
Malam ini cerah berbintang. Langit terlihat indah dipandang dari sebuah taman dimana duduk sepasang suami istri yang terlihat canggung. Saat itu taman tampak mulai sepi pengunjung. Nara Dan Pradipta menikmati malam berdua. Ya, sepasang suami istri yang salah satunya tidak menyadari hubungan mereka adalah Nada dan Pradipta. Namun kini mereka ada disana sebagai Nara dan Pradipta. Mereka berbincang sambil menyantap cemilan yang tadi dibelinya. Perbincangan santai itu juga dipenuhi dengan rayuan dan kata rindu Pradipta pada Nara. Awalnya Nara sedikit menjaga jarak. Namun Pradipta tidak peduli. Pradipta dengan terang terang menunjukan bahwa dia tertarik pada Nara. Dia mengakui bahwa Naralah yang selalu ada di pikirannya.
“Aku ingin selalu bertemu denganmu” kata Pradipta kepada Nara. Jantung Pradipta berdebar keras. Dia saat itu fokus pada perempuan didepannya dan perasaannya sendiri yang sedikit aneh. Sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa mata Nara sedang melihat sebuah mobil melintas pelan disisi taman. Sambil menjawab rayuan Pradipta, dia terus mengamati mobil dan sang pemilik yang tak lain adalah Juli. Sementara itu, Juli yang sedang menuju rumah Pradipta, tanpa sengaja matanya menangkap bayangan laki-laki yang sangat dikenalnya di taman yang tak jauh dari rumah Pradipta. Dia memelankan mobilnya dan parkir di dekat taman sambil meyakinkan matanya.
“Bukan gombal tapi mas serius kalau selalu kangen dan selalu ingin selalu bertemu Nara,” kata Pradipta. Juli turun dari mobil dan mendekat kearah sepasang sejoli yang saat itu terlihat sedang berpegangan tangan. Dia tahu jika perempuan itu melihat dirinya datang. Namun laki-laki yang dia yakin adalah Pradipta itu, sepertinya tidak menyadari kehadirannya. Juli melihat laki-laki itu menyentuh tangannya dan menggenggamnya. Tampak Pradipta tersenyum bahagia karena Nara membiarkan dirinya menggenggam tangannya.
Juli berhenti beberapa langkah dari Pradipta. Dia menutup mulutnya seolah tak ingin suaranya didengar siapapun. Juli mengenali Nara. Wanita yang telah memenangkan kalung yang dia inginkan Kalung Lidya Dirgantara, seharga 150 juta rupiah. Matanya nanar memandang tunangannya yang sedang menatap takjup Nara dan menggegam erat
tangannya. Juli memang tidak mendengar apa yang dikatakan Pradipta. Namun melihat cara dan pancaran mata Pradipta, pasti laki-laki itu sedang mengucapkan kata kata rayuan dan cinta. Muka Juli tampak mengeras. Ada kecewa dan sakit dimata itu. Sementara itu, Dari balik pundak Pradipta, Nara menatap juli dan tersenyum.
Tanpa mau berlama-lama, Juli yang melihat Pradipta dan Nara sadang berduaan, berbalik berjalan kembali masuk ke dalam mobil. Juli meletakkan kepalanya dengan kesal di lingkar setir. Dia benar-benar frustasi. Rupanya ini yang membuat perasaannya tidak enak sejak tadi. Namun Juli berusaha tegar. Dia adalah Juli yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun. Tidak ada yang boleh tahu apa yang dia rasakan saat ini. Juli kembali menegakkan kepalanya dan memandang cermin sejenak. Dibetulkan riasan mukanya agar terlihat baik baik saja. Setelah mengambil nafas dalam, juli menyalakan mobil lalu melaju menuju rumah Pradipta.
Sesampainya di depan pagar rumah tunangannya, kembali Juli menenangkan diri. Dia harus bersikap biasa-biasa saja sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi. Juli tahu, ada yang tidak beres dengan Pradipta. Namun Juli tidak yakin keluarganya tahu apa yang terjadi. Juli merasa dia harus mencari tahu. Juli kembali menguatkan diri dan tersenyum. Dengan menahan rasa marah, Juli menekan bel beberapa kali sampai akhirnya pintu pagar terbuka.
__ADS_1
“Lho, Juli. Tumben malam malam begini kerumah tanpa dijemput Mas Pradipta? “ tanya Prita yang membukakan pintu pagar. Dia sedikit menggeser badannya untuk memberikan jalan kepada Juli, yang hanya membalas pertanyaannya dengan senyuman. Juli dan Prita berjalan berdampingan tanpa kata. Prita sendiri entah mengapa merasa lebih baik diam saat itu. Aura yang dipancarkan wajah datar Juli, membuatnya enggan berbasa basi.
“Duduk dulu ya, aku panggilkan Mas Pradipta,” kata Prita sambil berlalu menuju kamar laki-laki itu. Ya Juli tahu dimana kamar tunangannya itu, karena dia sering berada disana jika berkunjung di rumah ini.
“Mas, ada Juli tuh!” teriak Prita sambil mengetuk pintu kamar.
“Mas, kamu sudah tidur? Tumben. Bangun mas ada Juli!” setelah beberapa kali mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, Prita mulai menggedor pintu kamar kakakknya. Hal ini membuat Pipit dan ibu Henky keluar kamar.
“Nggak usah marah-marah. Coba kamu yang bangunin mas Pradipta. Ada Juli tuh di depan,” kata Prita kesal dan berlalu dari sana menuju ruang tengah tempat Juli duduk. Pipit dan bu Henky melongokan kepala ke ruang tengah dan melihat Juli disana. Juli melambaikan tangan dan tersenyum menyapa dari jauh.
“Ah ada calon mantu rupanya. Pit bangunin mas mu sana. Ibu mau menyapa calon mantu,” kata Bu Henky sambil melenggang ke ruang tengah.
“Lah, kok malah aku sih? Mas! Bangun! Ada kak Juli tuh!” kata Pipit sambil menggedor dengan keras. Beberapa kali menggedor tanpa hasil, Pipit nekat membuka kamar kakaknya. Mukanya terbengong saat mel;ihat kamar itu kosong. Dia segera masuk dan memeriksa kamar mandi ternyata juga kosong. Pipit langsung berjalan keluar
__ADS_1
menyusul Prita dan ibunya.
“Mana masmu pit?” kata Bu Henky mengalihkan perhatiannya dari Juli yang sedang ngobrol dengannya.
“Tidak ada dikamar kok. Pantes aja digedor tidak menjawab. Orangnya aja tidak ada,” kata
pipit sambil membanting badannya di sofa.
“Tidak ada bagaimana? Setelah makan malam tadi kan dia langsung masuk kamar dan tidak keluar lagi,” kata Bu Henky.
“Iya, Mas tadi langsung masuk kamar kok. Aku tidak melihatnya keluar. Mobilnya juga ada. Coba aku telpon,” kata Prita. Dia mengambil smartphonenya dan menelpon sang kakak. Beberapa saat kemudian ….
“Lah handphone mas ada dikamar tuh. Tadi pas aku telpon aku dengar suara deringnya. Pas aku lihat ada diatas kasur. Mas kemana ya? Tumben keluar tidak bawa hape dan mobil,” kata Prita.
__ADS_1