
“Lalu kenapa masih sedih? Sudahlah! Mari kita rayakan hari ini dengan secangkir kopi dan satu atau dua buah pastry,” ajakku. Nada langsung setuju. Kami memilih gerai kopi yang cukup terkenal di area lobi. Setelah memesan kopi, kami akhirnya duduk di kursi terluar. Posisi duduk yang tidak cukup nyaman bagiku. Kami bagaikan pembatas dari gerai ini dengan lobi. Orang yang lalu-lalang bisa melihat kami, dan sebaliknya. Kami bisa mengamati dan mendengarkan percakapan orang-orang yang ada di lobi. Tapi ini adalah satu-satunya kursi yang tersisa. Setelah pesanan selesai, Kami menikmati kopi sambil bercakap-cakap.
“M lihat itu,” tiba-tiba Nara berbisik ditelingaku. Aku memandang kearah jari Nara menunjuk. Bajingan! Dia ada disini. Pradipta! Laki-laki itu keluar dari lift dengan tergesa-gesa sambil sesekali perhatiannya tertuju pada gawainya. Dilayangkan pandangannya menyapu lobi, seolah sedang mencari seseorang. Menurutku, dia turun ke loby karena ada yang memanggilnya melalui gawai yang dipegang. Ditangannya selain gawai ada bouqet Mawar merah yang indah. Dugaan sementara, dia akan bertemu dengan Juli disini dan ini tidak baik untuk Nara. Aku langsung memasang mode waspada pada perempuan di depanku. Bagaimanapun aku lebih peduli pada Nara
dibanding apapun saat ini. Salahkah aku?
Seperti dugaanku, Nara tanpa berpikir jernih langsung berdiri ingin berlari ke pelukan laki-laki yang dia sebut sebagai suaminya. Kulihat dari matanya, perempuan ini ingin segera melemparkan dirinya pada laki-laki yang bahkan tidak pantas untuk dia rindukan. Menurutku, aku lebih pantas menempati kedudukan Pradipta dimanta Nara. Aku marah dan ada rasa tidak nyaman muncul dihatiku. Tanpa sadar, aku segera meraih pergelangan Nara dan menahannya dengan kuat. Nara masih terus berusaha untuk terlepas dan menyongsong laki-laki yang dianggap sebagai cinta pertamanya. Aku menarik tangannya dan menahannya agar tetap duduk di kursi. Aku tahu, Nara tidak suka dengan yang aku lakukan. Pandangan marah dan kesal dilayangkan kepadaku dan tanganku, namun aku tidak peduli. Aku tahu, dia merasa berhak untuk berlari dan menumpahkan kerinduannya pada suaminya. Akan tetapi, aku tidak akan pernah rela, gadis secantik dan sebaik Nara mempermalukan diri untuk laki-laki bajingan kelas rendah di depan sana. Aku tidak rela melepaskan wanita hebat yang istimewa ini untuk dia, bahkan untuk laki-laki manapun. Aku harus menahannya dan mengatakan sesuatu agar Nara sadar, apa yang dilakukannya akan merugikan dirinya sendir.
Eits, jangan salah sangka dulu. Bukan, ini bukan tentang aku dan rasaku. Semua ini aku lakukan untuk kebaikan
Nara. Jangan bilang aku cemburu. Aku tidak pernah cemburu pada Pradipta karena Nara. Aku tidak mencinta nara, ‘kan? Tapi mungkin aku cemburu karena Juli. Yeah, mungkin sih.
“Nara, ingat, saat ini kamu bukan Nada. Kalau kamu saat ini lari kesana dan memeluk Pradipta, kamu akan dikira cewek murahan yang tergila-gila padanya. Main peluk sembarangan. Jangan-jangan, bukannya berhasil mendapatkan kembali Pradipta, kamu malah diusir satpam, dipermalukan dan tidak akan pernah lagi bertemu dengan Pradipta," kataku mencoba mengatur raut datar dimukaku dan berkata dengan tenang.
“Tapi kapan. Aku tidak mau terlalu lama. Aku harus memberitahunya sekarang,” kata Nara. Gadis ini kadang menjadi keras kepala. Seperti kataku, jika sudah terkontaminasi dengan Pradipta, dia akan berubah menjadi Nada yang lain. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca, terlihat rapuh dan menyedihkan. Aku sungguh kesal jika dia ada di mode ini. Aku tidak suka, aku tidak rela, Ada rasa perih dihati ini melihat Nara sangat mengharapkan kembali kedalam pelukan bajingan itu.
