
Siang ini, Pradipta sedang mengantarkan Juli untuk melakukan fitting baju pengantin. Laki-laki itu tampak sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk karena beberapa hari ini dia mendapat tugas lain dari Franco. Meskipun sebenarnya Pradipta malas datang ke butik yang sangat terkenal ini, namun dia sudah berjanji untuk mengantarkan tunangannya. Jadi sambil menunggu Juli berganti baju, Pradipta memilih untuk berkutat dengan Ipad dan pekerjaannya. Namun disela sela kesibukannya, beberapa kali Pradipta membuka satu folder tersembunyi, yang berisikan foto foto Nara. Perempuan yang akhir-akhir ini menyita pikiran dan hatinya. Perempuan yang entah kenapa, bisa membuat dirinya seperti “pulang ke rumah”. Perempuan tercantik yang pernah dia lihat, namun bisa membuat seorang Pradipta mampu menahan diri untuk tidak menyerang dengan nafsu. Ada sesuatu di Nara yang membuat Pradipta sadar diri untuk tidak meniduri Nara tanpa ijin gadis itu. Seorng pradipta yang selalu membawa wanita keranjang meski baru beberapa jam berkenalan, sepertinya harus menahan diri menghadapi Nara.
“Bos, Gaun pengantinya sudah selesai dan Nona Juli sudah siap,” kata seorang gadis yang memakai seragam butik, mengejutkan Pradipta yang sedang serius memandangi foto Nara. Pradipta langsung menutup folder rahasinya dan mengalihkan pandangannya ke ruang sebelah. Saat itu muncul Juli yang mengenakan gaun pengantin mewah berwarna putih dengan ekor yang sangat panjang dan hiasan mutiara di beberapa tempat.
“Bagaimana?” ucap Juli sambil tersenyum puas, menunjukan gaun pilihannya yang terkesan sangat mewah. Bagaikan gaun putri kerajaan .
__ADS_1
“Wow, luar biasa. Kau sangat cantik...”kata Pradipta, memuji tunangannya.
“Gaunnya sangat indah. Pasti kamu yang memilihnya. Apakah ini gaun yang kamu bilang, kamu ikut mendesainnya sayang,” kata Pradipta tampak antusias. Padahal sebenarnya, Pradipta tidak terlalu peduli apa yang dikenakan Juli nanti dihari pernikahan mereka. Namun rupanya seorang playboy sekelas Pradipta sangat tahu apa yang diinginkan wanita. Terdengar antusias dengan rencana pernikahandan memuji kecantikannya akan menyenangkan sang tunangan sekaligus mempercepat urusannya disini. Pradipta menghindari perdebatan yang tidak perlu dengan wanitanya. Julipun tampaknya cukup senang dan puas dengan komentar Pradipta.
Juli sendiri.
__ADS_1
“Aku suka sayang. Kamu cantik dengan gaun itu,” jawab Pradipta sambil menyesap kopi yang disediakan untuknya. Juli puas dengan jawaban Pradipta. Baginya, persiapan pernikahan ini cukup melelahkan. Semua diurus sendiri oleh Juli. Sebenarnya keluarga Pradipta mau saja membantunya, namun bagi Juli, selera calon mertua dan adik-adiknya itu sangat buruk. Juli tidak mau pernikahannya nanti menjadi bulan-bulanan media karena salah pilih.
“Oke, kalau kamu sudah setuju. Tinggal penyelesaian beberapa bagian yang tadi saya bilang ya mbak,” kata Juli pada karyawan butik yang ada disampingnya, sibuk mencatat sesuatu.
“Oh ya hon, bagaimana dengan jas dan celana kamu? Sudah ok?” tanya Juli pada Pradipta yang diacungi jempol. Pradipta yakin semua akan ok, karena toh baju-bajunya juga banyak dibuat oleh butik ini. Setelah puas dengan hasil Fitting, Juli segera ganti baju dan bersiap untuk pergi makan malam bersama keluarga Pradipta.
__ADS_1