
POV NARA
“Karena tugas saya sudah selesai, saya sebaiknya pamit,” kata Henry setelah proses serah terima kalung Lidya Dirgantara selesai, seperti yang diinginkan M. Aku sebenarnya masih ingin ada Henry disini. Menghadapi Pradipta yang mulai agresif, membuatku gugup. Aku beruntung, kehadiran bayangan M sering mengingatkanku.
“Kamu tidak makan atau minum sesuatu?” kataku dengan cepat, mencoba mencegah kepergian Henry. Aku tahu, Pradipta tidak suka dengan apa yang aku lakukan. Laki-laki terlihat ingin berdua saja dengan ku. Bahkan dari awal, dia ingin menyingkirkan Adrian. Mungkin itu juga yang membuat dia dengan cepat menyalami Henry, mengucapkan selamat tinggal. Agar Henry segera pergi dari sana.
“Tidak usah Nona Nara. Kebetulan saya ada janji makan siang setelah ini,” kata Henry. Dari senyumnya yang licik dan matanya yang ceria menggodaku, aku tahu bahwa Adrian dan Henry tahu kegugupanku menghadapi Pradipta. Seperti biasanya, tiga laki-laki itu selalu berhasil menebak pikiranku. Bahkan aku mendengar tawa kecil Adrian yang ditutupinya dengan deheman. Tiga laki-laki itu pasti sedang bergosip tentang aku dan Pradipta. Aku harus balas nanti.
“Wua, pasti makan siang dengan kekasihmu ya, sampai tidak mau bergabung dengan kita,” kataku menggoda Henry sambil melirik Pradipta. Aku melihat Pradipta sudah mulai tidak sabar. Dia menggelengkan kepalanya sambil menatapku seperti ingin aku berhenti menggoda Henry. Sedangkan Henry dengan polosnya menampakan muka malu-malu menyebalkan seolah olah tebakanku tepat. Dasar tukang lenong, pandai sekali bersandiwara.
“Nara, biarkan Pak Henry pergi. Lihat, mukanya sudah merah, malu karena kau goda. Kita makan siang disini juga kan, siapa tahu bisa seperti Pak Henry dan teman makan siangnya,” kata Pradipta sambil tersenyum, mencoba mempengaruhiku.
“Hahaha, bapak bisa aja. Mari Pak, mari Nona, saya pamit. Maaf pesan manajer tadi, jangan lupa cuci tangan dan jaga kebersihan,”” kata Henry membungkuk dan melangkah keluar diikuti Adrian. Aku tahu mereka menyindirku dan Pradipta. Benar-benar menyebalkan. Melihat mereka berdua pergi aku meraba kalungku, lalu melirik kebawah tempat kotak yang kulempar tadi berada. Kotak itu sudah tidak ada lagi. Berarti tadi Adrian sudah mengambilnya. Keduanya keluar bersama agar Adrian bisa menyerahkan kotak dan kalung itu kepada Henry atau M yang menunggu disuatu tempat tak jauh dari tempatku makan ini. Sekarang adalah giliranku melancarkan misi kedua. Aku mencoba menenangkan diri agar siap dengan misi berikutnya. Aku menarik nafas panjang sebelum memusatkan pikiranku pada Pradipta.
“Oke bagaimana kalau kita makan dulu?” kataku sambil tersenyum manis. Pradipta mengangguk dan melambaikan tangannya memanggil pelayan.
“Maaf kalau aku lancang sudah memesankan makanan yang terbaik disini. Semoga kamu menyukainya,” kata Pradipta. Tak berapa lama muncul pelayan dengan membawakan Sangchu Geotjeori. Salad kas korea ini menjadi makanan pembuka kami. Ah, rupanya Pradipta menganggapku sebagai gadis yang menyukai makanan Korea.
“Kenapa? Aku salah memesan kah?” tanya Pradipta. Mungkin dia melihat aku menatap makananku dengan takjub.
