
Hai, Sebelum melanjutkan aku ingin menyapa kalian semua.
Terimakasih sudah membaca karyaku kali ini. Karya ini aku buat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis, Wanita mengubah takdir nya. Jika kalian menyukainya, tiling tinggalkan jejak dan komen buatku. Jika kalian menikmati membaca karyaku, perkenalkan pada teman-temanmu agar mereka juga bisa menikmatinya juga.
Untuk beberapa episode kedepan aku akan banyak membahas proses yang harus Nara jalani dengan penuh rasa sakit dan kebosanan. Siapa tahu hal ini juga bisa menjadi pengetahuan kita semua.
Cantik itu bukan hanya dari apa yang tampak mata, tapi juga apa yang tampak oleh hati. Bagi kalian yang sering dibuli karena fisik kalian, semangat yuk. Jangan pernah kalah karena apa kata orang.
Buat yang suka menilai orang baik becanda maupun serius, sengaja atau tidak, jangan lanjutkan ya, karena itu menyakitkan
Banyak cinta buat kalian. Selamat membaca
SK Sari
**
Flasback On**
POV NADA
Kemarin, setelah berbicara panjang lebar dengan Mahardika, kami masuk ke kamar masing-masing. Mahardika memberikan sebuah kamar dengan nuansa light green apel yang segar dan tenang. Didalamnya terdapat satu queen bed dan lemari yang senada dengan tempat tidur. Di kamar ini juga ada sebuah televise 30 inchi yang tertempel di dinding, dengan satu meja tulis dan kursinya. Dilantai digelar sebuah karpet bulu berwarna hijau lembut yang menenangkan. Sangat menyenangkan menurutku. Aku merasa nyaman berada dikamar ini. Paling tidak aku harus menyukai tempat tinggal baruku sekarang. Apapun yang diberikan Mahardika saat ini, sangat lebih dari cukup dibanding kemungkinan terlunta-lunta dijalanan, dikejar oleh pria-pria kekar yang mengerikan itu. Ini akan menjadi tempat persembunyianku entah sampai kapan. Aku bertekad akan betah disini dan tidak akan membuat Mahardika kecewa.
Pagi yang cerah menyambutku pagi ini. Aku bersyukur, setelah tenang semalam, aku bisa tidur nyenyak. Tidur yang nikmat setelah beberapa hari nyaris tidak tidur. Kulihat jam didinding menunjukan angka pukul 8 pagi. Bergegas kurapikan diri dan keluar kamar. Aku segera menuju kamar mandi yang ada diujung lorong. Kudengar suara musik klasik dari kamar Mahardika. Entah belum tidur atau sudah bangun, tapi aku yakin disana Mahardika sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sekilas aku mendengar suara klik mouse dan keyboard. Baiklah, aku harus segera mandi dan mungkin bisa menyiapkan sekedar sarapan. Aku berjanji untuk tidak menjadi benalu di rumah ini. Meskipun Mahardika tidak mengijinkanku keluar sama sekali dari rumah ini, namun bukan berarti aku hanya berpangku tangan. Sebagai ungkapan terimakasih dan pelarian dari rasa bosan yang pasti akan kurasakan, aku akan mengurus rumah ini dan Mahardika.
Selesai mandi dengan pakaianku semalam, kaos dan kain sarung, aku pergi ke dapur yang menyambung dengan ruang makan. Ternyata Mahardika sudah ada disana. Disodorkannya segelasteh dan roti beserta kelengkapannya.
__ADS_1
“Selamat pagi Mahardika,” kataku dengan senyum. “Apakah mau Aku buatkan sarapan?”
“Pagi Nada, tidak perlu. Duduklah. Aku belum belanja hari ini. Sebentar lagi aku akan keluar untuk berbelanja baju dan keperluanmu, serta bahan makanan. Sepertinya persediaan bahan makanan di lemari es sudah hampir habis. Bisa kau buat daftar keperluanmu setelah sarapan?” kata Mahardika.
“Tapi aku bisa membuatkan kamu sesuatu untuk sarapan kalau mau,” kataku tanpa menanggapi ucapannya.
“Tsk, kamu dengar apa yang aku katakan. Aku sudah membuatkanmu teh tadi, aku tidak tahu kamu biasa
sarapan dengan apa. Aku terbiasa sarapan kopi pahit dan roti tawar seperti ini. Atau kamu mau sarapan lain selain roti ini?” kata Mahardika. Tentu saja aku tidak mau merepot Mahardika, meski aku terbiasa sarapan dengan nasi, sayur dan lauk lengkap. Bagaimanapun aku hanya pendatang disini. Akulah yang harus menyesuaikan diri. Harus cukup dengan roti dan teh manis. Ini jauh lebih baikkan daripada aku kelaparan dijalan tanpa makanan.
