
POV NARA – Flash Back
“Kenapa Kamu melakukannya? kenapa kau menolongku?”tanyaku sambil menatap langsung kedalam matanya.
“Pasti Juli alasannya. Itu baru masuk akal. Kenapa? Apakah dia menyakitimu? “ tanyaku lagi dengan masih penasaran.
“Hayo ngaku!” kataku memasang muka serius. Dia menghela nafas panjang. Wuah! Sepertinya dia terpancing untuk mengatakan yang sebenarnya. Ini kesempatanku untuk mengetahui rahasia laki-laki yang bisa membuatku merasa nyaman ini. Selama ini, dia tahu semua tentang diriku tapi sebaliknya, aku benar-benar buta tentang dirinya.
“Juli dirampas dariku!” katanya pelan. Ups! Maaf. Aku sepertinya kembali membuka luka yang dalam dihatinya. Aku tidak bermaksud membuka sakit yang ada dihati M. Sungguh, aku menyesal jika akhir dari semua kekepoanku ini,
membuat M terluka. Aku menyayanginya. Ups, maksudku, aku menyayanginya sebagai sahabat yang berhutang budi padanya. Jangan salah sangka. Aku ragu melanjutkan pembicaraan yang cenderung membuka luka lamanya, tapi aku juga ingin tahu karena saat ini dia mau membuka cerita. Dan ini adalah kesempatanku untuk tahu tentang dia. Argh! Aku benar-benar bingung sekarang.
Mahardika bukan orang yang mudah dipancing. Dia terlalu cerdas untuk bisa dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan biasa. Kesempatan seperti sekarang ini, tidak akan mudah aku dapatkan kembali nantinya. Tapi jika kuteruskan, sepertinya akan melukai hati M. Aku bimbang. Ya sudahlah, kapan lagi bisa membuat M curhat. Jangan aku terus yang curhat ke dia.
“Maksudnya? Memangnya Juli milikmu? Kekasihmu?” tanyaku pelan-pelan, mencoba menyelami pikiran M. Tidak mudah untuk mendalami isi kepala M apalagi isi hatinya. Aku sangat tahu, laki-laki ini sangat pandai memanipulasi pikiran dan mata orang lain. Seringkali orang hanya tahu dan melihat apa yang M inginkan. Dia lah yang menentukan bagaimana orang melihat diri M. Tanpa ijinnya, tidak ada yang bisa tahu apa yang sesungguhnya. Saat ini aku memiliki kesempatan untuk melongok isi rumah M dari jendela yang terbuka, apakah akan aku sia siakan?
__ADS_1
“Ya begitulah. Seperti kamu tahu aku bertemu Juli saat berusia 10 tahun dan dia, 8 tahun. Dia yang bersama papa saat menemukanku dijalan. Dia yang mengajakku duduk di mobil dan memegang tanganku saat itu. Meski tanpa mengatakan apapun. Sejak itulah aku berjanji akan selalu menjaganya. Aku jatuh cinta padanya. Dialah cinta pertamaku. Bahkan aku mengatakan perasaanku pada Juli saat SMA. Tidak ada yang tahu, Agusta sekaipun. Hanya aku dan Juli yang tahu. Kami bersama sampai kuliah,” katanya menerawang. Wua, aku seperti mendapatkan jackpot melihat M yang terbuka seperti ini. Meskipun aku tahu, ini bukan cerita lengkapnya. Masih banyak cerita dibalik ini semua, yang mungkin tidak bisa aku tahu.
“Dan Agusta tidak tahu?” tanyaku. Dia mengangguk dan meneruskan dengan kalimat yang sedikit mengawang.
“Sejak awal, Juli memang selalu manja padaku. Jika ada yang menggoda, dia selalu berlindung dibelakangku . Dia selalu bilang kalau mereka tidak boleh mengganggunya, karena dia milikku. Namun saat kami bersama, Juli selalu mengatakan bahwa tidak boleh ada yang tahu hubungan kami dan dia tidak mau dikekang. Dia merasa masih
terlalu muda untuk hanya terpaku padaku,” katanya. Terus terang, aku sedikit ragu dengan kepintaran M. Bukan aku tidak mengakui kecerdasan laki-laki ini ya. Aku mengakui bahwa dia sangan cerdas, taktikal dan memiliki kemampuan disegala hal. Baru sekarang aku tahu kelemahannya. Menghadapi Juli. Instingku langsung menyala,
mengatakan bahwa M sejak awal dimanipulasi oleh perasaannya kepada Juli. Julipun menyadari itu dan memanfaatkannya.