“Kenapa Sanchu Geotjeori? Kenapa makanan Korea,” tanyaku sambil tersenyum. Aku mengambil garpu salad dan memulai makanku.
“Wow, kamu tahu namanya dan sangat tahu tentang makanan korea. Semoga aku tidak salah menebak, makanan kesukaan gadis tercantik yang pernah aku temui,” kata Pradipta sambil tersenyum.
__ADS_1
“Tidak salah, aku menyukainya. Tapi kenapa kamu memilih ini?” tanyaku lagi.
“Karena ini restoran Korea dan kamu lama tinggal di negeri gingseng tersebut,” jawab Pradipta tenang. Aku menanggapi jawaban Pradipta dengan senyuman. Aku dengar ada kursi berderit dibelakangku. Seorang pelayan mendekat pada Pradipta dan berbisik sesuatu.
“Layani dia dan biarkan dia memesan apa yang dia mau. Nanti tagihannya saya yang bayar,” kata Pradipta.
“Oh no, jangan Mas, biarkan kali ini kami yang membayar. Pertemuan ini kan untuk keperluan bisnis dan saya rasa kami yang harus membayar bill nya,” kataku dengan cepat.
“Hei, mana ada gadis yang kukencani harus membayar bill lunch date?” tanya Pradipta sambil mengernyitkan dahinya.
“Kencan? Lunch date?” tanyaku.
“Ya lunch date, anggap saja begitu. Jangan bilang pertemuan bisnis karena pertemuannya sudah selesai sebelum kita makan siang. Jadi anggap saja kita ngdate setelah bisnis selesai. Boleh kan?” tanya Pradipta sambil mengedipkan sebelah matanya.
“It’s ok buat saya, karena saya memang tidak punya pacar atau orang yang bisa melarang saya buat nge date. Tapi saya rasa akan menjadi masalah untuk mas Pradipta nanti. Sebaiknya kita tetap mengatakannya sebagai pertemuan bisnis. Saya tidak mau artis senior sekelas Juli memarahi saya dan menganggap saya sebagai pelakor,” kataku tenang. Pradipta tertawa tergelak.
di korea. Dol sot bi bim bap yang disajikan dalam hot stone bowl yang cantik. Nasi dengan sajian lengkap sayuran, daging dan telur yang diolah secara tradisional ala Korea. Dengan kata lain, sajian ini merupakan bibimbap yang dihidangkan dalam mangkuk dari batu yang sudah dipanaskan. Dolsot berarti "mangkuk batu". Panas dari mangkuk batu akan mematangkan telur mentah yang diletakkan di atas nasi sebagai lauk. Sangat menggiurkan, bahkan lebih menggiurkan dari rayuan Pradipta. Sedangkan untuk pradipta, Sogogi Bokkeum Steak yang diolah dan disajikan berbeda dari versi tradisional. Aku tahu kalau Pradipta sangat menyukai steak.
Aku segera menyantap makanan didepanku meski Pradipta terus berusaha menarik perhatianku. Kebiasaan makan sejak aku masih menjadi Nada masih sama, makan dengan lahap dan tak berbicara, namun saat suamiku membutuhkan sesuatu, aku langsung tahu dan menyediakannya. Saat kulihat Pradipta mengerutkan dahinya memandangi makanan didepannya, aku langsung tahu bahwa dia membutuhkan black papper untuk makanannya seperti biasa. Aku langsung memanggil pelayan meminta black papper dan tabasco. Setelah dia datang, aku tanpa sadar langsung meraih tempat black papper itu dan menaburkan ke makanan Pradipta seperti kebiasaanku dulu. Tidak lupa aku memegang gelas pradipta yang tinggal setengah, lalu meminta pelayan untuk menyediakan air putih yang hangat. Ini adalah kebiasaan Pradipta jika makan steak. Aku juga tanpa sadar mengambil piring Pradipta dan memotong-motong steaknya, kemudian kembali mengembalikan tanpa berkata apapun. Inilah kebiasan Nara yang tanpa sadar aku lakukan. Pradipta yang terkejut dengan ulahku langsung terdiam keheranan. Dan akhirnya hanya
mengucapkan terimakasih.
