Nada Nara

Nada Nara
Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 4)


__ADS_3

POV Mahardika


Semua proses verifikasi kalung Lidya Dirgantara telah selesai, Henry segera kutarik mundur. Kulihat Henri mulai membereskan peralatannya. Pradipta terus memandangi Nara namun sudut mata yang lain tetap waspada pada kotak perhiasan yang sudah berisi dua kalung serupa tapi tak sama, tanpa disadari Pradipta.


“Nona Nara, semua sudah sesuai. Ini saya kembalikan kepada Pak Pradipta untuk diserahkan kepada nona Nara,” kata Henry sambil melepas sarung tangan, kemudian dimasukan ke dalam saku jasnya. Dia lalu mengambil dan melingkarkan kembali gelang-gelangnya dengan atraktif hingga  menimbulkan bunyi. Aku, Ardian, Nara,  dan Pradipta langsung memperhatikan gelang Henry yang terbuat dari platinum. Dan hanya Pradipta yang tidak menyadari bahwa gelang Henry berkurang satu.


“Baiklah, jadi sudah sesuai ya. Ini Nara, kalungnya aku berikan kepadamu. Pasti kalung ini akan sangat cantik di lehermu yang indah ini,” Pradipta tampak lega setelah memeriksa kalung itu masih utuh dan baik baik saja. Masih saja ngegombal ya buaya satu ini. Sambil menyerahkan kotak dalam keadaan terbuka kepada Nara, laki-laki itu terus menggoda Nara, menyebalkan sekali.  Sedangkan Nara yang tadi sempat terdiam langsung merubah mimiknya menirukan tokoh di drama korea yang kecentilan menerima hadiah dari sugar daddynya.


“Yeiiyyy, terimakasih,” kata Nara. Dia meraih kotak itu dan dengan terang terangan mengagumi kalung  Lidya Dirgantara KW milik M. Pandangan Nara dialihkan kearah Pradipta sambil menyondongkan badannya mendekat. Pradipta tampak sangat menyukai apa yang dilakukan Nara.


“Bolehkan kalau mas yang memasangkannya di leherku?” Nara memohon dengan suara manja yang menurutku kentara dibuat-buat. Namun laki-laki buaya itu menyukainya. Ini namanya Buaya dikadali cicak.  Aku tahu pasti,


Nara sebenarnya  risih melakukan ini, namun dari film-film yang dia tonton dan sempat didiskusikan denganku, gesture ini sering dilakukan oleh para sugar baby dan pelakor saat merayu dan mendapatkan hadiah kalung.


“Tentu saja, dengan senang hati. Kehormatan besar bagiku untuk menghiasi leher cantik ini, Nara,” yeahhh! Pastilah mau dan senang hati. Kesempatan ngebuaya, kan tidak mungkin dilewatkan. Mana mungkin buaya darat menolak cewek secantik Nara.  Dia  menyambut uluran kotak Nara, mengambil kalungnya, dan menimang ditangannya sejenak. Entah apa yang dipikirkannya.  Dia seperti meragu. Mungkin dia teringat pada kekasihnya, Juli yang menginginkan kalung itu. Karena itu jangan-jangan Pradipta  berniat membawanya lari.


Baiklah, kamu benar, Pradipta tidak mungkin melakukan itu dengan gegabah. Mataku menangkap siluet Nara yang gelisah melirik kearah kaca yang memantulkan bayangan Adrian dengan jelas. Nara memandang Pradipta yang sudah sangat dekat dan seperti akan memeluknya dari depan memasang kalung ke belakang leher Nara. Namun Nara bergerak cepat, berbalik menghadap Adrian membuat Pradipta segera menarik tangannya. Setelah menghadap ke Adrian,  Pradipta memasangkan kalung dan mengancingkannya dibelakang. Nara membuang kotak

__ADS_1


perhiasan tempat kalung Lidya Dirgantaratu kearah Adrian yang sedang menatap lurus kedepan. Babarapa kali Nara melirik Adrian yang seperti biasa memasang muka datar tanpa kata dan ekspresi. Bahkan ketika kotak itu jatuh dikakinya, dia diam. Aku masih melihat Nara merasa tidak nyaman dengan rencana ini.


“Oh ****!” teruakku.


“Kenapa boss?” tanya Henry


“Si buaya itu nyari kesempatan,” kataku. Kulihat Pradipta mau memeluk Nara. Hidungnya sudah berada dileher Nara sambil tersenyum mesum. Nara tampak kembali membeku. Dia berusaha  menetralkan diri dan nafasnya. Kalung telah terpasang dengan baik dileher Nara. Meskipun terlihat ragu, sepertinya dia ingin mendekap Nara. Ini tidak boleh terjadi. Pradipta tidak boleh memperlakukan Nara seperti wanita-wanita murahan  yang mencintai laki-laki demi segepok uang.


