
Aku tahu aku adalah satu-satu nya laki-laki yang mau menyentuhnya. Satu satunya laki-laki yangmendapatkan kesuciannya. Nada bukan perempuan gatal, dia sangat menjaga dirinya. Bukan tidak ada yang mau sama dia. Aku tahu banyak laki-laki yang menyadari kepolosan dan kekayaan Nada saat dia SMA maupun kuliah. Banyak teman-teman yang mengagungkan *** beberapa kali mendekati Nada hanya untuk bisa enidurinya. Entah lah, bagi sebagian orang, kepolosan Nada adalah daya Tarik sex tersendiri. Banyak kok laki-laki yang menikmati melakukan hubungan *** dengan perempuan serba besar. Namun Nada selalu menjaga dirinya. Dia ramah pada semua
orang tapi dia tidak pernah mengijinkan siapapun menyentuhnya. Hanya aku yang bisa dekat dengannya. Sementara, aku adalah laki-laki yang tidak menyukai yang serba besar. Bagiku perempuan cantik adalah perempuan tinggi, kaki jenjang, payudara tidak terlalu besar, pinggang kecil, hudung mancung, rambut hitam sebahu, kulit putih, seperti Juli, sahabat Pipit. Dia wanita sempurna. Sayangnya, dia tak pernah melirikku sama sekali. Yang aku tahu, dia hanya akan berpancaran denga laki-laki yang minimal membawa mobil mewah, mengajaknya makan malam di restoran kelas bintang, sering memberikan haadiah branded dan sebagainya. Sedangkan aku? Hanya anak seorang supir.
Itulah mengapa aku harus kaya. Agar aku bisa meraih Juli. Meski aku harus menikahi Nada. Tega? Aku hanya mengikuti takdirku. Jika keberhasilanku melalui Nada, ya itulah jalanku, Nanti saat aku berhasil, aku akan lepaskan dia. Dan sebelum itu, aku janji tidak akan menyakitinya.
Apa? Kamu mempertanyakan sikapku tadi malam? Itu aku lakukan untuk menyenangkan Nada bukan? Dia menikmatinya kan? Itu yang diharapkan setiap perempuan, dari laki-laki kan? *** dan juniorku. Itu mengapa aku melakukan semua yang aku lakukan semalam, meskipun aku harus muntah pagi ini, saat terbangun tanpa sehelai benangpun disamping Nada dan sedikit mengingat apa yang kami lakukan. Mual yang tak tertahankan yang membuat aku lari ke kamar mandi dan memuntahkan semua alcohol dan makan malamku semalam. Kepalaku berdenyut dan pserutku sangat tidak nyaman.Kuputuskan untuk segera mandi membersihkan badan. Saat itulah aku sadar bahwa badanku sudah bersih. Kulihat baju kotorku dan sebuah handuk kecil bekas menyeka tubuh di
keranjang cucian. Ah, rupanya saat aku tertidur, Nada telah menyekaku. Terbersit rasa bersalah melihat kebaikan istriku. Aku memutuskan akan memperlakukannya dengan baik. Aku akan menghiburnya dengan hal-hal yang diharapkannya. Meskipun aku tidak akan sanggup memberikan nafkah batin tanpa bantuan triple dosis obat
perangsang dan mabuk, namun akau akan menjadi suami yang baik baginya. Meskipun rencana ibu berbeda, namun aku tak akan menyakitinya selain itu.
Setelah mandi, perutku terasa lapar. Wajar kan, semua sudah aku keluarkan tadi. Sementara Nada masih tidur
dengan tenang. Kupandangi wajahnya. Aku tahu dia wanirta berhati lembut. Aku masih merasa bersalah. Setelah aku perlakukan dengan kasar dalam keadaan mabuk di malam pertama yang pasti menyakitkan baginya, dia masih membersihkan dan merawat aku semalam. Dia benar-benar wanita yang baik. Wajahnya sebenarnya cantik. Jika saja dia tidak sebesar gajah mungkin aku tidak keberatan menikahinya. Aku yakin dia akan menjadi istri dan ibu yang baik. Dia juga sangat pintar, kuat dan mumpuni. Apapun bisa dia selesaikan dengan baik. Sekali lagi, sayang dia harus sebesar Gajah, berhidung pesek dan selalu berkeringat, menjijikan. Aku menarik nafas panjang. Baiklah, demi masa depanku, demi baktiku pada ibu, aku bisa.
