Nada Nara

Nada Nara
Bab 68. Siapa Bilang Nara Gagal?


__ADS_3

POV NARA


Aku hanya menatap Pradipta dan Juli yang berjalan dengan mesra menjauhiku, dengan luka yang kembali menganga. Untuk kesekian kalinya suamiku pergi meninggalkanku demi wanita itu. Dan kali ini pun aku tidak dapat melakukan apa-apa.  Aku mencoba meredakan gelombang amarahku yang kembali datang


dengan menyesap lemon, meredakan cegukanku yang mulai mereda. Aku hanya mematung dengan lemon dimulutku tanpa tahu harus berbuat apa, sampai kurasakan tangan Adrian menyentuuh pundakku.


Adrian yang melihat cegukanku tak kunjung hilang, kembali memberikan lemon yang baru, menggantikan lemon yang kusesap beberapa waktu lalu. Sementara lemon yang diberikan Pradipta tadi, tanpa kusadari telah jatuh kelantai karena kedatangan Juli. Aku pasti benar-benar tampak bodoh didepan pasangan selingkuh itu. Rasanya sangat memalukan menyadari kebodohanku tadi.


Aku segera menerima lemon dari Adrian dan meminum air dingin, untuk benar-benar menghilangkan cegukanku.


Aku berharap, seteguk air dingin ini dadaku yang bergemuruh panas, juga akan menjadi dingin dan tenang. Rasa kecewa dan sakit akibat pengkhianatan ini kembali datang. Membawa gelombang awan panas yang menyerangku dri ujung kepala sampai keujung kaki.  Harapanku terkabulkan. Setelah beberapa saat, aku kembali tenang, cegukanku pun menghilang. Aku segera memandang Adrian. Tanpa kata, aku meminta Adrian untuk segera membawaku pulang. Tanpa banyak kata, seperti biasa Adrian selalu tahu dan memahami apa yang aku inginkan.  Dia segera berkoordinasi dengan tim untuk mempersiapkan semuanya dan membawaku pulang segera.


Saat menuju pintu lobby, aku melihat Pradipta dan Juli yang masuk ke mobil bersama sama didepan sana. Aku menahan langkahku, terdiam sejenak dan mencengkeram tangan Adrian tanpa sadar. Adrian menggenggamku hangat seolah ingin memberikan ku kekuatan. Dia tersenyum kepadaku dan menepuk tanganku yang mencengkeram lengannya. Saat itu juga aku tersadar dengan apa yang aku lakukan. Aku tahu, pasti lengannya sakit gara-gara aku. Dengan segera aku melepaskannya sambil  membisikan kata, maaf. Adrian hanya mengangguk sambil menginstruksikan anak buahnya untuk mengantar mobil ke lobby. Setelah itu, Adrian segera membawaku ke mobil untuk mengantarkanku pulang.


Sepanjang perjalanan, aku masih terus diam dengan air mata yang mengalir. Bukan, Aku bukan menangis tersedu-sedu apalagi sampai terisak dan bersuara. Aku bahkan tidak bersuara. Namun airmata ini sama sekali tidak bisa


kutahan. Bahkan aku tidak tahu mengapa aku menangis. Hatiku rasanya kebas. Aku tahu beberapa kali Adrian menatap wajahku dari kaca spion, sambil mengemudikan mobil. Dia sama sekali tidak mengajakku bicara. Aku dengar sekilas Adrian melaporkan keadaanku pada M yang entah dimana. M, aku butuh kamu.


Saat itu aku ingin segera sampai dirumah dan lari kepelukan laki-laki yang selama hampir setahun selalu menjadi tempatku bersandar. Laki-laki yang sebenarnya tidak berhubungan apapun denganku, namun selalu menyediakan


pundaknya untukku menangis. Laki-laki yang selalu mampu menenangkanku bahkan tanpa kata.


Sesampainya dirumah, aku tak menemukan M. Kata Adrian, M masih di LC Tower untuk membereskan semuanya. Mendengar itu, Aku langsung menuju kamarku. Aku merasa sangat lelah.  Baik ragaku, mataku dan pikiranku.  Ingin rasanya aku bergelung dibalik selimut hangat dan melupakan apa yang terjadi hari ini. Aku tahu M sebentar lagi akan datang dan akan membutuhkanku untuk membahas rencana kami untuk pertemuan makan siang besok. Tidak ada waktu bagiku untuk bermanja-manja hanya karena kegalauan yang sebenarnya tidak beralasan sama sekali. Aku harus segera menghentikan kegilaanku sendiri dan siap dengan tugas berikutnya.


Aku segera mandi dan berganti dengan pakaian santai. Setelah mandi aku menjadi sedikit tenang. Airmata sudah tidak lagi mengalir meski mataku sekarang sedikit bengkak dan sembab. Aku mendengar suara Adrian, M dan Henry sedang bercakap dibawah.  Mungkin M dan Henry sudah pulang. Aku terdiam didepan kaca riasku dan


memikirkan semua kejadian hari ini sampai sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku tahu itu tangan kokoh M yang aku tunggu. Aku segera berbalik dan  masuk kedalam pelukannya.


