Nada Nara

Nada Nara
Bab 76 Jawaban Dibalik Rahasia kencan Makan siang (Bagian 3)


__ADS_3

 POV Mahardika


Setelah mendengar apa yang sebenarnya diinginkan Pradipta dan teman-temannya aku mulai serius menghadapi mereka. Ini bukan lagi tentang Nada’s Project. Kali ini semua jauh lebih besar dan lebih penting.  Bahkan mereka


berniat mencelakai Nara hanya untuk mendapatkan kalung tersebut. Aku meminta seluruh pasukan terutama Adrian untuk konsentrasi melindungi Nara. Gadis malang itu bahkan tidak tahu rahasia apa dibalik kencan makan siang yang disiapkan oleh Pradipta. Aku sedikit merasa berdosa sebenarnya. Aku tahu, hidup Nada tidak lagi mudah setelah berkenalan dengan Pradipta. Segala kejadian yang menimpanya, jauh diluar pikiran Nada yang sangat polos. Apalagi sampai percobaan pembunuhan yang mengorbankan nyawa orang terdekatnya, membuat Nada


harus kehilangan banyak hal, termasuk jati dirinya.


Ternyata semua itu belum cukup. Sekarang dia harus menghadapi bahaya yang lebih besar. Dan semuanya karena aku. Itulah mengapa aku merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas kemamanan Nada yang sudah berubah jati dirinya menjadi Nara. Aku meminta semua memastikan Nara aman dari mulai sekarang sampai nanti pulang. Aku minta pada Adrian agar tidak membiarkan Nara lepas darinya apapun yang terjadi.  Untuk memperkecil resiko, aku mengganti mobil Adrian dengan mobil anti peluru. Didalamnya akan ada dua orang pasukan bayangan yang tidak terlihat orang lain. Jadi sebenarnya, Adrian tidak akan menghadapi perampok gadungan itu sendiri. Selain itu aku pastikan kepada Adrian, jika tidak bisa bertahan didalam mobil dan terpaksa keluar, segera berikan kalungnya tanpa perlu sok ditahan. Namun jika memungkinkan kami harus bisa menahan satu orang untuk menjadi sumber informasi.


Aku tahu dari pembicaraan Sisca, berapa jumlah musuh di lapangan. Mereka mengerahkan 5 mobil yang berarti akan ada sekitar 30 orang yang akan menyerang Adrian, maksimal. Karena waktunya terlalu mepet, aku tidak mungkin mengganti personil mereka dengan orang-orangku. Bahkan mengirimkan penyusup pun sudah tidak bisa


aku lakukan. Satu satunya jalan adalah tetap mengikuti alur yang mereka buat dan menyerang disaat yang tepat


Aku menyiapkan 50 pasukan bayangan dipimpin oleh Bayu. Dia adalah salah satu ketua  pasukanku yang paling bisa diandalkan. Mereka akan dikirim untuk mengikuti Nara dan Adrian. Untuk menghindari korban yang lebih banyak, aku meminta Adrian untuk mengalihkan jalur ke lingkar luar yang tidak banyak kendaraan dan orang yang berlalu lalang.  Penggunaann rute lingkar luar agar tidak mengundang kerusuhan dan mengurangi korban jika terjadi apa-apa.


“Hindari jalan utama yang padat. Sepertinya mereka tidak akan menggunakan cara berlebihan mengingat mereka hanya tahu adrian yang menjaga Nara. Meskipun Pradipta sudah menyadari kekuatan Adrian,” kataku mengingatkan.

__ADS_1


Sebenarnya, kami meragukan reaksi Nara saat menghadapi serangan musuh. Apalagi serangan ini dilakukan di mobil. Bagi Nara, penyerangan di mobil memiliki trauma tersendiri. Dia pernah mendapat percobaan pembunuhan dan selamat, meski sahabatnya menjadi korban. Tentu tidak mudah bagi Nara menghadapi apa yang akan terjadi nanti.


“Apakah Adrian siap untuk mendapat serangan sendirian? “ tanya Henry. Sahabatku satu ini ternyata lebih mengkhawatikan keadaan Adrian. Namun orang yang dikhawatirkan santai-santai saja. Aku tahu pasti bagaimana kemampuan Adrian dalam mengendalikan mobil, drifting dan memainkan senjata api saat mobil bergerak cepat. Yang aku tahu, di dunia bawah, Adrianlah yang terbaik. Namun aku juga merasakan bahwa Adrian menyadari beban Nara yang harus dia jaga.


“Nah itu yang harus kita jaga. Jika terlalu banyak serangan dan seperti kita tahu Nara adalah target utama , apakah dia tidak akan panik,” kata Adrian.


“Ya pasti panik. Tinggal bagaimana Adrian mengatasinya. Nara cukup kuat menurutku. Tapi aku tidak tahu apakah dia akan tenang atau tidak ketika dia diserang kembali di mobil. Ingat bahwa dia pernah mengalami percobaan


pembunuhan,” kataku, meski tidak yakin namun aku berusaha optimis untuk menenangkan Adrian. Tapi aku tetap harus membuat sahabatku itu tahu apa yang dia hadapi. Dalam pembahasan teknis, kami mengatus semua detil operasi. Kami sadar, waktu kami tidak akan banyak karena pihak musuh juga menghendaki pekerjaan  ini cepat selesai. Makan siang yang awalnya akan menjadi ajang gombalan Pradipta, memang mereka buat lebih singkat. Hal ini aku sadari dari laporan Bara yang diminta mempercepat penyajian makanan untuk mereka. Tinggal bagaimana Pradipta melaksanakan bagiannya. Memilih nafsu untuk bersama Nara atau menyelesaikan pekerjaan. Terlihat sekali laki-laki itu menjadi sangat kesal.  Mengingat Nara, aku kembali memikirkan keadaan wanita kesayanganku itu.  Aku menyadari bahwa Nara sudah terlalu lama didalam kamar mandi. Aku meminta  Adrian untuk memeriksa Nara.