“NARA! “ bentakku tanpa sadar. Aku tiba-tiba kehilangan kendali atas diri dan hatiku. Untungnya aku segera tersadar saat melihat wajah diam Nara yang menggemaskan. Dia memandangku dengan mata bulatnya yang lucu. Dia tampak terkejut dengan nada kerasku. Argh, maaf Nara, maafkan aku. Segera aku berdehem dan memperbaiki
__ADS_1
intonasiku. Apalagi kulihat orang-orang di sebelah kami, sempat menengok kesal.
“Nara, ingat kan kamu sudah menandatangani kontrak dengan aya. Salah satu pasalnya adalah menuruti apa perintah saya kapan saja dimana saja,” kataku dengan nada resmi. Aku berbicara serius dan memastikan Nara paham, saat ini aku berbicara dengannya sebagai atasan yang harus dia patuhi. Aku melepaskan nafas lega saat Nara akhirnya mengerti apa yang kumau.
“Oke, perintah saya adalah duduk diam disini. Minum kopimu, makan pastrymu. Boleh kamu meihat dan amati mereka. Tetapi hanya ittu. Nanti kita bicarakan strategi selanjutnya.” Kataku masih dengan nada resmi dan tegas.
“Me ... re ... ka?” kata Nara terbata sambil memandang ke area lobi. Disana tampak Pradipta sudah bersama Juli yang datang entah dari mana. Nara kembali terdiam. Kulihat luka dimatanya. Kualihkan pandanganku pada arah mata Nara memandang. Pradipta sudah bersama Juli yang datang entah dari mana. Kami tidak sempat melihat kedatangan Juli. Walaupun aku sudah menduga hal ini. Keduanya berdiri tak jauh dari tempat kami duduk. Bahkan kami bisa mendengar pembicaraan mereka tanpa harus berusaha mendengarkan.
“Hai baby, baru tiba?” kata Pradipta pada Juli. Dia memberikan bouqet bunga mawar merah yang tadi dibawanya, pada Juli. Gadis itu menyambut pemberian kekasihnya dengan wajah berseri. Dipeluknya sang kekasih dengan erat, lalu mundur selangkah. Pradipta mengecup sekilas pucuk kepala Juli dan mengelus kepalanya dengan senyum hangat.
“Iya honey. Aku punya berita gembira. Tadi aku mendapatkan tawaran kontrak besar senilai ratusan juta, untuk menjadi model berlian dari International Star Diamon,” kata Juli sambil melonjak kegirangan. Aku memandang Nara dan memandang sepasang manusia yang sedang bermesraan tanpa tahu malu.
“International Star Diamon,” kataku pelan. Kudengar Nara juga mengucapkan kata yang sama. Jangan-jangan dia juga memiliki pemikiran yang sama denganku? Aku segera mencatat nama perusahaan yang mengontrak Juli dalam catatan di I-pad ku. Aku merasa ini akan menjadi info penting bagi kamu. Setelah itu, aku kembali konsentrasi pada percakapan Juli dan Pradipta, siapa tahu ada info lanjutan yang bisa kami manfaatkan. Mereka tanpa tahu malu masih terus bermesraan, saling berbisik dan terkikik geli. Juli mencubit pinggang Pradipta. Argh! Ini tidak baik untuk hati Nara. Muka Nara terlihat pucat pasi. Matanya terlihat berkaca-kaca. Dan ini sudah cukup menunjukan kehancuran hati perempuan didepanku ini. Aku tidak menyukainya. Aku tidak suka melihat Juli bersama Pradipta, namun aku lebih tidak suka dan marah melihat Nara hancur karena mereka..
“Ish kamu, dasar mesum. Oke, tapi makan dulu. Aku lapar hon,” kudengar suara manja Juli. Sejak kapan dia menjadi murahan seperti ini? Ini semua gara-gara Pradipta. Dia telah mengubah Juli menjadi seperti ini.
“Tidak masalah, kita makan siang dulu lalu kembali ke apartemen. Aku gantian akan memakanmu, honey,” kata Pradipta sambil mengedipkan sebelah matanya. Dasar laki-laki genit sialan!