Sejenak M membiarkanku diam dalam pelukannya. Sebenarnya aku ingin menangis kembali. Namun sepertinya airmataku sudah habis. Hanya mata dan mukaku ya ng terasa panas. Hatiku terasa sakit dan dadaku terasa sesak. Elusan lembut M dikepalaku membuatku mengangkat mukaku dari dadanya. Aku tersadar kalau aku tidak boleh seperti ini. Aku ini istri orang. Bagaimana bisa aku membiarkan diriku sendiri nyaman dipelukan laki-laki lain selain suamiku. Kesadaran itu muncul dengan sendirinya. Wajah Pradipta yang marah muncul dikepalaku, membuatku menarik diri dari pelukan M.


“Kenapa?”  tanya M sambil mengerutkan keningnya. Mungkin dia heran dan kaget dengan gerakan tiba-tibaku menarik diri dari pelukan hangatnya.


“Maaf, aku ini istri orang tapi malah lari ke pelukanmu. Maaf M,” kataku lirih.

__ADS_1


“Hei, kita ini sahabat. Kita sudah seperti ini hampir setahun. Kenapa harus minta maaf. Kita hanya saling menghibur, bukan selingkuh seperti mereka,” kata M sedikit tinggi.


“Lagipula, apa yang kamu lakukan tadi? Mengapa harus menangis sejak pulang dari LC Tower sampai rumah. Untuk apa kamu menangisi semua itu?” tanya M beruntun dan terdengar marah. Sepertinya dia tidak suka dengan sikap cengengku.


“Maaf,” kataku lirih.


“Maaf untuk apa?” tanya M.


“Maaf aku menangis. Maaf aku menggagalkan rencanamu M,” kataku.


“Menggagalkan? Bagaimana bisa kamu bilang gagal? Kamu sudah melakukan dengan baik,” kata M sambil memegang dua bahuku. Dia menarik kursi kerjaku dan meletakkannya didepanku yang masih duduk dikursi meja rias. Sambil duduk disana, M menggenggam tanganku hanya, namun ekspresi mukanya tampak tidak suka dan


kecewa. Mungkin dia kecewa karena aku gagal membuat Pradipta menengok dan tertarik padaku.


“Aku tahu, kamu sudah berusaha keras membuatku menjadi secantik ini. Aku tahu kamu sudah mengeluarkan banyak uang dan kerja keras untuk menjadikanku seperti ini. Aku tahu bahkan kamu mengeluarkan 150 juta agar aku bisa menggoda Pradipta dan menjauhkan Juli darinya. Namun aku juga tahu kamu kecewa karena aku gagal. Maafkan aku,” aku memberanikan diri mengatakan apa yang ada dipikiranku. M menarik nafas dalam lalu melanjutkan kata-katanya.


“Nara, kamu salah. Aku memang kecewa dan marah padamu. Tapi bukan karena semua hal yang kamu katakan barusan. Bukan karena menganggap semua uang dan kerja kerasku selama  ini, sia-sia. Bukan! Aku bangga padamu Nara. Aku bangga dengan kerja keras kita. Aku dan kamu tidak gagal.  Aku marah karena kamu menyakiti diri kamu seperti ini. Aku marah karena kamu masih  menangisi hal yang tidak berguna sejak tadi. Kamu menangis dan sedih karena kejadian Pradipta di kamar mandi. Kamu menangis dan marah karena melihat Pradipta dan juli bermesraan. Ayolah Nara. Mereka sudah pernah melakukan yang lebih dari itu didepanmu. Untuk apa kamu marah dan menangis? Pradip[ta tidak layak mendapatkan semua cemburu dan airmatamu,” kata M masih terus menggenggam tanganku


“Nara, Kenapa kau menangis? Kamu itu terlalu baik. Makanya kau kehilangan sumaimu” kata M dengan tegas. “Ini saatnya kamu menjadi diri kamu yang kuat. Menjadi Nada yang kuat. Baik boleh. Tetap menjadi baik untuk hal yang baik. Namun jangan menjadi lemah dan tersiksa untuk orang yang tidak pantas menerimanya.”


Aku paham maksud M. Aku adalah Nada yang kuat dan baik Aku bertransformasi menjadi Nara yang cantik dan cerdas. Aku adalah Nada Nara. Aku bisa dan tidak boleh cengeng.


“Nara, kalau kamu masih ingin menangis, menangislah sekarang sepuas kamu. Namun setelah malam ini, aku tidak mau lagi melihat airmatamu tumpah hanya karena seorang pembunuh seperti Pradipta,” kata M dengan tegas. Aku mengangguk sambil mengangkat tangan dengan dua jari teracung, memberikan janjiku.


