Nada Nara

Nada Nara
Bab 75 Rencana dibalik Kencan Makan Siang (Bagian 2)


__ADS_3

POV Mahardika


Manajer restoran yang tadi menjemput Nara dan Adrian, tiba tiba mengunjungi ruang VIP yang menjadi markas kami. Untunglah Bayu tepat waktu memberikan kode bahaya hingga kami bisa langsung mengubah mode layar kami dan menyembunyikan beberapa alat mencurigakan serta mematikan semua suara pantauan. Aku masih sempat mengenakan topi dan maskerku sebagai penyamaran yang menutup wajah. Serta jaket penyamaran yang menyamarkan bentuk tubuhku.


Manager restoran masuk ke ruangan dengan alasan mengantarkan sebotol wine sebagai complimet. Aku tahu dia mencurigai kegiatan kami. Kalau hanya sekedar mengantar compliment, tidak perlu dia lakukan sendiri. Aku bukan orang bodoh. Namun aku juga tidak ingin mencari gara-gara. Saat ini, menjaga Nara adalah hal terpenting. Apapun yang dilakukan manajer restoran itu, harus aku jauhkan dari kecurigaan yang membuatku harus keluar dari ruangan ini dan melepas Nara dalam bahaya. Aku mencoba untuk menahan diri dan berpura pura sedang flu. Aku tahu, manajer itu melirik ke layar laptopku yang menampilkan neraca bisnis dan saham yang terjadi hari ini, saat dia mendekatiku. Diapun melakukan scaning ruangan dengan teliti, aku tahu dia bukan manajer restoran biassa. Dari caranya melakukan scaning dan melihat ruangan, aku tahu Dia terlatih untuk menjadi mata-mata.  Semua itu tak lepas dari pengamatanku, meski aku tidak melihatnya secara langsung. Kuminta Bayu meladeninya dan aku pura-pura sibuk dengan grafikku. Setelah puas melihat sekelilingnya, sang manajer memutuskan untuk pamit pergi. Aku


hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih, pura pura kembali sibuk dengan grafikku.


Setelah pintu ditutup, Bayu kemudian masuk kedalam, memberikan tanda aman. Aku mengubah tampilan layarku,  kembali memantau keadaan Nara. Wanita itu masih duduk terdiam menunggu Adrian.  Sebelum pergi Adrian sudah berbisik dan memberikan kode untuk diam menunggu dia yang akan mengambil baju. Adrian meminta Nara tidak menerima apapun dari siapapun. Sementara itu aku lihat Pradipta menatap Nara dengan muka mesumnya.  Suasana di ruangan itu masih tampak kacau.


“Hei Nara, kamu baik baik saja? Kepalamu bagaimana?” kata Pradipta mewakili kekhawatiranku. Aku melihat Nara baru menyadari bahwa kepalanya mengalami benturan  keras. Seharusnya untuk benturan sekeras tadi, akan membuat kepala sakit dan pusing. Dia memegang kepala yang tadi terbentur.  Aku melihat Pradipta mendekati Nara. Dia memperhatikan wajah Nara sejenak dan mengangkat tangan Nara setelah membisikan kata maaf.  Laki-laki itu memeriksa kepalaku. DAMN! Tiba tiba dia mengecup kepala Nara di bagian yang terbentur tadi. Wuaaaaa cari kesempatan dia! Apa yang dilakukan Pradipta membuat dadaku panas.


“Tenang bos, kenapa jadi kebakaaran jenggot si? Nara saja nggak keberatan lho. Emang bos kekasihnya Nara? Pradipta boleh boleh aja mencium dan memeluk istrinya kan?” kata Henry yang membuatku makin makin kesal. Tapi Henry memang benar. Aku memang tidak berhak marah karena sebenarnya  Nada masih istri Pradipta. Hanya saja penampilannya yang berubah. Tapi aku sangat tidak suka laki-laki buaya itu menyentuh Nara dan nanti


mempermainkannya. Aku tahu aku tidak boleh seperti ini. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan. Aku tahu aku harus konsentrasi menjaga Nara sekarang. Instingku dari tadi sudah menyalakan tanda bahaya. Meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Oke, fokus Dika! Aku kembali ke Nara dan ternyata wanita itu


masih dalam genggaman Pradipta yang beberapa kali mengecup kepalanya. Selama aku terdiam entah sudah berapa kali dia mencium Nara.