“Tidak perlu, ini saja cukup,” kataku sambil mengambil roti tawar dan keju, membuat sandwich keju coklat dua tangkap dan memakannya. Kuamati keadaan rumah Mahardika. Tidak terlalu rapi namun cukup baik untuk ukuran rumah seorang laki-laki yang tinggal sendirian.
“Nada, aku tidak biasa rapi-rapi rumah. Apalagi nanti saat Nada’s Project dimulai. Jadi aku akan menyewa pembatu harian yang akan membersihkan rumah dan menyediakan makan untukmu setiap harinya,” kata Mahardika seolah bisa membaca pikiranku.
“Mahardika, boleh aku memanggilmu M? “ kataku sedikit segan. Bagiku, memanggilnya Mahardika setiap saat terlalu canggung dan terlalu panjang.
“M, karena aku sekarang tinggal disini, boleh tidak aku yang mengerjakan pekerjaan rumah?” kataku hati-hati. Mahardika mengangkat mukanya, memandangku.
“Maksudnya?” tanyanya memastikan.
“Biarkan aku saja yang membersihkan rumah mencuci baju, memasak dan sebagainya. Kamu tidak perlu membayar orang untuk melakukannya. Aku janji aku mengerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh. Dan aku rasa masakanku cukup enak kok, “ kataku dengan penuh harap. Aku memang menyukai pekerjaan menjaga rumah dan memasak. Itu kenapa aku juga tidak terlalu keberatan melakukannya di kediaman Hermawan selama ini.
Mahardika memandangku sejenak, memastikan apa yang aku bicarakan dan memikirkan semuanya.
“Oke, baiklah. Paling tidak itu membuat rahasia kita juga terjaga,” kata Mahardika. “Biar aku yang berbelanja. Jika kamu membutuhkan apapun, buatlah catatan dan berikan padaku atau tempel di kulkas. Aku akan membatalkan bibi pembantu, tapi kamu yakin akan melakukannya?” kata M meyakinkan. Aku mengangguk dengan tegas. Memangnya apa lagi yang membuatku ragu. Selama aku bisa, aku akan lebih bahagia dengan melakukan apa yang kusuka. Lagipula itu lebih baik daripada berdiam diri merenungi nasib kan?
Setelah selesai sarapan, M dan aku mendiskusikan kebutuhan yang harus dibeli, termasuk, pakaian dan perlengkapanku. Sebenarnya aku sedikit malu saat M menanyakan ukuran pakaian dalamku. Tapi aku memang membutuhkannya kan.M tidak mengijinkanku untuk ikut pergi membelinya sendiri. Akhirnya aku menurut saja apa yang dikatakan M. Menurut M nantinya juga bukan dia yang berbelanja. Dia akan meminta anak buahnya untuk membeli semua kebutuhan Nada.
__ADS_1
Setelah selesai dengan urusan catatan belanja, M segera bersiap untuk pergi. Dia berjanji akan pulang sebelum makan siang. Aku memutuskan untuk membersihkan seluruh rumah M, sebelum pergi aku minta M mengeluarkan semua cucian kotor dari kamarnya. Tidak banyak, jadi sepertinya juga tidak akan menyita waktuku sepanjang pagi. Menjelang makan siang, aku segera memeriksa lemari es. Tak banyak isinya, hanya ada wortel, daun bawang, tomat dan sedikit daging. Di dalam lemari bahan makanan aku menemukan tepung terigu. Untunglah bumbu-bumbu lengkap disana. Kuputuskan untuk membuat sup daging dengan lauk bakwan wortel dan daun bawang. Di tempat beras ternyata juga terisi penuh. Ini sangat mudah, akhirnya aku bisa menyajikan makan siang saat M datang.
“Wuah, wangi sekali. Kamu sudah masak ya?” tanya M sambil menghampiriku. Aku mengangguk sambil melap keringatku yang mengucur deras. Sesaat aku tersadar menghentikan apa yang aku lakukan, takut M jijik melihat
tingkahku. Tapi sepertinya perhatiannya terpusat pada makanan yang masih ada di dapur. Dia segera menyomot satu buah bakwan dan menggigitnya.