Kutepuk tepuk pipi Nada dan memanggilnya lebut. Kupusatkan mataku pada matanya yang mengerjap lucu. Mata itu berpujar hangat dan cantik. Bibirnya mengembang senyum yang juga hangat. Ah seandainya kamu tidak besar
dan menjijikan, kataku mencoba bertahan untuk tetap tersenyum. Kusuruh dia segera mandi karena aku lapar dan ingin sarapan. Dia terlihat sangat bahagia dengan apa yang kulakukan. Sesederhana itu bagi Nada untuk bahagia dan melupakan kekasaran suaminya tadi malam. Dia bangun dan berjalan ke kamar mandi dengan kesusahan. Mungkin dia masih merasakan sisa sakit semalam, namun aku tahu dia berusaha menutupinya dariku. Kembali aku menarik nafas panjang dan membaca banyak pesan di gawaiku.Mulai dari ucapan selamat, ejekan teman-teman, kekawatiran ibu dan banyak lagi. Semua kuabaikan dan memilih memainkan gim yang baru kuselesaikan beberapa hari yang lalu, sampai Nada siap. Kamipun sarapan dengan sedikit bercakap cakap seperti sebelum menikah, tanpa membahas pernikahan atau yang semalam. Kulihat Nada beberapa kali melirik bibirku dan
tersenyum malu. Aku hanya diam dan tak berkomentar apapun. Aku tidak mau memancing masalah yang tidak akan bisa aku selesaikan kan. Aku berjanji, semalam adalah pertama dan terakhir aku memasukinya.
***
Hari berganti hari,bulan berganti bulan. Semua telah berlalu. Rumah tangga kami berjalan begitu saja. Bagiku ini rumah tangga hanya status. Meskipun begitu, seperti janjiku, tanpa menyentuhnya aku akan membuat dia bahagia. Untungnya tidak sulit membahagiakan Nada. Dia tidak pernah protes, menuntut atau meminta. Bahkan aku tidak pernah memberikan nafkah padanya. Setiap hari dia yang me nyediakan semuanya untukku. Mobil dan bensinku disediakan oleh perusahaan mertua. Ya aku bekerja pada mertuaku dan tinggal dirumah mertuaku. Otomatis semua pengeluaran sehari-hari ditanggung oleh mertuaku. Gajiku separo aku berikan mama dan sisanya aku simpan dan aku gunakan untuk diriku sendiri. Bahkan Nada tidak pernah tahu berapa uangku, Dia tidak pernah tahu kebiasaanku pergi ke club dan bersenang senang dengan wanita-wanita cantik yang tergila gila padaku. Bahkan mereka yang sering mengeluarkan uang untukku.
Meski aku berjanji memperlakukannya dengan baik, namun aku tetap saja jijik dengannya. Aku selalu takut Nada meminta nafkah batin yang menjadi haknya sebagai istri. Itulah mengapa aku sangat membatasi interaksiku dengannya. Tentu tidak didepan mama dan papa. Jika didepan mama dan papa aku berusaha mesar. Dan Nadapun mengimbanginya.
Setiap hari aku akan berangkat pagi-pagi dan pulang tengah malam, dengan alasan bekerja. Kadang aku menghabiskan waktuku di rumah orang tuaku yang dibelikan oleh Papa Hermawan. Sebuah rumah kecil yang tak jauh dari kediaman Hermawan. Nada tahu, karena memang aku selalu jujur padanya. Kukatakan aku harus memmbatu ibu dengan jualan kuenya. Padahal, setiap dirumah ibu aku banyak menghyabiskan waktuku untuk tidur. Nada tidak pernah mengeluh, protes atau menuntut, meski aku tahu beberapa kali Mama dan Papa menanyakan ketidak beradaanku. Dia selalu membelaku dan tersenyum. Itulah mengapa, akupun selalu
__ADS_1
merasa bersalah. Kadang aku pulang membawakan dia makanan kesukaannya untuk sekedar menunjukan perhatianku. Dan kamu tahu? Nada terlihat sangat bahagia, seperti wanita yang mendapatkan bunga dan perhiasan dari kekasihnya. Ya sesederhana itulah kebahagiaan istriku.