“Nara, apa yang kamu lakukan? “ kata Pradipta dengan pelan. Saat itulah aku tersadar bahwa aku bukan Nada dan tidak seharusnya melakukan itu semua.
__ADS_1
“Aduh maaf, aku hanya ingin melayanimu setelah semua kata-kata manismu. Mungkin aku jadi terbawa suasana,” kataku malu malu sambil mengumpat dalam hati.
“Ehm, tidak apa apa. Namun aku jadi inget seseorang yang selalu melakukan hal ini padaku beberapa tahun lalu,” kata Pradipta.
“Oh ya? Kekasihmu? Dimana sekarang? Pasti dia sangat menyayangimu,” kataku
“Iya, dia menyayangiku, sangat. Sayangnya sekarang dia sudah tidak bisa melakukannya. Dia sudah tidak ada, sudah meninggal,” kata Pradipta dengan muka sedih. Aah benarkan dia sedih karena aku pergi? Apakah dia
merindukakku. Aku mendengar Adrian berdehem. Aku tahu apa artinya itu, sebuah peringatan bagiku yang terlalu lama melamun. Aku tersenyum pada Pradipta dan kamipun melanjutkan makan malam kami dalam diam. Aku mengamati wajah Pradipta yang tampak melamun.
“Jadi apakah kamu masih mengingat dia?” tanyaku penasaran.
“Ya, selalu, meski aku juga pernah tidak memperdulikan dia,” kata Pradipta datar.
“Apakah dia orang istimewa bagimu?” tanyaku.
“Keluarganya adalah orang yang baik dan berjasa bagiku. Dia sebenarnya sangat baik. Dia sahabat terbaik yang pernah aku punya. Dia adalah salah satu orang yang selalu mendukungku,” katanya. Dia memainkan sesuatu di tangannya . Sebuah gelang dari anyaman benang yang indah.
“Gelang yang indah, apakah itu juga darinya?” kataku sambil memandang tangannya.
“Ini milik seseorang yang sangat berarti bagiku yang meninggal saat aku masih SMA. Dia memberikan ini sambil berkata bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi orang besar yang tidak perlu bergantung pada siapapun bahkan untuk hidup dan penghidupanku,” kata Pradipta.
“Siapa dia?” tanyaku.
__ADS_1
“Seorang wanita cantik meski usianya sudah lebih dari 70 tahun. Kami memanggilnya Nenek Hermawan. Berkat dia aku diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi dan berhasil seperti aku yang sekarang ini. Dia yang mengangkatku menjadi cucunya dan berjuang melawan anak-anaknya yang tidak setuju membawaku pulang dari jalanan. Bahkan Dia memberikan ayahku pekerjaan sebagai sopir keluarganya dan menyekolahkan aku,” kata Pradipta.
Apa yang dikatakan Pradipta membuatku mengingat nenek yang sangat menyayangiku. Nenek yang menjaga dan membesarkanku. Nenek yang selalu membelaku saat aku dibully karena bentuk tubuhku. Aku ingat saat nenek selalu mengajakku untuk makan pagi sama sama dan menguatkan aku menghadapi apapun yang terjadi disekolah. Selalu menghibur saat aku pulang sekolah dengan baju kotor dan menangis karena dibully. Dia membuatkan jeruk dingin dan mengajakku duduk dimeja makan sambil bercerita setelah aku mandi dan berganti baju. Aku pun sedih mengingat masa lalu bersama nenekku. Aku ingat saat saat terakir, aku yang mengurus nenek. Dari bangun sampai tidur lagi. Nenek juga memberikan gelang yang sama padaku. Dan aku masih menyimpannya, mengeluarkan saat aku sedih. Sejak nenek meninggal, saat aku sedih, aku akan mengeluarkan gelang tersebut dan bercerita.