
POV Mahardika
“Oke ternyata pemenangnya sicantik Nara,” kata Franco. “Namun karena sudah malam, untuk penyelesaian bisa kita lakukan besok sambil makan siang. Gimana kalau saya undang dua penawar terakhir untuk makan siang bersama besok, sekalian Ms Nara bisa mengambil kalungnya, gimana?” kata Franco membuat jidatku mengkerut. Sekali lagi aku bertanya dalam hati. Permainan apa yang sedang mereka mainkan? Aku harus waspada.Kini mataku kembali kupusatkan pada
“Oke, no problem, “ kata Nara.
“Gimana Pradipta?” kata Franco.
“Oke, no problem juga,” kata Pradipta. Aku lihat ada kilat licik dimata Pradipta. Dia tampak senang dengan usulan sahabatnya itu. Dibalik tingkah profesional, diam-diam Pradipta menatap Juli dan Nara bergantian. Dengan tenang, Nara mengabaikan Pradipta. Dia hanya mengisi beberapa berkas untuk keperluan lelang. Aku kembali men posisi
Juli. Ternyata dia masih asyik dengan kalung yang dipamerkannya. Dia seperti tidak memperdulikan apa yang dibicarakan diatas panggung. Sejak diputuskan kalung itu akan dimiliki Nara, Juli tidak menyukainya. Dia tidak ingin kalung itu dilepas dari lehernya dan akan diserahkan kepada Nara.
Acara lelang amal telah selesai. Total pendapatan lelang malam itu sebesarnya adalah 300 juta yang akan disumbangkan oleh LC, diumumkan oleh Juli yang sudah berhasil melepaskan kalung berlian Lidya Dirgantara.Para tamu membubarkan diri dan pulang membuat ruangan ballroom ini sepi dengan cepat. Hanya beberapa anak buahku yang juga menjadi catering pesta, panitia LC, kami termasuk Franco, Pradipta, Juli, aku dan Nara. Aku masih bertahan diruangan untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya dan berharap mendapatkan informasi yang kucari baik tentang Dirgantara maupun PLD serta rencana Franco dan Pradipta.
Aku lihat, Pradipta memandang Nara dari jauh. Dia sedang berbicara dengan Franco dan timnya. Aku segera mengirim timku mendekat, namun terlambat. Tidak banyak yang bisa didengar, namun Franco mengatakan bahwa lepasnya kalung PLD cukup mengherankan. Tapi mereka akan mencari tahu tentang Nara dan mengapa dia sampai berkeras mendapatkan kalung itu, hingga mau mengeluarkan uang sebesar 150 juta. Hal ini menarik perhatian .
Aku mengedarkan pandanganku pada Juli. Dia sedang sibuk closing dengan panitia dan tim manajemen LC. Mungkin mereka sedang melakukan evaluasi atau briefing. Menurut anak buahku, manajemen LC akan melakukan meeting di ruangan sebelah, dan Juli akan pergi kesana, sedangkan meninggalkan ruangan. Ini berarti Pradipta akan berada di ruangan ini sendiri. Apakah dia akan mendekati Nara?
__ADS_1
“Adrian, bersiaplah. Kemungkinan besar Pradipta akan mendekati Nara,” kataku pelan. Adrian dengan sigap menanggapi perintahku. Nara sendiri dari tadi sedang sibuk dengan panitia lelang yang memberikan ketentuan pengambilan kalung dan pembayaran. Selain itu, sesuai dengan yang dikatakan Franco, Nara akan mendapatkan kalungnya besok siang saat makan siang dengan Franco dan Pradipta.
“Kau Nara?” tanya Pradipta. Benar dugaanku. Laki-laki itu mendekati Nara yang sedang beramah tamah dengan panitia. “Senang bertemu dengan mu. Aku Pradipta”. Laki-laki itu tersenyum genit sambil mengulurkan tangannya. Aku dan Adrian sampai menahan nafas sejenak, karena takut Nara pingsan.
“Nara, jangan berubah menjadi patung atau pingsan karena keturunan medusa ya,” bisikku mencoba menggoda untuk membuat Nara lebih rileks. Kulihat muka Nara yang memerah menahan tawa, membuatku dan Adrian sedikit lega.
“Hai, Aku Nara. Senang bertemu dengan mu” jawab Nara ramah namun cukup profesional. Nara seperti profesional pada suaminya. Mereka berjabat tangan dengan gaya resmi, meski Pradipta dari tadi berusaha menggoda gadis itu. Sesaat kemudian, Nara mengeluarkan suara aneh. Awalnya di tersedak, kemudian keluar
suara seperti kucing tersedak beberapa kali berturut-turut. Nara cengukan ternyata.
