
Dalam perjalanan menuju Gedung Dirgantara dimana LC Tower tempat acara belangsung, Nara tidak banyak bicara. Dia kembali teringat saat Mahardika memintanya untuk menghadapi medan perang ini sendiri. Bukan benar-benar sendiri sih, Ada Adrian dan timnya yang siap bergerak jika terjadi sesuatu.
“Nanti aku akan menyamar menjadi pelayan katering dalam pesta. Mbak Sri setelah ini akan sedikit mengubah wajahku hingga berbeda. Aku akan membantumu dari dekat. Aku akan berusaha tidak berada jauh darimu. Kita bisa berbicara melalui earphone ini, jadi kamu mengerti Nara?” kata Mahardikapada Nara tadi. Itu berarti Mahardika pun ada didekatnya, meski dengan wajah yang berbeda, berkat ketrampilan tangan mbak Sri. Meski begitu, Nara tahu, nanti tidak akan mudah dihadapi. Dia tidak yakin dengan kemampuannya sedniri dalam menguasai pikiran dan hatinya, kala bertemu langsung dengan Pradipta untuk pertama kalinya. Ketidak yakinan inilah yang membuat Mahardika justru mempertanyakan kesungguhannya pada Nada’s Project. Meski dia berusaha meyakinkan Mahardika bahwa Dia tidak akan meninggalkan Nada Prokect dan semua pengorbanan mereka.
“Kamu masih ragu, Nara?” tanya Mahardika.
“Iya M. Aku benar-benar ragu dengan reaksiku nanti,” Kata Nara.
“Jadi kamu mau membatalkannya saja?” tanya Mahardika.
“Ah, tidak… tidak… tidak…” tolak Nara
“Lho terus bagaimana? Kan kamu yang ragu,” kata Mahardik.. Dimata laki-laki itu terlihat sekali kekecewaan dan kelelahannya menghadapi Nara. Nara tahu, tidak mudah menghadapi dirinya selama ini. Efek operasi dan obat-obatan membuat Nara sulit mengontrol didinya sendiri. Nara pun sadar jika dia sudah sangat merepotkan Mahardika. Dan Nara juga tahu, sudah sangat terlambat untuk mundur sekarang. Tidak mudah tapi tidak bisa mundur.
“Bukan begitu M. Aku hanya ragu. Bukan ingin berhenti. Aku membutuhkan kamu untuk selalu ada disisiku, memberiku kekuatan,” kata Nara tadi. Dan Nara tidak paham dengan senyum yang muncul diwajah laki-laki itu kemudian.
“Aku akan selalu ada. Jika kamu merasa gugup, anggap saja aku ada disampingmu dan menggandengmu,”kata Mahardika. Kata-kata yang membuat aliran darah Nara menghangat. Kata kata yang membuat kupu-kupu diperutnya terbangun. Kata -kata yang membuat jantungnya memompa lebih cepat namun tidak menyakitkan. Dan senyum diwajah wanita itu mengembang. Ada rasa damai walau sebentar, yang membuat Nara tahu bahwa dia
akan baik baik saja. Nara menghela nafas lalu memandang kesekeliling. Sepertinya mereka sudah sampai. Nara memendang ke spion dan matanya menabrak tatapan Adrian, asisten Mahardika.
__ADS_1
“Ya Adrian? Kenapa?” tanya Nara.
“Tidak apa apa nyonya. Senang melihat Nyonya tersenyum tenang sepanjang perjalanan. Nyonya membutuhkannya. Namun sebenarnya apa yang kalian berdua lakukan adalah sia-sia. Akan lebih singkat dan lebih baik jika kalian melupakan masa lalu dan berjalan bersama,” kata Adrian dengan senyum masih mengembang.
“Apa maksudnya Adrian? Siapa yang kamu maksud kalian? Dan apa maksudnya berjalan bersama?” tanya Nara.
“Kita sudah sampai Nyonya, bersiaplah,” Adrian segera menghentikan mobilnya, lalu keluar dengan cepat, tanpa menjawab pertanyaan Nara.
