
Ibu Pradipta sangat memuja Juli yang sebentar lagi akan menjadi menantunya. Bersama dengan Prita dan Pipit, mereka memuji dan memuja Juli lalu membandingkan dengan Nada. Mereka bertiga membandingkan Juli dan Nada bagai bumi dan langit. Bagi mereka Nada adalah wanita yang memalukan keluarga. Pak Henky yang mendengar istri dan anaknya mencela menantu kesayangannya, Nada, menjadi marah.
“Kenapa kau menghina menantu perempuan malang kita yang sudah meninggal?” tanya Pak Henky engan marah.
“Itu bukan menghina, aku hanya mengatakan yang sebenarnya sayang” jawab Istrinya.
“Jika pun itu memang kebenaran, simpanlah yang buruk-buruknya. Bicara lah dengan baik,” kata pak Henky.
“Apa? Bagian Nada yang mana, yang baik ayah,” tanya istrinya.
“Banyak kan.Nada pandai memainkan piano,” kata Pak henky hati-hati.
“Ya Nada memang jago main piano,” kata Pipit. “Tapi karena badannya yang super gajah itu, dia sulit melakukan penampilan.” Kata Pipit. Pipit mengatakan bahwa meski sangat pandai bermain piano, orang tidak ingin melihatnya bermain. Menurutnya,tidak ada yang mau melihat wanita sebesar gajah duduk di depan piano. Ketiga wanita yang sedang asyik menggibah itu tertawa terbahak bahak mengingat kejadian saat Nada memainkan piano beberapa
waktu lalu untuk pertunjukan amal. Entah apa yang terjadi, tiba tiba kursi yang didudukinya patah dengan suara gedubrak yang sangat keras. Meskipun begitu, Nada tidak berhenti bermain. Dia meneruskan permainannya setelah jeda sejenak untuk bangkit dari puing kursinya.
__ADS_1
“Aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tertawa terbahak-bahak saat itu. Kukira aku akan mati tertawa. Kalau aku jadi dia, aku akan berhenti bermain dan pulang kerumah. Itu sangat memalukan. Dan dia masih terus bertahan untuk bermain piano lho,” kata Pipit
“Hei, kalian ini benar-benar jahat ya. Dia berusaha agar lagunya tidak hancur, kenapa kalian menertawakan rasa tanggung awabnya?” ayah Pradipa membela Nada dengan kesal. Baginya, apa yang dilakukan istri dan kedua anak perempuan itu sangat jahat. Semua terdiam mendengar suara keras pak Henky. Ibu Henky dan keduanya tahu benar jika pak Henky marah, semua akan memalukan. Jadi lebih baik mereka diam tidak menjawab. Saat Pak Henky akan melanjutkan omelannya, terdengar suara Pradipta dan juli memberikan salamnya. Kedatangan calon menantu dan anak laki-lakinya, membuat Pak Hen ky tersadar, berusaha menahan marahnya.
“Selamat malam Bapak dan ibu Henky,” sapa Juli sambil menyalami calon mertuanya yang tampak sedang bersi tegang
“Malam Juli, jangan terlalu formal. Panggil saja Ibu. Sebentar lagi kan kami juga akan menjadi orang tuamu,” kata Ibu Henky dengan manis.
“Malam Juli,” kata Pak Henky dengan wajah datar.
“Malam Ayah, ibu. Maaf kami terlambat,” kata Pradipta memberi salam.
“Ah nggak papa. Kalian kan sedang sibuk mempersiapkan pernikahan kalian, Ayo duduklah!” kata bu Henky memotong reaksi Pak Henky.
“Hai Pipit, Prita, kalian makin cantik saja,” kata Juli menghampiri kedua adik Pradipta yang kebetulan teman sekolahnya dulu. Mereka juga yang mengenalkannya pada Pradipta. Juli memeluk dua bersaudara itu bergantian. Mereka bertiga langsung heboh membicarakan fashion dan tetekbengek lainnya, melupakan Pradipta.
__ADS_1
Pradipta sendiri akhirnya memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di kursi yang masih kosong dan mulai menyatap makanannya. Bu Henky yang berusaha akrab dengan Juli, mengambilkan makanan untuk menantu yang dia banggakan itu, lalu meletakkannya dihadapan Juli. Saat mendengar piring diletakan di hadapannya, Juli langsung memandang kearah bu Henky dan makanan di hadapannya.
“Makanlah. Baru kita lanjutkan pembicaraan kita,” kata bu Henky. Juli hanya mengangguk mengiyakan dan kembali
sibuk denga Prita dan Pipit.
“Juli tidak mengambilkan makanan untukmu Dipta?” tanya Pak Henky dengan sinis. “Dulu saat Nada masih ada, semua keperluanmu dia siapkan, termasuk mengambilkan makanan.”
“Ayah apaan sih. Nanti Julinya tersinggung lho. Ya kan beda, wanita karier sedangkan Nada wanita bodoh dengan penampilan seperti gajah. Juli tidak sempat menyiapkan kebutuhan Pradipta. Lagian masalah diambilkan makanan saja kenapa jadi ribut,” kata bu Henky. Sementara itu Pradipta hanya diam tercenung. Dipandanginya Juli yang
sama sekali tidak peduli pada kata-kata ayahnya. Juli bahkan tidak merespon makanan yang diambilkan ibunya. Lalu ingatannya melayang ke Nada, istrinya. Pradipta bergidik ngeri saat mengingat Nada dan bagaimana dia menghancurkan perempuan itu. Laki-laki itu menggelengkan kepala berusaha mengusir pikiran tentang istrinya yang sudah meninggal. Lalu ingatannya mengembara, mengingat Nara. Bibirnya mengulas sedikit senyum. Wanita cantik yang sudah membuatnya goyah akan rencana pernikahannya sendiri. Wanita yang dengan lembut melayaninya saat mereka kencan. Wanita cantik dengan karir cemerlang namun masih melayaninya, berbeda dengan Juli. Pradipta makin menyadari bahwa Juli dan Nara sangat berbeda. Kini Pradipta makin yakin pada
hatinya yang memilih Nara.
“Jangan senyum-senyum sendiri. Ayah tahu, kamu pasti sedang memikirkan Nada. Kamu merindukannya kan. Ayah juga,” kata Pak Henky menambak putranya yang dari tadi senyum senyum sendiri tanpa peduli pada calon istrinya. Kata kata Pak Henky kontan membuat Bu Henky cemberut, mencubit pak Henky.
__ADS_1
“”Auw!”
“Lagi? Kamu ya, sama sekali tidak menjaga perasaan calon mantumu pak. Ya sudah, yuk semua kita makan, nanti keburu dingin, tidak enak,” kata Bu henky memutus percakapan kedua anaknya dan calon menantunya. Merkapun akirnya makan malam dengan diam.