintas. Tapi bagaimana lagi. Setelah mendengar apa yang akan terjadi pada mereka. Apa yang akan terjadi pada Pradipta, Juli, adik-adik ipar, aku tidak tega. Dan aku bingung. Aku tidak ingin mengatakannya karena tidak mau menyakitimu,” kata Nara sambil menunduk. Aku mendekapnya pelan dan mengecup pucuk kepalanya. Setelah itu aku angkat dagunya dan melihat matanya.
“Tidak Nara, katakan. Katakan apa yang ada di dalam kepala mungil yang indah ini. Aku tidak ingin kamu merasa berat dan sedih,” kataku.
__ADS_1
“M, sebenarnya aku tidak ingin balas dendam. Keinginan itu sudah hilang” jawab Nara hati hati sambil terus memandangku.