Nara melihat keluar dan menyadari situasi yang akan dihadapinya. Banyak wartawan disana yang menunggunya dengan kilatan-kilatan cahaya. Nara melupakan percakapan absudrnya dengan Adrian. Lebih baik dia berkonsentrasi dengan perannya kali ini kan. Dikembangkannya senyum anggun yang akan menjadi topengnya sepanjang hari ini. Ditariknya nafas panjang dan dihembuskan bertepatan dengan Adrian yang membukakan pintu baginya. Seorang bodiguard menerima kunci dari Adrian dan menggantikannya untuk membawa mobil pergi. Adrian membiarkan Nara berjalan sendiri di karpet merah dan berjalan dipinggiran karpet dengan posisi lebih kebelakang. Setelah melakukan beberapa pose di backdrop depan, Adrian segera membawa Nara memasuki gedung LC dan membawanya ke Ballroom.
Nara bersama Adrian memasuki ruangan pesta di Ballrom gedung LC yang megah. Ya, gedung LC memiliki ballroom yang megah yangn tidak kalah dengan ballroom hotel. Maklum, mereka sangat sering membuat acara untuk klien mereka, sehingga memiliki ballroom sendiri dengan kualitas internasional lebih menguntungkan dari pada mereka harus mengeluarkan uang untuk menyewa.
Nara sendiri beberapa kali hampir terjatuh karena gugup. Untung Adrian selalu sigap menopang tubuh wanita cantik ini. Saat matanya metabrakan dengan Pradipta, lutut Nara langsung tersa lemas. Tubuhnya gemetar dan mukanya memucat.
“Nara, kamu bisa. Jangan terlihat lemah,” sebuah suara menerobos telinga. Nara sangat mengenali suara itu. Suara Mahardika. Matanya segera menyapu ruangan mencari pemilik acara. Namun Nara tak menemukan Mahardika.
“Minum Anda nona,” suara itu kembali terdengar, namun kali ini langsung padanya dari arah belakang kanan. Nara
segera berbalik sambil menerima gelas wine yang disodorkan Mahardika. Ya Mahardika, tapi mukanya bukan muka orang yang dikenalnya dekat itu. Laki-laki yang memberikan minum adalah laki-laki setengah baya yang cukup tampan dan gagah. Wow, mbak Sri memang hebat, pikir Nara. Perhatiannya pada Mahardika ternyata mampu mengalihkan pikiran Nara yang sempat membuatnya hampir pingsan tadi.
__ADS_1
"Sst, kenapa kamu terpesona begitu? Kamu jatuh cinta pada pria idaman Mbak Sri? Wajah ini adalah wajah pria khayalan Mbak Sri," kata Mahardika geli. Dia bergerak menjauh sambil membawa baki minumannya. Setelah sedikit menjauh dari Nara, Mahardika kembali berbisik.
“Ayo Nara, lanjutkan tugasmu. Kamu lebih hebat dari Pradipta, kamu bisa melakukannya. Kamu bisa membuat Pradipta jatuh cinta lagi padamu. Jangan kalah dengan ketakutanmu. Jangan kalah dengan kertaguanmu. Seorang Nara pasti mendapatkan apa yang dia mau,” suara dalam Mahardika bergaung ditelinga Nara, perlahan masuk merayap memasuki kepalanya. Perlahan tapi pasti mengalirkan sebuah energi yang membuat Nara seoral mendapatkan kembali pegangannya untuk berdiri tegak dengan cantik yang elegan. Nara kembali bersinar berkat bisikan laki-laki yang selalu hebat dihatinya.
“M, bagaimana kalau dia mengenaliku?” tanya Nara dengan sedikit gemetar.
“Tidak mungkin Nara. Pradipta tidak akan mengenalmu sebagai Nada. Dia akan mencintaimu sebagai Nara,” kata Mahardika. Dan entah karena apa,jika tadi Nara tidak percaya saat dirinya mengatakan hal itu, sekarang dia percaya pada Mahardika untuk hal yang sama.
“Aku harus berbuat apa M?” bisik Nara. Dia melangkah pelan menyusuri karpet merah menyapa beberapa orang dan mengangguk untuk orang tertentu. Ada beberapa pembesar LC yang dia sudah kenal disaat-saat awal. Nara ingat pada pembicaraannya dengan Mahardika beberapa waktu lalu tentang kontrak dengan LC. Jika sebelumnya kontrak bayak yang diindahkan, sekarang Nara harus mulai mendekati pembesar LC untuk mendapatkan kontrak-kontrak eksklusi LC yang mendekatkannya pada pembesar LC .Nara sangat paham bahwa ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan kontrak eksklusif menjadi model utama LC seperti Juli.