Setiap hari, meski aku sedang sibuk dengan wanita-wanita selinganku, aku menyempatkan diri sekedar mengirimkan pesan singkat yang menunjukan perhatian padanya. Singkat kata, untuk istrinya ini,Sentuhan seperti mengelus pipinya, memegang tangannya saat kami menghabiskan waktu bersama Papa dan Mama di ruang keluarga atau ditaman, itu sudah lebih dari cukup bagi Nada,. Itu yang dikatakan nya dengan tulus. . Tidak perlu makan malam mewah, kalung emas, tas branded, jalan jalan keluar negeri ataupun nonton dan shoping. Sesederhana itu untuk membuatnya terbuai dan bahagia. Ya ini juga saran ibu, untuk membuat Nada
makin bucin padaku. Semua ini adalah bagian dari rencana ibu.
Pernah aku kebingungan saat dia memancing pembicaraan tentang malam pertama kami. Untunglah saat itu
dia berbicara, kami sedang sibuk sarapan dan mempersiapkan diri untuk kerja. Demi menutupi gelisah dan gugupku, aku tertawa lalu menyentil jidatnya. Kukatakan kalau dia berlebihan. Kukatakan bahwa dia mesum. Dan apakah dia marah? Jawabannya, tidak. Itulah kehebatan Nada.
Suatu hari, ibu memintaku kerumah sepulang kerja. Kebetulan ayah sedang keluar kota mengantar Papa . Ibu mendesakku untuk segera mewujudkan rencana kami. Ibu sudah tidak tahan lagi hidup hanya dari gaji ayah. Ibu sudah tidak tahan lagi mendengar keluhan Pipit dan Prita yang ingin seperti teman-temannya menjadi orang kaya. Ibu bertanya padaku apakah aku tidak ingin hidup bebas dari Nada. Ibu memintaku untuk sekali lagi berkorban, meniduri Nada sambil membujuknya untuk membeli sebuah rumah besar yang akan menjadi rumahku dan Nada. Meskipun alasannya sharing tabungan untuk membeli, bisa dipastikan rumah itu akan dibeli dengan uang Nada tapi atas namaku. Tadinya ibu minta rumah itu diatasnamakan ke ibu, sehingga jika aku cerai dari Nada, tidak akan menjadi harta gono gini. Namun pasti akan aneh jika seperti itu kan? Ibu juga meminta aku memastikan jika di rumah baru itu nanti semua pengeluaran ditanggung Nada, termasuk juga uang bulanan ibu, Prita dan Pipit. Ya, rumah itu nantinya akan menjadi rumah tinggal keluargaku.
Selain masalah rumah,ibu juga minta aku memastikan Nada dan keluarganya akan membiayai kuliah S2 ku.
Dengan begitu, aku bisa berkembang dan menjadi lebih kaya nantinya karena mendapat standard gaji yang lebih tinggi. Untuk kebebasanku dari Nada, ibu bilang aku harus mengambil kuliah di Singapura. Hemm cukup matang dan terencana. Cukup menarik kan. Baiklah, aku akan membujuk Nada agar niat ini segera tercapai. Toh besok Papa dan Mama akan ke Bandung kan, meninjuak bisnis yang di Banduung.
Akupun segera pamit pada ibu, sambil memikirkan rencanaku. Sebelum masuk ke mobilku, Prita memanggilku. Dia menyerahkan tiga bungkus puyer padaku. Aku membutuhkan itu untuk rencanaku, kata Prita. Dia sempat menggodaku agar berkhayal tentang Luna Maya sebelum meminum tiga bungkus obat perangsang tersebut.
tidur, lalu ke kamar mandi bebersih dan tidur. Badan dan hatiku sangat leleah.
“Nada, boleh bicara denganmu sebentar?” kataku dengan suara selembut mungkin, setelah selesai mandi dan bersiap ke kantor pagi ini. Kutarik tangannya pelan dan kuajak dia duduk di sofa double di kamar kami., yang selama ini hanya jadi pajangan.
“Ya? Ada apa mas?” katanya heran.
“Nada, menurut kamu, aku ini suami yang bertanggung jawab tidak?” kataku pelan. Kupasang muka sedih untuk meyakinkannya. Nada adalah perempuan yang perasa. Dia akan kasihan jika ada yang bersedih, apalagi ini suaminya kan.