“Sudah aku obati, semoga tidak apa-apa,” kata Pradipta sambil berjongkok didepan Nara dan tersenyum. Muka sok baik ala buaya modus itu kini dekat sekali dengan Nara. Dan kenapa Nara tidak segera menjauhkan mukanya? Kenapa dia diam saja? Apakah dia sedang menikmati berada di dekat suami jahanbam nya dia itu? Apakah dia sedang menikmati jantung berdebar saat bertemu dan dipeluk apalagi dicium kekasihnya? Apakah dia akan melupakan aku? Lihat, kenapa mukanya merah malu-malu seperti itu. Argh! Aku benar benar tidak tahu bagaimana caranya mendamaikan hati ini.


“Makasih. Kamu juga basah. Maaf,” kata Nara terlihat menyesal melihat celana  Pradipta yang basah. Nara kemudian meraba jas yang menutupi baju dirinya. Dia sadar kalau ternyata juga basah.


“Tidak apa apa Nara, aku sudah minta asistenku untuk mengambilkan baju ganti,” kata Pradipta. Dia tampak sekali ingin membuat Nara nyaman.

__ADS_1


“Maaf,” kata Nara dengan muka merah. Kali ini muka merah Nara bukan pura pura malu, tetapi karena merasa bersalah. Akupun tahu kali ini dia tulus meminta maaf.  Aku rasa Pradipta pun sadar itu,  tidak ingin memanfaatkan ketulusan Nara.


“Ssst, sudahlah, tidak apa-apa,” kata Pradipta sambil meletakan jarinya dibibir Nara, membuat wanita itu tertunduk malu. Aku tahu dia merasa tidak nyaman hingga sedikit menggeserkan mukanya, menghindari jari buaya darat itu agar tidak lagi menempel di bibir. Untung Ardian dan asisten Pradipta datang dengan baju ganti.


“Untung lu cepet nongol yan, kalau nggak si boss sudah melompat keluar dari persembunyiannya menyerang buaya,” kata Henry sambil tertawa tergelak dari markas di basment. Aku hanya bisa diam mendengus.


“Sisca, antarkan Nona Nara berganti baju dan aku juga akan berganti. Setelah kami selesai, meja dan makan siang yang baru sudah harus siap,” kudengar suara Pradipta memberikan perintah sambil berdiri memandang datar pada perempuan yang membawa sebuah paperbag untuknya. Dia memberikan tanda kepada Sisca dan manajer restoran dengan sebuah kode yang membuatku tidak nyaman. Beberapa pelayan bergerak cepat membersihkan ruangan dan meja yang dibuat berantakan oleh Nara tadi.


“Adrian, instingku mengatakan ada hal yang tidak baik. Jangan sampai Nara lepas dari pandanganmu. Henry,  segera kesini tapi dalam peyamaran. Bara, Bayu bayangi Adrian dan Nara,” kataku cepat. Aku sendiri bersiap jika keadaan memaksa untuk turun. Kulihat Nara mengambil paper bag yang tadi dibawa Adrian dan berjalan mengikuti Sisca. Sedangkan Adrian dengan cepat menempel pada Nara dengan waspada.


“Adrian, Saya kira biar Sisca yang mengantar Nara. Anda bisa meneruskan makan siang Anda,”  kata Pradipta menahan Adrian dan memegang tangannya. Rupanya Pradipta cukup jeli dengan gerakan Adrian dan kembali mencoba menahannya.


“Bara, Bayu henry, bersiap menempel Nara jika Adrian tidak bisa lolos dari buaya darat itu,” kataku.


“Siap, kami sudah di lokasi,” jawab Bara dan Bayu.


“Me to, fly on,” kataku.


