Nada Nara

Nada Nara
Bab 65 PLD Aku Harus Mendapatkannya (Bagian 2)


__ADS_3

POV Mahardika


”Wow, usaha yang bagus M. Bercanda memang bagus menghilangkan gugup dan frustasi karena kegagalan, tapi bukan begini caranya. 150 juta itu bukan main main,” kata sambil tertawa. Loh kok? Kenapa malah dia anggap aku becanda sih? Apa dia pikir aku semiskin itu? Disaat seperti ini dia malah meragukanku? Atau disaat waktu yang sudah hampir habis malah membuat dia menjadi tidak serius. Atau dia malah bercanda untuk masalah seserius ini? Huft,  bikin emosi kan jadinya. Kudengar  bisikan Henry menenangkanku tapi tidak berhasil sama sekali.


“NARA, AKU SERIUS !” aku berteriak kesal, namun masih aku tahan.  “Kita sudah tidak punya waktu untuk main-main. Jangan membuat masalah ini sebagai hal bisa kamu  gunakan sebagai bahan becanda. Kalung itu adalah hal yang serius. Kalau kamu butuh keterangan lagi, nanti akan aku ceritakan semua. Tapi sekarang tidak ada waktu. Jadi hentikan ocehanmu!” Teriakku,  membuat tiga orang didepanku sedikit tertegun. Nara terlihat tertegun sejenak, kaget. Suasana sedikit senyap sesaat.


“Bos, lelang kalung Bunda segera dimulai. Sebaiknya segera kembali ke ballroom,” suara Henry memecah kesenyapan, setelah dia mendengar laporan anak buahnya yang berada di ballroom. Kata-kata Henry membuat kami bertiga tersadar.


“Oke, Nara dan Adrian segera kembali ke ballroom. Ingat kalung itu tidak boleh lepas kepada siapapun,” kataku “Henry, segera setelah mendapatkan harganya, siapkan uangnya ke rekening Nara. Atau kalau tidak sekarang saja kamu pindahkan 200 juta ke rekening Nara. Jika meleset, kamu tinggal menambahkan kekurangannya. GO!”


Henry tampak sibuk dengan Ipadmya.  Dia sedang melakukan transaksi pemindahan rekening dalam jumlah besar dari rekeningku ke rekening Nara. Bukan hal sulit untuknya karena selama ini dialah yang mengurus keuanganku. Ayahnya juga seperti Henry, pengurus urusan  keuangan dan hukum Papa Shasa. Henry mewarisi kecerdasan dan ketelitian papanya. Jika melihat mereka, aku merasa melihat dua orang yang sama. Dulu aku sering menggoda Henry, kalau dia tidak dilahirkan tapi difotocopy pakai mesin fotocopy atau dicloning. Kalau sudah begini, aku pasti kena jewer mama Henry yang marah karena aku bilang mesin fotocopy katanya.


Aku segera berdiri untuk masuk ke ballroom mengawasi jalannya lelang dari jauh. Semua harus berhasil Aku tidak mau PLD lepas dari tanganku. Aku harus menyatukan PLD.  Aku yakin sekarang kalau ketiganya masih ada. Dan aku harus mendapatkan PLD Putra Dirgantara setelah nanti bisa menebus PLD Lidya Dirgantara.


Aku sendiri tidak tahu apa tujuan Franco melepas kalung PLD bunda Lidya. Mungkin dia tidak tahu makna dan kisah 3 PLD dan unuk apa 3 kalung PLD itu sebenarnya.  Hanya PLD, kakek nenek Dirgantara dan pengacara utama Dirgantara yang mengetahuinya.


Aku melihat Nara masuk ke ruangan lelang bersama Adrian yang sedikit menggandengnya ala ala bodyguard. Sepertinya Nara masih syok dengan bentakanku tadi. Atau mungkin dia masih terkejut dengan informasi yang aku sampaikan tadi. Bisa jadi dia tidak percaya sekarang. Namun aku memastikan bahwa dia tahu, aku sangat menginginkan kalung itu. Untuk urusan lainnya, aku yang akan mengurusnya apapun alasannya dan dari manapun  sumber dananya. Apa yang kukatakan di ruangan tadi, meskipun singkat, semoga mampu membuat Nara menyadari pentingnya kalung tersebut bagiku. Tidak penting alasan apa yang kukatakan sebenarnya. Aku tahu, Nada’s Project dan mendapatkan  Pradipta adalah hal yang penting bagi Nara. Dan aku memastikan pada Nara bahwa dengan tampil sukses di lelang tersebut, dia bisa memenangkan Pradipta.


