Nada Nara

Nada Nara
Bab 62 Kalung Lidya Dirgantara (bagian 1)


__ADS_3

Mahardika sedikit melemaskan otot wajah Nara dengan mengatakan Pradipta sebagai keturunan Medusa yang menyebabkan Nara mematung karena ditatapnya. Nara tidak dapat menahan tawa terbahak bahaknya mendengar lelucon Mahardika. Sedangkan Adrian hanya mendegus sebal dan menganggap bosnya garing.


“Hahaha, ada-ada saja kamu M.  Maaf ya, tadi aku benar-benar tidak siap mental. Tapi janjji tidak akan terjadi


lagi,” kata Nara mencoba  meyakinkan Mahardika. Keduanya sebenarnya masih tidak yakin dengan apa yang harus


dilakukan. Tetapi paling tidak emosi mereka kini sudah stabil dan bisa berpikir jernih.


Acara peluncuran telah selesai. Nara dan Mahardika bersiap untuk melancarkan pendekatan selanjutnya. Keduanya sepakat untuk melihat situasi terlebih dahulu. Jika semua memungkinkan maka Nara akan kembali mendekat dan mencoba berbicara dengan Pradipta. Mungkin mengucapkan selamat atas kesuksesan peluncuran tersebut bisa menjadi pilihan topik. Apalagi Nara sangat menguasai permasalahan kan. Tinggal bagaimana mengalihkan Juli agar tidak menempel pada Pradipta.


“Hadirin sekalian, itulah tadi peluncuran Studio digital terlengkap LC dengan segala kecanggihan yang akan bisa menjadi sarana promosi bagi produk hebat apapun dengan tampilan yang menarik dan jangkauan tidak terbatas. Selain itu promosi dan pengambangan komunikasi juga dilakukan dalam bentuk siara digital serta film animasi empat dimensi yang bisa ditayangkan dimana saja kapan saja. Semua akan dikembangkan dan dipersembahkan LC untuk Anda semua, “ Suara Juli menggema membuat kami mengalihkan perhatian kami ke panggung. Juli kembali berbicara panjang lebar tentang LC dan keunggulannya.


“Saat ini LC memang mengembangkan bisnis yang luar biasa. Namun LC dan tentu saja keluarga besar Dirgantara, tidak melupakan sekitarnya. Untuk itu dihari bahagia ini LC mendapat penghargaan besar dari keluarga besar Dirgantara. Malam ini Akan ada pelelangan Kalung pernikahan dari pemilik Dirgantara Corporation, Almarhum Putra Dirgantara dan Almarhum istrinya, Lidya Dirgantara. Kalung ini adalah hadiah tanda cinta Bapak Putra kepada ibu Lidya, yang kita tahu merupakan pasangan penuh cinta sehidup semati. Setelah  sekian lama tersimpan, malam ini


kita bisa melihat keindahan tanda cinta yang luar biasa ini,” kata Juli.


“Lidya? Kalung? Dilelang? Siapa yang berani melakukannya? “ terdengar suara Mahardika menggeram.


“Ya M, kamu bicara apa?” Tanya Nara yang mendengar suara Mahardika namun tidak mengerti. Namun Nara merasa Mahardika sedang sibuk dengan anak buahnya. Dia kembali diam memandang Pradipta yang ada

__ADS_1


didepan sana. Matanya kembali serius dengan penampilan sang suami bersama pelakor.


“Untuk itu, kami mohon Mr. Franco sebagai perwakilan dari keluarga Dirgantara yang sekaligus mewakili keluarga besar beliau, untuk naik keatas panggung,” kata Juli. Terlihat Franco naik keatas panggung membawa kotak persegi dari bludru merah.


“Terimakasih Juli. Sebuah kehormatan bagi saya bisa mewakili Almarhum ibu saya, Lidya Dirgantara dan keluarga Dirgantara memberikan kalung kenangan ini untuk dilelang di peluncuran besar LC. Kebetulan perusahaan ini saya rintis sendiri sebagai pembuktian saya kepada nenek Dirgantara dan keluarga besar, bahwa saya adalah bagian dari keluarga yang selalu saya banggakan ini,” Franco tampak membuka kotak dan mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin bertuliskan  PLD yang terukir indah memanjang, bertaburan berlian. Sangat Indah.


Mata Mahardika takpernah lepas dari kalung yang dipegang oleh Franco. Wajahnya berubah menjadi dingin tak bisa ditebak. Aura dingin menguar dari tubuhnya, menggambarkan kemrahan yang dalam. Henry segera berlari kedalam ballrom menemui bos yang juga sahabatnya itu. Laki laki itu berdiri disamping Mahardika sambil membisikkan sesuatu. Mahardika tampak terkejut dan membalikan badannya menatap sang sahabat. Henry kemudia mengangguk dan memberi tanda kearah Nara.


Sementara Nara masih memandang panggung dengan kerutan dikeningnya. Dari tadi sepertinya dia sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sesekali wanita itu menarik nafas panjang dan kembali melepaskan pelan.


“Agar terlihat keindahannya, sepertinya kalung ini harus berada ditempat yang tepat. Maaf Mr. Pradipta, pinjam Juli


sebentar ya,” kata Mr. Franco menggoda Pradipta dan mendekati Juli. Salah satu asisten Mr. Franco segera mendekat dan mengambil alih kotak beludru merah. Bos pemilik LC yang digadang-gadang akan menggantikan Nenek Dirgantara sebagai pemilik Dirgantara Corporation itu memasangkan kalung ke leher jenjang Juli.