__ADS_1
“Ih kamu, emang nggak bosen ya tiap hari, tiap saat, pasti deh kita make love?” kata Juli. Apa-apaan ini? Juli mengatakan hal menjijikan seperti itu di tampat umum seperti ini? Argh, Juli sudah berubah!
“What! bosen Tidak pernah beb. Tidak mungkin aku bisa bosan make love sama kamu. Kamu tahu 'kan, kalau kamu selalu menggairahkan. Kamu selalu membuatku ingin memakanmu,” kata Pradipta, memainkan alis matanya dan mengedipkan sebelah mata. Sangat menjijikan! Bahkan kini Juli memeluk laki-laki itu sambil tertawa sekikikan,
disambut kecupan Pradipta didahi gadis itu. Menyebalkan.
“Ngomong-ngomong, kapan kita akan mengumumkan hubungan kita hon?” kudengar suara Juli, yang membuat kupingku tegak berdiri dan kuyakin, hati gadis didepanku ini mengkerut. Berdarah namun tak terlihat. Dari nadanya, aku tahu, Juli sangat serius dengan apa yang dikatakannya. Tanpa melihatpun aku tahu, Juli mengatakannya sambil tersenyum namun matanya mengintimidasi Pradipta. Dia pernah melakukan ini padaku, dengan jari-jari lentiknya di rahangku. Sebuah rayuan tegas khas Juli yang selalu berhasil. Paling tidak selalu berhasil padaku.
“Sabar ya, pokoknya sebelum kita menikah. Kita masih harus hati-hati, karena ini menyangkut reputasiku dan reputasimu. Jangan sampai berita yang mengatakan kamu sebagai wanita ketiga dalam perkawinanku, muncul lagi,” kata Pradipta sambil mengelus pipi Juli. Aku mendengar intrik dan alasan kas Casanova, yang membuatku mual. Apalagi Mereka berbincang tanpa melepaskan pelukan. Aku segera melihat kearah kedua orang yang tidak
menyadari kehadiran kami, karena sedikit terhalang oleh tanaman.
Juli membisikan sesuatu ditelinga Pradipta. Terlihat Pradipta mengangguk sambil mempermainkan hidung Juli dengan jarinya, yang disambut tawa senang Juli. Mereka lalu saling berciuman. Ya, ampun, benar-benar tidak tahu malu. Aku benar-benar marah pada Pradipta yang sudah mengubah Juli menjadi gadis tak tahu malu seperti ini. Rasanya seperti orang tua yang gagal mendidik anak perempuannya, mungkin. Apakah mereka tidak takut akan ada paparazzi yang menangkap kelakuan mereka dengan kamera dan viral? Aku tahu, keamanan gedung Dirgantara sangat ketat. Hampir tidak ada media yang bisa masuk ke gedung ini tanpa ijin. Tetap saja kelakuan mereka sangat memalukan. Kulihat Nara bergidik tanpa dia sadari. Pandangannya sedikit jengah melihat kelakuan suaminya dengan sang tunangan. Aku tahu, Nara memang sedikit old fashion. Hal seperti ini sangat diluar nalar Nara.
Tiba-tiba dia mengernyit lalu memandangku. Entahlah, kali ini justru aku tidak bisa membaca apa yang dipikirkannya. Tapi dia memperhatikan mukaku dan tanganku yang tadi memegang tangannya. Ya tangan Nara kulepas untuk mengepal menyalurkan kekecewaanku pada kelakuan Juli. Aku kembali konsentrasi pada Juli dan terus berpikir apa yang akan aku lakukan. Haruskah aku mendiskusikan ini dengan Agusta?
Saat aku sedang berpikir, aku merasa ada sentuhan listrik ditanganku yang membuatku berjengit. Sengatan mengejutkan yang sekaligus menyenangkan dan membuat dadaku kembali berulah. Kupandang gadis didepanku yang menyalurkan aliran listrik tadi, lewat sentuhan tangannya. Dia tersenyum manis. Saat melihat senyum Nara, hatiku langsung tenang dan sejuk. Amarah yang tadi bergejolak langsung luruh tak berbekas. Kami berdua saling tatap dan saling senyum, saling menguatkan.
__ADS_1