“Wuaaa, sedap sekali,” kata M
“Bersih bersih dan ganti bajulah. Aku siapkan makan siang di meja ya,” kataku yang disambut acungan jempol dari M. Dia bergegas masuk kekamarnya. Tak berapa lama, dia sudah terlihat segar dan kamipun makan siang bersama.
“Maaf aku hanya bisa menyediakan ini. Hanya ada ini yang aku temukan di lemari es,” kataku sedikit menyesal. M tertawa sambil makan dengan lahap.
“Ini luar biasa Nada. Koki restoranku harus kenalan denganmu untuk belajar resep sup daging sederhana ini. Aku belum pernah makan sup daging dan bakwan serta sambal trasi seenak ini,” kata M. “Aku tidak perlu menu lain, ini sudah lebih dari cukup. Ok, mulai sekarang rumah dan dapur adalah milikmu,” kata M. Aku tersenyum senang melihat M menyukai masakanku. Hal yang paling menggembirakan adalah saat orang menikmati hasil masakan kita.
Setelah selesai makan, Mahardika langsung masuk ke kamar kerjanya. Tak lama kemudian dia memanggilku.
Dia memintaku untuk masuk kesebuah ruangan selama beberapa menit. Begitu aku keluar, kulihat hasih scan 3D dari tubuhku sudah ada di layar computer kerja M. M memintaku untuk istirahat, karena dia akan memulai Nada’s Project dan perlu konsentrasi. Akupun mengiyakan dan berniat untuk keluar, istirahat di kamar. Akan tetapi sebelum mencapai pintu, mataku terjerat oleh deretan buku-buku milik M. Banyak sekali buku-buku menarik tentang Image communications yang sangat aku sukai, buku tentang rekayasa dan perubahan tubuh manusia, serta buku-buku tentang bedah plasti.
Aku mulai berpikir, jika aku ingin mengalami perubahan ini, aku harus tahu proses apa yang aku harus jalani. Tidak mungkin aku menyerahkan semua pada Mahardika. Bagaimanapun ini tentang aku, aku harus tahu dan bila mungkin aku akan menjadi teman berbicara bagi Mahardika. Lalu aku memutuskan untuk membaca sebanyak mungkin buku di ruangan ini. Saat itu aku mendengar Mahardika bergumam.
“Arghh, ini adalah project Mission Imposible. Bagaimana bisa menyusutkan badan sebesar ini menjadi sebesar ini,” kata M sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia terlihat sangat frustasi. Dengan perlahan aku mendekatinya dari belakang untuk melihat apa yang dikerjakannya. Disana tubuhku disandingkan dengan tubuh perempuan
dengan badan yang sangat ideal. Wajah kecil dengan dagu berbentuk `V` dan garis rahang yang indah\, sebagai tanda kecantikan yang feminin perempuan timur. Begitu pula dengan hidung mancung dan mata besar\, pipi tinggi dengan dukungan tulang pipi yang sempurna. Dahi tidak terlalu lebar namun juga tidak sempit dengan bulu halus. Rambut hitam panjang bergelombang\, kaki jenjang\, pinggang kecil\, dada berisi dan tangan melengkung dengan jari-jari lentik.
Sedangkan ditengah-tengah antara tubuhku dan tubuh wanita itu disatukan dalam bentuk sket. Disana terlihat beberapa bagian yang diarsir. Aku mengamatinya dengan hati-hati. Perlahan aku sadar, bahwa bagian yang diarsir adalah bagian dari tubuhku yang harus dibuang dan itu banyak sekali. Sebuah perubahan besar harus dilakukan jika aku akan mendaji seperti yang M inginkan. Tidak heran jika M frustasi. Aku sendiripun menyadari betapa besar badanku saat ini. Untuk membayangkan itu semua harus dibuang, adalah bayangan yang mengerikan.
Aku segera mundur perlahan. Aku tidak ingin mengganggu M dengan kepanikan dan ketakutanku. Perlahan aku keluar dari rudang kerja M. Diluar aku segera masuk ke kamar dan meredam teriakanku dengan bantal. Aku tidak ingin menangis, hanya ingin berteriak menyalurkan rasa takut dan frustasi. Setelah ini aku berjanji akan selalu kuat dan tidak mengeluh. Aku sangat sadar, resiko apa yang akan kuhadapi. Seperti kata M, sekali masuk kedalam project, tidak ada langkah mundur atau menyerah.
__ADS_1