Nara juga menyadari itu. Dia segera membalik badan dan sedikit mengangguk, mengucapkan terimakasih. Dengan gugup yang sangat terlihat, Nara kembali duduk sambil memegangi kalung di lehernya. Pradipta dapat membaca bahasa tubuh Nara. Dia sangat menyadari jika Nara menghindari sentuhannya, namun bersikap pura-pura tidak tahu. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis dan duduk dengan tenang, seolah olah memang tidak terjadi apa apa.


“Indah sekali kalung ini mas,” kataku sambil mengelus kalung yang melingkar dileher.


akan mengabdikan dirinya sebagai istri yang baik dan mempertahankan rumah tangganya apapun yang terjadi. Bahkan meski itu mengorbankan dirinya sendiri.  Semua hal itu jika Nara tidak dapat mengendalikan diri, bisa menjadi alasan dirinya terjebak rayuan Pradipta.


Namun aku percaya, Nara atau Nada tetap memiliki tekat yang kuat. Dia tidak akan menjadi wanita murahan meskipun itu dengan suaminya sendiri. Meskipun melemparkan diripada suami bukan salah. Meskipun aku tahu, hati Nara berbunga-bunga saat mendapat rayuan dari Pradipta. Aku percaya jika Nara tidak akan mempermalukan  dirinya sendiri dengan melemparkan harga dirinya ke pangkuan Pradipta. Aku tahu pasti Nara sedang konsentrasi pada tugasnya,  menggagalkan pernikahan Pradipta dan Juli. Tetapi aku juga tahu bahwa Nara tidak sekuat Juli. Masih banyak hal yang membuat dia sulit menerima apa yang dilakukan Pradipta, meski Nara lebih bisa menghadapi Pradipta dari pada Nada.


“Henry, Adrian, sepertinya Nara kembali freeze,” kataku mengingatkan. Henry segera berdehem, seolah membersihkan tenggorokan sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada Pradipta. Gerakan dan suara ini sepertinya bisa membuat Nara tersadar.

__ADS_1


“Karena tugas saya sudah selesai, saya sebaiknya pamit,” kata Henry.


“Kamu tidak makan atau minum sesuatu?” kata Nara dengan cepat. Aku tahu, Nara tidak ingin ditinggal berduaan dengan Pradipta. Berbanding terbalik dengan Nara,  Pradipta langsung menampakan muka tidak senang. Buaya darat itu mencoba mengusir Henry dengan menangkap tangan Henry yang mengajaknya bersalaman.


“Tidak usah Nona Nara. Kebetulan saya ada janji makan siang setelah ini,” kata Henry.


“Wua, pasti  makan siang dengan kekasihmu ya, sampai tidak mau bergabung dengan kita,” kata Nara. Aku melihat dia melirik Pradipta. Pradipta yang menyadari lirikan Nara tampak memberikan respon dengan sedikit menggeleng,


memberi kode agar Nara tidak menahan Henry.  Sedangkan Henry menampakan muka malu-malu menyebalkan seolah olah tebakan Nara tepat.


“Woi, muka dikondisikan. Nggak pantas badan segede kamu pasang muka malu-malu. Kami jadi seperti banci perempatan digoda om-om,” teriakku yang hampir membuat Adrian kehilangan muka datarnya karena tertawa. Dia menahan senyumannya dengan pura-pura membungkuk mengambil kotak perhiasan yang berisi kalung Lidya


Dirgantara. Sekilas aku melihat muka Henry berubah sebal, namun dia mampu menahan diri mengembalikan senyumnya.


“Nara, biarkan Pak Henry pergi. Lihat, mukanya sudah merah, malu karena kau goda. Kita makan siang disini juga kan, siapa tahu bisa seperti Pak Henry dan teman makan siangnya,” kudengar Pradipta membujuk Nara sambil tersenyum.


“Hahaha, bapak bisa aja. Mari Pak, mari Nona, saya pamit,” kata Henry membungkuk dan melangkah keluar diikuti Adrian, yang terkikik. Sambil berjalan keluar, Adrian memasukan kotak kalung kedalam tas Adrian, diam-diam, saat dia pura pura tersandung meja menabrak Henry yang pura pura berusaha menahannya dengan tangan yang memegang tas. Setelah sampai diluar, Henry segera menuju mobilnya meninggalkan LC Tower menuju tempat penyimpanan rahasia milik organisasi bersama kalung Lidya Dirgantara yang asli.

__ADS_1


“Sial kalian. Puas ya mentertawakan,” teriak Henry sebelum sinyalnya menghilang. Adrian sendiri mengatur nafas dan mukanya di toilet sebelum kemudian kembali ke ruangan.


__ADS_2