Juli dalam mengahadpi laki-laki. Aku benar benar bukan tandingannya. Bahkan kemampuanku bagaikan setetes air di empang kong Ali.
“Aku tidak mengerti M. Ada yang nggak nyambung menurutku,” kataku mencoba mengeluarkan pendapatku tanpa menyinggung perasaan M. Aku benar-benar takut M terluka saat tahu cintanya yang begitu besar sia sia d\itangan Juli. Aku mencoba berpikir bagaimana menyadarkan M bahwa Juli tidak pantas dia pertahankan seperti ini. Ada banyak wanita yang lebih baik dan lebih pantas untuk laki-laki sehebat dan sebaik M. Aku tidak rela jika akhirnya M
berakir dengan Juli dan menjadi kekasih palsu seperti ini. Tapi kalau M sadar, apakah dia masih mau membantuku mendapatkan Pradipta? Jangan-jangan dia akan menghentikan Nada’s Project dan melepaskanku. Jangan jangan dia akan
__ADS_1
meninggalkanku begitu saja. Aku belum siap kehilangan M. Huft, sepertinya aku lebih baik menyerah.
“Ah sudahlah! Intinya, Nada’s Project tetap harus berjalan dan pernikahan suamimu dan Juli tak boleh terjadi,” katanya, menyuarakan suara hatiku. Aku sedikit lega karena kami satu pemikiran kali ini. Jadi aku langsung menyetujui kata-katanya semalam, tanpa berpikir panjang. Bagaimanapun juga itulah tujuan awal kami berjalan bersama. Itulah tujuan dia menghabiskan banyak waktu, uang dan tenaga. Itulah tujuan project yang membuatku mengalami banyak rasa sakit dan kesulitan.
“Pada dasar kita punya tujuan yang sama. Kau mau menghentikan pernikahan itu,kan? Mari kita fokus pada rencana itu,” jawabku sambil mengajaknya ber high five, yang disambut M dengan menepukan tangannya pada tanganku. Dia menarik nafas dan menghembuskan lalu menatapku aneh. Jangan-jangan M menganggapku sok muda dan aneh karena mengajaknya high Five tadi ya? Hehehe maaf, aku terlalu terbawa semangat menyelesaikan project yang membuatku menderita ini.
M tampak kikuk dan aneh. Mukanya tampak memerah. Eh, jangan jangan dia sakit? Kenapa mukanya memerah ya? Belum sempat kubertanya, M mengajakku untuk mengakhiri pembicaraan malam itu dan beristirahat.
“Baiklah Nara, lebih baik kita istirahat. Kamu bisa melanjutkan membaca besok lagi. Hari ini cukup menguras Tenaga dan emosi kan,” katanya sambil merapikan buku-buku yang tadi kubaca ditempat tidur. Aku rasa M benar, ini sudah tengah malam. Besok masih ada banyak hal yang harus kami selesaikan. Karena semua sudah dirapikan M
dan aku memang sudah nyaman ditempat tidurku sejak tadi, aku hanya menurunkan dan menyamankan badanku di tempat tidur. Namun kemudian aku dibuat M terpaku denganperlakuan manisnya. Dia memperbaiki selimutku, lalu mengecup keningku dengan ringan. Jantungku berdegup kencang saat menyadari apa yang dilakukannya. Tubuhku terasa seperti dialiri listrik. Badanku seperti meolak bergerak membuatku tampak bodoh. Kami berdua terdiam untuk beberapa saat sampai dia menyadarkan kami dengan deheman nya membersihkan tenggorokan .
“Ehem, baiklah, aku ke kamar ya Nara,” katanya sambil menyalakan lampu tidur, mematikan lampu kamar dan keluar kamarku. Dia tampak kikuk. Wajahnya makin merah lagi. Aku kemudian bangun dan terduduk mengingat apa yang baru saja terjadi. Tanpa sadar aku meraba kening yang tadi dikecup oleh M. Aku sendiri masih belum yakin dengan apa yang baru saja aku alami. Mukaku terasa panas. Jantungku berdegup kencang. Perutku seperti dipenuhi oleh benda bergerak yang menyenangkan. Apa yang terjadi padaku? Perasaan apa ini? Perasaan ini sangat asing bagiku. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Kepalaku mulai terasa penuh.
Sepertinya aku mulai aneh. Aku harus segera tidur atau pikiranku akan lebih aneh lagi.
__ADS_1
Flash Back Off