“Kok gitu mas? “ tanyanya masih dengan nada heran.
“Kamu bahagia menikah denganku?” tanyaku sambil menatapnya dengan tajam. Mukanya sedikit memucat dan tampak kebingungan. Nada memang selalu begini. Dia selalu takut aku marah, akubersedih atau aku tidak suka dengan yang dilakukannya. Aku sangat tahu itu.
__ADS_1
“Aku bahagia mas. Sangat bahagia malah. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Nada.
“Entahlah Nada, aku merasa gagal sebagai suami. Kita sudah menikah, tapi semua biaya hidup kita masih ditanggung Papa. Kita masih hidup dibawah tanggungan Papa,” kataku sambil menunduk. Sekilas dan secara sembunyi-sembunyi melihat muka Istriku. Lalu aku merasa berdosa.
“Wajar kan mas, aku ini anak satu satunya pak Hermawan. Semua milik Papa dan Mama ya buat aku, dan pastinya juga buat kamu. Toh kamu juga ikut bekerja membantu Papa kan,” kataku sambil memandangnya lembut, ahhh dia sedang berusaha menenangku. Dia sedang berusaha menjagaku dan hatiku. Argh! Nada, kamu manusia atau malaikat sih?! Aku sudah begitu jahat, kamu masih terus stersenyum, teru s menjaga dan terus ada disampig ku? Aku tahu pasti ini tidak akan mudah. Nada pasti tidak dijinkan pisah rumah.
“Tapi, aku merasa bukan laki-laki yang baik disini. Kalau begini, tidak ada gunanya kamu menikah denganku. Laki-laki yang tak berguna ini,” kata ku dengan keras. Sudahlah, aku harus menyelesaikan ini secepatnya demi masa
depanku sendiri.
“Lalu, maunya mas bagaimana?” katanya dengan lembut. Dia mendekatiku dan mengusap tanganku, seperti ingin menenangkanku, nyaman dan tenang. NAmun aku harus terus menjalankan sandiwaraku agar berhasil. Aku terus pura pura marah, dan dia tetap dengan kesabaran tanpa batasnya.
“Masih bertanya maunya aku? Aku mau kita mandiri Nada. Hidup dari hasil keringatku sebagai suami kamu.Tinggal
dirumah kita sendiri, membiayai rumah tangga kita sendiri. Bukan begini,” kataku sambil ku sentuh dia yang selalu bodoh jika berurusan dengan sentuhan. “Apa kamu takut miskin dan akan susah hidup denganku?”
“Tentu saja tidak mas, aku siap mendampingimu apapun keadaannya,” katanya. Ya aku tahu itu
Nada.
“Kalau begitu apa kamu tidak keberatan untuk pindah rumah? Mungkin kita bisa menyatukan tabungan kita dan membeli rumah. Kalau memang kita tidak mampu membeli rumah, kita mengontrak,” kataku peenuh harap agar semua cepat selesai dan tidak perlu membujuk dengan cara yang disarankan Prita. Nada tersenyum dan
mengangguk dengan ragu di matanya. Arghh, aku tahu meski dia setuju, ini belum bisa dipastikan. Baiklah kita lihat Nada. Pasti kamu akan takluk.
“Kalau begitu nant malam kita bicara. Aku usahakan akan pulang cepat nanti malam. Kebetulan Mama dan Papa akan keluar kota kan,” kataku.
“Jeng, ngapain disini? Pradipta dan Nada belum bangun ya?” terdengar suara Mama di depan pintu kamarku. Aku segera menengok kearah pintu yang ternyata sedikit terbuka.
“Tsk, ibu nggak sabaran amat sih. Awas aja rencana kacau,” gumamku tanpa sadar. Ya taadi pagi ibu datang untuk memastikan semua rencana kami.Dia pasti penasaran dan ingin tahu hasilnya lalu nguping disana. Jangan sampai Mama dan Nada curiga ya.
__ADS_1
“Apa mas? Kamu bilang apa? Rencana?” tanya Nada yang ternyata mendengar aku bergumam. Erghh! Bodoh. Maka pagi itu aku membuat kebohongan yang hampir saja membuat Nada curiga. Tapi entah bodoh, polos atau apa, Nada kembali mengabaikan semuanya sampai ibu dan aku meninggalkan rumah pagi itu.