Nada Nara

Nada Nara
Bab 11 Aku Cantik dan Sexy (Bagian 2)


__ADS_3

POV NARA


Setelah kepergian perempuan yang entah kenapa kupanggil Bunda, aku memutuskan untuk keluar dari kedai kopi


tersebut. Rasanya sudah tidak lagi  nyaman berada di kedai kopi itu, tanpa perempuan yang membuatku rindu pada Mama. Jangan tanyakan siapa mama.  Aku juga tidak ingat, siapa, dimana dan bagaimana mama. Bunda mengingatkanku pada arti seorang mama yang hangat. Itu saja yang kutahu, sisanya aku tidak peduli. Kata-katanya


tadi bergema dikepalaku seperti ipod rusak yang hanya bisa mengulang satu lagu. Setelah beberapa saat, ipod rusak itu mulai bosan mengulang kata-kata Bunda dan mencampurnya dengan kisah perempuan gemuk bernama Nada.


Ah iya, Nada dengan segala kisah cinta dan sedihnya, kata-katanya yang ceria, polos dan penuh pengharapan, namun terbersit luka. Wajahnya yang polos dan bulat terasa sangat kukenal, seolah dia bagian dari hidupku.


Arghh, dadaku kembali terasa nyeri saat mengingat Nada. Aku coba menahan rasa sakit ini dengan mengernyitkan dahiku kuat-kuat dan meremas dadaku, menyaliurkan segala nyeri ini. Rasa sakit yang begitu akrab sekaligus asing bagiku. Kepalaku terasa berat, namun badanku terasa ringan melayang. Tulang-tulang kakiku terasa menghilang.


Nafasku terasa berat dan sulit kutari, membuat sesak paru-paruku. Aku yakin, warna merah merona di wajahku  perlahan mulai menghilang berganti dengan pucat. Keringat dingin yang mengalir didahi dan kudukku membuatku makin merasa tidak nyaman. Kulayangkan pandanganku yang sedikit mengabur kesekeliling. Kulihat ada sebuah bangku di pinggir, untuk para pejalan kaki sepertiku beristirahat. Baiklah, lebih baik aku tidak memaksakan diri.


Lebih baik aku duduk dan menenangkan diri.


Saat sudah duduk, ternyata otakku kembali bekerja tanpa bisa kukendalikan. Akupun mencoba mengingat semuanya namun sia-siap. Tiba tiba otakku mendengung. Didalam kepalaku seperti muncuk manusia manusia kerdil yang berbicara padaku dengan menggunakan suara Nada.


“Aku Cantik, Aku Sexy, Aku menarik, Aku berharga”  kalimat in terus berulang-ulang. Aku mulai berpikir dan melihat pada diriku sendiri. Aku Nara, seorang arti kenamaan di Singapura yang pulang ke Indonesia untuk mengembangkan karir. Tapi siapa Nara? Arghhh, pusing, sudahlah. Tarik nafas, buang, Tarik ….. hufttt tenang dan nikmati dunia disekelilingmu. Tidak perlu memikirkan yang tidak penting.


Gubrak, Buk!


Aku bergerak cepat saat kurasakan ada tangan laki-laki yang menarikku. Aku merasa ketakutan dan mengingat kalau aka nada orang yang jahat kepadaku. Kutarik tangannya sekaligus membanting dengan teknik Kata gatame  dan Tachi waza.


“Arghh lepas! Sakit!” tiba tiba laki-laki itu sudah berada dikakiku. Tangannya aku puntir kepunggungnya.


“Rasain! Kamu siapa? Kamu mau jahatin saya? Mau nyulik saya?” teriakku dengan keras. Aku benar benar ketakutan tadi. Tapi aku sendiri tidak mengerti, mengapa keadaannya terbalik hingga aku yang menguasainya seperti ini. Suara tepuk tangan orang orang menggema. Aku memandang sekeliling. Ternyata tepuk tangan itu ditujukan kepadaku. Beberapa ibu-ibu mengacungkan jempolnya kepadaku. Sementara laki-laki dengan topi baseball dan masker serta hoodie yang masih belum kulepas itu berteriak minta dilepas.


Beberapa satpam mall mengambil alih laki-laki itu dari tanganku dan membawanya pergi entah kemana. Seorang ibu menghampiriku dan mengajakku duduk. Dia memberikan sebotol air mineral yang segera kutenggak habis.


“Kamu nggak papa nak? Mukamu pucat,” katanya dan beberapa orang yang mengerumunikupun memandangku


iba. Sebuah pandangan yang entah kenapa membuatku tidak nyaman. Aku menggeleng kuat dan mencoba berdiri. Namun kakiku tiba-tiba lemas, hingga aku kembali terduduk. Akupun memutuskan untuk diam sejenak.

