Nada Nara

Nada Nara
Bab 89. Janjiku


__ADS_3

POV NARA


Kencanku bersama Pradipta dianggap berhasil oleh M dan timnya. Semua rencana yang mereka tetapkan bisa dijalankan berkat kencan kemarin. Menurut M dan timnya, Pradipta kali ini sudah jatuh cinta padaku, istrinya sendiri yang tidak dia kenali. Bahkan semalam diam diam aku mendengar M mengatakan bahwa Pradipta mulai mengalihkan perhatiannya padaku dari pada Juli. Hal ini menjadi berita yang membuat mereka senang. Menurut mereka, saat itu, sudah sangat mudah bagiku untuk mengendalikan Pradipta.  Meskipun M sendiri mengatakan bahwa ada faktor lain yang membuat Pradipta dan Juli tetap bersama. Faktor inilah  yang sampai sekarang belum kami  ketahui dan harus kami selidiki.  M  mengatakan bahwa kami perlu membuat penyelidikan khusus untuk hal ini.


Aku merasa M aneh saat ini.  Dia seperti lupa dengan tujuannya untuk mendapatkan Juli, seperti yang dikatakannya dulu.  Menurutku, ada hal lain yang aku tidak  mengerti, di kepala tiga laki-laki yang selama ini selalu menjagaku, M, Henry dan Adrian. Namun aku tiudak ingin bertanya. Aku percaya, mereka akan memberitahukan jika mereka piker aku perlu tahu.  Dalam dunia mereka semakin sedikit aku tahu, semakin baik, itulah yang pernah aku dengan  dari Adrian. Dan aku setuju. Aku hanya konsentrassi pada tugasku, sisanya, biar mereka yang berpikir. Toh selama ini, M cukup terbuka padaku dan aku tidak pernah merasa dirugikan untuk hal yang dia sembunyikan. Jika aku bertanya sesuatu, M akan mengatakan apa adanya. Sudah cukup besar pengorbanan yang M berikan untukku. Baik secara materi maupun waktu. Tidak seharusnya aku menuntut lebih darinya. M sudah memberikan sangat banyakpadaku. Bahkan sebenarnya, M tidak harus menampungku saat aku dating padanya setahun lalu. Tidak ada keharusan bagi M untuk membukakan pintu rumahnya bagiku. Tidak ada kewajiban M membiayai kehidupanku, mencukupi kebutuhanku apalagi sampai mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk merubah


penampilanku menjadi Nara yang sekarang ini. Aku bekerja seumur hidup pun aku tidak bisa membayar hutangku pada M.


Dan karena itu pulalah, aku tidak sanggup untuk mengecewakan M. Aku tidak sanggup melihat kekecewaannya saat tahu kalau aku tidak ingin melanjutkan project yang menurutku akan menyakiti banyak orang, termasuk suamiku dan  keluarganya. Aku tidak sanggup membayangkan resiko apa yang akan mereka terima. Aku tidak bisa menyakiti Pradipta dan keluarganya dan mungkin mama dan sahabatku.

__ADS_1


M terus berusaha membujukku mengatakan apa yang ada dipikiranku. Aku seperti terjepit diantara dua laki-laki ini. Aku begitu bingung memilih Tindakan yang pasti akan menyakiti salah satu dari mereka.  Aku memilih akulah yang terluka dibanding salah satu dari mereka yang terluka. Namun itupun bukan pilihan. Hal ini membuatku sesak nafas. Aku merasa oksigen di ruangan itu menipis.  Aku harus keluar dari ruangan ini.  Segera kulangkahkan


kakiku menuju teras, meninggalkan M yang sedang berbicara padaku. kepalaku terasa prnuh sampai-sampai aku tidak mendengar apa yang dikatakan M.   Aku tenggelam dalam pikiranku sampai M hadir didepanku dan membuatku mengatakan semua yang kurasakan.  Aku tahu aku tidak akan pernah berbohong padanya, dan berakhir dengan mengalirnyasemua cerita dan pelukan yang menenangkan dari M.


Badanku menegang saat bibir lembut M mendarat dipucuk kepalaku. Ada rasa mendesir yang aneh yang belum pernah kurasakan. Ini berbeda dengan desir yang muncul saat dikecup oleh  Pradipta. Tapi aku juga tidak bisa menerangkan aneh yang seperti apa. Aku bahkan tidak berani mengangkat mukaku. Warna mukaku yang terasa panaspun pasti sudah seperti tomat. Tiba tiba jantungku berdetak kencang saat sambil tetap memelukku, dia mengangkat daguku agar aku memandangnya. Dia menuntutku  untuk mengatakan semua yang kurassakan. Dan meski aku ragu serta takut mengecewakannya, kukatakan bahwa sebenarnya aku tidak ingin balas dendam. Keinginan itu sudah hilang dari hati dan pikiranku.


tetap harus menjawabnya kan?


“M, setelah aku pikir, aku ingin menjadi istrinya seperti dulu. Bagaimanapun juga aku kan masih istrinya. Aku akan mendapatkan kembali posisi sebegai menantu di keluarga itu. Aku akan mendapatkan lagi rumah kediaman Hermawan beserta istrinya sebagai Nada. Aku ingin menjadi nyonya di rumah itu, dan bukan Juli,” kataku dengan

__ADS_1


jiwa yang patah. Aku tahu aku telah menyakiti M. Dan dia hanya tertawa. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Entah mengapa dia justru malah tertawa. Tapi ditelingaku, tawa M adalah tawa kecewa.


“Telingaku pasti terganggu. Aku salah dengar ya?” kata nya menatapku dengan mata yang terluka menurutku. Namun aku juga tidak mau membohonginya. Karena itu adalah hal terakhir yang akan kulakukan pada M. Aku telah berjanji untuk selalu mengatakan apa adanya dan jujur.


“Aku ingin bersamanya lagi M. Bukan hanya untuk membalas dendam. Biarlah mereka mengambil semua harta itu, namun aku kembali menjadi Nada, istri Pradipta,” kataku.


“Aku tidak mengerti Nara. Kamu tahu kan kalau kamu sekarang bukan Nada. Kamu sekarang adalah Nara yang istimewa, cantik, hebat, pandai dan baik hati. Dengan kecantikanmu yang sekarang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau. Dengan semua kelebihanmu ini, kamu mau kembali pada mereka?  Dengan semua yang kamu miliki saat ini, kenapa harus kembali pada Laki laki bajingan itu?” M memandangku dengan pandangan tidak suka. Ya aku tahu, M tidak suka dengan kata-kataku.


“M, aku pernah memiliki sumpah dihadapan Tuhan. Sumpah menjadikannya sebagai satu-satunya pria yang akan menua bersamaku. Apalagi, jika aku kembali pada  suamiku, Juli akan sendirian. Kamu bisa bersamanya kembali. Dengan begitu kedua masalah selesai,” Aku berusaha keras membuat M mengerti alasan mengapa aku memiliki keraguan ini. Bagaimanapun aku bukan seorang pengkhianat yang bisa begitu saja mengingkari janji dihadapan Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2