“Andrew, you on eye position,” aku mengalihkan posisi komando dan mata ke salah satu orang kepercayaanku yang juga berada diruangan itu sebelum pergi.


“Maaf tuan, tugas saya menjada nona Nara dimanapun dia. Dengan segala hormat, saya akan menemani Nona Nara sampai di depan ruang ganti, dan memastikan dia aman,” kudengar jawaban Adrian dingin sambil melepas tangan Pradipta. Aku melihat dari tempatku berdiri, Nara menghentikan langkahnya menunggu Adrian.


“Mari nona  saya antar,” kudengar suara Sisca sedikit memaksa Nara.

__ADS_1


“Iya, tunggu sebentar ya. Ayo Adrian, aku harus ganti baju,” kata Nara menempel pada Adrian. Apa yang dilakukan Nara membuat Pradipta mau tidak mau melepaskan Adrian. Aku melihat Sisca dan Manajer restoran berpandangan dan saling memberikan kode. Baiklah, ini tidak beres.


“Sepertinya Sisca dan Manajer Restoran memiliki rencana. Adrian, tempel dan kawal Nara. Bara, Bayu dan Henry, ambil Sisca dan Manajer Restoran jika memungkinkan, bawa ke markas kedua, “ kataku.


Aku melihat Sisca dan Manajer Restoran membawa Nara dan Adrian ke sebuah ruangan. Rupanya


bukan ha              nya aku yang merasa tidak nyaman dengan pengaturan ganti baju ini.  Narapun instingnya cukup kuat. Dia sangat tidak nyaman. Apalagi saat Sisca mempersilahkan Nara masuk namun manajer restoran menahan Adrian untuk tidak ikut masuk kedalam ruangan.


“Maaf, karena ini ruangan untuk perempuan, sebaiknya bapak tidak ikut masuk,” katanya dengan


sopan.


“NO, Nara jangan sampai masuk kesana Adrian, “ kataku sambil bergerak lebih dekat. Adrian memandang Nara sejenak, memberikan kode untuk menolak berganti baju disana.


“Aduh… “ tiba-tiba Nara berteriak sambil menjatuhkan badannya kearah Adrian. Tanggannya memegang erat bahkan hampir memeluk tangan kokoh Adrian. Dia mengulurkan Peperbag ke Adrian yang menyambutnya dengan sebelah tangan dan sebelah lagi memeluk pinggang Nara yang memegang perunya seolah benar-benar sakit perut. Aku tahu pasti, wanita itu baik baik saja. Aktingnya lumayan meyakinkan


“Kenapa Nona? Anda baik-baik saja?” kata Adrian cemas. Wow, dua orang ini memang lumayan kompak dan hebat aktingnya. Kecemasan Adrian begitu natural.


“Argh, aku sakit perut. Sebaiknya antar aku ke toilet dulu Adrian,” kata Nara sambil mengigit bibirnya. Dari wajah Sisca dan manajer, tampaknya mereka antara percaya dan tidak.


“Baik Nona, silahkan,” kata Adrian. Dia membiarkan Nara tetap memeluk sebelah tangannya sambil menuntun wanita itu kearah kamar mandi wanita yang tidak jauh dari ruangan tadi. Aku melihat Sisca dan Manajer mengerutkan dahi sambil terus memperhatikan Nara dan Adrian. Nara dengan cepat masuk kekamar mandi, sementara Adrian berjaga didepan pintu. Aku mengawasi semua kejadian itu dari jauh sampai aku melihat Sisca dan Manajer tadi masuk kedalam ruangan dan menutupnya. Tak lama aku melihat bayangan Henry, Bara dan Bayu masuk kedalam ruangan  yang sama tanpa suara. Aku segera masuk ke ruang VIP dan mengambil alih kontrol dari Andrew.


“ Aku curiga nona Nara tidak benar benar sakit perut,” terdengar seorang wanita yang  sepertinya suara Sisca. Bara sudah berhasil memasang mic audio di ruangan itu.

__ADS_1


Sedangkan dari kontrol cam, kulihat Bayu mulai memasang camera namun belum


terarah dengan benar.


__ADS_2