Saat menapaki karpet merah, Nara sangat sadar bahwa dirinya menjadi pusat perhatian. Dia melangkah dengan tenang dan anggun, menampilkan seorang wanita sempurna yang pinta dan sexy. Semua perhatian yang tersedot menuju karpet merah membuat Pradipta mengerutkan keningnya . Diarahkan pandangannya ke red karpet, yang menyedot perhatian semua orang. Pandangannya terpaku pada wanita itu. Ada sesuatu di wanita itu yang membuatnya terpaku. Ada sesuatu diwanita itu yang mengingatkannya pada sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa. Saat mata mereka bertemu, Pradipta merasa sangat mengenal mata itu. Tapi dia tidak tahu siapa. Matanya seperti terpaku tanpa bisa melepaskan diri dari pesonanya. Namun disaat yang sama, Juli yang sedang berbincang dengan salah satu produser ternama di depannya, menyentuh lengannya sambil menanyakan sesuatu. Pradipta sendiri tidak tahu apa yang dibicarakan Juli. Namun sepertinya Juli menanyakan pendapatnya tentang sesuatu, dan meminta persetujuannya.
“Ah ya, maksudku, maaf aku agak terganggu dengan meeting hari ini dan sempat terpikir lagi,” kata Pradipta mencoba menyembunyikan kegugupannya. Juli yang sepertinya tahu kalau tunangannya sedang ada pikiran lain hingga tidak fokus pada pembicaraan mereka.
“Ini, Tuan Arya ingin LC production mendukung film terbaru yang akan dia produksi. Sedangkan aku akan menjadi salah satu pemeran utamanya. Dia mengatakan ingin mengajukan proposal ke dirimu sayang, sekaligus meminta ijin untuk memasangku di filmnya itu. Aku tadi bilang, tentu saja boleh, ya kan sayang?” kata Juli ringan namun didalamnya mengandung tekanan agar Pradipta menyetujuinya. Namun Pradipta bukan laki-laki yang bia
ditekan dan disetir oleh siapapun termasuk Juli.
“Oh itu. Coba saja masukan proposalya Tuan, nanti akan kami proses. Kalau memang layak, kenapa tidak. Untuk urusan Juli, tidak perlu ijin dari saya Tuan. Jika Juli dan manajemennya setuju, tentu saya setuju,” kata Pradipta
__ADS_1
sambil memeluk pinggang Juli. Dia adalah laki-laki yang dikejar wanita . Matanya masih mencari sosok wanita yang tadi sempat membuatnya terhenyak. Selama ini Pradipta dan Franco belum pernah mengejar perempuan. Perempuanlah yang mendatangi dan menyerahkan diri pada mereka berdua. Seperti juga Nada yang tergila-gila padanya hingga menyerahkan semua harta bahkan nyawanya jika dia minta, ataupun Juli yang langsung melemparkan dirinya ke ranjang Pradipta tanpa butuh waktu lama, hanya dalm hitungan hari dia berhasil meniduri gadis itu dan memonopolinya untuk dirinya sendiri. Memang, Pradipta bukan yang pertama, namun orang yang menjadi saingannya itu sudah membusuk di neraka, sebelum Pradipta sempat mengucapkan terimakasih. Karena dia, Juli ada di apartemennya dan berhasil dia santap. Kali ini Juli adalah asetnya. Diusianya sekarang untuk bisa menduduki posisi penting di pemerintahan, dia harus menikah. Juli adalah orang yang tepat untuk dia pilih mendampinginya. Selain cerdas, dan cantik, Juli juga populer dan memiliki massa yang bisa dia manfaatkan untuk mengangkat namanya. Dia harus hati-hati dalam hal perempuan sekarang ini. Jadi lupakan gadis karpet merah. Pradipta kembali memusatkan perhatiannya pada produser didepannya dan Juli. Pradipta kembali fokus pada pesta.