__ADS_1


“Nak, kamu tidak apa apa? Namamu siapa?”


“Nara tante,” kataku pelan.


“Tante Linda,” katanya sambil mengelus tanganku. “Kamu kesini sama siapa?” Akupun bingung menjawab pertanyaan ini. Kenapa semua seperti kosong? Aku hanya tahu namaku Nara. Aku seorang artis ternama yang akan syuting di Indonesia. Aku hidup di Singapura dan Korea.  Hanya itu yang ada dikepalaku tentang aku.


“Iya sendiri Tante,” kataku.


“Aduh gimana ini, Tante harus segera pergi. Anak Tante menunggu dirumah nggak ada yang jaga,” katanya sedikit bingung. Aku benar-benar tidak enak hati. Tidak seharusnya aku merepotkan orang lain seperti ini. Apalagi dia tidak mengenalku sama sekali.


“Ehm, nggak apa apa Tante, aku nggak apa apa kok,” kataku sambil tersenyum, meyakinkannya. Aku kembali melihat kedalam tasku. Disana masih ada satu lembar uang limapuluh ribuan sisa minum kopi. Lalu kulihat ada selembar uang serratus ribu didalam tasku yang tadi tak bisa kulihat. Ah, lumayan. Aku bisa cari makanan kalau begini.Kulayangkan padanganku untuk mencari pilihan makanan. Tak jauh dari tempatku, kulihat sebuah restoran cepat saji. Perutku langsung terasa lapar. Aku tidak ingat, tapi sepertinya, aku suka sekali dengan ayam goreng yang ada digambar itu. Bergegas aku kesana dan memesan ayam goreng dua potong dan nasi beserta minumnya. Ah senangnya, ternyata uangku cukup. Kulahap makanan didepanku. Perlahan sakit kepala dan rasa tak nyaman tadi menghilang.


“Eh sayang ya, Nada kalah sama Mawar,”


“Iya, Padahal sih, aku lebih suka kalau Nada yag di Makeover dan bisa balik sama suaminya,”


“Eh suaminya aneh juga ya, masa menikah delapan tahun masih jauh jauhan. Suaminya membiarkan lagi,


“Jangan-jangan suaminya sudah punya istri di Singapura,” terdengar obrolan di meja sebelah. Rupanya mereka juga penggemar acara Makeover yang sedang viral itu.  Nara langsung memusatkan pendengaran ke meja sebelah. Hatinya berdesir mendengar percakapan itu. Anehnya Nara merasa dirinyalah yang sedang dibicarakan. Tapi Nara setuju kalau Nada lebih berhak menang dibandingkan Mawar. Nara tidak terima mengapa justru Mawar yang menang.


“Katanya sih begitu. Dengar-dengar gosipnya, Nada harusnya terpilih. Tetapi dia mengundurkan diri karena takut


keluarga suaminya marah,”


“Menurutku sih, seharusnya Nada menang dari pada mawar. Dan lagi setelah viral seperti ini, tentu suami dan keluarganya merasa marah dan lebih menyiksa Nada.”


Ah benar juga. Kasihan Nada, pikir Nara. Saat itu Nara merasa harus mencari Nada dan membantunya. Nara


segera mengeluarkan smartphonya. Dia segera mencari website acara Make over. Disana dia menemukan rilis dari pihak PH. Karena banyaknya penonton yang protes atas kemenangan Mawar, pihar PH memutuskan untuk membuat pengumuman khusus tentang mundurnya Nada dari acara Makeover tepat sebelum diumumkan pemenangnya, dan menyerahkan hadiah kemenangnya pada Mawar.


Banyak sekali komentar yang muncul. Diantara sekian banyak komentar yang muncul, Ada satu pesan yang dipin oleh pihak PH dan mendapat banyak tanggapan dan like. Jawaban dari Sandra, yang mengaku sebagai sahabat Nara. Dalam tulisannya Sandra menceritakan bahwa kisah Nada lebih tragis dari yang ada di acara Makeover. Sandra juga mengatakan bahwa suami Nada telah selingkuh dan memanfaatkan Nada untuk kesuksesannya.


Dari komen itu, Nara segera mencari IG Sandra dan mencoba DM untuk menanyakan tentang Nada sekarang.

__ADS_1


Menurut yang dia baca, syuting acara Makeover itu sudah dilakukan sekitar 6 bulan yang lalu. Nara juga mengatakan bahwa dia ingin bertemu Sandra.