“Masih mau menangis?” tanya M sambil merentangkan kedua tangannya.


“Sini-sini, come to papa and cry baby,” kata M sambil menaik turunkan alis kanannya. Kebiasaanya saat menggangguku, membuatku malu. Aku menggeleng kencang sambil tersenyum malu. Kupukul tangannya memintanya untuk berhenti menggodaku seperti itu. Diapun tertawa tergelak melihatku malu.


“Yuk kita makan, aku lapar. Adrian tadi membuat spaghety. Sepertinya lezat,” kata M lagi. Yah, sepertinya menangis membuatku lapar. Dan lagi, di pesta tadi aku bahkan tidak sempat makan apapun karena gugup dan sedih.   Aku segera berdiri, mengikuti M menuju ruang makan, dimana Henry dan Adrian menunggu kami sambil tersenyum lebar.


“Hai girl, udah mandi ya? Wuii dia sendiri yang wangi, di ruangan ini,” kata Henry menggodaku. M langsung melempar Henry dengan potongan apel yang tadi diambilnya dari atas meja.


“Jangan menggoda Nara! Dasar playboy cap kambing,” kata M dengan muka kesal.

__ADS_1


“Weits si bos. Cemburu bos? Kalau cinta dilamar langsung bos bukan cuma dipandangin terus dicemburuin,” kata Henry sambil menaik turunkan kedua alisnya.


“Nggak lah, kenapa harus cemburu? Cuma eneg aja denger gombalanmu kalau dibiarkan,” kata M.


“Halah, kenapa neg segala. Nara aja suka. Ya nggak Nar,” kata Henry sambil mengedipkan matanya. Aku tertawa gelak mendengar percakapan dua laki-laki itu.


“Eh Nara, bagaimana kalau kamu pacaran sama aku saja? Lupakan Pradipta. Aku kan lebih ganteng dari dia. Aku juga mapan kok seperti dia. Gini gini aku kan CEO juga. Nih kartu namaku,” kata Henry menggodaku. Dia mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan dan garis berwarna silver.


“Woi! Kambing! Berhenti gombalin Nara. Aku cabut nanti jabatan CEO mu, kujadikan OB mau?” kata M dengan muka kesal.


“Lah si bos ngancem sih. Masa ada CEO jadi OB. Lagian ya bos, mana ada sih OB seganteng dan sekeren aku,” kata Henry sambil bergaya seperti model sedang pemotretan.  Aku dan Adrian yang sedang menuangkan  spagheti untukku dan M, tergelak melihat mereka.


“Nah gitu dong nyonya, tertawalah, maka dunia M dan Henry bisa cerah ceria. Kamu itu seperti matahari mereka berdua. Kalau mendung seperti tadi, mereka langsung kehabisan energi,” kata Adrian.


“Lah, kamu kata kami baterei bertenaga surya,” kata Henry sambi; mencomot keju diatas piring M.  Laki-laki yang baru mau menikmati spaghety dengan tumpukan keju itu langsung menepis tangan sahabatnya dengan keras. Lagi-lagi aku dibuat tertawa dengan tingkah 3  sahabat ini.


“Pelit amat sih Dik. Lagian ya, kenapa aku. Coba? Kalau Dika memang iya. Nara sedih, langsung mendung tuh mukanya,” goda Henry.


“Ah iya ya. Kalau kamu, Nara sedih, kamu pegel jadi bulan-bulanannya si bos,” kata Adrian.


“Kalau itu bukan hanya aku, kamu juga,” kata Henry.


“Lah emang apa hubungannya? Mana pernah aku menjadikan kalian bulan-bulanan gara gara Nara


sedih,” kata M  protes.


“Yah si bos nggak nyadar yan,” kata Henry dengan muka mencibir.


“Ya gitu deh, gengsi. Nggak sadar diri. Ya nggak Hen,” Adrian dan Hery langsung tos


“BODO!” kata M sambil konsentrasi pada makanannya disambut tawa dua sahabatnya. Aku tersenyum. Hatiku menghangat. Segala gundah dan kesedihanku tak lagi bersisa saat berada diantara mereka. Tiga laki-laki ini selalu terlihat dingin dan tak tersentuh saat diluar. Kadang mereka seperti laki-laki tak berperasaan, kadang mereka bisa menjadi tiga orang yang tidak memiliki hubungan sama sekali, namun saat berada didalam rumah dan hanya ada kami, mereka bagaikan tiga bocah yang bersahabat akrab tanpa batas. Saling menyayangi dan saling menjaga. Kadang-kadang mereka seperti saudara kembar malah. Sedekat itulah mereka.


Setelah kami selesai makan, M meminta kami berempat duduk. Dia bilang untuk membahas apa yang terjadi hari ini dan merencanakan apa yang akan dilakukan besok siang saat lunch.

__ADS_1


__ADS_2