“Saya ingin meminta bantuan kekasih sahabat saya ini, untuk menunjukan keindahan perhiasan ratu pendamping Dirgantara. Tentu kalian tahu, inisial di kalung ini adalah PLD yaitu Putra-Lidya Dirgantara. Lambang cinta ayah dan bunda kami. Siapapun bisa memiliki kalung ini malam ini dan dananya akan kami sumbangkan atas nama Bunda Lidya untuk adik-adik yang kurang beruntung di panti asuhan dan pendidikan mereka. Kami berharap dengan kepedulian LC ini, mereka bisa menuntut ilmu setinggi mungkin dan menjadi bagian LC dimasa depan,” kata Mr Franco yang disambut dengan tepuk tangan bergemuruh. Juli tampak bahagia sekali mengenakan kalung cantik


tersebut. Berulang kali jarinya mengelus kalung yang berharga ratusan juta tersebut.


“Sepertinya Juli juga menyukainya, bro. Bagaimana kalau kamu yang membelikan untuk kekasihmu? Ikut lelanglah kamu,” kata Mr. Franco menggoda Pradipta yang juga masih diatas panggung. Juli tampak tersenyum manis pada Pradipta sambil mengelus kalungnya.

__ADS_1


“Wow, memang luar biasa kalulnya. Indah sekali. Apalagi kalung itu adalah perwujudan cinta yang indah dari cinta


Dirgantara. Semoga uang saya cukup untuk bersaing di lantai lelang nanti ya bro,” kata Pradipta sambil tertawa. Mr. Franco membisikan sesuatu ke Pradipta dan laki-laki itu mengangguk. Setelahnya, Pradipta mendekati Juli, mengambil mic yang ditangannya lalu menyerahkan kepada MC. Dia membisikan sesuatu ke MC dan menggandeng Juli turun dari panggung. Mr Franco menngikuti pasangan itu kemudian duduk di kursi VIP belakang panggung.


“Baiklah hadirin sekalian, pasangan spektakuler yang penuh cinta ini akan berkeliling untuk menjukan kepada anda


kalung yang hendak dilelang malam ini. Siapkan cek Anda dan jangan ragu untuk mendapatkan kalung indah ini,” kata MC mengumumkan.


Pradipta dan Juli berkeliling ballroom dengan pengawalan ketat. Mereka tampak sangat mesra dan bahagia. Tidak terlihat bahwa pasangan ini baru saja mengkhianati pasangan masing-masing dengan melakukan hubungan terlarang ditempat yang menjijikan.  Nara yang melihat keduanya tiba-tiba bergidik ngeri. Namun dia tetap tampil elegan dengan senyum yang menawan. Pandangannya difokuskan pada Pradipta yang berjalan sedikit dibelakang Juli. Saat ada dihadapan Nara, Juli berhenti sebentar menatap Nara. Gadis itu memandang Nara sambil berkernyit. Namun Nara tidak menanggapinya sama sekali.


“Selamat malam Juli. Cantik sekali kalung dilehermu. Luar biasa memang. Pasti sangat menyenangkan bisa memakainya meskipun sementara,” kata Nara dengan manis.


“Ah iya, selamat malam. Maaf saya tidak tahu nama Anda. Anda model baru itu kan? Ya kalung ini sangat indah dan hanya orang tertentu yang bisa memakainya,” kata Juli dengan nada sedikit sinis. Nara sedikit dengan reaksi Juli. Dia heran mengapa Juli tampak tidak menyukainya. Apakah ini persaingan model atau dia mengenali Nada? Belum sempat Nara menjawab, Juli sudah berpindah dan berbincang dengan wanita yang terlihat sangat kaya dengan perhiasan sepanjang lengannya. Wanita itu berdiri disamping Nara, membuat Juli dan Pradipta tidak banyak bergeser. Bahkan Pradipta seperti sengaja menempel para  Nara. Namun pemuda itu hanya diam seolah tidak melihat kehadiran Nara. Namun Adrian dan Mahardika bisa membaca raut ketertarikan Pradipta kepada Nara yang disembunyikan.


Mahardika, Adrian dan Henry saling berpandangan. Mereka seperti berkomunikasi tanpa suara. Saat itu, ketiga


laki-laki ini sudah mendapat ide bagaimana mendekati Pradipta dan Franco. Selain itu ad misi lain yang lebih penting yang harus Mahardika lakukan, dan masih berhubungan dengan misi Nara. Entah kenapa, wajah marah Mahardika mulai mereda. Dia lalu membinta Ipadnya dari Henry. Setelah mengutak atik sejenak, dia memberikan


kembali ipadnya pada Henry, yang mengangguk mengiyakan. Sementara itu Nara masih tampak serius menatap Pradipta. Wanita ini sepertinya sedang berpikir keras bagaimana melakukan pendekatan kepada Pradipta.

__ADS_1


“Nara, awas nanti rambutmu botak. Tidak usah berpikir bagimananya. Aku sudah menemukan caranya. Sebaiknya kamu segera ikut Adrian dan kita bertemu diruang sebelah. Kita akan membuat manuver rencana dan akan membuatmu menjadi pusat perhatian, bukan hanya Pradipta, namun juga seluruh undangan di ballroom ini.  Go!” kata Mahardika sambil meninggalkan ballroom. Adrian segera menghampiri Nara yang sudah ditinggalkan oleh pasangan Pradipta dan Juli.


Acara di ballroom sendiri terus berlanjut. Lelang barang dan perhiasan memang sudah dimulai. Namun ada puluhan barang yang dilelang malam itu. Kalung keluarga Dirgantara akan menjadi lelang terakhir yang menutup acara.


__ADS_2