Nada Nara

Nada Nara
Keluar dari Rumah


__ADS_3

POV NARA


Aku dan M sejak awal sepakat bahwa Nada’s project bertujuan untuk menggagalkan pernikahan Pradiprta dan Juli. Namun tujuan bagi masing masing dari kami berbeda. Bagiku, project ini adalah untuk pulang ke kediaman Hermawan, disisi Pradipta. Sementara aku sendiri mulai ragu tentang tujuan Pradipta. Sepertinya, Pradipta tidak lagi fokus pada cinta pertamanya yang direbut Pradipta. Walaupun menurutku, Juli lah yang mendekati, merayu dan merebut Pradipta dariku. M sendiri memang masih menyalahkan Pradipta dan bukan Juli. Saat ini sepertinya M benar-benar tidak suka jika aku kembali pada Pradipta. Namun dia masih mendukung Nada’s Project. Dia bilang dengan segala kelebihan dan kecantikanku saat ini, seharusnya aku melupakan Pradipta dan mencari laki-laki lain. Menurut M aku bodoh jika kembali menjadi istri Pradipta dan kembali kerumah, bersama keluarga yang sudah menyiksaku bertahun-tahun.


Tapi apa yang bisa kulakukan. Aku terikat sumpah dihadapan Tuhan untuk selalu berada disamping Pradipta, dalam suka maupun duka. Aku sudah berjanji pada Papa untuk menjalani apapun resiko yang harus aku hadapi, saat menikah dengan Pradipta. Lalu setelah aku menjadi cantik dan dikejar banyak laki-laki, haruskah aku menjadi wanita pengkhianatan yang melanggar sumpah dan janjiku?  Sumpah menjadikannya sebagai satu-satunya pria


yang akan menua bersamaku.


“Apalagi, jika aku kembali pada  suamiku, Juli akan sendirian. Kamu bisa bersamanya kembali. Dengan begitu kedua masalah selesai,” jawabku sambil memandangnya. Ya aku tahu dia sangat kecewa dengan keputusanku.

__ADS_1


Dia marah padaku. Namun aku tidak mau dia nantinya menyesal karena meninggaklan tujuan utamanya, mengejar kekasih yang juga cinta pertamanya. Meskipun entah kenapa, ada rasa tidak senang saat aku membayangkan M bersama Juli. Bahkan saat ini, membayangkan Pradipta dan Juli bersama, tidaklah sesakit dahulu. Aku hanya


kecewa dengan segala kejadian yang menghancurkan hidupku. Aku benar benar merasa bersalah dan menunggu keputusan mundur justru datang dari M. Namun belum sempat M menjawab, smartphonennya berbunyi. Dia membuka pesan yang masuk. Sekilas aku melihat pesan itu dari Agusta, sang adik yang juga salah satu dokter ku.


Setelah membaca pesan itu, M terlihat panik. Dia segera menuju kamarnya, sambil memintaku berkemas untuk segera pergi dari rumah ini. Dia ingin kami pergi saat itu juga. Dia bilang waktu kami hanya satu jam untuk berkemas. Setelah beberapa saat, M keluar dari kamarnya dengan tas ransel besar dan satu tas ransel berisi


laptop. Aku yang masih tidak mengerti hanya terdiam didepan meja makan. Kulihat langit gelap diluar sana. Melihat M dengan barang barangnya, kembali aku bertanya.


“Kita harus pergi dari sini segera karena yang punya rumah akan datang,” kata M dengan cepat. Hah? Yang punya rumah? Jadi ini bukan rumah M? Aku jadi bingung sendiri menyadari kalau M memang penuh rahasia. Aku merasa makin asing. Aku jadi terdiam sesaat. M yang tidak sabar, langsung memaksaku untuk membereskan barang

__ADS_1


yang harus kami bawa pindahan. Sebenarnya akupun tidak memiliki barang yang harus dibawa untuk pindahan. Makanya aku tidak butuh waktu lama untuk membereskan barang-barangku. Apalagi kali ini dibantu M. Masalahnya adalah barang barang kami harus ditenteng mengingat mobil dan motor sedang dibawa ke markas. Sehingga barang kami pun tak bisa banyak. M mengatakan hanya barang yang benar-benar perlu, yang bisa kami bawa.


Setelah beberapa saat berjalan menelusuri jalanan, kami memutuskan duduk di trotoar. Saat itu ada sebuah motor yang berhenti didepanku. Kulihat seorang pemuda membuka helmnya dan tersenyum. Aku memandang heran pada laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal. Aneh sekali orang ini. Kenal pun tidak, kenapa dia menawarkan untuk mengantarku pulang. Aku mengerutkan dahi dan bersiap menghadapi laki-laki  tang masih nangkring diatas motor. Kupasang muka datar dan acuh, tidak menjawab sapaannya. Untuk apa aku jawab. Kenalpun tidak. Setelah seserapa kali bertanya dan tidak mendapat jawaban apapun dariku, laki-laki bermotor itu kembali memasang helmnya dan pergi.


Aku yang sedari tadi pura pura tidak peduli pada M melirik kearah M yang sedang duduk di ujung jembatan sambil memainkan smartphone nya. Sepertinya dia juga tidak peduli padaku. Dia juga tidak berusaha mencari taksi ataupun memanggil Adrian dan Henry. Memang sih, Henry dan Adrian sedang menjalani misi penting seharian


ini, sehingga bahkan seorang M pun tidak ingin mengganggu mereka.Tapi kan seharusnya M mencari taksi untuk kami segera mencari hotel dimana kami akan menginap. Tidak mungkin kan malam ini kami akan tidur di trotoar. Dari tadi Aku ingin bertanya namun gengsi. Tapi jika  terlalu lama seperti ini, akupun terlalu lelah. Sepertinya aku harus membuang gengsi dan bicara.


 Tepat saat mulutku ingin bicara, sebuah mobil yang cukup keren berhenti didepanku. Dia membuka jendela penumpang yang ada didepanku. Mereka memanggilku seolah-olah aku wanita yang menjual diri. Benar-benar

__ADS_1


menyebalkan dan memalukan. Namun aku berusaha menahan diri dan memasang muka datar seolah mereka tidak ada. Akhirnya karena bosan mobil itu pun berlalu. Namun belum sempat aku berbalik, ada mobil lain yang kembali berhenti. Kembali aku memasang muka datar tak peduli, kejadian ini berulang beberapa kali dengan respon pengemudi yang berbeda-beda. Namun aku tetap tidak peduli. Sampai suara M terdengar.


__ADS_2