Aku melihat Nara dan Adrian bergerak ketengah pengunjung lelang dan berusaha maju ke depan, agar posisinya dekat dengan panggung. Adrian menempatkan Nara di  posisi strategis, terjangkau oleh media yang diharapkan akan mengambil gambar Nara, baik saat menawar maupun saat memenangkan kalung tersebut. Diposisinya saat ini, Nara dan Pradipta juga bisa saling memandang tanpa halangan. Dengan demikian, Pradipta akan menyadari kehadiran Nara. Aku tahu Pradipta tertarik pada Nara dan tidak menyadari bahwa bahwa Nara adalah Nada.


Adrian yang tadi meninggalkan Nara untuk berbicara dengan panitia lelang, kini sudah kembali ke sisi Nara. Dia memberikan sebuah papan dan berbicara serius dengan Nara.  Tidak lama kemudian acara lelang kalung Lidya Dirgantara dimulai. Semua tampak antusias diawal-awal lelang, dengan harga 10 juta. Kenaikan diawal pun hanya berkisar 5  dan 10 juta. Dari jauh aku melihat lelang berjalan dengan seru, namun Nara menunjukan ekspresi tenang seolah tidak berminat untuk berpartisipasi, sesuai dengan instruksiku. Belum waktunya bagi Nara untuk menarik perhatian saan ini.


Demikian juga Franco dan Pradipta. Keduanya tampak tenang dan hanya tersenyum melihat jalannya lelang. Sementara itu Juli beberapa kali tampak menarik tangan Pradipta yang hanya dijawab dengan tepukan di punggung

__ADS_1


tangannya. Juli tampak sangat kesal dengan tanggapan Pradipta. Juli sangat menginginkan kalung itu rupanya.


Harga bergerak dengan cepat sampai di angka 100 juta. Juli segera meraih papan lelang Pradipta . Dia mengangkat papan itu sambil mulutnya  menawar seharga 120 juta. Pradipta mengerutkan dahinya tidak suka. Laki-laki itu dengan cepat mengambil papan dari tangan Juli, menunjukan dengan muka tidak bersahabat pada kekasihnya yang sangat menginginkan kalung berlian  langka tersebut.


Tawaran Juli ternyata menghentikan para penawar lainnya. Unuk beberapa saat, ruang lelang menjadi senyap. Tidak ada seorangpun yang berani menaikan tawaran mereka. Bahkan juru lelang sampai terdiam, lupa melanjutkan tugasnya. Aku rasa ini saatnya bertindak. Sebuah momen yang pas untuk menghadirkan ikon  baru yang cantik mempesona. Segera Aku memberikan kode pada Adrian untuk melakukan penawaran. Laki-laki itu


membisikkan sesuatu ditelinga Nara, setelah instruksiku selesai.


“!25 juta,” kata Nara dengan tenang. Suaranya yang indah membuat semua orang langsung melihat kepada Nara. Nara tersenyum kepada seluruh hadirin yang memandangnya. Aku terpana melihat senyum Nara. Dadaku berdebar keras saat melihatnya. Namun kemudian deheman Henry dan Adrian menyadarku. Aku melihat kesekeliling. Terdapat kilasan blitz  berpendar dimana mana, mulai media masa, paparazi sampai para tamu. Kamera diarahkan pada Nara. Para wanita tampak langsung berbisik sambil melihat kepada Nara. Sedangkan sebagian besar laki-laki


memandang Nara dengan nanar. Beberapa laki-laki bahkan menatapnya seperti hendak menerkam. Ingin rasanya aku mencongkel mata para laki-laki yang melihat Nara seperti kucing kelaparan melihat ikan goreng. Menyebalkan sekali rasanya melihat mereka. Pandanganku kualihkan pada Pradipta dan Franco.  Pradipta dan Franco yang ada diatas panggung, rupanya menyadari hal yang sama dengan yang aku lihat.


“127.500,” teriak Pradipta sambil terseyum manis pada Juli yang membalasnya dengan senyum manis. Namun dibelakang Juli Pradipta mengedipkan mata pada Nara. Franco yang menyadari itu langsung tertawa tergelak. Yah, aku rasa sebagai sesama buaya, Franco menyadari apa yang dilakukan Pradipta. Sementara aku, rasanya ingin melompat keatas panggung dan mengirimkan bogemku kewajah sok ganteng itu.


“!30,” kata Nara yang mengacuhkan Pradipta dan semua perhatian yang ditujukan padanya.  Bagus Nara. Jangan pedulikan laki-laki buaya tidak tahu malu itu. Naikan terus. Biarlah uangku habis, jangan mau kalah dengan si buaya.