Dm Nara ternyata langsung dibalas oleh Sandra. Nara mengaku dia penggemar Nada, yang prihatin dengan nasib perempuan malang itu. Nara ingin membantu jika bisa. Karena tidak puas dengan bicara melalui DM, Nara dan Sandra akhirnya bertukar nomor telepon. Saat itu juga Nara menelpon Sandra. Mereka berdua merasa sudah sangat dekat karena Nada. Sandra banyak bercerita tentang Nada dan siapa Nada, termasuk tentang mamanya yang sekarang sering sakit memikirkan nasib Nada. Apalagi saat Nada meninggal dan dikabarkan bunuh diri. Mamanya sangat sedih karena tidak bertemu dengan anaknya sebelum meninggal, bahkan untuk melihat jenasahnyapun tidak bisa, karena jenasah Nada hancur terbakar. Menurut suaminya yang mengurus kematian Nada, sahabatnya itu meninggal karena bunuh diri.  Menurut Sandra, Nada bukan orang yang akan bunuh diri seberat apapun masalahnya.


Nara kemudian teringat video viral yang menyangkutpautkan Nada didalamnya. Menurut Sandra, video itu


direkayasa. Jika melihat video aslinya yang sudah dihapus, kita akan tahu kalau sebenarnya Nada tidak mendorong Juli, tapi Juli yang menarik Nada dan terpeleset. Namun karena video itu, orang percaya kalau Nada benar-benar bunuh diri karena depresi.


Menurut Sandra, beberapa hari sebelum kejadian video viral itu, Nada memergoki suami sedang tidur dengan wanita lain. Nada yang saat itu dibohongi, suaminya masih di Singapura, akhirnya tahu kalau suaminya sudah pulang ke Indonesia dan sudah bertunangan dengan artis ternama bernama Juli. Dan sebelum kejadian dalam video itu, Nada ingin bicara baik-baik dengan Juli namun berubah menjadi petaka bagi Nada. Padahal Juli lah yang pelakor, yang membuat gara-gara.


Mendengar cerita ini, Nara tidak dapat menahan airmatanya. Hatinya begitu perih mendengar kisah Nada. Sandra


bilang, dia sedang mengunjungi makam Nada bersama sang Mama. Selama ini merekalah yang merawat makam Nada, meski harus bolak balik Bandung Jakarta. Keluarga Pradipta, suami Nada, tidak pernah peduli pada makam itu lagi. Hanya ayah pradipta yang masih membantu mama mengurus makam.


Nara minta ijin untuk bisa video call dengan Sandra agar bisa melihat makam Nada. Sebenarnya Nara ingin ikut ke makam, namun Nara merasa sepertinya tidak mungkin. Sandrapun berkenalan dengan Nara lewat videocall.


Setelah selesai dengan Sandra, Nara kembali berjalan menyusuri pedestrian. Saat itulah Nara melihat satpam


yang tadi menolongnya menangkap laki-laki iseng itu memanggilnya. Nara berhenti, menunggu.


“Mbak Nara ya namanya?” kata satpam itu.


“Iya pak, kenapa?” kata Nara.


“Mbak kenal dengan Pak Mardika?” katanya lagi.


“Kenal pak, dia dokter saya. Saya seharusnya bertemu dengannya. Tapi saya lupa,” kata Nara bingung. Bagaimana


pak satpam ini tahu namanya dan dokternya?


“Iya mbak, tadi pak Mahardika bilang sudah dipesankan taksi onlain. Mari saya antar mbak,” kata Pak Satpam. Lalu


Nara digiring menuju sebuah mobil yang sudah parkir tak jauh darinya. Sepanjang perjalanan, Nara hanya terdiam memikirkan apa yang didengar dan dialaminya hari ini, sampai tidak memperhatikan kemana dia dibawa. Tak sekalipun dia menunjukan arah dan alamat rumahnya. Anehnya sejam kemudian, mobil itu masuk ke sebuah rumah minimalis yang asri . Nara memperhatikan sekeliling. Dilihatnya rumah didepannya dan sadar kalau dia sudah sampai rumah. Narapun segera turun dan mengucapkan terimakasih. Namun anehnya sopir taksi online itu ikut turun. Perlahan Nara ingat jika orang itu adalah laki-laki yang tadi menyerangnya di mall. Nara segera berteriak minta tolong dan menjauh dari orang jahat itu. Namun laki-laki itu bergerak cepat, membekap mulut Nara dengan saputangan berbau aneh, membuat Nara merasa ingin tidur. Semua menjadi gelap.

__ADS_1


__ADS_2