Nada Nara

Nada Nara
BAB 87 Plin Plan


__ADS_3

POV NARA


Rencana pelaksanaan Nada's Project sudah melaju dengan cepat menuju sasaran. Ibarat anak panah, busur sudah dipentang, anak panah bahkan sudah dilepasn. Tidak ada lagi yang bisa menahan lajunya anak panah. Dan aku adalah bagian dari anak panah itu, suka ataupun tidak. Aku harus terus melangkah dan tidak boleh ragu. Salah satu hal yang membuatku memikirkan langkah-langkahku selanjutnya adalah Juli. Aku pernah beberapa kali dipaksa berhadapan dengan wanita cantik itu, dan kalah. Aku ragu apakah aku bisa menghadapi perempuan yang menurutku licik itu, jika dia sampai mengetahui rencana ini dan menyerangku.  Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana dia mempengaruhi netizen dengan pura pura jatuh dan teraniaya. Aku juga mengingat trauma terbesar Nada karena Juli. Wanita itu membuat rencana  kematianku, yang membuat salah satu sahabat terbaikku menjadi korban. Hatiku menjadi gamang karena ketakutan.


Namun M menenangkanku. Dia tahu bahwa Juli pasti akan bereaksi ketika Pradipta dan beberapa keuntungan yang dimilikinya terancam direbut olehku. Menurut M, Juli adalah tipe wanita   yang akan berjuang dan mempertahankan sesuatu yang dia inginkan. Tapi M berjanji akan selalu melindungiku. Dia memintaku untuk tidak memikirkan masalah Juli dan Pradipta.  M memintaku fokus untuk membuat Pradipta jatuh cinta tanpa aku harus menggodanya dengan murahan. Aku tetap harus memposisikan Pradipta sebagai pengejar dan nantinya akan disalahkan saat affair kami terbongkar. Cukup sulit bagiku. Jangankan menjebak cinta Pradipta, bahkan membuat suamiku sendiri jatuh cinta dan menjauhi pelakor itu, aku tidak yakin sanggup. Aku tidak punya kepercayaan diri sebesar itu.


Ya, Aku masih ragu. Bukan pada kemampuan M dan timnya dalam menjalankan Nada’s Project dan mengatasi

__ADS_1


segala masalahnya. Aku tahu kalau M dan tim nya telah menyusun rencana  yang harus dilakukan menghadapi gelombang media yang akan kami ciptakan dan serangan Juli. Meskipun aku tahu M saat ini belum bisa muncul dihadapan Juli, namun aku tahu dia akan selalu menjagaku dari jauh bersama Henry. Aku sendiri cukup tenang dengan adanya Adrian disisiku.  Laki-laki itu sangat mumpuni menjalankan tugasnya.


Tetapi aku ragu apakah aku mampu menjalani peranku tanpa jatuh terlebih dahulu. Sanggupkah aku bersandiwara didepan suami dan keluarganya. Sanggupkan aku pura-pura tidak mengenal mama dan sahabatku. Sanggupkah aku mengatasi ketakutan dan kerendahan diri menghadapi Juli yang sudah berkali kali menjatuhkanku. Sanggupkan aku meyakinkan M bahwa Julilah yang berbahaya. Aku sendiri tidak yakin akan rela jika laki-laki baik itu akan kembali ke Juli yang licik, sering memanfaatkan dan menyakitinya,berhubungan terang terangan dengan laki-laki lain. Aku tidak ingin M disakiti lagi dan lagi. Aku merasa M berhak mendapatkan wanita yang setia, lembut,


merawat M dengan baik dan tentu saja berhati emas seperti M. Dan aku tahu itu bukan Juli. Sayangnya M sangat memuja Juli. Dia bahkan tidak percaya kalau wanita itu ada dibalik rencana pembunuhanku. M menyalahkan Pradipta, yang menurutku tidak mungkin merencanakan hal sejahat itu tanpa pengaruh wanita licik, Juli.


“Akhirnya kita berhasil...” kata M dengan tenang. Dengan rautnya saat ini, aku tahu jawaban dari pertanyaanku tadi adalah, ya aku berhasil menjalankan peranku. Hasil yang diharapkan M tercapai. Namun itu berarti rencana menjatuhkan Pradipta dan Juli dimulai. Entahlah, hatiku sepertinya tidak rela jika kami melakukan ini. Rasanya tidak tepat jika kami meraih tujuan kami dengan menjatuhkan orang, terutama laki-laki yang kujadikan pendamping hidupku di hadapan Tuhan. Walau bagaimanapun juga, dia adalah suamiku. Aku telah berjanji pada Papa untuk

__ADS_1


berbahagia dengan Pradipta. Pernikahan kami suci dan bukan permainan. Jadi rasanya tidak tepat dan tidak baik jika aku menjatuhkannya. Jika aku menyakitinya seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa menyakiti Pradipta, apapun kata M, telah dia lakukan untuk menyakitiku. Aku juga tahu M menyadari pemikiranku dan tidak menyukainya.


“Kenapa” tanya M dengan suara rendah. Itulah gaya M jika dia tidak menyukai sesuatu. Aku juga tahu kalau aku salah. Aku tahu M sudah sangat berkorban baik materi maupun waktu untukku meraih kembali kedudukanku di rumah Hermawan. Aku tahu semua sudah dibuat dan direncanakan untukku. Akupun sadar betapa kecewanya M melihat keraguan dan ketidak sungguhanku. Namun bukan itu yang aku maksud. Aku juga tidak mau berada diantara Pradipta dan M seperti ini. Aku sayang keduanya dan tidak ingin menyakiti salah satunya. Aku harus menenangkan diri. Dadaku terasa sesak diruangan ini. Mungkin mencari udara segar di teras bisa membuatku


bernafas lebih lega. Aku bangkit tanpa mengatakan apapun pada M. Aku belum bisa menjawab pertanyaannya, dan aku belum mampu melihat wajah kecewa itu saat ini.


“Hei, mau kemana? Kamu kenapa Nara?” tanya M seperti ingin menahanku.

__ADS_1


“Tidak kenapa-napa. Aku hanya ingin mencari angin”jawabku tanpa ingin memandangnya. Aku benar-benar tidak bisa memandang wajah tampan itu kecewa karenaku. Aku terus melangkahkan kakiku ke beranda. Pikiranku terus melayang tak berarah. Aku benar-benar bingung saat ini. Seperti memakan buah simalakama.  Arghhh! Kenapa aku jadi plin plan seperti ini! Teriakku didalam kepala.


__ADS_2