“Hei, kamu kenapa? Kamu kau baik2 saja?” tanya Pradipta yang tampak heran dan khawatir dengan keadaan Nara saat itu. Dia mendekati gadis itu mencoba menenangkannya dengan menepuk punggungnya. Cegukan setahuku adalah kejang pada otot diafragma yang tidak dapat dikendalikan, biasanya tidak berlangsung lama dan bukan tanda akan masalah serius. Hal itu terjadi ketika diafragma, atau membran otot yang memisahkan rongga dada dan rongga perut, mengalami kontraksi. Setiap kontraksi yang terjadi pada organ akan memiliki peran penting dalam pernapasan tersebut dan mengakibatkan pita suara menutup tiba-tiba, sehingga menghasilkan suara khas cegukan.
dilakukan oleh Nara.
Aku khawatir dan ingin memeluknya, namun tidak mungkin melakukan hal itu karena saat ini dia dalam genggaman Pradipta. Aku heran ketika melihat Adrian hanya diam saja. Beberapa kali aku memberikan kode padanya untuk membantu Nara, namun tidak digubris. Dia hanya menggeleng dan memintaku tenang dengan kode tangannya.
Aku melihat muka Nara yang memerah karena cegukan yang dideritanya. Aku tidak pernah melihat Nara cegukan seperti ini. Aku memerintahkan pelayan untuk membawa air putih dingin buat Nara. Saat pelayan dengan air putih diatas baki mendekat, Pradipta melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Pelayan, tolong bawa air putih dinginnya kesini, cepat!” teriak Pradipta. Pelayan yang sebenarnya orangku yang kuminta untuk mengantarkan minuman tadi segera mendekati Pradipta. Narapun tahu jika akulah yang mengirim orang itu. Jadi bukan Pradipta ya yang berjasa memberikan air putih.
“Iya boss, air putih itu berkat kamu,” tiba tiba terdengar suara Henry menggodaku. ****! Duo gila itu mulai lagi membaca pikiranku. Kudengan Henry tertawa cekikikan dan Adrian berdehem menahan tawa.
“Wow saat si boss jatuh cinta, pikirannya jadi mudah diterobos. Bahaya ini yan,” tambah Henry.
“ Itulah bahayanya jatuh cinta Henry. Hati-hati, aku sih nggak akan ya jatuh cinta sampai seperti itu,” bisik Adrian sangat pelan. Aku hanya bisa diam sambil memaki keduanya dalam hati. Siapa yang jatuh hati? Jatuh hati pada siapa? Aku sudah lama jatuh hati pada Juli gadisku. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada orang lain.
“Hei, ambilkan tadi aku lihat lemon di meja buah. Ambilkan sekarang. Cepat! Kalau tidak aku pastikan kamu dipecat!” kudengan Pradipta berteriak kepada pelayan. Apa ? dipecat? Siapa kamu? Hanya gara-gara mengambil lemon mau memecat pegawaiku? Gaya Pradipta yang sok penting membuatku kesal. Namun pelayan itu segera lari dan kembali dengan cepat sambil memandang Nara. Rupanya dia kasihan dengan keadaan Nara yang cegukan, belum berhenti dan tersiksa.
“Hei, tenang. Tarik nafas, tahan lalu sesap lemon ini. Setelah itu minumlah. Ini akan membantumu. Seseorang mengajarkan padaku cara ini untuk menyembuhkan cegukan. Dan ini sangat manjur,” kata Pradipta pada
Nara. Aku melihat apa yang akan dilakukan Nara. Ternyata wanita cantik itu melakukan apa yang di minta Pradipta. Saat itu mata Nara menerawang. Rupanya dia sedang mengingat masa lalunya dengan sang suami. Nara pertinya sedang merasa mengalami dejavu. Namun dulu, dialah yang melakukan hal ini pada Pradipta. Orang yang Pradipta maksud dalam kata-katanya itu adalah Nada. Kulihat senyum mengembang di bibir cantik Nara. Dia menyadari bahwa Pradipta mengingatnya. Mengingat apa yang dilakukannya dulu kepada Pradipta.
“Bos, Juli menuju ke Nara,” suara salah satu orangku yang kuminta menjaga Juli berdengung di telingaku. Adrian segera menegakkan badannya. Dia mengawasi apa yang dilakukan Juli dan siap bergerak jika terjadi sesuatu. Diluar dugaan, Juli mendekati Pradipta dan mengajaknya pulang, tanpa memperdulikan Nara. Dia bersikap seolah-olah wanita cantik itu tidak ada. Lalu Pradipta dan Juli segera berlalu setelah Pradipta mengatakan akan pergi, kepada Nara. Dia menyerahkan gelas dan piring berisi lemon itu ketangan Nara yang hanya berdiam terpana sambil terus cegukan. Matanya tampak berkaca-kaca melihat suaminya pergi dengan Juli yang bersikap manja dan mesra kepada Pradipta.
Adrian segera bertindak. Dia menyadarkan Nara dari diamnya. Diserahkannya sepotong lemon yang diterima Nara dengan wajah sedih. Setelah itu Nara meneguk air dingin itu seperti berharap dadanya juga akan menjadi dingin dan tenang. Ada rsa kecewa dan sakit yang tercermin dari matanya. Setelah tenang, cegukan Nara menghilang.
__ADS_1
Adrian segera membawa Nara ke mobil untuk diantarkan pulang.