“132.500,” kata Pradipta. Nara terdiam sejenak. Aku benar-benar jengkel melihat gaya sok cuek ala buaya yang ditunjukan Pradipta pada Nara. Untung Nara  menanggapinya dengan menampakan muka ramah namun cuek. Ah, Nara sudah tahu rupanya, bagaimana membuat buaya itu penasaran. Menjadi murahan tidak akan bisa membuat laki-laki mengagumi dan menghormati seorang wanita.


“Bagaimana mbak Nara? Mr Pradipta menaikan tawarannya ini,” kata MC memanas-manasi Nara. Aku tersenyum dengan sikap tenang Nara. Wanita itu sudah tahu bagaimana bermain cantik. Tidak terlihat menginginkan kalung itu namun pasti akan mendapatkan apa yang dia mau.


“135,” kata Nara sambil tersenyum datar.


“Gimana mr Pradipta? Demi kekasih hati nih. Demi mbak Juli tersayang, masih mau naik lagi?” kata MC menimpali juru lelang.

__ADS_1


“oke 140, terakhir” kata Pradipta sambil mengangkat bahunya, memandang Nara. Aku melihat dimatanya terlintas keheranan dan kekaguman. Aku yakin hanya butuh sedikit dorongan untuk membuat Pradipta tergila-gila pada Nara.


“Bagaimana Mbak Nara. Beliau ini model yang luar biasa. Begitu muncul langsung meroket dan menjadi model terbaik,” kata MC lagi.


“142.500.” kata Nara lagi. Kali ini dia sedikit melirik dan senyum menggoda kepada ku, ups, bukan! Pada Pradipta, dan itu membuatku marah dan iri? Ah, ada apa dengan perasaanku hari ini?


“Wow, hebat kali ini lawanmu bro. Gimana? Mau naik lagi?” kata Franco sambil menyeringai. Dia melirik Nara, seperti buaya melirik mangsanya. Aku benar-benar  tidak bisa menahan emosiku saat ini. Namun aku tahu, aku tidak boleh bertindak bodoh. Saat ini aku hanya pelayan katering yang bekerja untuk pesta ini.


“Oke tapi beneran terakir ya, 145.” Kata Pradipta sambil menghela nafas. Pasti dia tahu jika dipasaran kalung itu


dihargai 150 juta. Jika dia membeli lebih dari 150 juta, maka dia merugi. Hem, aku jadi tertarik dengan permainan mereka. Permainan apa sekarang?


“Sabar bos, kita akan tahu apa yang mereka mainkan,” kata Adrian. Kemudian dia membisikan sesuatu kepada Nara.


“Langsung aja ya 150,” kata Nara disambut dengan dua tangan terangkat keatas oleh Pradipta. Dia menyerah dan melepaskan kalung itu untuk Nara. Sedangkan penawar lain, sejak tadi sudah melepaskan kalung tersebut.   Franco melihat gaya Pradipta tertawa tergelak dan mengedipkan mata. Cara mereka berkomunikasi membuatku curiga.  Aku memandang Nara yang tampak seperti kebingungan. Rupanya dia masih memikirkan bagaimana mendekati Pradipta. Tenang Nara, dia yang akan mengejarmu sebentar lagi, kataku dalam hati.


“Oke ternyata pemenangnya sicantik Nara,” kata Franco. “Namun karena sudah malam, untuk penyelesaian bisa kita lakukan besok sambil makan siang. Gimana kalau saya undang dua penawar terakhir untuk makan siang bersama besok, sekalian Ms Nara bisa mengambil kalungnya, gimana?” kata Franco membuat jidatku mengkerut. Sekali lagi aku bertanya dalam hati. Permainan apa yang sedang mereka mainkan? Aku harus waspada.Kini mataku kembali kupusatkan pada


“Oke, no problem, “ kata Nara.


“Gimana Pradipta?” kata Franco.


“Oke, no problem juga,” kata Pradipta. Aku lihat ada kilat licik dimata Pradipta. Dia tampak senang dengan usulan

__ADS_1


sahabatnya itu. Dibalik tingkah profesional, diam-diam Pradipta menatap Juli dan Nara bergantian. Aku tahu Nara mulai menyadari siapa Pradipta yang sebenarnya. Dengan tenang, Nara mengabaikan Pradipta. Dia hanya mengisi beberapa  berkas  untuk keperluan lelang. Aku kembali mencari posisi Juli. Ternyata dia masih asyik dengan kalung yang dipamerkannya. Dia seperti tidak memperdulikan apa yang dibicarakan diatas panggung. Sejak diputuskan kalung itu akan dimiliki Nara, Juli tidak menyukainya. Dia tidak ingin kalung itu dilepas dari lehernya


dan akan diserahkan kepada Nara.


__ADS_2