“Oke, sepertinya semua sudah siap. Ingat pasukan bayangan harus benar benar waspada. Musuh kita bukan abal-abal,” kataku. Setelah itu aku dan segera melakukan koordinasi akhir dan persiapan. Aku juga melihat pergerakan dari tim Sisca untuk mempersiapkan aksi mereka


“Hai kalian. bos minta penyajian dipercepat kenapa kalian malah mondar-mandir disana? Kudengar suara Bara didekat toilet wanita. Bersamaan dengan itu suara pintu kamar mandi dibuka.


“Nona Nara baik baik saja?”


“Iya, aku baik-baik saja Adrian,” kata Nara. Pasti saat ini dia sedang tersenyum lebar.

__ADS_1


“Mereka tidak mengikuti kita kekamar mandi Nona. Sepertinya keduanya tadi masuk kedalam ruang ganti dan tidak muncul lagi,” kata Adrian mungkin tadi Nara mencari  dua orang yang tadi mengikutinya. Namun Sisca dan Manajer tidak ada disana karena mempersiapkn rencana mereka. Adrian sangat memahami body language seseorang. Tidak sulit baginya untuk mengetahui apa yang seseorang pikirkan hanya dari membaca wajah dan gerakannya. Aku melihat mereka mulai memasuki ruang utama dimana Nara dan Pradipta akan makan siang. Ruangan itu sudah rapi seperti semula. Kekacauan yang Nara buat sudah tak terlihat lagi. Aku melihat Pradipta sudah ada disana dengan baju yang lebih santai. Dia menyambut Nara dengan senyum buayanya.


“Kamu cantik sekali dengan baju ini,” puji Pradipta, membuatku mau muntah.


“Berarti aku nggak cantik ya kalau pakai baju yang lain?” kata Nara yang menggoda Pradipta dengan pura-pura ngambek “Nggak, kamu cantik banget malah. Selalu cantik,” kata Pradipta sambil  tersenyum. Pancingan Nara ditanggapi dengan baik oleh playboy satu ini.


“Makasih,” kata Nara dengan sikap malu malu yang menggemaskan. Laki-laki manapun yang melihat Nara saat ini, pasti setuju kalau Nara sangat menggemaskan. Pradipta mempersilahkan Nara untuk duduk.  Tanpa menunggu Nara siap, Pradipta mulai menanyakan kenapa Nara sampai mencari gelang itu ke bawah meja. Padahal gelang itu hanya gelang kain yang tidak ada harganya bagi Nara. Yeah, jika aku jadi Pradipta, pasti aku mungkin akan melakukan hal yang sama. Apa yang dilakukan Nara memang cukup mengherankan. Apalagi gelang itu bukanlah miliknya dan bukan barang berharga. Aku tahu, Nara melakukannya karena adanya ikatan batin antara Nara dengan perempuan yang membuat gelang tersebut.  Namun tidak mungkin mengatakan alasan Nara melakukannya kan?


“Lho emang salah? Menurutku gelang itu berharga untukmu,” kudengar Nara mencoba membenarkan perbuatannya yang sempat membuat kekacauan.


“Maksudnya?” tanya pradipta sambil memiringkan kepalanya menatap Nara.


“Ya kan tadi Mas Pradipta cerita kalau gelang itu dari neneknya. Aku juga punya nenek.  Aku yang mengurusnya. Karena dia begitu istimewa bagiku. Dan dia juga pintar membuat gelang benang seperti itu,” Nara mencoba memposisikan Pradipta sebagai dirinyauntuk alasan rupanya.  “Maafkan aku mengagetkan dan membuatmu malu. Aku sebaiknya pulang saja, agar tidak membuatmu tambah malu.” Kulihat wajah Pradipta kecewa dengan kata kata Nara. Terlihat sekali jika Pradipta tidak ingin Nara pergi saat itu. Apakah karena pasukannya belum siap? Tapi aku rasa Pradipta sendiri memanng belum ingin melepas Nara.


“Nara. Tinggalah. Aku tidak malu, hanya khawatir. Aku senang kamu menemaniku. Kau orang yang cantik. Membeli kalung dengan harga malam untuk lelang amal. Kamu sangat peka pada lingkungan, cerdas dan luar biasa”. Kata Pradipta sambil menahan tangan Nara memintanya  duduk lagi.  Kulihat Adrian berbalik dan segera berdiri melihat Pradipta menarik tangan Nara dengan kasar. Matanya menatap nanar pada tangan Pradipta hingga laki-laki itu menyadari perbuatannya dan melembutkan genggamannya.


“Kita sudah bertemu di pesta, kemudian saat lelang, sikapmu tadi pada bodyguard dan wakil manajemen kamu, kejadian gelang, k etiganya nya berbeda. Tapi dari semua kejadian itu, memiliki persamaan”. Lanjut Pradipta sambil menarik lembut tangan Nara agar duduk. Sambil bertanya tentang maksud Pradipta, akhirnya Nara kembali duduk dikursinya, diiringi tarikan nafas lega dari Pradipta.

__ADS_1


“Aku merasa kehangatan yang istimewa, bisakah kita selesaikan makan siang ini dan kamu baru boleh pergi,” katanya sambil tetap memegang tangan Nara. Sebuah gombalan yang cukup murahan namun tampaknya mampu membuat para Wanita terlena. Narapun hanya tersenyum  memberikan tanda dia setuju.


__ADS_2